Comscore Tracker

[NOVEL] Wife Wannabe: Bab 2 

Penulis: Ririn Ayu

Posesif

 

Suara debum pintu yang terbanting menutup bergema. Nila membanting tasnya di lantai. Menimbulkan suara berisik yang memenuhi ruangan. Tidak peduli tentu saja. Jika dia sedih maka seluruh dunia harus berduka. Dia harus menangis sekarang, meraung-raung kalau perlu. Dia hanya perlu melampiaskan perasaannya semata.

Dia melemparkan tasnya dengan serampangan. Melempar benda itu ke atas meja rias. Selanjutnya, dia berguling di kasur. Memulai posisi menangis sedih ala adegan sinetron. Jemarinya menarik bantal hingga mendekat, menopangkan dagunya di permukaan benda itu.

Air mata yang ditahannya sejak tadi mulai membuat garis di pipi. Membawa sisa maskara yang terbawa turun dan membuat matanya kini nyaris mirip mata panda. Air yang jatuh itu tidak menimbulkan luka fisik hanya perih di hati. Bisa-bisanya Gie melakukan itu padanya. Berani-beraninya pemuda itu membuatnya menangis seperti ini! Dia yang seharusnya membuat Gie menangis bukan sebaliknya. Aturannya begitu dan Gie melanggar itu.

Suara tangisannya terdengar sumbang terjebak kapuk di dalam bantal. Semua kenangan itu berputar di dalam benaknya. Gie yang selalu menjadi tempatnya mencurahkan perasaan. Bergantung itulah posisinya selama ini. Dia selalu berperan menjadi dahan yang menopang kelopak bunga yang rapuh.

Gie pernah menjadi pemuda yang paling perhatian dan mungkin sekarang masih begitu. Dia ingat saat acara ospek ketika masa mereka masuk sebagai mahasiswa baru. Waktu itu, semua orang naik ke bak truk. Berdiri dan berdesakan. Gie yang ada di bagian belakang truk berteriak keras, kalau Nila tidak boleh menyandarkan punggung di penutup bak itu.

“Pindah, pindah! Kamu akan jatuh! Nila!”

Saat dia tidak bergeming, Gie mulai berteriak untuk meminta anak lain menariknya menjauh. Saat itu anak lelaki yang dia ingat bernama Alan, menarik dan menguncinya di pinggiran bak truk.Pemuda itu tersenyum, sepertinya bermaksud menjaga agar Nila tidak terjatuh, tetapi Gie tidak terima.

“Alan pindah! Pindah! Jangan sentuh Nila!”

Semua orang hanya terdiam, Nila mulai malu dengan tingkah Gie. Akan tetapi, diam-diam tersenyum dengan perhatian yang diberikan oleh pemuda itu. Dengan sengaja, dia mencondongkan badan ke depan dan berpura-pura mengajak Alan berbicara. Tersenyum geli saat mendengar Gie berteriak di belakang dengan gusar. Pemuda aneh itu benar-benar terdengar marah. Alan juga tampak tidak peduli dan terus mengajaknya berbicara dalam jarak dekat. Tidak menganggap hal besar saat Nila muntah hingga membasahi kaos depannya. Alan bahkan menyeka bekas muntahan di bibirnya.

Justru Gie yang menganggap semua itu hal besar. Pemuda itu menariknya turun dengan kasar segera setelah truk sampai di lokasi tujuan. Tidak peduli pada kakak senior yang sudah memelotot marah kepadanya.

“Lain kali muntah saja di pelukanku jangan di kaos orang lain!”

“Kenapa?” Nila pasrah saja saat Gie membersihkan bekas muntahan di tangan dengan tisu.

“Kasihan Alan!”  katanya dengan kepala menunduk. Tampak tekun membersihkan sela-sela jemari Nila, seakan-akan tidak ingin sedikit pun bau Alan menempel.

Tidak lama setelah itu, Gie menyatakan cinta. Memintanya menjadi milik pemuda itu seutuhnya.

“Aku tidak suka kau bicara dengan orang lain. Kau milikku, segalanya tentang dirimu hanya aku yang berhak,” katanya waktu itu.

“Kamu nembak aku?”

“Tidak. Aku hanya bilang kalau kau milikku.”

Nila cukup puas dengan kata-kata itu, meski tidak ada sebutan cinta di dalamnya. Ingin memiliki bukankah sama artinya dengan mencintai? Meski kalau dipikir ulang kata-katanya agak ambigu dan Gie jadi semakin tidak jelas seiring waktu berlalu.

Mereka memang menjadi role model dalam hal percintaan dan cinta lokasi di kala ospek. Banyak yang mendoakan agar hubungan mereka langgeng. Ada yang mendoakan dirinya dan Gie segera naik ke pelaminan. Doa itu terkabul sebagian dan sebagian lagi tidak. Hubungan mereka memang langgeng, awet dalam hal berhubungan dan berteman, namun tidak pernah naik ke tahap berikutnya. Mereka tidak pernah berkencan seperti dugaan sebagian orang. Hanya berteman tanpa sedikit pun harapan romantis.

Gie masih tetap sepengecut biasa. Tetap sahabat yang baik, dengan ribuan tanda cinta, akan tetapi tidak pernah menasbihkan kalau dia ingin memilikinya. Mungkin hubungannya dengan Gie perlu doa lanjutan. Doa yang lebih mustajab untuk menggagalkan awetnya status mereka selama ini.

Nila mulai lelah dengan hubungan yang terkatung-katung tanpa kejelasan. Dia menginginkan lebih. Permintaan yang wajar dari seorang wanita. Mau sampai kapan terus menerus berhubungan tanpa komitmen yang jelas. Sampai muncul istilah perjaka tua, kalau hal itu yang diharapkannya maka tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Semuanya gara-gara Gie yang terlalu banyak pertimbangan aneh. Pikirannya kembali berputar pada awal mula masalah ini.

Di taman kota waktu itu, enam bulan yang lalu. Nila meremas kaleng kopi kemasan yang tidak lagi dingin. Terpapar udara malam seharusnya kaleng itu mendingin. Tapi, kondisinya sama seperti hatinya. Memanas seiring malam yang semakin beranjak larut.

“Aku sudah dua puluh empat,” kata Nila tiba-tiba.

“Lalu?”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Aku sudah ingin menikah.”

“Aku belum siap.”

“Aku enggak menyuruhmu nikahin aku,” ketusnya. Remasan di permukaan kaleng kopi semakin erat.

“Lalu mau nikah sama siapa? Enggak mungkin menikah dengan rumput, kan?” Gie masih terdengar berkelakar.

“Serius dikit, bisa?”

“Nil—” Gie terdengar putus asa.

“Kita hanya teman seperti katamu. Benar,kan?”

Pemuda itu terdiam cukup lama. “Jangan menikah dengan siapa pun pokoknya!” ucapnya dengan penekanan seolah-olah dia benar-benar tidak suka.

“Kita hanya sahabat, sahabat tidak seposesif itu, Gie!”

“Benar. Kita hanya teman, kamu juga enggak punya hak buat maksa aku nikahin kamu secepatnya.”

Kata-kata itu kembali bergema. Memantul di dalam permukaan tempurung kepala. Mengirimkan suara-suara menyakitkan. Meremas otaknya berpikir keras sejak beberapa hari belakangan. Mungkin kerutan di dalam otaknya telah bertambah beberapa lusin.

“Kalau diajak nikah kamu selalu bilang kita hanya teman, tapi kalau aku dekat dengan orang lain mendadak kamu jadi pacarku.” Nila bergumam sendiri menjawab ilusi di dalam batinnya. Ilusi suara Gie yang mengganggu.

Gie mendambanya, menginginkannya. Dia tahu itu. Hanya saja, kenapa keinginannya itu terselubung dalam topeng kepengecutan yang selalu saja ditampilkan pemuda itu.  Apakah sekali saja Gie tidak berani melangkah? Apakah dia mendadak jadi pesimis saat Nila memberikan kesempatan atau dia hanya melihat kesulitan? Jika cinta tidak harus dinyatakan dan tahu-tahu pacaran maka apa susahnya menikah? Bukankah pernikahan itu demi sebuah kenyamanan, kenapa tidak langsung menikah saja? Toh, sudah sama-sama nyaman satu sama lain. 

Pernikahan akan membuat semuanya jadi lebih jelas. Nila mencintainya, ingin memilikinya seutuhnya. Gie yang angkuh juga tidak ingin melepaskannya dan bersama orang lain. Win win solution. Dia mendapatkan apa yang dia mau, begitu pula dengan pemuda itu. Itu adalah solusi yang tepat.

Nila hanya menginginkan Gie. Dia tidak mendua, tidak pernah ada dalam kamusnya kata mendua. Hati akan patah kalau diisi lebih dari satu orang. Ruang hatinya cukup sempit untuk menerima kehadiran orang lain.  Inilah yang membuatnya marah. Marah pada Gie yang tidak memiliki komitmen. Kesal pada dirinya yang terlalu berharap. Benci pada ketidakmampuan hatinya membagi cinta.

“Waktu itu pun kamu bilang kita hanya teman, apa sekarang kita kembali jadi teman lagi?”

Sekarang matanya nanar menatap cincin di tangannya. Cincin itu berkelip mengejek. Emas imitasi memang selalu begitu. Tampak berkilau tapi dalamnya bohong. Sama seperti Gie, memberikan janji palsu tapi hanya dusta.

“Cincin ini palsu, tahu enggak!” Nila melepaskan cincin itu dan melemparkannya ke kolong tempat tidur.

Dia hanya ingin menggertak. Mengatakan kalau dia akan segera menikah. Mengatakan kalau ada yang lebih baik. Dia berharap Gie cemburu. Pria itu seperti serigala yang akan mempertahankan wanitanya. Pemuda itu seharusnya mendekapnya sebelum orang lain merebut kesempatan itu. Wanita patut diperjuangkan, setidaknya itu yang ada dalam pikirannya, meskipun di sudut hatinya yang paling ujung dia tahu mungkin menuntut perjuangan Gie itu mustahil. Mereka tidak ada di dalam hubungan romantis. Hanya teman tapi mesra. Teman tapi hanya Nila yang mendamba.

Nila menginginkan sebuah reaksi, kecemburuan atau kemarahan akan diterimanya dengan senang hati. Jika ada reaksi maka pertanda Gie masih memiliki hati. Parahnya, Gie tidak bereaksi seperti yang dia inginkan. Gie tetap saja Gie. Lelaki mental steak yang tidak memiliki komitmen. Kalau memperjuangkannya saja tidak bisa, mau ditaruh di mana harga diri Nila sebagai wanita. Lagi pula kenapa tadi dia bersikap seolah-olah mereka berdua ada dalam hubungan super serius yang harus menikah sesegara mungkin. Mereka hanya berteman, sejak bertahun lalu pun begitu. Keadaan itu berubah saat akhirnya Gie menyatakan cinta padanya. Mereka berpacaran. Namun, tidak ada yang berubah. Hanya selalu bersama hingga bekerja yang sama. Melewatkan hari demi hari seolah Kehadiran Gie adalah oksigen untuknya. Meski sekarang, dia tahu mungkin dia hanya karbon dioksida untuk Gie. Kehadirannya tidak pernah diharapkan dan cenderung mengganggu.

Nila terkesiap. Dering ponselnya menghentikan keluh kesah monolog dalam hatinya sejak beberapa menit lalu. Nama Gie tertera di layar. Nila enggan mengangkatnya. Panggilan itu berulang empat kali sebelum akhirnya sebuah pesan masuk. Jemarinya membuka menu dan pesan itu langsung tampil di layar. 

“Bilang sama orang tuamu, tanggal 17 Februari aku mau ke rumahmu.”

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Wife Wannabe: Bab 3 

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya