Comscore Tracker

[NOVEL] Match Made in Heaven - BAB 1

Penulis: Indah Hanaco

Para penonton serial Game of Thrones mungkin sepakat dengan Julien Aldwin. Pengkhianatan dan persekongkolan yang dihadirkan dalam serial itu sudah membuat mereka tidak mudah terkejut menghadapi kenyataan. Itu juga yang Julien pikirkan setiap kali menengok ke belakang, mengenang perjalanan hidupnya. Pengkhianatan demi pengkhianatan yang ditontonnya dari serial favorit itu mungkin turut mematangkan dirinya.

"Itu opini paling bodoh yang pernah kudengar," kritik Valda, teman lamanya yang juga menggemari serial itu. Game of Thrones kadang masih mereka bahas meski sudah selesai tayang. "Baru kali ini ada yang merasa dapat pencerahan dari Game of Thrones. Astaga, nih orang otaknya udah kena virus. Makanya cari pacar sana, Ju. Biar waras dikit. Kalau nggak sanggup nyari sendiri, ikutan biro jodoh, gih! Temanku ada yang kerja di biro jodoh eksklusif, satu gedung sama kantorku. Mau?"

Julien sudah terbiasa dengan kalimat tajam yang meluncur ringan dari bibir Valda. Mereka sudah saling kenal sejak kecil karena bertetangga selama bertahun-tahun. Valda lebih tua tiga tahun daripada Julien.

"Aku belum seputus asa itu, deh." Julien tersenyum miring, memandangi Valda dengan serius. "Harusnya aku naksir sama kamu, Val. Kan banyak tuh cerita tentang teman yang ujung-ujungnya jadi demen. Tapi karena aku tau banget siapa cewek yang namanya Valda, ogah. Serem kalau udah ngomong. Nggak ada remnya."

Valda tertawa. "Aku ini cewek jujur yang nggak suka pura-pura manis."

"Kejujuran yang seringnya makan korban," goda Julien. "Makanya aku kagum banget sama Abe karena tahan banting. Nggak kebayang gimana kalau kamu udah ngomelin dia."

"Sok tahu! Jangan samain Abe dengan orang lain dong, Ju. Abe itu makhluk spesial."

"Iya deh, iya. Kalau lagi jatuh cinta memang nggak bisa ngeliat dengan bener. Udah kayak orang buta."

Valda mengecek arlojinya sebelum menoleh ke arah pintu. Tingkahnya membuat Julien heran. Valda tergolong sering datang ke restorannya yang diberi nama Meeting Point itu. Namun, biasanya perempuan itu tidak pernah menunda memesan makanan.

"Kamu lagi nungguin Abe, ya? Janjian mau makan di sini?" tebak Julien. Mereka duduk berhadapan di meja yang diperuntukkan bagi empat orang. Hanya ada segelas teh hijau di atas meja, milik temannya. Lelaki itu baru ingat, biasanya Valda memilih meja untuk dua orang jika ingin mengobrol dengan Julien.

"Nggak, Abe lagi ke luar kota," sahut Valda.

"Beneran nggak mau pesan makanan dulu? Ini udah pukul delapan, lho!"

Perempuan itu malah mengedarkan pandangan ke seantero restoran yang sudah tidak terlalu ramai. "Aku memang sengaja ke sini agak maleman, pas kamu nggak sibuk." Valda meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di meja. "Entar aku pesan makanan, tenang aja."

Julien tidak benar-benar paham maksud Valda. "Kamu ada perlu sama aku?"

"Gitu deh kira-kira."

"Tumben nunggu aku nggak sibuk segala. Biasanya kan langsung ngomel, nggak ngeliat situasi. Ada masalah serius, ya?" duga Julien lagi.

Perempuan itu baru membuka mulutnya ketika pintu restoran terbuka. Valda dan Julien memalingkan wajah serempak. "Tuh, yang kutunggu udah datang," ujar Valda. Dia melambai ke arah perempuan yang baru tiba.

Julien mengernyit tanpa benar-benar menyadari apa yang dilakukannya. Dia mencoba mengingat-ingat perempuan setengah bule dengan tubuh sintal yang balas melambai pada Valda. Perempuan itu berkulit putih, tubuh jangkung, dan rambut ikal sepunggung. Bibir penuh, pipi tirus, dan mata bulatnya menjadi objek yang langsung menyita perhatian. Cantik.

"Itu siapa? Aku kayaknya nggak kenal," komentar Julien. Suaranya sengaja direndahkan agar tidak didengar oleh teman Valda yang kian mendekat.

"Ntar kukenalin," balas Valda santai. Dia bergeser, memberikan tempat untuk perempuan yang baru datang itu. "Susah nggak nyari restorannya, Ly?" tanya Valda sambil meminta temannya untuk duduk.

Yang ditanya menggeleng sebelum duduk. "Nggak susah. Cuma maaf ya, aku baru datang jam segini. Klienku tadi telat." Perempuan itu menatap Julien yang duduk di depannya. "Halo," sapanya. Pupil mata perempuan itu ternyata berwarna biru kehijauan.

Valda tersenyum lebar ke arah si pemilik Meeting Point, membuat pria itu merasa curiga. "Eh iya, aku belum ngenalin kalian. Ju, ini Prilly. Kantor kami ada di gedung yang sama. Prilly ini kerja di biro jodoh yang tadi kuomongin. Siapa tahu kamu mau daftar jadi kliennya. Nah, Julien yang punya restoran ini, Ly. Tajir dianya." Valda menyenggol bahu temannya. "Eh, kalau mau jadi klienmu, ada tes psikologinya segala, kan?"

Julien ternganga. Dia tidak mengira jika Valda serius mendorongnya untuk mendaftar biro jodoh demi mendapatkan pasangan. Belum sempat Julian merespons, perempuan bernama Prilly itu sudah mengulurkan tangan dengan sikap hangat. Julien pun menyambut seramah mungkin sembari menyebutkan namanya.

"Mas Julien ini beneran tertarik mau jadi member di Soul Mate?" tanya Prilly setelah mereka melewati fase basa-basi. Perempuan itu sudah memilih menu yang akan dipesan, begitu juga dengan Valda.

"Nggak, Mbak. Jangan percaya mulutnya Valda." Julien menggeleng untuk menegaskan kata-katanya.

Valda memprotes. "Lho, kok jadi manggil 'Mas' dan 'Mbak', sih? Panggil nama aja, dong! Biar lebih asyik. Aku sengaja ngajak Prilly makan di sini ...."

Julien menyela dengan jengkel, "Aku nggak tertarik gabung di biro jodoh mana pun." Tatapannya dialihkan ke arah Prilly. "Eh, maaf. Bukan berarti aku nggak menghargai profesi para makcomblang. Atau nganggap remeh pekerjaan kalian lho, ya. Aku sendiri bikin restoran yang salah satu tujuannya untuk tempat para jomlo nyari teman atau pasangan."

Di depannya Valda mencebik. "Halah, memang iya, kok. Tadi sama aku bilangnya nggak seputus asa itu untuk ...."

Tanpa pikir panjang, Julien menendang kaki Valda. Namun, justru Prilly yang mengaduh kesakitan. Lelaki itu pun merasa bersalah hingga menggumamkan maaf berkali-kali. Sementara Valda malah tertawa penuh kemenangan.

"Makanya, jangan main asal tendang aja. Tuh, malunya pasti ampun-ampunan."

Untung saja Prilly tipikal perempuan santai yang tak mempermasalahkan tendangan tak sopan dari Julien tadi. Di saat yang hampir bersamaan, makanan yang mereka pesan pun sudah siap. Julien sempat pamit sebentar untuk mengecek kondisi dapur.

Meskipun mempekerjakan orang-orang yang profesional di bidangnya, Julien tak mau lepas tangan begitu saja. Lelaki itu tetap berusaha memastikan Meeting Point beroperasi tanpa kendala berarti.

Setelah memastikan tidak ada masalah, Julien kembali ke area restoran. Valda dan Prilly sudah selesai menyantap makan malam mereka dan sedang mengobrol ketika Julien datang. Lelaki itu masih merasa tidak enak karena sudah menendang kaki Prilly. Valda memang bisa menjadi orang yang menyusahkan karena tak mampu mengerem lidahnya.

"Ju, Prilly tadi nanya. Dari mana kamu punya ide bikin restoran ala-ala makcomblang gini?" Valda menunjuk ke area di sebelah kanannya.

Di sana terdapat bagian khusus untuk pengunjung yang datang tanpa teman alias sendirian. Restoran itu menyediakan tempat duduk yang menyontek bentuk kubikel. Meja-meja yang berhadapan dengan satu tempat duduk itu dibatasi oleh dinding lumayan tinggi. Memisahkan pengunjung Meeting Point dari orang-orang yang duduk di depan dan kanan-kirinya. Istimewanya, dinding di bagian depan memiliki semacam jendela dengan pegangan logam. Jendela itu bisa dibuka dengan menaikkan pegangannya, mirip cara kerja kerai.

"Awalnya gara-gara tugas ke Shanghai. Sehari sebelum balik ke Indonesia, aku makan malam sendiri di restoran yang ada di dekat hotel. Uniknya, restoran itu ditujukan untuk orang-orang yang nggak punya teman makan. Meja yang disediain nggak terlalu lebar, mirip sama deretan kubikel itu. Tiap kali ada pengunjung, pelayan langsung milihin tempat duduk buat mereka. Biasanya, cewek dan cowok ditempatkan berhadapan. Mereka bisa ngobrol meski nggak saling kenal. Tinggal ketuk jendelanya sebelum pegangannya dinaikin.

"Di dekat pintu masuk ada data pasangan yang berhasil mereka jodohin setelah saling ngobrol selama makan. Jumlahnya cukup mengesankan, ada lebih dua ratus pasangan. Dari situ, kepikiran mau nyontek konsepnya. Cuma, aku nggak jiplak plak sama persis. Meeting Point tetap nyiapin tempat duduk untuk orang-orang yang datang bareng teman atau keluarga. Kayak area yang kita duduki ini," urai Julien.

Prilly kembali menyapukan tatapan ke seantero ruangan Meeting Point. "Kayaknya Meeting Point bisa dijadiin tempat kencan untuk klien Soul Mate, deh," simpulnya.

Julien tak sempat bertanya tentang maksud ucapan Prilly karena Valda keburu menyela. "Oke, mending aku jujur aja, deh. Aku ngajak kamu makan di sini, bukan karena mau rekomen Meeting Point jadi tempat kencan kliennya Soul Mate, Ly. Tapi mau jodohin kamu sama bosnya resto ini. Karena kalian pasti cocok. Sama-sama jomlo ngenes yang milih jadi makcomblang dengan cara masing-masing. Cakep dan punya kerjaan bagus tapi nggak laku."

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Match Made in Heaven - BAB 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya