Comscore Tracker

[NOVEL] Penyap-BAB 3

Penulis: Sayyidatul Imamah

Tiga

 

Leo

 

8 hari sebelum pertemuan di rel kereta

 

AKU menyukai gelegak euforia yang berasal dari jantungku. Rasanya, aku bisa mengitari dunia dengan kaki telanjang tanpa kelelahan, walaupun nyatanya sekarang aku berlari menggunakan sepatu kets hitam dengan tali merah menyala.

Bangunannya sudah terlihat. Seorang penjaga berdiri di depan pintu. Gestur tubuhnya menunjukkan kalau dia sedang bosan. Aku berhenti berlari dan tersenyum lebar kepadanya.

"Aku tidak terlambat, kan?"

Dia menaikkan alis, mungkin terkejut karena akhirnya ada yang bisa menghentikan rasa bosannya. Aku tahu dia senang dengan kemunculanku. Sebenarnya, aku ingin menghibur penjaga ini lebih lama, tetapi aku harus masuk. Orang-orang di dalam sana pasti sudah menungguku. Jadi, aku menyerahkan tiket yang dia minta dan menerobos masuk.

Ternyata, pertunjukan sudah dimulai. Cahaya lampu hanya menyoroti panggung tempat Melodi berjalan dengan anggun diiringi dua cowok berpakaian kuno. Seseorang menegurku. Dia bilang, aku menghalangi pandangannya. Sebagai balasan, aku tersenyum dan segera mencari tempat duduk. Untungnya, ada kursi kosong di depan.

Setelah aku duduk, suara gitar memenuhi ruangan diikuti drum dan sebagainya. Oh, sial, ternyata pertunjukan sudah sampai puncak.

"Duhai, kekasihku!" teriak seseorang dari balik panggung. Lampu berkelap-kelip sampai membuatku pusing, lalu Ryan terlihat di panggung. Melodi menghampirinya. Pasangan serasi.

Aku merasakan tusukan benda keras yang kusembunyikan di balik punggung saat bersandar di kursi. Aku akan menunggu sampai bagian Ryan menyanyi. Dia tidak berhak memiliki bakat itu ketika memiliki sifat berengsek yang alami.

Orang-orang bertepuk tangan saat Melodi menerima permintaan maaf dari Ryan. Adegannya kira-kira seperti itu. Lalu, musik mengalun. Tanganku meraba benda persegi panjang yang kubeli dengan susah payah, kemudian mengeluarkan korek. Keadaan di tempat duduk penonton sangat gelap, jadi seseorang di samping- ku menoleh saat aku menghidupkan korek.

"Man, si aneh itu di sini."

Tanpa harus menoleh ke belakang, aku tahu mereka teman-temannya Ryan. Baguslah, mereka di sini. Mereka pasti akan berhenti mengataiku aneh setelah melihatku melakukan ini.

Aku mengeluarkan kembang api dari kardusnya, kemudian menyulutnya dengan korek. Aku tidak melempar kembang api itu sebelum hampir mengenai tanganku.

Suara kembang api agak teredam karena alunan musik, tetapi Ryan melihatnya. Semua orang melihatnya karena cahaya warna-warni dari kembang api mengisi udara dengan lincah. Pijaran-pijaran itu mengusir kegelapan di kursi penonton. Orang-orang di sampingku menaikkan kakinya ke atas kursi sambil menutup telinga. Aku tertawa melihatnya. Apa semua orang tidak pernah melihat kembang api?

Aku menyulutnya lagi sampai dentumannya mengalahkan alunan musik.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Aku merasa letusan-letusan kali ini tidak hanya berasal dari kembang api, tetapi juga dari jantung dan setiap pori-poriku. Euforia! Rasanya, tubuhku ikut meletus bersama kembang api.

Sayangnya, penjaga itu tiba-tiba berada di sampingku, menyeretku pergi. Apa dia tidak bisa membiarkan kesenangan ini berlanjut lebih lama? Mengingat, aku sudah menghiburnya tadi.

Aku melirik panggung. Melodi dan Ryan menatap kembang api di bawah mereka. Lampu panggung memberikan efek lucu pada wajah mereka sehingga aku tertawa. Apalagi, saat Melodi mengentakkan kakinya dan berjalan keluar dari panggung. Aku tertawa sangat keras sampai rasanya mungkin aku tidak akan pernah berhenti tertawa.

Penjaga itu menjorokkanku ke trotoar sampai lututku goyah, tetapi aku masih bisa menyeimbangkan diri. Aku tergelak dan menatapnya. "Jujur saja, kamu tadi juga menikmati ulahku, kan?"

Dia memasang wajah galak yang justru terlihat lucu, jadi aku semakin mengeraskan tawa. Saat dia mendekat, aku langsung berlari sambil masih tertawa. Tungkai-tungkaiku bergerak melintasi trotoar, tanganku terentang melawan serbuan angin. Aku mendongak untuk merasakan 'matahari' di wajahku, merasakan kehangatan yang diberikan bola pijar raksasa itu. Kehangatan yang tidak pernah diberikan oleh orang-orang di sekitarku.

Saat kembali menatap ke depan, aku tahu bahwa orang-orang menatapku. Sepertinya, mereka tidak pernah melihat orang tertawa, terlihat dari mata lapar mereka saat ini. Aku kasihan kepada mereka.

Kemudian, aku tersandung tali sepatu yang terlepas sehingga aku terjerembap ke trotoar. Tawaku terhenti, tetapi aku masih merasa harus tertawa. Dengan cepat, aku bangkit tanpa mengikat tali sepatu bodoh itu, dan tanpa sengaja mataku menangkap seseorang yang sedang berdiri di depan bangunan pinggir jalan. Meskipun agak jauh, tatapannya membuatku merinding.

Kami terus bertatapan selama beberapa menit.

Aku berjalan ke arahnya sebagai reaksi dari ledakan yang menimpa diriku sekarang-ledakan yang mirip kembang api di gedung teater tadi. Dia menatapku dengan sorot kehangatan seperti sinar matahari yang menerpa wajahku tadi. Pasti, dia merasa tertarik denganku. Dia tidak berhenti menatapku saat aku tepat berada di hadapannya. Aku menatap bangunan di belakangnya yang terlihat muram meskipun sebagian besar dindingnya berwarna putih. Orang-orang berwajah pucat keluar-masuk dari bangunan itu, dan ambulans yang berjejer di depan bangunan membuatku tahu tempat apa ini.

Rumah sakit.

Aku melirik daster putihnya yang terbuat dari katun. Baju itu tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Kupluk hitamnya juga menambah kesan kalau dia sedang sakit. Mungkin, sakit yang tidak biasa.

Selama hari-hari penuh, aku membiarkan diriku terikat bersama ledakan itu. Selama hari-hari kosong, aku mencoba melawan. Dan, sekarang aku berada dalam hari-hari penuh, aku merasakan ledakan yang terus bergumul di dalam tubuh. Gadis itu tidak bisa melihatnya-semua ledakan ini.

"Hei," sapaku.

Dia bergeming. Aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat, dan sepertinya dia mengenalku.

Dia mendongak, bibirnya tertutup rapat.

Matanya yang tidak pernah lepas dari mataku membuatku merasa ragu; jangan-jangan dia bisa melihat semua ledakan ini; jangan-jangan dia tahu semua yang tidak aku tahu; jangan-jangan dia pernah merasakan apa yang kurasakan sekarang; dan, pada akhirnya, jangan-jangan aku hanya sedang berimajinasi.

Dia berbalik pergi.

Itu sudah cukup untuk membuatku tahu kalau kemungkinan terakhir yang paling tepat.

Aku hanya berimajinasi dalam semua ledakan ini.

Baca Juga: [NOVEL] Penyap-BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya