Comscore Tracker

[NOVEL] Pictures of You-BAB 5

Penulis: Ratih Cahaya

"Ul, lo percaya nggak dengan perjalanan lintas waktu?" tanya Riana kepada Ulfi saat ia baru masuk ke dalam kelas.

Guru pelajaran pertama belum datang. Murid-murid lain sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing. Ada yang mengobrol, main ponsel, atau belajar. Kegiatan yang disebutkan terakhir khusus terjadi pada anak-anak yang terlalu rajin dan lebih mementingkan nilai di rapor.

Sementara itu, Ulfi yang sedang sibuk mengunyah makanan ringan di bangkunya hanya melirik sesaat ke arah Riana, lalu fokus mengunyah lagi. "Maksud lo, perjalanan waktu kayak Hermione gitu? Atau film Avengers? Atau malah kayak film Predestination?"

Riana mengangguk. "Iya. Yang seperti itulah. Mungkin nggak sih itu beneran bisa dilakukan?" tanyanya penasaran.

Ulfi terkekeh. "Ya enggaklah, Riri Sayang. Itu kan cuma film, cuma khayalan."

Riana merengut mendengar jawaban Ulfi.

Ulfi menatapnya curiga. "Kenapa?" Gadis tambun itu balik bertanya.

"Enggak apa-apa," jawab Riana pelan. "Memang cuma khayalan," katanya lagi, seolah sedang berbicara dengan diri sendiri.

Ulfi kini menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah Riana, matanya membulat, tanda ia semakin penasaran. "Lo kenapa, deh? Tiba-tiba ngomongin perjalanan lintas waktu. Abis nonton atau baca novel tentang itu?"

Riana menggeleng. "Enggak, bukan apa-apa."

Setelah Riana mengucapkan itu, Bu Nurul, guru Bahasa Indonesia mereka datang. Obrolan mereka berdua terpaksa berhenti dan Riana bersyukur karena itu. Ia belum berani bercerita kepada Ulfi yang sebenarnya. Lagi pula, dia harus memastikan 'keanehan' itu sekali lagi.

"Ah, itu dia!" seru Riana tiba-tiba saat kelas berada dalam suasana hening, menunggu Bu Nurul menyiapkan diri untuk mengajar.

"Ada apa Riana?" tanya Bu Nurul heran. Teman-teman yang lain juga sama herannya. Semua mata mengarah ke gadis yang kini tertunduk malu. Ulfi meringis ke arah Riana.

"Eh, nggak apa-apa, Bu. Maaf, tadi saya keceplosan," ujar Riana malu. Matanya melirik ke meja paling depan, tempat Dian duduk dan menatap dirinya. Bibir gadis itu bergerak, meski tak terdengar suara, Riana mengetahui ucapannya. Freak.

Bu Nurul tersenyum. "Oh, ya sudah kalau tidak ada apa-apa. Mari sekarang kita konsentrasi dengan pelajaran Bahasa Indonesia, ya. Silakan buka buku kalian halaman 88."

Riana mengembuskan napas lega diam-diam. Untung Bu Nurul termasuk guru yang paling kalem dan lembut dalam mengajar. Kalau guru-guru lain, mungkin dia akan diteror dengan pertanyaan lanjutan atau lebih parah, disuruh keluar kelas. Tadi Riana baru saja mendapat ilham, sebuah pemikiran yang menurutnya sangat cemerlang.

Ia akan mencoba mengamati foto lain. Foto-foto dirinya sendiri. Apakah ia akan kembali masuk ke momen saat foto itu diambil atau tidak. Oh, ia juga penasaran, apakah sensasi ditarik itu akan muncul hanya saat ia melihat foto yang dicetak atau foto di ponsel pun bisa. Riana hendak memastikan 'keanehan' yang terjadi padanya.

---

"Lo nggak ke kantin?" tegur Ulfi saat melihat Riana masih duduk di bangkunya saat bel istirahat telah berbunyi.

Mata Riana fokus ke layar ponselnya. "Enggak," jawab Riana lalu mendongak ke arah Ulfi. "Biasanya lo bawa bekal?"

Ulfi tersenyum malu. "Iya, sih, tetapi gue pengin jajan siomai. Temanin, yuk!" pintanya. "Nanti kita langsung balik ke kelas aja."

"Ayok, deh," sahut Riana menyerah. Ia sebenarnya juga lapar, tetapi tadi ia terlalu sibuk memilih foto di galeri ponselnya untuk percobaan.

Sambil mengunyah potongan siomai, Riana memelototi salah satu foto saat dia dan Ulfi jalan-jalan ke Dufan pada libur semester lalu. Sampai mata Riana perih pun, tidak ada yang terjadi. Dia tidak merasakan sensasi ditarik atau tiba-tiba berada di Dufan. Padahal, lumayan banget kalau dia berhasil berada di sana daripada di sekolah.

"Lo lagi ngapain, sih?" tanya Ulfi penasaran sambil mendekati Riana. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat foto yang ditatap Riana.

"Lo pasti lagi mengagumi kecantikan gue," tambah Ulfi lagi.

Riana mau tak mau tertawa mendengar ujaran sahabatnya. "Narsis!" serunya.

"Ya, terus lo ngapain melototin tuh foto? Kangen sama gue? Nih, gue ada di samping lo," sahut Ulfi.

"Kegeeran, deh! Gue lagi nyoba," ujar Riana.

"Nyoba apaan?" tanya Ulfi makin penasaran.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Riana melihat sekeliling. Di kelas hanya ada mereka berdua, oh, dan ada Bagas, murid laki-laki paling pemalu sejagat raya yang selalu menghabiskan waktu istirahatnya sendiri. Riana kadang heran kenapa anak itu memilih jurusan IPS yang sampai sekarang terkenal dengan stereotip murid-muridnya yang 'berisik'.

"Gue lagi nyoba pergi ke masa lalu," bisik Riana.

Ulfi mendelik. "Lo jangan makin aneh, deh, Ri!"

"Sstt... gue juga sebenarnya masih bingung, makanya gue mau mastiin dulu," sahut Riana.

"Kenapa lo bisa kepikiran itu, sih?" tambah Ulfi.

Riana menggaruk kepalanya, lalu mengajak Ulfi duduk lebih dekat. Ia pun menceritakan kejadian aneh yang menimpanya kemarin. Mulai dari penemuan map cokelat berisi foto-foto lama ayahnya, berlanjut pada peristiwa badan Riana ditarik oleh sesuatu yang tak kasatmata dan tiba-tiba berada di kampus ayahnya. Ia juga bercerita tentang perempuan misterius yang sering menjadi subjek foto papanya dan prasangkanya tentang perempuan itu.

Setelah mendengar cerita Riana, Ulfi menghela napas. "Ri, lo cuma lagi cerita tentang mimpi lo, kan?" tanyanya.

Riana menggeleng. "Enggak, Ul. Gue yakin gue nggak mimpi. Itu benaran."

Ulfi masih menatapnya tak percaya. "Kenapa lo bisa yakin kalau itu benaran?"

"Karena ... karena ... yah, entahlah, Ul. Ini memang aneh dan nggak masuk akal, tapi ... gue benar-benar ngerasa ada di situ. Gue bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka dan segala macam," jawab Riana.

Ulfi mendengarkan dengan saksama, lalu lanjut bertanya, "Saat lo mimpi, apa lo merasa mendengar suara? Apa lo bercakap-cakap?"

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Riana mengangguk.

"Nah, sama juga dengan yang tadi lo ceritain. Bisa aja lo cuma mimpi, kan? Apalagi itu terjadi saat lo sendirian di kamar. Mungkin lo kecapaian atau gimana, akhirnya lo ketiduran dan bermimpi tentang hal tersebut. Iya, kan?"

Riana terdiam, tampak mencerna kata-kata Ulfi. "Tapi, semuanya terasa nyata banget, Ul," kata Riana masih bertahan dengan pendapatnya.

Melihat Riana yang masih diam, Ulfi menghela napas lagi, lalu berkata, "Oke, anggaplah itu benaran. Terus, lo mau ngapain?"

"Gue mau cari tahu siapa perempuan itu dan kenapa Papa masih menyimpan foto-foto tersebut. Gue mau tahu apa dia yang menyebabkan orangtua gue berantem," jawab Riana.

Ulfi terperangah, teringat perkataan Riana saat mereka di Botani Square. "Ortu lo masih berantem?"

Riana mengangguk dengan wajah lesu. Ulfi langsung memberikan tatapan prihatin. "Duh, Ri, sorry, ya. Setiap orangtua masa berantemnya beda-beda, sih," lanjut Ulfi.

Riana mengangguk lagi. "Gue... gue sempet nguping pembicaraan bokap gue sama tante. Bokap gue sempet nyebut kata-kata cerai, Ul. Gue takut." Akhirnya ia mengatakan apa yang selama ini dipendam.

Mata Ulfi terbelalak, lalu tangannya meraih pundak Riana. "Lo serius? Benaran?"

"Makanya, gue.... Yah, gue bingung, sih...." ucapan Riana mulai tak beraturan karena dia sendiri tak tahu dan tak yakin mau mengatakan apa.

TEEEEET

Bel masuk berdering. Tanda pelajaran akan dimulai lagi. Ternyata sejak tadi, satu per satu teman sekelas Riana sudah kembali. Untung pembicaraannya dengan Ulfi dilakukan dengan suara pelan, yang lain pun sepertinya tidak terlalu peduli dengan mereka.

"Nanti lanjut ceritanya di rumah gue aja, Ul," pinta Riana.

Ulfi mengangguk setuju. "Sekalian biar lo ada tebengan pulang, ya?" sahutnya usil.

Riana hanya menjawil lengan Ulfi yang padat berisi sebagai balasannya.

----

Sepulang sekolah, Ulfi ikut Riana ke rumahnya. Riana langsung mengajak sahabat karibnya ke kamar dan menunjukkan foto yang dia maksud. Ulfi memperhatikan foto-foto itu dengan cermat.

"Aku selalu bahagia bersamamu, Ri," ujar Ulfi, mengulang kalimat yang tertulis di balik selembar foto yang ditunjukkan Riana. "Bokap lo manggil lo Riri, kan? Nggak kayak nyokap lo yang manggil lo Ana?" tanya Ulfi.

Riana mengangguk secara refleks saat mendengar pertanyaan Ulfi. Beberapa saat setelah itu, ia memikirkan ulang pertanyaan sahabatnya. Selama ini, ia tidak terlalu ambil pusing dengan perbedaan panggilan namanya oleh Papa dan Mama. Meskipun ia lebih senang dipanggil Riri ketimbang Ana. Ketika memperkenalkan diri kepada teman-teman, dia lebih memilih menyebut Riana, tanpa embel-embel panggilan apa pun. Hanya Ulfi yang memanggilnya Riri.

Perempuan di foto itu juga dipanggil Ri oleh Papa. Entah nama lengkapnya siapa. Mungkinkah.... Beberapa kecurigaan mulai muncul di benaknya. Riana menggelengkan kepala, seolah ingin mengusir pikiran itu. Ah, tidak mungkin, elak Riana dalam hati. Banyak orang yang memiliki unsur kata 'ri' dalam nama mereka. Itu kebetulan saja.

"Ri?" panggil Ulfi.

"Hah?" sahut Riana, terbangun dari lamunannya.

"Begini aja," kata Ulfi. "Bagaimana kalau lo mengulang apa yang lo lakuin kemarin sampai lo ngerasa terlempar ke masa lalu? Gue akan siap-siap ngerekam apa pun yang terjadi. Kalaupun lo tidur, gue nggak akan bangunin. Gue akan rekam dulu supaya lo percaya kalau lo cuma ketiduran. Gimana?"

Riana mempertimbangkan saran Ulfi, lalu mengangguk. Ia mengambil salah satu foto Papa bersama teman-temannya yang memakai jas almamater, lalu menatap foto itu lekat-lekat. Itu foto pertama yang membuatnya merasa ditarik ke suatu tempat.

Ulfi telah menekan tombol rekam di ponselnya. Namun, setelah beberapa menit yang menegangkan, tidak terjadi apa-apa. Riana tetap berdiri di samping meja belajar sambil menatap foto tersebut sampai matanya perih.

"Nah, kan...." kata Ulfi, sudah mengira hal ini akan terjadi.

"Tunggu!" sergah Riana. "Mungkin gue nggak bisa pakai foto yang sama," katanya sambil mengambil foto lain.

Gadis itu mengambil secara acak salah satu tumpukan foto Papa. Dia memilih selembar foto yang berisi perempuan itu sendirian sedang tersenyum ke arah kamera. Riana kembali mengulang proses tadi, kali ini dengan pikiran yang lebih terfokus.

Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengulang apa yang ia alami kemarin. Meskipun ia sendiri tak yakin itu apa. Benarkah kemarin ia masuk ke masa lalu? Atau apa yang Ulfi katakan benar? Ia hanya berkhayal?

Riana melempar foto itu dengan kecewa. Mungkin ia memang hanya berkhayal. Mungkin dia hanya menghibur diri dengan membayangkan dulu Papa pernah tersenyum begitu lebar karena seingatnya, ia tidak pernah melihat Papa sebahagia itu saat bersama dia dan Mama.

Ulfi mengelus punggung Riana. "Sudahlah, nggak usah terlalu dipikirin. Mending mikirin hal lain yang menyenangkan seperti...." Ulfi menggantungkan kalimatnya. Dia bingung mau mengatakan apa.

"Seperti apa?" tanya Riana agak jutek.

"Seperti nyobain minuman baru yang tadi kita lewatin pas pulang sekolah. Kayaknya enak minum cokelat dingin siang-siang gini. Atau lo mau jajan yang lain?" tanya Ulfi.

Riana menggeleng tersenyum tipis, masih kecewa dengan kejadian barusan. "Beli minuman aja," jawabnya.

Ulfi mengangguk senang. Dia meraih kunci motornya yang diletakkan di meja belajar Riana dan langsung bersiap keluar. Sementara itu, Riana memasukkan kembali foto Papa ke dalam map dan menyimpannya dengan rapi di bawah bantal.

Nanti, saat aku sendiri, aku akan mencoba lagi, ujar Riana dalam hati.

---

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: Pictures of You-BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya