Comscore Tracker

[NOVEL] Penyap-PROLOG

Penulis: Sayyidatul Imamah

SEMUANYA masih sama sekaligus berubah.

Tempatnya yang berubah, tetapi suasananya memang selalu seperti ini. Bergemuruh, bising, dan penuh kenangan. Kalau saja kenangan bisa dikecap dengan lidah, aku bisa merasakan rasa pahitnya sekarang. Rasa pahit yang bergulung di lidah, mencekik setiap papila, lalu meluncur ke kerongkongan dengan menyisakan bekas.

Semuanya memang membekas.

Rel kereta yang tadi kulewati sudah benar-benar berkarat, usang, dan jarang dilewati. Namun, aku masih merasakan getarannya.

Walaupun jembatan itu sudah hilang-hampir segalanya hilang di sini-aku masih bisa melihat bayangan kelabu di sana, bayangan yang membuatku terdiam di sana berjam-jam. Bayangan itu menyampaikan cerita masa lalu, tentang dua remaja.

Seandainya bayangan itu bisa kusentuh, ingin kugenggam tangannya.

Meskipun rumah ini sudah seperti tempat horor yang dijadikan ajang tantangan untuk anak muda, aku masih merasakan kehangatannya.

Tempat-tempat inilah yang membuatku menjadi diriku yang sekarang. Tanpa itu semua, aku mungkin tidak akan pernah melihat segala sesuatu dengan cara yang sebaik ini.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Aku mendekat ke jendela di samping rumah, menyentuh bingkai yang setengahnya sudah terlepas dari dinding. Aku mengambil lapisan dinding yang terkelupas di dekat jendela lalu memasukkannya ke saku celana sebagai kenangan yang bisa kusentuh.

Aku mengelilingi rumah ini sekali lagi. Memperhatikan rumput dan lumut yang memenuhi seluruh dinding dan sampai ke atap. Mencium bau bangkai dari hewan mati di dalam sana. Mendengarkan derit rumah tua. Rumah ini tidak bertahan lama, begitu mudah hancur oleh waktu. Orang-orang pun begitu.

Aku terus berjalan melewati rumah itu meskipun punggungku mulai sakit dan pergelangan kakiku tampak bisa patah sekarang juga. Napasku tersengal-sengal saat sampai di kuburan. Tanganku yang keriput dan sering bergetar merogoh saku celana. Aku membawa satu tangkai bunga yang sangat kusukai. Tangkai yang mungil.

Aku berjongkok di samping kuburannya sambil meletakkan tangkai mungil itu di samping bunga lainnya. "Hei." Suaraku seakan bergema di sekitar kuburan. "Tangkai ini terjatuh di jalan ... aku tidak mencari-cari alasan. Tangkainya memang jatuh, dan aku harus kembali lagi untuk mengembalikannya." Aku merasa bisa mendengar gelak tawanya. "Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi."

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Penyap-BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya