Comscore Tracker

[NOVEL] Miss Sanguine-BAB 4

Penulis: Pikadita

Perasaan Ganjil Sasa

 

"Guten morgen, Fraulein," sapa Windu ketika Sasa masuk ke ruangan. 

Sasa tak menghiraukan lelaki itu. Windu bukan lagi penyemangatnya di kantor. Kini statusnya sama dengan pria-pria lain di kantor itu. Teman biasa. Atau lebih buruk lagi, bisa berubah jadi satu-satunya cowok yang tidak diharapkan keberadaannya oleh Sasa.

"Sa, kok lo diam aja?" tanya Windu lagi.

"Nggak apa-apa," jawab Sasa singkat setelah ia membanting tas di atas meja. Lalu Sasa menarik kursi dengan kasar, menyalakan komputer, dan menatap layarnya beberapa saat.

Windu menarik kursinya ke sebelah Sasa. "Pak Riki sudah datang. Terus tadi dia ngomong sama gue supaya lo buatin kopi untuk dia."

Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Sesak di dadanya sejak kemarin malam belum pulih, kini bertambah. "Pakai racun nggak kopinya?" celetuk Sasa.

"Pakein aja kali, biar mantap," jawab Windu sambil terkekeh.

"Lo juga mau?"

"Kopinya? Mau dong. Tumben lo nawarin."

Sasa mengelus dada. Pria di hadapannya ini rupanya benar-benar tidak punya hati. Setelah pengakuan Windu kemarin, semua yang lelaki itu lakukan adalah sebuah kesalahan di mata Sasa. Padahal sebelumnya semua yang Windu lakukan itu benar. "Nggak tahu kenapa, ya, pagi ini rasanya gue pingin banget ngeracunin elo," ungkap Sasa satir.

"Gue terlalu keren untuk diracun-"

"Bikin sendiri!" Sasa langsung pergi menuju pantri. Ia ngedumel di dalam hati. Windu benar-benar membuat mood-nya rusak hari ini. Ditambah lagi masalah yang sebenarnya bukan hal baru, yaitu Pak Riki yang tidak pernah sekali pun meminta OB membuatkannya kopi. Bapak satu itu selalu saja menyuruh Sasa yang melakukannya. Sedikit-sedikit Sasa. Biasanya Sasa hanya kesal dengan satu orang, yaitu Pak Riki. Kini bertambah satu lagi, Windu.

Setelah selesai membuat kopi, Sasa kembali ke ruangan. Windu sudah tidak ada di kursinya. Ia pun mengetuk pintu ruangan Pak Riki. Rupanya Windu berada di dalam ruangan itu, duduk menghadap Pak Riki. Mereka sedang bicara serius sekali.  

"Permisi, Pak," kata Sasa dengan secangkir kopi hitam manis di tangannya.

Pak Riki memberi isyarat agar Sasa meletakkan saja kopinya di atas meja.

Sasa membalikkan badan dan keluar ruangan. Pagi ini, di dalam ruangan ber-AC, Sasa merasakan hawa yang sangat panas. Tidak seperti hawa biasanya yang membuatnya menggigil dan harus berebut remote AC dengan Windu untuk menaikkan suhu di ruangan. "Mungkin efek cewek patah hati ini membuat suhu bumi naik," gumam Sasa. Ia pun memasang earphone dan menggulir layar ponsel, lalu memutar lagu keras-keras. Sasa tidak mau diganggu.

"Hey, Sa!"

Sasa terperanjat. Windu baru saja melepas paksa earphone dan berteriak di telinga kirinya.

"Sial lo, Ndu. Ada apa, sih?"

"Pak Riki ngajakin meeting bareng direksi sekarang. Bahas distrik 9."

Sasa mengerutkan dahi. "Malas, ah."

"Katanya dia juga mau ngenalin seseorang sama kita."

"Masih tetep malas gue," ujar Sasa.

Sasa tidak mengacuhkan Windu. Ia memasang kembali earphone-nya dan menyalakan komputer. Sepersekian detik kemudian, Windu melepaskan lagi earphone Sasa.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Sudah, ayo. Ini kan proyek lo juga," ajak Windu sembari menggamit lengan kiri Sasa-yang tentu saja langsung Sasa tampik dengan tangan kanannya.

"Gue malasnya karena ada lo."

"Dih, gue bakalan ada di mana-mana kali, Sa. Sudah, jangan banyak cakap!"

Gadis itu menarik napas panjang. Ia mengalah. Sasa mengambil sebuah buku agenda yang tentu saja bukan ia gunakan untuk mencatat, pencitraan. Mencatat bukan gaya Sasa, walau ia sendiri adalah seorang pelupa.

Keduanya berjalan menuju ruang meeting tanpa sepatah kata pun. Padahal, biasanya mereka berdualah yang selalu membuat suasana kantor jadi meriah. Windu merasakan ada yang berbeda dari rekannya itu. Namun, ia lebih memilih diam.

Windu menarik gagang pintu dan mempersilakan Sasa masuk terlebih dahulu. Belum ada siapa-siapa di ruangan itu. "Sebentar ya, Sa. Lo masuk duluan. Gue ke toilet dulu."

"Oke," jawab Sasa singkat.

Gadis itu langsung duduk di tempat yang menurutnya paling aman jika nanti dirinya mengantuk atau sekadar ingin menguap. Begitu duduk, Sasa merasakan sesuatu yang janggal. Perasaannya tidak enak. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu, siapa tahu ada yang terlupa. Namun, kali ini ia yakin tidak ada yang ketinggalan. Sasa gelisah di dalam ruangan itu seorang diri. Gadis itu pun memeriksa suhu AC, barangkali hal itulah yang membuatnya merasa tidak enak. Kemudian berkali-kali ia mengatur pencahayaan ruangan. Masih merasa tidak enak.

Ah, ini pasti gara-gara gue nangis semalaman, pikirnya. Apa jangan-jangan gue lagi tertekan, ya?

Sasa kembali duduk di kursi. Ia melirik jam tangannya. Windu tak kunjung datang, orang-orang juga. "Lama sekali mereka? Mampir ke mana dulu, sih?" keluh Sasa. Kayaknya gue tahu apa yang buat gue gak enak, batinnya.

Akhirnya Sasa pergi ke toilet untuk buang air kecil, juga membasuh wajah supaya terlihat lebih segar. "Tunggu dulu, kayaknya ada yang kurang." Sasa mengeluarkan pensil alis dari saku blazer. "Walau lagi patah hati, gue nggak boleh kelihatan hancur."

Dengan lihai, Sasa menggoreskan pensil alis, membentuk alis kanannya dengan telaten. Sekarang giliran alis mata kiri. "Selesai!" gumamnya. Ia mematut diri di depan cermin. Setelah itu mendekat lagi ke cermin. Memastikan hasil karyanya sempurna. "Eh, alisnya miring nggak, sih?" Sasa membelokkan matanya. "Ah, enggak miring kok," ucapnya penuh percaya diri.

Setelah yakin dengan penampilannya, Sasa kembali ke ruangan. Samar-samar terdengar dari luar suara beberapa orang yang sedang bicara. Sasa berpikir Windu, Pak Riki, dan staf direksi sudah berada di dalam. Gadis itu pun membuka pintu dan segera masuk.

"Nah, perkenalkan ini Mbak Sasa. Mbak Sasa ini orang kepercayaan saya." Pak Riki memperkenalkan Sasa yang baru saja membuka pintu kepada semua anggota direksi, bahkan ia belum sempat melihat bayangannya sendiri di ruangan itu.

Kepercayaan apanya? Bisa aja nih Bapak, batin Sasa sambil mengembangkan senyuman terbaiknya.

Tunggu dulu. Orang itu, kan .... Sasa mematung, pandangannya tertuju pada seorang pria berkulit kuning langsat yang duduk di antara staf direksi. Rambut pria itu gondrong sebahu dan diikat ke belakang. Lelaki itu adalah Haris. Lutut Sasa tak memiliki daya untuk menahan berat tubuhnya sendiri. Perasaan tidak enak yang Sasa rasakan sejak tadi menjadi sangat beralasan. Sementara itu, pria yang membuat Sasa mematung hanya tersenyum tipis sambil mengangguk kepadanya.

Sasa masih terdiam. Ia berjalan gontai menuju kursi di sebelah Windu karena tempatnya sudah diduduki lelaki itu. Sasa pasti sedang sangat sial minggu ini. Isi kepala Sasa kini dipenuhi oleh kejadian kemarin malam. Sebuah kejadian memalukan tentang ingus.

Akhirnya Sasa mengangguk dengan perasaan tidak enak kepada Haris. Ya Allah, jangan sampai gue berurusan lama-lama sama nih orang! Please! batin Sasa. Kejadian ingus tidak boleh sampai bocor ke mana-mana. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Haris bukan orang yang suka bergosip. Namun siapa yang bisa jamin kalau Haris tidak akan keceplosan bicara?

"Oke, kalau begitu kita mulai saja meeting hari ini," kata seorang pria berkemeja abu-abu selaku moderator. "Sebelumnya, saya mau memperkenalkan Pak Haris, yang duduk di antara kita semua. Mulai hari ini, Pak Haris akan memimpin bagian survei. Betul, kan, Pak Riki?"

"APA?!" seru Windu dan Sasa secara bersamaan. Keduanya saling berpandangan. Bertolak belakang dengan Pak Riki yang mengangguk-angguk setuju. Senyumnya tersembunyi di balik kumis tebalnya. Namun matanya jelas menunjukkan bahwa ia sedang tersenyum karena kelopaknya menyipit.

Ada siratan kekecewaan di mata Windu. Wajah lelaki itu berubah pucat. Napasnya seperti tercekat di tenggorokan. Kedua tangannya mengepal kuat. Perasaan sebal Sasa kepada Windu tiba-tiba berubah menjadi perasaan iba. Sasa tahu betul bagaimana rasanya jika sudah mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas ada di depan mata, tapi tiba-tiba dihadang dinding tinggi di tengah jalan.

"Sa, gue mau keluar," ujar Windu lirih.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Miss Sanguine-PROLOG

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya