Comscore Tracker

[NOVEL] Pictures of You-BAB 4

Penulis: Ratih Cahaya

Papa pulang dengan wajah muram, tetapi masih berusaha tersenyum kepada Riana yang tengah menyiapkan makan malam. "Masak apa, Ri?" tanya Papa kepada Riana yang sedang berada di ruang makan.

"Cuma bikin telur dadar," jawab Riana sambil meletakkan piring saji yang berisi telur dadar dengan saus asam manis yang masih mengepulkan uap hangat di meja makan. "Mama masih menginap di rumah Opa, ya?"

Papa menghela napas, lalu duduk dan menuang air putih. "Masih," jawab beliau. Matanya menerawang. "Mamamu tidak mengangkat telepon dari Papa."

Riana hanya mengangguk. Tidak tahu harus berkomentar apa. Pikirannya kini terbagi antara pertengkaran orangtuanya dan foto yang dia temukan. "Pa," panggil Riana. "Kalian nggak akan bercerai, kan?"

Riana tahu ia sudah menanyakan hal itu kepada Papa, tetapi ia butuh memastikan lagi. Ia sangat takut orangtuanya benar-benar berpisah. Apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti? Apakah dia harus memilih akan tinggal dengan siapa? Bagaimana dia bisa memilih? Dia menggelengkan kepalanya pelan, kembali berusaha mengusir pikiran buruk yang hampir mampir.

"Belum tahu, Ri," sahut Papa. Suaranya terdengar putus asa.

Riana ternganga mendengarnya. Oh, ini tak mungkin benar-benar terjadi, kan? Tidak! Dia tidak boleh menjadi anak broken home! Tanpa memedulikan Papa yang terdiam, dia langsung bangkit dan bergegas menuju kamar.

---

Apa yang harus aku lakukan? pikir Riana kalut.

Tangannya meraih ponsel, melihat layar dengan ragu. Dia ingin sekali berbicara dengan seseorang, tetapi siapa?

Dia bisa menelepon Mama, meminta beliau kembali ke rumah dan membicarakan semua baik-baik dengan Papa. Dia bisa menelepon Tante Meli, minta tolong untuk membujuk Papa dan Mama agar mereka berbaikan. Atau dia bisa menelepon Ulfi, sekadar curhat untuk menumpahkan kebingungan dan kecemasannya.

Akan tetapi, Riana merasa tidak bisa bisa bicara dengan siapa pun saat ini. Pikirannya terlalu penuh. Berbagai bayangan buruk kembali melintas di benaknya, memenuhi kepala seperti benang kusut yang terus bertumpuk sampai dia tidak bisa melihat apa-apa.

"Argh!" Riana mengacak rambutnya, lalu matanya kembali menangkap tumpukan foto di meja belajar. Tanpa pikir panjang, Riana kembali mengamati foto-foto tersebut. Dia merasa heran dengan pikirannya sendiri karena menganggap foto tersebut ada hubungannya dengan pertengkaran Mama dan Papa.

Kali ini Riana meraih sehelai foto yang berisi gambar perempuan misterius itu seorang diri. Itu foto yang diambil Papa saat beliau mengatakan, "Sayang kalau senyum kamu dilewatkan begitu saja. Harus diabadikan."

Riana tertegun mengenang adegan itu. Adegan yang terasa sangat nyata, berputar kembali di hadapannya. Kemudian, sensasi ditarik itu muncul lagi dan Riana kembali berada di kampus papanya, pada waktu dan masa yang berbeda.

Semua masih seperti yang tadi dia lihat. Sekelompok mahasiswa berkumpul untuk mengambil foto. Papa berusaha mengabadikan senyum perempuan itu. Riana diam sesaat, berusaha meyakinkan diri kalau dia memang berada di tempat itu, bukan sekadar berkhayal atau bermimpi. Kemudian, ia berjalan menghampiri Papa, berusaha meraih bahunya yang cukup tinggi untuk dicapai Riana.

 Namun, sebelum tangan Riana menyentuh badan papanya, sensasi ditarik kembali muncul. Riana memejamkan mata sambil menggerutu dalam hati. Tunggu sebentar, aku harus memastikan, bisiknya entah kepada siapa. Yang jelas, harapannya tidak terkabul. Ia kembali berada di kamar, tangannya memegang sehelai foto.

Ini fenomena apa, sih? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa aku diberi semacam 'penglihatan'? Tetapi, untuk apa? Apa akan terjadi pada foto yang lainnya? Foto yang ada aku di dalamnya, mungkin?

Riana sibuk sendiri dengan pikirannya sampai ia merasa lelah dan memutuskan untuk tidur saja.

---

"Riana!" sebuah suara memanggil namanya dengan tegas.

Ulfi menyikut lengan Riana. Gadis itu tergeragap melihat Bu Ningrum yang berdiri di depan kelas sambil menatap tajam dirinya.

"Ada apa di jendela?" tanya Bu Ningrum dengan suara tegas.

"Oh, eh, enggak ada apa-apa, Bu," jawab Riana pelan sambil menundukkan pandangannya. Dia malu tertangkap basah sedang melamun menatap jendela di mata pelajaran yang tidak dikuasainya.

"Ibu nggak suka, ya, kalau Ibu sedang menerangkan materi di depan, kalian tidak memperhatikan! Sekarang kamu maju ke depan! Kerjakan soal di papan tulis!" perintah Bu Ningrum sambil mengulurkan spidol ke arah Riana.

Riana mengangguk dengan wajah kikuk. Ia pura-pura merapikan rok seragamnya yang tidak lecek hanya untuk mengulur waktu. Ia memaki dirinya sendiri dalam hati. Mengapa ia bisa sampai melamun di pelajaran Matematika? Sudah tahu gurunya galak dan tanpa ampun.

Riana maju ke depan kelas, menatap nanar papan putih di hadapannya yang penuh berisi angka dan simbol-simbol yang tidak ia mengerti. Ia tadi hanya ingat kalau Bu Ningrum sedang menjelaskan materi Integral, tetapi hanya itu. Penjelasan selanjutnya Riana sudah tidak mendengarkan karena melamun tentang foto 'ajaib' dan nasib dirinya.

Tangan Riana gemetar menulis angka-angka yang dia sendiri tak tahu apa artinya. Untung saja Bu Ningrum masih mencantumkan contoh pengerjaan soal di bagian ujung papan. Riana menyalin semua langkah, hanya mengganti dengan angka yang ada di soal.

Bu Ningrum mendekati Riana dari belakang. "Benar seperti itu caranya?"

Riana berbalik lalu menunduk. "I... iya, Bu."

"Coba jelaskan kembali kepada teman-temanmu!" suruh Bu Ningrum lagi.

Riana menatap panik teman-temannya yang duduk dengan tegang. Siapa pun yang kena marah Bu Ningrum di pelajaran Matematika, satu kelas akan ikut menanggung. Bu Ningrum akan ceramah panjang lebar tentang sikap dan etiket seorang murid ketika belajar sambil berkeliling kelas dan menunjuk-nunjuk para siswa.

"Saya... tidak bisa, Bu," sahut Riana terbata-bata.

"Makanya!" balas Bu Ningrum. "Kalau saya sedang menjelaskan jangan bengong aja! Sudah, kembali ke tempatmu!"

"Iya, Bu," ujar Riana hampir berlari menuju tempat duduknya yang berada di barisan kedua.

Setelah sampai di bangkunya, Riana mengembuskan napas lega, seolah baru saja berhasil menghindari perangkap singa. Syukurlah, Bu Ningrum sepertinya sedang tidak berminat berceramah panjang lebar. Beliau langsung kembali menjelaskan materi yang membuat kepala Riana kliyengan.

---

"Ri, lo mau ikut belajar kelompok bareng Dian, nggak?" tanya Ulfi sesaat setelah bel pulang berbunyi. Kebanyakan murid masih berada di kelas, membereskan buku dan perlengkapan sekolah lainnya. Begitu juga dengan Riana dan Ulfi.

Riana terdiam sejenak. "Belajar apaan?"

"Matematika," jawab Ulfi. "Dan pelajaran lain juga boleh, kata Dian. Lo tahu, kan, pelajaran Matematika makin ke sini makin susah dan gurunya makin galak. Apalagi bentar lagi ujian kenaikan kelas. Mau ikut nggak?"

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Riana menggeleng pelan. "Enggak, deh."

Ulfi mendesah kecewa. "Yah, kenapa? Gue iseng kalau nggak ada lo."

Riana diam, tidak bisa langsung menjelaskan alasannya kepada Ulfi. Kalau di kelompok belajar itu tidak ada Dian, mungkin dia mau ikut. Namun, kalau ada gadis itu... huh, jangan harap. Riana tidak akan pernah belajar bersama Dian sampai kapan pun.

"Ih, ditanya malah bengong!" seru Ulfi lagi. Kali ini sambil mengibaskan tangannya ke depan wajah Riana.

Riana mengangguk. "Enggak, gue belajar sendiri aja," ujarnya sambil tersenyum tipis kepada Ulfi.

Ulfi merengut. "Yah, ya sudah, deh. Kita enggak bisa pulang bareng, dong, kalau begitu. Soalnya mau langsung ke rumah Dian habis ini."

"Iya, nggak apa-apa. Gue, kan, bisa naik angkot," sahut Riana.

Ulfi hanya mengangguk sambil berlalu meninggalkan Riana.

---

Sesampai di rumah, Riana kembali mengamati foto-foto kuliah Papa dengan perasaan gamang. Terlupa sudah kejadian memalukan nan menyebalkan di pelajaran Matematika tadi. Ia kembali pusing dengan nasib keluarganya.

Riana sudah mencoba menelepon Mama, tetapi nomornya tidak aktif. Dia belum berani bertanya kepada Tante Meli tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Papa dan Mama. Riana yakin Papa pasti bercerita banyak kepada Tante Meli dan Riana bisa mengorek informasi dari situ, tetapi ia takut. Entah apa yang sebenarnya dia takutkan.

Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Opa. Mungkin dia bisa menanyakan kabar Mama ke kakeknya itu. Ah, mengapa tidak terpikir dari kemarin, gumam Riana dongkol dengan dirinya sendiri.

Riana menekan nomor Opa, terdengar nada sambung. Cukup lama Riana menunggu, tetapi panggilannya tidak diangkat. Ia mendesah dan memutus panggilan. Opa sedang apa, ya? pikir Riana.

Opanya dulu seorang ASN di Sudin Pertamanan Jakarta Utara. Sama dengan Yangkung, kakeknya dari pihak Papa. Mereka bersahabat dekat sejak awal diterima sebagai pegawai negeri. Beberapa tahun sebelum pensiun, Yangkung memboyong keluarganya pindah ke Bogor, menempati rumah milik keluarga Yangti. Itulah mengapa Papa membeli rumah di daerah yang sama, supaya lebih dekat dengan orangtuanya.

 Sayang sekali Riana tidak sempat mengenal Oma. Sejak Papa dan Mama menikah, Oma sudah tidak ada. Begitu selalu yang mereka katakan kepada Riana, tanpa menjelaskan lebih lanjut mengapa Oma tiada.

Dulu Riana pikir, Oma sudah meninggal karena orang-orang biasanya mengatakan 'tiada' sebagai pengganti kata wafat. Mereka juga mengucapkan kata yang sama saat menyebut Yangkung yang telah meninggal dua tahun lalu.

Setelah mendengar percakapan Yangti, Tante Meli, dan Papa kemarin, Riana jadi penasaran, benarkah Oma memang sudah meninggal atau kabur seperti yang dikatakan Yangti? Mengapa kabur?

Riana meraih selembar foto, menatapnya lamat-lamat. Siapa sih perempuan ini? tanyanya dalam hati.

Perempuan misterius itu duduk di samping ayahnya. Wajahnya menghadap ke arah kiri, tidak melihat ke kamera. Sementara mata Papa menatap kamera dan bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Sepertinya, beliau tidak sadar kalau teman sebelahnya tidak ikut bergaya seperti dirinya.

Riana terus menatap foto itu, sedikit heran melihat senyum Papa. Rasanya, Riana hampir tidak pernah melihat Papa tersenyum selebar ini. Papa benar-benar terlihat bahagia dan antusias. Apakah itu karena perempuan di sampingnya? Siapa dia?

Sensasi ditarik itu muncul tanpa aba-aba. Riana yang sedang duduk di meja belajar seolah ditarik ke belakang dan tahu-tahu dia tidak lagi berada di kamarnya. Riana kembali berada di kampus Papa!

Ia menoleh ke kanan dan kiri, menemukan dirinya berada di pinggir taman kecil. Kemudian, mata Riana menangkap sosok Papa dan perempuan itu sedang duduk bangku semen. Mereka sedang mengobrol. Dari arah depan bangku, salah seorang mahasiswa menghampiri.

"Rangga!"

Papa mendongak ke arah sumber suara. "Apaan?"

"Cepatan, klub fotografinya sudah mau mulai. Pacaran mulu lu!" seru temannya, si mahasiswa yang menghampiri tadi.

"Foto dululah!" sahut Papa kepada temannya. "Ayo, Ri!" ajak Papa kepada perempuan di sampingnya.

Teman Papa menyiapkan kamera, mengambil ancang-ancang. "Siap, ya? Satu, dua, ti..."

"Enggak mau, ah!" seru si perempuan sambil memalingkan muka.

"Ga!" seru teman Papa sambil menekan tombol. "Yah, kenapa mukanya meleng, sih!" Ia menggerutu ke arah si perempuan yang hanya membalasnya dengan tawa kecil.

Papa hanya tertawa lalu bangkit menghampiri temannya. "Sudah, nggak apa-apa, Yog." Kemudian menoleh ke perempuan itu. "Ri, aku duluan, ya."

Si perempuan mengangguk sambil tersenyum dan melambaikan tangan. "Iya, udah sana!"

Riana menonton adegan itu dengan pasif. Papa dan teman laki-lakinya berjalan meninggalkan taman kampus. Perempuan yang tadi mengobrol dengan Papa masih duduk di sana, membaca buku yang sejak tadi ada di pangkuannya.

Riana mengingat-ingat saat Papa memanggil perempuan itu. Ri. Entah mengapa, cara Papa menyebut potongan kata itu mirip dengan saat beliau memanggil namanya. Kakinya melangkah mendekati bangku semen. Namun, baru saja dua langkah, sensasi ditarik itu muncul lagi, mata Riana refleks terpejam, dan saat membuka ia sudah berada di kamar lagi!

Gadis itu mengembuskan napas keras-keras. Pasti ada yang salah dengan dirinya atau dengan foto ini! Tidak mungkin, kan, dia... melihat potongan masa lalu? Atau malah, benar-benar kembali ke masa lalu?

"Enggak, enggak! Ini pasti karena aku kebanyakan mikir!" seru Riana kepada dirinya sendiri. "Kenapa, sih, aku selalu berpikir yang aneh-aneh? Kenapa aku enggak mikir sesuatu yang lebih penting, gitu!"

Kemudian, PR Matematika yang tadi siang diberikan Bu Ningrum muncul di ingatannya. "Enggak! Jangan PR Matematika!" seru Riana sambil mengempaskan diri ke kasur.

Sudah cukup pikiran dan khayalan tidak jelas ini! Lebih baik ia tidur sebentar. Nanti akan ia pikiran lagi. Tuh, kan, ujung-ujungnya pasti berpikir! keluh Riana sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

---

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: Pictures of You-BAB 5

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya