Comscore Tracker

[NOVEL] Pictures of You-BAB 3

Penulis: Ratih Cahaya

"Papa sama Mama ada masalah, Ri," ujar Papa setelah mereka menjalankan salat magrib. "Tetapi, kami akan berusaha menyelesaikannya."

"Masalah apa?" tanya Riana tak sabar. "Terus, tadi Riri dengar...."

Riana menghentikan ucapannya. Dia ragu apakah dia perlu mengatakan tentang percakapan Papa dengan Tante Meli yang tadi dia curi dengar.

"Dengar apa?" tanya Papa melihat Riana terdiam.

"Dengar kalau Opa sakit. Yang benar yang mana?"

"Oh, ehm. Sebenarnya, Opa kamu sehat-sehat aja, setahu Papa. Tetapi, mungkin mamamu kangen banget sama Opa, jadi dia mau tinggal di sana untuk sementara waktu. Sambil kami menyelesaikan masalah ini," jawab Papa.

Riana terdiam lagi, masih kurang puas dan ingin protes lebih lanjut, tetapi memilih untuk tidak bicara. Mereka berdua sama-sama diam. Beberapa waktu kemudian, Riana angkat suara lagi. "Tetapi, Papa dan Mama nggak akan bercerai, kan? Kalian akan baikan lagi, kan?"

Papa tersentak mendengar pertanyaan Riana. Beliau tidak langsung menjawab, hanya menatap Riana penuh perhatian. "Mudah-mudahan begitu," jawab Papa.

Riana lega sejenak. Setidaknya, saat ini dia mengetahui kalau Papa akan berusaha menyelesaikan masalahnya dengan Mama, apa pun itu. Riana hanya perlu banyak-banyak berdoa agar ketakutannya tidak menjadi nyata.

---

Senin sore, Riana pulang ke rumah yang sepi. Biasanya juga memang seperti itu. Mama sering pulang lebih malam ketimbang Papa yang bekerja di sebuah konsultan pajak di Jakarta. Namun, kali ini entah mengapa terasa lebih sepi, mungkin karena sampai sekarang Riana belum tahu apakah Mama dan Papa sudah berbaikan atau belum.

Usai mandi, Riana menarik kursi, lalu meletakkannya di depan lemari besar di kamar orangtuanya. Gadis itu meraih kotak kardus yang disampul kertas kado motif boneka beruang dan membawanya turun. Saat itulah mata Riana menangkap sebuah map cokelat yang tertindih di bawah kotak kardus.

Riana mengambil benda tersebut. Permukaannya sangat berdebu dan tidak ada tulisan apa pun yang memberinya petunjuk. Penasaran, dia membuka tali pengikat map dan merogoh ke dalamnya. Tangannya meraba lembaran-lembaran kertas. Ia mengeluarkan isinya dan menemukan foto-foto lama.

Sepertinya, itu adalah foto-foto Papa saat masih kuliah, pikir Riana. Papa tampak sangat muda dan tampan, juga bahagia.

Selain foto Papa dan teman-temannya, ada foto lain yang menarik minat Riana. Foto perempuan sedang tersenyum manis dengan sorot mata yang dalam ke arah kamera. Foto-foto perempuan itu lebih banyak daripada foto Papa dan teman-temannya. Riana mengambil salah satu foto yang paling menarik perhatiannya.

Di foto tersebut, Papa dan perempuan itu sedang tersenyum lebar dengan latar pepohonan di belakang mereka. Riana membalik lembar foto itu dan menemukan tulisan, "One fine day, Januari 1996; Aku selalu bahagia bersamamu, Ri."

Riana tercenung sesaat. Ada banyak pertanyaan yang muncul di benaknya saat melihat foto-foto itu. Ia mendesah dan mengembalikan foto-foto itu ke dalam map, kemudian membawanya ke kamar bersama kotak kardus berisi alat prakarya.

----

Usai mengerjakan PR Geografi, Riana kembali mengamati foto-foto Papa. Ia menarik selembar foto dari tumpukan. Itu adalah satu dari sedikit foto yang berisi Papa beserta teman-temannya.

Mereka berfoto di depan sebuah gedung. Mungkin itu gedung kampus mereka, pikir Riana. Semua mengenakan jas almamater, berjejer rapi sambil tersenyum ke arah kamera.

Tubuh Papa yang tinggi tampak mencolok di antara mahasiswa lainnya. Papa berdiri di samping perempuan itu. Perempuan dengan rambut sebahu, kulit sawo matang, dan tatapan mata yang dalam.

Ia tersenyum melihat penampilan mereka. Selalu lucu melihat foto-foto lama. Apa yang dulu terlihat keren dan gaya, saat ini tampak sangat ketinggalan zaman. Walau bagaimanapun, Riana mengakui papanya pada masa muda adalah sosok yang tampan, dengan wajah terang dan bersih, rahang kukuh, dan senyum lebar yang membuat orang lain ikut bahagia melihat senyumnya

Riana terus menatap Papa dan perempuan yang berdiri di sampingnya sampai ia merasa badannya seperti ditarik oleh tangan tak terlihat. Kejadiannya begitu cepat dan Riana terlalu kaget sehingga tanpa sadar langsung memejamkan mata.

Ketika Riana membuka mata kembali, ia sudah tidak lagi berada di kamar. Ia berdiri di depan sebuah gedung yang persis seperti gedung tempat Papa dan teman-teman kuliahnya berfoto. Ia melihat sekelompok mahasiswa berpakaian ala anak 90-an sedang mengobrol. Mereka sepertinya hendak mengambil foto.

Kemudian, mata Riana menangkap sosok Papa. Papanya yang masih muda dan perempuan itu! Riana yang berdiri tak jauh dari mereka buru-buru mengucek mata. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Ayo, cepatan! Mau foto nggak, nih?" seru salah seorang mahasiswa.

"Iya, iya. Mau kayak gimana fotonya?" tanya yang lain lagi.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Berdiri kayak biasa aja. Ini, kan, foto formal." Kali ini Papa yang menyahut sambil mengatur tripod dan meletakkan kamera di atasnya.

"Nih, tinggal pencet aja," kata Papa sambil memberi pengarahan kepada salah satu mahasiswa. Mahasiswa yang ini tidak memakai jas almamater, wajahnya tampak lebih muda.

Mahasiswa yang diajak bicara Papa mengangguk. Papa buru-buru mengambil tempat di samping perempuan itu, di paling ujung. Posisi mereka persis seperti foto yang barusan dilihat Riana.

"Yak, siap, ya? Satu, dua, tiga!" seru mahasiswa yang mengambil foto.

Riana masih menonton adegan itu sambil terheran-heran dan bingung. Setelah tiga kali menjepret, Papa yang paling dulu keluar barisan.

"Makasih, ya!" ujar Papa kepada mahasiswa itu. Dia tersenyum sambil mengangguk, lalu pergi meninggalkan mereka.

"Ngga, foto-foto lagi, dong! Kali ini yang gaya bebas aja. Film lo masih banyak, kan?" kata seorang mahasiswa kepada Papa.

Papa mengangguk. "Iya. Ya sudah, gaya sana!" suruh Papa.

Mereka pun mulai bergaya. Ada yang berempat, bertiga, berdua. Papa memotret mereka semua. Riana menyadari perempuan yang tadi berdiri di samping Papa tidak ikut bergaya di grup apa pun.

"Kamu nggak ikut foto?" tanya Papa kepada perempuan.

"Enggak." Geleng perempuan itu.

Papa mengarahkan kamera ke arahnya, lalu mengambil beberapa foto. Perempuan itu berusaha memalingkan wajah, tetapi terlambat. Akhirnya, perempuan itu hanya tersenyum kepada Papa.

"Kenapa?" tanya perempuan itu.

"Sayang kalau senyum kamu dilewatkan begitu saja. Harus diabadikan," sahut Papa.

Entah mendapat dorongan dari mana, Riana yang sejak tadi berdiri di sudut berseru, "Papa!"

Namun, baik Papa maupun perempuan itu, tidak mendengar suaranya. Begitu juga dengan teman-teman mereka yang sibuk mengobrol.

Riana berjalan menghampiri Papa dan berusaha meraih tangan beliau. Akan tetapi, sebelum ia berhasil melakukan hal tersebut, badannya terasa seperti ditarik lagi. Tiba-tiba, ia sudah kembali berada di kamar.

Punggung tangan Riana mengucek-ucek mata, lalu dia melihat sekeliling. Riana memastikan saat ini ia sedang berada di kamarnya. Ya, benar, dia berada di ruangan 3 x 4 meter, dengan seluruh dinding berwarna biru langit paling muda. Sebagian permukaan tembok tertempel foto-foto pemandangan benua Eropa.

Ia mengingat kembali kejadian sebelum itu. Gunting, lem, spidol, dan sobekan kertas berserakan di meja. Dia sedang duduk manis di meja belajar, baru saja menyelesaikan kolase macam-macam budaya di Indonesia untuk tugas Geografi. Kemudian, matanya kembali tertarik melihat ulang foto-foto Papa.

Kemudian, sesuatu terjadi. Riana merasa ia berada di tempat dan waktu yang berbeda. Dia tidak hanya melihat dengan jelas wajah Papa ketika muda dan teman-teman kuliahnya, tetapi juga merasa ikut berada di sana.

Mungkinkah apa yang dia alami adalah sebuah mimpi? Akan tetapi, Riana yakin sekali kalau ia tidak tertidur. Ia... merasa berpindah tempat, berpindah waktu. Ah, mana mungkin, pikirnya. Mungkin aku cuma kurang air putih, gumam Riana dalam hati lalu beranjak keluar kamar.

Sebelum meninggalkan meja belajar, matanya terantuk lagi pada foto perempuan yang berdiri di samping ayahnya. Sebuah perasaan ganjil muncul saat melihat wajah perempuan itu.

Kemudian, Riana teringat dengan pertengkaran Papa dan Mama. Apakah mungkin.... Sebelum pertanyaannya berlanjut, ia buru-buru menggelengkan kepala. Sudah, jangan berpikir yang tidak-tidak, sergah Riana mengusir pikirannya sendiri.

----

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: Pictures of You-BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya