Comscore Tracker

[NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 1

Penulis : Pradnya Paramitha

Awal Bencana

Terkadang, Winna berharap sesuatu terjadi saat dia membuka mata. Banyak hal yang singgah di pikirannya. Terkadang harapannya sangat realistis, seremeh saat dia membuka mata, dia bukan lagi anak SMA dan cowok dewasa yang dia incar sudah menjadi pacarnya. Namun, sesekali Winna merasa berdosa, karena berharap saat membuka mata, dia bukan lagi anak bungsu Hardianto Ihsan dan berkewajiban untuk menjadi dokter.

Namanya juga imajinasi, begitu Winna selalu membela diri.
Apa yang dilihatnya hari ini saat membuka mata, membuatnya mengutuk kebiasaannya mengkhayal sebelum memejamkan mata. Pasalnya, dari segala hal yang mungkin dia harapkan terjadi setelah bangun tidur, yang satu ini jelas tidak masuk hitungan. Gabungan antara kaget dan nyawa mendadak mengumpul sepenuhnya, Winna sontak berdiri hingga kepalanya membentur daun jendela yang terbuka lebar di atas kepalanya.

“Ouch!”

Benturan itu menimbulkan suara yang lumayan menyedihkan. Sosok—ah, bukan. Seorang cowok yang tadi berjongkok di hadapannya ikut-ikutan bangkit dengan cepat dan memasang wajah khawatir.

“Pasti sakit banget,” kata cowok itu dengan suara seraknya yang khas. Yang dikenal sekaligus membawa efek-efek khusus bagaikan film horor bagi seluruh warga SMA Harapan Bangsa. “Benjol nggak? Sini gue lihat ….”

Baru saja cowok itu, Vinjati Sanjaya namanya, mengulurkan tangan untuk memeriksa, Winna buru-buru menghindar. Ditatapnya dengan sengit cowok itu, terang-terangan memasang aura permusuhan. Cowok itu maju selangkah, Winna mundur dua langkah. Tangan kirinya masih mengusap-usap kepalanya yang nyut-nyutan bukan kepalang, sementara tangan kanannya teracung ke depan, membuat jarak.

“Diam di situ!” Kata Winna tegas. Matanya masih memandang curiga. Demi apa pun juga, ngapain sih si berandalan ini ada di sini? Dumalnya dalam hati. Yang diperintah refleks berhenti. Kedua tangannya terangkat, tanda dia menyerah.

“Sakit ya?” cowok itu masih bertanya. “Sakit banget?”
“Ya menurut lo aja gimana!” jawab Winna kesal.
“Lagian ngapain tiba-tiba berdiri gitu, sih?”
“Lo yang ngapain jongkok di depan muka gue! Mau ngapain?”
“Ngejagain,” jawab Jati.

Mata cowok itu masih lekat mengawasi kepala Winna, seolah memastikan tidak ada darah yang mengucur dari sana. Winna sendiri tidak yakin soal ini, jadi dirabanya kepalanya yang perih itu untuk mencari tahu. Puji Tuhan, hanya sedikit benjol dan tidak berdarah.

“Ngejagain apa dari apa?”
Baru kemudian perhatian Jati teralihkan dari kepala Winna. Cowok itu nyengir lebar.

“Lo tidur kayak orang mati di sini, apa nggak bahaya?” Winna berdecak, membenahi seragamnya yang kusut. “Nggak ada yang pernah ke sini.”

“Oh ya?” Jati mengangkat alis. “Gue sering lho nongkrong di sini. Dan percayalah, kadang Pak Sapto suka iseng ngecek ke sini.”

Winna mengerutkan dahi. Sedikit tidak percaya jika tempat persembunyiannya tidak seaman yang dia pikir. Lebih-lebih, Pak Sapto, guru biologi yang merangkap sebagai ketua tim Tatib (alias Tata Tertib) yang mengetahuinya. Belum lagi Jati juga tahu. Apanya yang rahasia? Pikir Winna gondok. Mungkin dia harus segera mencari tempat persembunyian baru saat ingin kabur dari pelajaran.

Namun, Winna tak bisa menahan kantuknya. Kondisi rumahnya benar-benar tidak kondusif belakangan. Pernikahan kakaknya akan digelar kurang dari sepuluh hari lagi dan ibunya semakin menggila demi memastikan segalanya sesuai rencana. Setiap hari, rumahnya dipenuhi sanak saudara yang berdatangan untuk mengurusi ini itu. Aktivitas berjalan sampai dini hari, membuat Winna kesulitan tidur, apalagi belajar.

Semalam dia baru bisa memejamkan mata pukul dua dini hari. Tiga jam kemudian, Ibunya sudah menggedor-gedor pintu kamar dan berteriak menyuruhnya bangun untuk siap-siap sekolah.

“Jadi ....” Jati, yang berdiri di hadapannya dengan tangan tersimpan di saku, tersenyum. Winna menatapnya tanpa ekspresi. Ini adalah senyum yang didefinisikannya sebagai gabungan antara flirting dan intimidasi. “lo masih mau tidur lagi? Gue bisa jagain, kalau lo mau. Gue pastikan lo terlindung dari segala macam ancaman.”

Sejenak Winna terdiam mendengar kata-kata yang diucapkan cowok itu dengan nada penuh percaya diri. Namun, kemudian tawanya mulai berderai.

“Emangnya ada orang yang ngerasa terlindung dengan kehadiran lo? Yang ada malah merasa terancam kali.”

“Kalau elo? Terlindung apa terancam?”

Winna menyeringai. “Biasa aja tuh.”

Jati mengangkat sebelah alis. Sebuah senyum lolos dari sudut bibirnya. Winna lagi-lagi mengernyit melihat senyum ambigu itu.

“Ihsan, pilihannya hanya dua. Terlindungi atau terancam? Lo nggak bisa membuat pilihan baru yang bunyinya 'biasa aja tuh'.” katanya dengan gaya seperti guru besar sedang mengoreksi skripsi mahasiswa.

“Bro, ini bukan ulangan biologi. Gue bisa menjawab sesuka hati.” jawab Winna malas sambil menyisiri rambut pendeknya.

“Omong-omong Biologi, apa tadi lo melewatkan Try Out Biologi untuk tidur di sini?”

“Ya nggaklah. Lo pikir gue sebego itu. Lo mau apa sih? Langsung ajalah nggak usah basa-basi. Kalau mau malak, lo salah orang. Gue nggak punya duit.”

Cowok di hadapannya, yang antingnya berderet seperti pasukan baris berbaris itu tersenyum. Senyum yang lebih ke 'ramah' daripada 'intimidasi'.

“Gue mana pernah malak,” jawab Jati santai.
“Nggak malak, cuma mintain duit secara paksa.”
“Gue menghimpun dana. Uang keamanan. Bedakan!”

Winna menatap cowok di hadapannya dengan ekspresi datar. Lalu ngeloyor pergi meninggalkan Jati. Namun, baru lima langkah dia berjalan, Jati menghalangi jalannya.

“Kenapa buru-buru sih? Ngobrol dulu sama gue di sini.”

Winna hanya menggelengkan kepala tak acuh, lalu lanjut berjalan. Namun, tiba-tiba Jati menarik tangannya, memaksanya untuk berbalik.

Winna berdecak kesal. “Apa sih Jat ….”

“Coba lihat gue sebentar aja,” kata cowok itu dengan nada yang lebih rendah, tetapi justru lebih mengancam. “Lihat gue, Winna.”

Berharap segera dilepaskan, Winna menuruti apa kata Jati. Ditatapnya mata almond berwarna kecokelatan milik cowok itu yang juga tengah memandangnya lekat-lekat. Ada senyum supertipis di sudut bibirnya, tetapi Winna tidak bisa membaca maknanya. Nyalinya yang tadi besar perlahan mulai menciut. Sungguh Winna tak pernah takut pada cowok ini, seseram apa pun reputasinya. Namun, ekspresi ini benar-benar mematikan. Baru saja dia hendak bertanya, Jati menyentuh pipinya dan mendekatkan wajahnya. Gabungan antara ngeri dan terkejut, Winna tidak bisa menyuruh otaknya untuk melakukan apa-apa.

“JATI! WINNA! APA-APAAN KALIAN?!”

Sebuah teriakan menggelegar. Jati menjauhkan diri. Seketika waktu kembali berputar. Itu suara Pak Sapto, Winna menandai. Namun, otaknya masih belum bisa bekerja.

“BERANI-BERANINYA KALIAN BERBUAT MESUM DI SEKOLAH?!” teriakan itu terus bergaung dalam pikiran Winna, tetapi tidak memunculkan sinyal-sinyal yang berarti bagi otaknya yang sedang berhenti bekerja.

“Aiih sial ....” Jati berguman lirih. “Pak ....”

“KE BK SEKARANG JUGA!”

“Ya ampun.” Jati berdecak tak sabar.

Winna masih sekaku robot. Disentuhnya bibirnya perlahan. Memang belum jadi. Kurang dari satu senti lagi, Jati akan sukses mengambil ciuman pertamanya. Ditatapnya cowok yang sedang menatap guru budi pekerti dengan ekspresi memprotes itu. Otaknya mulai bekerja. Nyalinya yang sempat menghilang kembali berkobar.

“SEKARANG!”
“Iya, Pak, Iyaa!” Jati mengangkat kedua tangannya, menyerah.
“Jati,” panggil Winna lirih.
“Ya?” Jati menoleh kepadanya.

BUGH!

Sebelum dia memikirkan risikonya, tinjunya sudah mendarat di wajah Jati yang tak sempat menghindar.


****

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Pasar Setan Gunung Arjuno - BAB 5

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya