Comscore Tracker

[NOVEL] Penyap-BAB 4

Penulis: Sayyidatul Imamah

Empat

 

Anna

 

Beberapa hari sebelum pertemuan di rel kereta

 

DI mobil, dalam perjalanan ke rumah, aku memikirkan anak lelaki itu saat berniat memikirkan hal lain. Bayangan saat dia jatuh di trotoar membuatku meringis. Cara dia bangkit dan berjalan terpincang-pincang ke arahku terasa aneh. Saat dia menyapaku, menghunus mataku dengan tatapannya-aku merasa harus menjauh.

Jika ada anak lelaki yang aku harapkan menyapaku dengan cara seperti itu, anak lelaki itu akan berada di urutan terakhir, atau bahkan dia tidak pernah berada dalam daftar. Aku tidak mengenalnya sebaik itu, tetapi aku tahu tentang dia. Mungkin semua orang tahu tentang dia.

Leo Sebastian. Anak yang bermasalah. Tiga kata itu cukup untuk mendeskripsikannya. Aku yang jarang masuk sekolah pun bisa menyebutkan kelakuan anehnya ketika di sekolah. Dia pernah berteriak mengelilingi sekolah sambil mengumumkan kalau dunia tidak adil. Saat aku pertama masuk sekolah setelah tiga bulan absen, Leo berdiri di gerbang dengan membawa spanduk bertuliskan: Kebebasan untuk Siswa! Berhenti Menyuruh Kami Datang Tepat Waktu!

Sebagian tentangnya aku tahu dari cerita anak-anak. Hanya saja, yang diceritakan anak-anak jauh lebih mengerikan. Hara pernah bilang kalau Leo sering keluar masuk penjara, pengedar narkoba, dan sebagainya. Aku tidak tahu itu benar atau hanya gosip karena aku tidak terlalu mengenal Leo. Itu sebabnya aku tidak terlalu menganggap serius perkataannya di rumah sakit.

"Rumahnya dekat dengan sekolah, kamu pasti akan suka," kata Ibu sambil menggenggam tanganku, dia mengatakannya berkali-kali seolah aku akan mengamuk saat sampai di rumah baru kami. Rumah baru tidak menjadi prioritas pikiranku saat ini karena tidak ada gunanya. Bahkan, mobil yang kami gunakan sekarang hanya hasil meminjam. Tidak ada yang tersisa dari kemewahan yang kami rasakan dahulu.

Mobil berhenti karena palang kereta api ditutup. Ayah menoleh. "Dan dekat dengan stasiun kereta. Kita bisa naik kereta kapan-kapan." Ayah mengatakan itu seolah aku pernah bercita-cita ingin menaiki kereta api. Untuk membuatnya senang, aku hanya mengangguk.

Deru kereta terdengar dari jauh. Aku menatap kepala kereta. Kereta itu berkarat, tua, dan kuno, tetapi jalannya cepat, sangat cepat. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Lajunya akan tetap seperti itu meskipun ada seseorang yang berbaring di bawahnya. Aku meneguk ludah lalu mengalihkan tatapan pada hal lain.

Setelah kereta itu melaju pergi, palang kembali terbuka dan kami melanjutkan perjalanan menuju rumah baru kami yang dekat dengan rel kereta.

"Nah, kita sudah sampai."

Aku menatap rumah mungil bercat putih gading itu. Ada jendela di samping rumah. Tirainya terbuka sedikit seperti mata setengah terpejam. Bentuk rumah itu mengingatkanku pada rumah-rumah trailer, berbentuk kotak dengan undakan di depan pintu. Bahkan dari luar, aku bisa melihat kalau rumah itu benar-benar kecil. Mungkin, seukuran kamarku dan Nora ketika kami masih di rumah yang dahulu.

Nora menunggu di beranda, menatap kedatangan kami dengan tatapan kosong. Ayah membantuku turun dari mobil seolah aku gadis lumpuh.

Nora tidak tersenyum saat mengatakan, "Tadi, aku berkeliling di sekitar rumah. Ada rel kereta yang dekat dari sini. Mau melihatnya nanti?"

"Dia masih belum kuat untuk pergi ke mana pun, Nora," sela Ibu.

Aku menatap Nora, ingin mengatakan kalau aku sudah melihat rel itu, bahkan keretanya. Namun, aku malah berkata, "Aku akan ke sana."

"Jangan mulai, An." Ibu berdiri di antara kami. "Kamu tahu kondisimu masih lemah. Kalian bisa ke sana setelah Anna mendingan. Jangan membantah. Dan Nora, antar adikmu ke kamar."

Aku berjalan melewati mereka berdua. Nora menyelinap di sampingku tanpa suara. Aku yakin kehidupanku di rumah baru ini tidak akan ada bedanya dengan kehidupan di rumah sakit,

bahkan mungkin lebih parah.

***

13 hari setelah pertemuan di rel kereta

 

Ibu menungguku menelan pil putih itu sebelum melanjutkan bicara. "Dokter bilang kamu hanya harus melakukan transplantasi, An. Setelah itu penyakitmu pasti sembuh. Kankernya akan hilang." Suara Ibu bergetar. Dia selalu berbicara seperti itu jika berhadapan denganku, terlihat sangat rapuh.

Ayah hanya menelan nasi goreng di hadapannya tanpa mengucapkan apa pun. Sedangkan, Nora berlama-lama di dapur. "Aku akan pergi ke sekolah."

Mata Ibu mulai berkaca-kaca. "Dengarkan Ibu, An. Ini demi dirimu. Kita hanya harus membawamu ke rumah sakit dan kamu akan sembuh."

Selama bertahun-tahun, aku menjalani pengobatan yang Ibu katakan bisa membuat penyakitku hilang. Kemoterapi, radioterapi, obat-obatan, dan semua peraturan tentang harus selalu memakan sayuran, minum banyak air, tidak berhubungan dengan orang sakit-padahal aku sendiri juga penyakitan, dan banyak hal lainnya. Sekarang, aku juga harus melakukan transplantasi?

Ayah dan Ibu mempersiapkan hampir seluruh uang yang mereka tabung untuk menyekolahkan aku dan Nora. Namun, uang itu malah berakhir di rumah sakit. Nora menganggur selama dua tahun. Dia tidak kuliah. Padahal, sebenarnya dia bisa saja memilih kuliah di mana pun yang dia mau. Kami sedang menjual rumah kami yang besar, peninggalan kakek. Dan, kami berakhir di rumah kecil ini. Lalu, sekarang mereka masih mau melakukan transplantasi seolah memiliki uang untuk itu.

Aku menatap Ibu, menilik manik matanya yang merah dan sembap. Apa dia begitu putus asa?

"Setelah transplantasi tulang sumsum, kamu hanya harus tinggal di rumah sakit beberapa minggu, An. Setelahnya, kamu bisa sekolah lag-"

"Berapa biayanya?" potongku. Ayah meletakkan sendoknya di piring mendengar pertanyaanku. "Apa Ibu tahu berapa biayanya?"

Ibu menatapku. "An, tidak usah memikirkan itu. Ayahmu dan aku sudah memikirkan-"

"Memikirkan apa?" Aku menatap botol-botol pil di depanku. Ada sekitar lima botol, bahkan ada cairan pahit di kotak makan siangku. Semua itu adalah bagian dari penyembuhan. "Apa Ibu pernah memikirkan sesuatu selain aku?" Ludahku meluncur dengan cepat di tenggorokan. Aku melirik Nora yang baru kembali dari dapur sambil membawa mug berisi kopi. Dia hanya menggeleng samar kepadaku.

"Anna " Ibu memalingkan muka dan aku tahu dia sedang menahan tangis. Ayah berdiri dari kursi.

"Ayah akan mengantarmu ke sekolah," kata Ayah sambil berjalan keluar. Suasana di ruang makan berubah mendung seolah ada awan yang menggantung di atas kami.

Setelah mengusap ujung matanya, Ibu menatapku. Dia memperbaiki topi kupluk di kepalaku dan dasi di seragamku. Dia juga menaruh pil-pil itu ke dalam kotak P3K dan memasukkannya ke tas.

"Baiklah, kamu bisa sekolah. Ibu sudah menelepon kepala sekolah. Dia bilang kamu tidak harus mengikuti semua mata pelajaran. Nanti, kalau kamu merasa pusing dan mimisan, telepon saja Ibu. Dan, jangan lupa minum pil dan siropmu. Setiap-"

"Setiap makan siang, dan aku hanya harus memakan masakan Ibu." Aku muak dengan semua nasihat dan kata-kata yang entah sudah disampaikan berapa ribu kali itu. Bukankah aku akan mati juga pada akhirnya? Ibu mengangguk lemah dan mencium keningku.

"Kamu benar-benar tidak mau memakai wig?" tanyanya setelah aku berdiri.

Ingatan sewaktu aku memakai wig membuatku langsung menggeleng. Rambut kasar yang berbau tajam itu tidak pas menempel di kepalaku.

Ibu mengangguk sambil menggamit lenganku dan membawaku keluar rumah dengan cara yang kelewat hati-hati seolah aku bisa ambruk kapan saja. Suara mesin terdengar dari sepeda motor tua. Ayah di atasnya. Lalu, seperti yang sudah kuduga, Ibu akan membantuku naik. Ayah membantu Ibu menaikkan aku. Aku tidak boleh membantu diriku sendiri. Situasi seperti ini sangat kubenci.

Sepeda motor bergerak pelan menjauhi pagar. Ibu melambaikan tangan. Aku membalasnya. Tidak lama kemudian, kami tiba di tikungan. Aku menengok lagi ke arah rumah. Ibu masih di sana. Menatapku. Lalu, sepeda motor berbelok. Ibu hilang. Aku juga hilang. Keluargaku selalu seperti ini. Mereka menyayangiku. Aku menyayangi mereka. Namun, kami tidak bahagia.

***

Ayah menurunkanku di gerbang sekolah. Beberapa siswa berlarian masuk sekolah karena hampir terlambat. Sekarang hari Senin, waktunya upacara. "Kamu tidak perlu mengikuti upacara." Ayah mengusap kepalaku dan membenarkan topi kuplukku. "Telepon Ayah kalau ada sesuatu."

Aku mengangguk dan tersenyum. Dia pergi sambil mengawasiku dari spion. Aku masuk ke sekolah setelah Ayah menjauh.

Sekolah ini tidak berubah. Pagarnya masih karatan. Dindingnya masih berwarna hijau muda. Tiang bendera masih berdiri di tempatnya. Semua masih baik-baik saja meskipun aku hampir mati. Tidak ada yang berubah. Bahkan, bayangan bukit di belakang sekolah tetap seperti itu.

Anak-anak memandangiku saat aku melewati lorong sekolah. Ada beberapa yang kukenal, sebagian lainnya tidak pernah berbicara denganku, dan sebagian lainnya baru kali pertama kulihat. Aku hanya tersenyum saat mereka menyapa walaupun aku masih mendengar bisikan mereka di belakang. Bisikan penuh rasa kasihan, penuh kata menyedihkan.

Setelah aku sampai di kelas, anak-anak mulai heboh dan mendatangiku. "Anna! Akhirnya masuk juga!" Boni, ketua kelas kami berteriak. Hara meninju kepalanya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Jangan keras-keras! Anna kan baru keluar dari rumah sakit," kata Hara sambil berjalan ke arahku, dan memelukku. Anak-anak yang lain tersenyum canggung, aku pun begitu. Hanya Hara yang paling dekat denganku, sementara yang lainnya ... mereka seperti ini hanya karena kasihan kepadaku.

Hara menggiringku ke bangku kami. Anak-anak yang lain sudah keluar untuk mengikuti upacara. "Aku seneng kamu masuk." Boni memasang topinya, senyumnya masih terpampang di sana. "Aku sama Hara saling ngelengkapin catatan buat kamu."

Hara mengangguk. "Tinggal baca."

Aku berterima kasih kepada mereka. Kemudian, Boni pergi ke lapangan, sedangkan Hara, aku harus memaksanya pergi karena dia bersikeras ingin berbicara denganku. Akhirnya, Hara pergi setelah Pak Dani memeriksa kelasku.

Aku kembali sendirian.

Mataku meneliti kelas yang sedikit berubah. Lukisan-lukisan baru menempel di dinding, dan ada kerajinan dari sedotan di lemari buku. Aku berjalan menuju jendela, melihat anak-anak yang berbaris rapi di kejauhan.

Aku ingat sedikit hal tentang upacara: berdiri dengan sikap sempurna, mendengarkan ceramah guru, dan melihat bendera berkibar sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ingatan itu kadang memburam bersama ingatan lainnya ketika aku di rumah sakit. Kadang, aku rindu mengikuti upacara, berlarian, tertawa dengan lepas. Aku rindu merasa sehat.

Sekuat apa pun aku berusaha meyakinkan diri sendiri (kalau suatu hari nanti aku akan sembuh), tidak pernah berhasil. Setiap malam, saat aku tidak bisa memejamkan mata, aku membayangkan penyakit itu menggerogotiku sampai habis tidak tersisa. Terkadang aku bisa melihatnya keluar dari tubuh dan berbicara denganku. Biasanya, berakhir dengan penyakit itu menggergaji kepalaku.

Aku bahkan memberinya nama. Gnaw. Karena ia selalu menggerogoti bagian dalam tubuhku, semuanya.

Aku berdiri di depan jendela sambil menatap pengibar bendera yang menaikkan bendera di tiang. Sebelum aku melihat bendera sampai di puncak, aku mendengar keributan dari kelas sebelah. Biasanya, dari kelas ini, aku tidak bisa mendengar apa pun. Namun, karena semua anak berada di lapangan, jadi semua suara dari luar kelas menjadi terdengar jelas.

Aku pergi menuju suara ribut itu. Bukan karena aku benar-benar ingin tahu, aku hanya bosan.

Ternyata, suaranya bukan dari dalam kelas, tetapi di luar kelas yang bersebelahan dengan kelasku.

Ada dua cowok sedang saling pukul. Bukan, bukan saling pukul, karena hanya satu cowok yang memukul dan satunya hanya menerima pukulan itu. Cowok yang bertubuh besar dan tidak kukenal menendang cowok satunya sampai terpental ke dinding. Aku merasa kenal dengan cowok yang dipukuli.

Leo?

Cowok satunya kembali menarik kerah baju Leo lalu menyeret Leo ke dalam kelas. Aku mengikuti perlahan.

Leo tetap tidak melawan. Mereka tidak melihatku. Bahkan tidak mau repot-repot memperhatikan apa-apa kecuali terus memukul dan menerima pukulan. Cowok yang berbadan besar dengan rambut klimis itu menahan Leo dengan kakinya di lantai, kakinya menginjak dada Leo. Aku ingin membantu. Namun, apa yang bisa kulakukan?

"Leo," panggilku lemah. Mereka mendengar suaraku, dan serentak menoleh. Aku menatap cowok itu dan berkata dengan tenggorokan tersekat. "Aku ingin berbicara dengan Leo."

Cowok itu menarik kakinya dari dada Leo. Dia menatapku dari atas sampai bawah. Bola matanya bergerak gelisah. "Anna," katanya seolah baru sadar ada orang di sini. Dia mendekat. Refleks, aku mundur. Caranya memukuli Leo membuatku takut. Dia melihat wajahku, melihat reaksiku. "Aku nggak mukul si berengsek itu! Dia yang mulai duluan!" serunya. Aku kembali mundur selangkah. Kulihat Leo duduk sambil terbatuk di belakangnya. "Jangan lapor ke guru," kata cowok menakutkan itu sambil melewatiku.

Selama beberapa menit, aku hanya berdiri di tempat semula. Lalu, aku segera menghampiri Leo saat dia bersandar di tembok.

Aku berjongkok di sampingnya. "Aku akan melaporkannya ke guru kalau kamu mau."

Mata Leo memandangku. Pipinya lebam di sebelah kanan dan ada banyak debu di rambut serta seragamnya sehingga dia terlihat berantakan. Dia memegang rahangnya dengan satu tangan dan tersenyum lemah. "Aku punya sesuatu," katanya.

Aku mengernyit. Mata Leo berbinar. Dia menutupi mulutnya dengan tangan. "Ini sangat lucu," lanjutnya. Dia menyingkirkan tangan dari wajah untuk memperlihatkan senyum lebarnya. Aku bisa melihat deretan giginya yang berlapis darah. Untuk sesaat, itu terlihat lucu karena aku teringat badut yang lipstiknya mengenai gigi, tetapi aku tidak melihat apa-apa kecuali Leo dan darah. Aku tahu dia melakukan itu untuk mengalihkan topik pembicaraan.

Ketika melihat aku yang tidak bereaksi, Leo hanya terkekeh. "Kupikir itu lucu." Dia kembali mengusap pipinya. "Apa yang mau kamu katakan?"

"Aku punya kotak P3K." Aku memutuskan untuk tidak melaporkan ini ke guru. Kalau Leo mau aku melaporkannya, dia pasti sudah mengatakannya sekarang.

Dia menatapku seolah akulah yang membuat dia bernapas. "Bagus, aku lagi malas ke UKS."

Kami akhirnya ke kelasku setelah Leo membersihkan darah di mulutnya dengan air.

Di kejauhan, aku bisa mendengar suara guru dari pengeras suara yang mengatakan kalau upacara akan segera selesai. Kami punya beberapa menit untuk membersihkan luka Leo sebelum anak-anak menghambur masuk kelas. Kami melangkah ke mejaku yang berada di deretan nomor tiga dari belakang.

Aku mengeluarkan kotak P3K yang disiapkan ibuku. Di sana, ada banyak yang bisa ditemukan: pil, obat merah, perban, tisu, sirop, dan lainnya. Leo menatapnya dengan takjub. "Ini versi lain dari peralatan bengkel Ove," kata Leo sambil terkekeh.

"Ove siapa?"

"Tokoh utama di novel A Man Called Ove. Dia aneh banget, punya banyak peralatan yang bagus dan lengkap. Kayak kotak P3K ini."

Aku mengangguk sambil mengeluarkan obat merah dan perban. "Aku hanya butuh plester." Leo menunjuk dua plester yang ditaruh di sudut kotak.

"Tapi itu bukan luka yang bisa disembuhkan dengan plester." Aku menunjuk lebam di pipinya.

Kupikir Leo akan membantah, tetapi dia hanya mengangkat bahu. "Setidaknya, bisa menutupi lebam sekaligus tampil keren."

Dia bicara hal konyol lagi, tetapi aku tetap memberikan plester itu. Leo memasang plesternya agak miring. "Itu apa?" tunjuk Leo ke arah botol sirop yang di dalamnya berisi cairan berwarna hijau. "Kelihatannya enak."

Aku menahan tawa. "Coba aja."

Leo mengambil botol itu tanpa curiga lalu meminumnya. Tepat setelah dia menempelkan bibir botol ke lidahnya dan mencicipi setetes sirop itu, dia langsung meludahkannya sambil mengusap lidahnya berkali-kali. Aku tertawa melihatnya. Wajah Leo sangat lucu, seperti anak kecil yang menelan lemon. Aku masih tertawa saat Leo menutup botol itu kemudian mengembalikannya kepadaku. Dia tersenyum ketika melihat wajahku.

"Sangat lucu, ya," komentarnya. Aku semakin tertawa dengan keras.

"Itu ... itu rumput khusus." Aku berusaha berhenti tertawa. "Aku melihat sendiri saat rumput itu diblender pagi ini."

"Pahit. Kamu meminum ini setiap hari?"

Aku mengangguk.

"Setiap hari?"

"Setiap hari."

Tawaku sudah reda, tetapi aku tetap tergelak ketika Leo menjauhkan kotak P3K-ku ke pinggir meja.

"Satu botol?" tanya Leo kembali.

"Iya. Kalau terbiasa, rasa pahitnya akan berkurang kok, tapi tetap akan terasa pahit."

Leo mengangguk. "Kalau begitu ini bahaya. Sirop itu bisa saja dilaporkan ke polisi, itu bisa merusak lidah seseorang, bisa membuat lidah mati rasa. Kamu harusnya membaca One of Us is Lying. Di buku itu, minyak kacang bisa membunuh orang. Jadi, sirop ini harusnya dikategorikan sesuatu yang harus dihindari. Orang-orang bisa terbunuh."

Aku terbahak lagi. Perutku sampai sakit karena terus tertawa. Aku sampai tidak sadar bahwa ini kali pertama aku tertawa begitu keras sejak lama.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Penyap-PROLOG

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya