Comscore Tracker

[NOVEL] Lovesthesia-BAB 3

Penulis: Ririn Ayu

13-0607 TCX (2)

 

Nama gadis itu Carmia, sangat bersikeras untuk dipanggil dengan nama Mia atau kalau perlu mau juga disebut dengan sayang. Akan tetapi, Deska lebih suka memanggilnya Kremia. Berasal dari kata kremi dan gadis itu bilang bukan masalah asalkan tidak dipanggil dengan Kremasi. Gara-gara itu, Deska jadi memikirkan opsi untuk memanggilnya dengan sebutan Keramasi. Maksudnya biar otaknya bersih dari segala niat buruk kalau rambutnya dikeramasi terus.

"Deska, kok ngelamun sih? Kagum ya sama aku?"

Deska yang semula memasang senyuman karena memikirkan opsi nama itu langsung melipat bibir. Benar-benar ya, hobinya mengganggu kesenangan orang saja.

"Kamu juga tumben tidak telat?" ketus Deska.

"Kan biar bisa barengan sama kamu lebih lama," ujarnya sambil terkekeh pelan.

Deska mendesis, satu lagi wanita kelebihan hormon di pagi hari. Pemuda itu memelotot kala gadis itu sekarang menarik tangannya. Menyebalkan juga saat dia melakukan sentuhan-sentuhan kecil di tubuhnya padahal Deska tidak terlalu suka disentuh dengan cara tidak beradab semacam itu. Sialnya gadis ini sepertinya sama sekali tidak mau peduli soal keinginannya. Padahal dia sudah memberikan banner berisi tentang rincian pelecehan seksual yang umum dilakukan dan kelakuannya ini termasuk di dalamnya. Akan tetapi, sepertinya gadis menyebalkan ini sama sekali tidak peduli soal itu.

"Kau ini mirip gadis murahan di sinetron ya!" katanya sambil mengibaskan tangannya.

Ketika pegangannya terlepas dan kelopak mata gadis itu melebar ada perasaan puas yang memenuhi dada Deska. Akhirnya dia bisa membebaskan diri dari sentuhan menyebalkan itu. Setidaknya metodenya sudah benar, ya seperti itu.

"Astaga!" katanya nyaris memekik hingga dia buru-buru menutup mulutnya. "Deska suka nonton sinetron?"

"Haaah?" Pemuda itu sekarang melepaskan earphone dari salah satu lubang telinganya karena takut tadi sampai salah dengar.

"Oh-mai-gad!" Kali ini gadis itu menepuk dadanya berulang kali sambil menghela napas. "Deskaku kok enggak elegan sih!"

Tidak elegan katanya. Deska langsung memelotot mendengar kata-kata yang diucapkan gadis itu. Tangannya yang sedang menaruh earphone ke dalam wadahnya mulai gemetar. Gadis itu bukan hanya menyebalkan, levelnya berada di atas semua itu. Kalau sampai ada skala kebencian maka gadis itu mencapai puncak tertinggi dalam waktu singkat. Deska mengangkat tangannya yang masih memegang pensil ke atas.

"Kau-"

"Mia, aku datang!" Seta mendadak duduk di samping gadis itu. "Kau mau mencolok matanya Mia?" katanya lagi sambil menatap Deska.

"Hah?" Deska langsung mengerjap. "Bu-bukan kok, aku mau menggambar di udara. Kau lihat kan banyak warna-warna beterbangan."

Tawa pelan-yang terdengar palsu bahkan di telinga Deska sendiri-mulai terlepas dari mulutnya.

"Menggambar udara, ohhh!" Seta menimpali bahkan saat tawa Deska belum terlepas semuanya. "Kenapa tidak di langit sekalian?"

"Maunya di mukamu saja sini!" Deska sekarang menyeringai.

"Pindah sini, Mia. Akan kulindungi dirimu dari cowok ganas itu!" Kedua alis Seta saling bertaut, bola matanya menyiratnya rasa curiga. Sungguh tatapan matanya itu salah tempat.

"Tapi-"

"Pindah saja sebelum aku semakin ganas!" potong Deska cepat bahkan saat Carmia belum mengucapkan bantahan.

"Jangan kangen padaku ya, Deska sayang!" ucap Carmia seolah-olah ingin mengatakan kalau hanya dirinya yang bisa memahami sifat Deska yang brutal.

Deska hanya mengibaskan tangannya, berharap proses perpindahan itu akan segera terjadi. Carmia langsung berdiri dan berpindah ke tempat duduk yang semula ditempati oleh Seta. Tidak lama setelahnya dia sibuk memandangi cermin dan menepuk-nepuk wajahnya dengan alat penabur bedak.

"Mana kunci mobilku!" desis Deska ketika Seta baru saja menaruh pantatnya di atas permukaan kursi.

"Dasar kriminal, berkelit mulu kerjaannya!" tukas Seta yang lebih terdengar seperti mengerutu.

"Yang kriminal itu kau! Yang nyuri kunci mobil orang juga dirimu, Seta Erlangga!" ketusnya.

Seta tidak menjawab, dia hanya memonyong-monyongkan bibirnya menirukan Deska. Mungkin dia mau melakukan sejenis aksi lip-sync di pagi hari dan hal itu membuat Deska langsung sebal.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Kayaknya pensil ini berbisik pengin bersarang di mata seseorang." Deska mengangkat kedua alisnya sebelum beranjak berdiri.

"Oh, tenang, Bro. Aku akan kasih kuncinya kalau sore ini kita ke Pinopsida."

"Kalau aku tidak pergi?" Deska mengangkat alisnya.

"Ya, tetep tawarannya sama. Silakan tunggu aku pulang dari kafe di kampus kita tercinta ini."

"Aku bisa pulang naik taksi atau minta jemput," sahut Deska tidak mau kalah.

"Lakukan saja!" Seta mengangkat bahunya. Suaranya terdengar acuh tak acuh.

"Tanpa kau suruh!" ketus Deska.

Deska memutar tubuh karena tidak ingin lagi berhadapan dengan Seta. Dia sedang menahan dorongan untuk melakukan vandalisme di wajah temannya itu. Namun, tangannya yang memegang pensil mendadak gemetar saat Seta mendekatkan wajahnya.

"Kalau kau melakukannya, aku akan minta Mia untuk mengantar mobilmu."

"Aku bisa bilang kau yang minta si Kremia itu melakukannya. Orang rumahku tidak pernah mempermasalahkan soal mobil."

"Tentu saja, aku akan kirim lingerie superseksi kepada Mia dan mengatakannya kalau itu hadiah darimu. Kita lihat apakah dia mau pakai benda itu tidak saat mengantar mobilmu, gimana?" bisik Seta.

"Apa?"

"Kau takut?" Seta memiringkan kepala.

Membayangkan Carmia mem-posting pakaian dalam di sosial media dan mengatakan kalau dia mendapatkan benda itu darinya akan jadi bencana yang lebih besar dari bom nuklir. Apalagi kalau sampai dia memotret dirinya berpakaian seksi di mobilnya maka kewarasannya mungkin sudah luluh lantak. Deska bisa tahan rasa malunya, hanya saja dia tidak ingin dituduh melakukan hal yang tidak-tidak bersama gadis itu. Mia ada di dekatnya saja sudah membuat buku kuduknya meremang.

"Kau gila!" balas Deska setelah berhasil menyingkirkan bayangan mengerikan itu dari benaknya.

"Lumayan sih, kadar gilanya nyaris murni gitu deh. Jadi kamu pilih ikut aku ke Pinopsida atau Mia menyatroni tubuhmu besok lusa!" Seta mulai mengumbar seringai di bibirnya. Jenis ekspresi yang Deska benci karena saat dia seperti itu maka artinya pemuda itu yakin kalau kemenangan ada di pihaknya.

Deska sendiri tahu kalau ancaman Seta itu nyata. Dia bahkan bisa memperkirakan kalau ada ancaman yang lebih serius jika dia sampai menolak. Bukan tidak mungkin Seta akan mengancam untuk melakukan hal panas dengan kupu-kupu malam pinggir jalan di dalam mobilnya sebelum dikembalikan. Bisa juga Seta mengencingi bagian dalam mobilnya lalu menyebarkan rumor kalau Deska mengompol karena gugup berkendara setelah sekian lama. Semua hal buruk itu bisa saja terjadi kalau Seta sudah bertekad untuk melakukan semuanya. Entah apa yang pernah dimakan anak itu hingga otaknya jadi sebusuk itu.

"Baiklah, pukul berapa perginya?" Deska mendesah. Rasanya dia benar-benar ingin menolak.

"Pukul lima bagaimana?"

"Oke," tukas Deska pendek.

"Sama Kresna juga nanti."

"Ke mana dia? Enggak kuliah?" Deska menoleh ke segala arah mencari keberadaan pemuda berkacamata tebal dengan aura menyeramkan itu.

"Ke toilet. Dia menceret." Seta memberikan jawaban lengkap dengan cara menjijikkan.

Deska hanya bisa mengusap dada sambil menghela napas kala menerima informasi yang seharusnya tidak perlu didengar. Dia mencoba mengalihkan pikirannya pada Pinopsida yang akan dikunjunginya nanti sore. Pukul lima pergi lalu pulang sepuluh menit setelahnya juga tidak masalah. Syarat utamanya kan hanya datang jadi yang penting dia datang saja dulu. Deska tidak banyak berpikir setelahnya karena dosen yang mengajak kelas ini kembali ke masa lalu dengan sejarah panjang seni rupa sudah datang. Seta yang berisik menggoda Mia pun juga mulai diam. Sekarang Deska mulai memperhatikan kuliah yang dimulai beberapa detik lalu. Akan tetapi, mau tidak mau dia melirik Seta yang duduk di sampingnya.

Seta memang menyebalkan, hanya saja dia terlihat aneh hari ini. Biasanya juga dia memang memaksa melakukan hal-hal konyol, tetapi memaksanya untuk datang ke Pinopsida hanya untuk melihat Haysel-makhluk yang tidak jelas siapa-juga terlihat aneh. Entah apa yang dipikirkan Seta sekarang dan dia percaya sahabatnya itu tidak pernah berniat jahat. Namun, firasat buruk sejak tadi berdiam di benaknya dan Deska sendiri tidak tahu dari mana rasa tidak nyaman itu berasal.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Lovesthesia-BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya