Comscore Tracker

[NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 4  

Penulis : Pradnya Paramitha

D-Day

 

Winna berjalan terseok-seok menyusuri koridor sekolahnya. Wajahnya adalah apa yang sering disebut 'Muka Bantal' oleh teman-temannya. Ada garut-garut tipis di pipinya, yang sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah menempel dijok mobil kakaknya. Setengah dari nyawanya masih tertinggal di kasurnya yang empuk, walau raganya kini sedang menaiki tangga menuju kelasnya di lantai tiga.

"Woi! Tidur sambil jalan?" tanya Arya, ketika segerombolan cowok-cowok anggota tim bola melewatinya, membuat Winna menyempil di pinggir, agar tidak tersenggol. Jika dia tersenggol, sudah pasti dia akan berguling-guling jatuh dari tangga. Ibarat HP, baterainya hanya tinggal 3 persen, sudah tak kuat lagi untuk membuka aplikasi apa-apa.

"Buruan-buruan! Pada sok keren amat sih?" decak Winna, mengibas-ngibaskan tangannya. "Keren doang juga kagak!"

Cowok-cowok anggota tim bola itu hanya tertawa lebar, dan mendahului naik tangga. Winna lagi-lagi memejamkan mata, menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan kantuk.

Semalam, Winna nyaris tak bisa memejamkan mata. Namun kali ini bukanlah kehebohan persiapan pernikahan Dewa yang jadi biang kerok. Melainkan terlalu banyak hal yang mengusik pikiran Winna, sehingga matanya tak kunjung bisa terlelap.

Jantungnya selalu berdebar kencang saat membayangkan apa yang akan terjadi esok hari. Saat Bhre datang ke sekolahnya, menghadap guru BK, dan tahu persoalan apa yang dialami Winna.

Berkali-kali Winna berpikir untuk mengubah rencana. Mungkin lebih baik dia minta Mas Dewa saja yang datang. Tangannya sudah beberapa kali bersiap menelepon Bhre untuk membatalkan permintaan tolongnya. Namun lagi dan lagi, Winna kalah dengan ketakutannya. Bila Mas Dewa melapor ke Ayahnya, sudah pasti riwayatnya akan tamat. Tak akan ada lagi nama Rawinna Ihsan di dunia ini karena riwayat hidupnya sudah diputihkan.

Tapi kalau Bhre tahu dia ciuman-ralat, nyaris ciuman-dengan Jati, masih adakah harapan untuknya bisa pacaran dengan Bhre suatu hari nanti selepas lulus SMA?

Winna menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Rahasianya yang satu ini benar-benar level dewa. Di dunia ini, selain Tuhan yang Maha Esa, hanya sahabat baiknya, Shinta, yang tahu soal perasaannya kepada Bhre. Winna mengenal Bhre nyaris seumur hidupnya, karena Bhre dan kakaknya bersahabat baik sejak keduanya SMA. Orang lain akan dengan mudah menyimpulkan bahwa Bhre adalah Dewa kedua bagi Winna, namun tidak ada yang tahu bahwa Winna sudah naksir pada pria berusia 28 tahun itu sejak lama. Meski besar kemungkinan besar Bhre hanya menganggapnya adik, sebagaimana Dewa.

Berusaha menepis kekalutannya, Winna menaiki tangga lebih cepat. Persetanlah bagaimana menghadapi Bhre nanti. Pria itu tidak bilang hendam datang jam berapa. Yang jelas Winna merasa harus tidur dulu barang satu atau dua jam. Siapa tahu nanti ada ide brilian nyangkut di kepalanya kan?

Sayangnya suasana di kelas XII IPA 4 ternyata tidak seperti yang dia harapkan untuk bisa menjadi tempat tidur yang nyaman. Nyaris seisi kelas tengah memegang buku agama, yang hanya berarti satu hal, ada jadwal ulangan harian yang tidak dia ketahui-atau dia lupakan.

Memangnya bagaimana dia bisa mengingat ulangan agama, jika rumahnya dipenuhi teriakan Ibunya yang nervous mempersiapkan pernikahan putra pertamanya dan juga teriakan Ayahnya yang sibuk memprotes Ibunya yang lebay menghadapi pernikahan anaknya? Juga dengan segala kegelisahannya memikirkan peristiwa hari ini? Jadwal ulangan sama sekali tak masuk dalam memorinya.

Hanya Shinta yang tampak tenang terkendali. Namun Winna juga tahu bahwa Shinta tidak bisa dijadikan patokan. Sahabatnya itu terlalu malas dan untungnya terlalu cantik. Sehingga tanpa belajar sering dia bisa mendapatkan hasil lumayan karena para cowok pintar itu akan dengan senang hati memberinya jawaban.

"Weits, siang amat datangnya, say?" tanya Shinta sambil mengoleskan kutek di kuku-kukunya yang di-manicure dengan sempurna. "Coba dateng agak pagi, ada tontonan lucu tadi!"

Masih dengan muka bantal, Winna bertanya. "Ketoprak?"

"Bukaaan. Si Jati disamperin anak SMA Della Marco. Diajakin berantem! Kayaknya itu kampret ngerebut pacar orang lagi."

Apanya yang lucu? Tanya Winna dalam hati. Ekspresi Shinta ini seolah baru pertama kali saja melihat Jati ditantangin berantem, ataupun berantem beneran. Padahal hal itu sudah begitu sering terjadi, sesering jadwal tayang FTV di televisi. Jadi peristiwa Jati berantem itu sebenarnya memang seperti cerita FTV, plotnya sama hanya berbeda nama tokohn-tokohnya saja.

Jati memang tidak pernah jauh-jauh dari tawuran, masalah, dan kantor kepala sekolah. Antingnya yang berderet di telinga dan seragamnya yang sering belepotan lumpur, sesekali darah, membuat Jati menjadi penguasa sekolah yang ditakuti-sekaligus diidolai-satu sekolah.

Aneh memang cewek-cewek zaman sekarang, pikir Winna. Terkadang Winna mempertanyakan selera cewek-cewek di sekolahnya.

"Tapi ada lagi yang jauh lebih heboh." kata Shinta lagi.
"Apa tuh?"
"Jumat kemarin Jati ketahuan mesum di belakang sekolah."

DEG. Winna yang sudah berniat menelungkupkan kepalanya di atas meja sontak tegak lagi. Ekspresi Shinta sangat aneh. Meski dengan tenang tetap mengkuteks kukunya dengan warna putih glossy, Winna bisa melihat ada senyum di sudut-sudut bibirnya.
"Katanya mereka ketahuan sama Pak Sapto gitu deh. Terus digiring ke kantor BK deh. Gue yakin banget orang tua mereka dipanggil ke sekolah..."

"Shin!" sentak Winna kesal. "Nggak usah sok polos gitu deh! Lo tahu kan yang ciuman sama Jati itu..."

Winna benar-benar tidak mampu mengatakan kelanjutannya. Tenggorokannya sakit dan bibirnya terasa kering seperti kekurangan vitamin C. Di hadapannya, Shinta tertawa lebar-lebar.

"Dan lagi, salah banget ya info gosip murahan lo itu! Gue nggak sampai ciuman sama dia!"
"Jadi kalau nggak keburu ketahuan Pak Sapto, kalian ciuman kan?"
"Shin!"

Winna merasa wajahnya kini merah padam. Hilang sudah semua kantuknya, digantikan rasa kesal yang memenuhi dadanya. Enggan menjawab ledekan Shinta, Winna kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja sambil mengumpat: Jati sialan!

Mau bagaimana pun juga, Shinta benar. Kalau saja Pak Sapto tidak keburu memergoki mereka, mungkin dia benar-benar akan ciuman dengan cowok berandal itu. Lagian apa sih yang dipikirkan oleh Jati? Kenapa tiba-tiba si berandal itu sok akrab dengannya padahal selama ini mereka tidak pernah berinteraksi secara langsung?

"Shin," panggil Winna dengan kepala masih menempel permukaan meja.
"Hmm..."
"Siapa aja yang udah tahu soal gosip murahan itu?"

Sontak Shinta tertawa. "Astaga baby, pertanyaannya nggak ada yang lebih pintar lagi? Gue yakin sekarang cuma anak-anak kelas aksel yang ansosnya tingkat dewa itu yang nggak tahu lo sama Jati ciuman."

"Hampir ciuman!"
"Ya ya, itulah pokoknya."
"Sial!" Winna mengumpat sekali lagi. "Dasar cowok sialan!"

Di sebelahnya, lagi-lagi Shinta hanya tertawa lebar. Winna tahu sahabatnya itu tidak akan mengorek cerita apa pun darinya. Shinta terlalu yakin pada pengetahuan gosipnya, dan menganggap klarifikasi hanya buang-buang waktu. Shinta memang tak berbakat jadi wartawan. Walau Winna juga tidak tahu bagaimana melakukan klarifikasi.

Cukup satu kalimat untuk mendeskripsikan Jati: seseorang-yang-tak-seorang-pun-mau-berususan-dengannya. Tapi orang-orang seperti Jati ini juga membuat Winna mempertanyakan keadilan Tuhan. Meskipun jarang berada di sekolah sampai jam terakhir, dan kegiatannya di sekolah lebih banyak molor dan tawuran daripada belajar, Jati selalu ranking pertama parallel. Selain dianggap tampan bagai masa muda Leonardo Di Caprio, hal itu juga membuat Jati semakin diidolakan.

Sosok Jati sangat khas tokoh-tokoh cowok idola di novel teenlit. Posturnya jangkung, dengan otot-otot tubuh yang mengencang (sering terlihat karena cowok ini memang suka pamer dengan membuka kemejanya dan memperlihatkan kaus putihnya yang pas badan). Matanya yang selalu menyipit tersembunyi di balik riap-riap rambut lurusnya yang selalu berantakan. Senyumnya berupa perpaduan antara mengintimidasi dan flirting.

Shinta menyebutnya seksi. Gantengnya tuh kayak cowok-seksi-dengan-tampang-baru-bangun-tidur-dari-tempat-tidur-orang-lain! Begitu kata Shinta dulu, yang dengan mudah disederhanakan oleh Winna yang menyebutnya dengan 'Tampang mesum dan pecandu narkoba'.

Shinta memang selalu punya istilah aneh-aneh jika menyangkut cowok ganteng. Dan Winna terlalu miskin imajinasi untuk mengikuti definisi panjang lebar Shinta. Soalnya bagi Winna cowok keren itu hanya Bhre. Kalau bukan Bhre, ya berarti tidak keren sama sekali! Gitu aja kok repot.

Jati adalah berandal sekolah dengan segepok surat peringatan yang Winna heran kenapa dia tak kunjung dikeluarkan. Namun selama ini, Jati tidak pernah benar-benar mengganggunya. Makanya Winna heran kenapa tiba-tiba cowok itu memulai interaksi dengannya, dan malah menciumnya. Syarafnya putus akibat tawuran atau bagaimana?

"Minta tolong Mas Bhre lagi?" tanya Shinta yang sudah selesai memoles kutek dan kini sedang meniup-niup kukunya.

Winna tidak menjawab, namun dia yakin Shinta sudah tahu jawabannya. Karena itulah Shinta mengikik dan menyumpahinya dengan kalimat "Habis lo Win kali ini." Shinta memang tidak pernah menyaring kata yang keluar dari bibirnya.

"Udah lah, lupain aja Mas Bhre. Meski ganteng begitu, tapi kan dia Oom-Oom! Nanti lo dikirain sugar baby."

"Sembarangan!" decak Winna. Tahu dari mana sih ini anak soal istilah sugar baby segala??
Di mata Winna, Bhre tidak pernah jadi Oom-oom. Berbeda dengan Dewa yang penampilannya memang seperti Oom-oom, dengan kemeja dan jas klimis, Bhre selalu berpenampilan santai. Terkadang memakai celana pendek dan kaos oblong. Mungkin karena pengaruh pekerjaan juga.

Sebagai art director di industri kreatif, Bhre tidak pernah diwajibkan memakai setelan rapi. Sedangkan sebagai pengacara, Dewa jelas harus memakai baju rapi supaya bisa menerjemahkan pasal-pasal dengan leluasa. Lagipula apalah artinya umur jika kita membicarakan soal cinta?

"Dan dia kan sutradara ya? Eh apa videographer?"
"Art director." jawab Winna dengan muka masam.
"Model cantik pasti bukan barang langka buat Bhre. Nggak yakin gue kalau dia masih jomlo."

Winna tidak terlalu bersemangat untuk membela Bhre di hadapan Shinta. Bhre jomblo, dia tahu pasti soal itu. Tapi otaknya terlalu lelah berpikir untuk membantah kata-kata Shinta. Dia benar-benar butuh tidur.
Namun sebelum dia benar-benar tidur, ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhastApp muncul. Dari Bhre Wirabumi.

Aku udah di skolahmu. Otw ke ruang BK.

Sontak Winna bangkit dengan gerakan sangat cepat. Shinta yang sedang berusaha mengambil pulpen dengan kuku-kukunya yang masih basah sampai menjatuhkan kotak pensilnya. Tapi Winna sudah berlari keluar kelas.

***

Winna bukannya tidak menyadari betapa horor wajah Bhre ketika keluar dari ruang BK. Tidak ada senyum yang melubangi kedua pipinya. Sama sekali tak ada keramahan di wajah itu. Pria itu berjalan lurus menujunya, tanpa kesan ada kabar baik.
Winna menelan ludah.

Kini pria itu sudah ada di hadapannya, dan Winna siap mendengar omelan maha dahsyat yang mungkin akan dia terima. Namun Bhre hanya diam, menatapnya tajam, sedikit terlihat bingung hendak mengatakan apa. Winna nyengir bersalah.

"Sori, Mas." katanya lirih. "Aku nggak berniat bohong. Tapi kalau aku cerita yang sebenarnya, pasti Mas Bhre nggak mau nolongin aku."

Bhre masih tidak membuka suara. Winna semakin merasa buruk.

"Mas nggak akan bilang-bilang ke Mas Dewa kan? Plis Mas, pliiiisss.... Kalau Mas Dewa tahu, pasti dia lapor sama Ayah. Bisa mati aku kalau sampai ketahuan Ayah."

Bhre tetap tidak menjawab. Kekhawatiran Winna memuncak. Kepalanya nyaris meledak menerka-nerka apa isi pikiran Bhre saat ini. Marahkah pria ini? Ya jelas Win!

"Mas! Ngomong kek! Jangan bikin aku merasa semakin buruk. Maaf banget karena nggak bilang masalah yang sebenarnya." Winna menatap sekelilingnya, ragu-ragu. Dia tidak ingin ada orang melihat betapa dia lemah sekaligus manja di depan pria ini. Tapi bagaimana lagi, Bhre memegang kartu trufnya. Posisinya memang lemah dan kalah.

"Siapa Jati?" tanya Bhre, dengan nada datar.

Winna menghela nafas, sudah menebak akan menerima pertanyaan itu. Lantas dia celingukan lagi, merasa melihat Jati tak lama sebelumnya. Pandangannya kemudian tertuju pada sesosok manusia yang berbaring seperti mati di bawah pohon beringin, di tengah-tengah lapangan sekolah. Salah satu lengannya terangkat menutupi mata.

"Orang gila." jawabnya datar.
"Kamu pacaran sama dia?"
"Ih, enggak!"
"Masa?"
"Enggak, maaas! Najis aku pacaran sama tuh odong-odong! Tanya aja semua orang yang Mas temui di sini. Kalau ada yang mengiyakan aku pacaran sama Jati, Mas bunuh aku aja deh!"
"Ciuman doang tapi nggak pacaran?"
"Aku nggak ciuman!"
"Gurumu bilang lihat dengan mata kepala sendiri, kalian ciuman di belakang sekolah."

Winna membuka mulut, hendak membantah kata-kata Bhre, namun kemudian menutup mulutnya lagi. Wajahnya merah paham. Menahan malu, sekaligus amarah yang masih membuncah kepada Jati. Kalau saja Pak Sapto tidak muncul di waktu yang tepat, memang dia akan ciuman dengan Jati. Tepatnya, Jati mencuri ciuman pertamanya.
Namun sedetik kemudian, Winna mendapat sebuah ilham di pikirannya. Mungkin dengan peristiwa ini, dia akan bisa melihat perasaan Bhre.

"Salah?" tanya Winna, memasang wajah tak berdosa.
"Kamu masih nanya?" Bhre balas bertanya, sambil menyipitkan mata.
"Apanya yang salah?" Winna melebarkan mata. "Temanku banyak yang begitu."
"Ya salah, Winna!" bentak Bhre gusar.

Ada setitik rasa senang di benak Winna melihat kegusaran itu. Mungkin Bhre cemburu.
"Salah kalau kamu ngelakuin itu di sekolah, sampai ketahuan guru! Nggak ngerasa salah karena ketahuan ciuman di sekolah di jam-jam pelajaran berlangsung? Seenggaknya, teman-temanmu itu cukup pintar sampai mereka nggak kepergok pihak sekolah!"

Winna menelan ludah. What the hell, Bhre Wirabumi, what the hell....! Tanpa menjawab, Winna berjalan meninggalkan Bhre.
"Winna!"

Winna menoleh, dengan wajah kesal.

"Kamu harus mulai mikirin masa depan. Ujian dan SBMPTN udah di depan mata malah asyik pacaran. Dewasa dikit lah!"
Terserah, Bhre, terseraaaah!
"Winna!"

Tanpa memedulikan teriakan Bhre, Winna berjalan menjauh, merasa urusannya dengan Bhre telah selesai. Dia kesal karena Bhre tidak percaya padanya. Kesalnya semakin bertambah karena Bhre hanya menyayangkan kenapa dia sampai ketahuan, dan betapa itu memalukan. Oh, ya, juga betapa itu merepotkannya karena harus datang ke sekolah.

Emosi Winna semakin memuncak ketika setiap orang yang dia lewati sibuk berbisik-bisik tentangnya. Dengan sembunyi-sembunyi anak-anak itu bergosip dengan orang di sebelahnya. Winna menggigit bibir. Tak cukup menghadapi ini semua, ternyata dia harus menghadapi kenyataan bahwa Bhre sama sekali tidak cemburu.

"MENYEBALKAN!" teriak Winna gusar, membuat dua anak kelas sebelas yang duduk di bangku pinggir lorong terlonjak saking kagetnya.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 3 

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya