Comscore Tracker

[NOVEL] Putus-BAB 2

Penulis: Erwina

Alma - 2. Hubungan Berakhir (Tidak Jelas)

 

"Yakin mau SMA di Bogor, Iz? Ngapain, sih?" Aku sewot. Tidak ada hujan, angin, apalagi gempa, tiba-tiba Faizal bilang mau SMA di Bogor. "Tinggal sama siapa di sana?"

"Ada tante, Al."

"Di Jakarta banyak sekolah, Iz. Kenapa tiba-tiba ke Bogor?"

"Aku mau masuk Yayasan Bara."

Aku mengembuskan napas panjang. Jika Faizal sudah ingin sesuatu, dia akan mengejarnya sampai dapat. Termasuk pindah ke Bogor demi masuk Yayasan Bara. Sekolah yang katanya terbaik.

Kalau sudah begitu, aku bisa apa? Jadi, aku cuma meminta Faizal hati-hati dan mengabariku. Dan, Faizal memenuhi semua permintaanku.

Dia sering cerita tentang sekolahnya. Sama seperti saat SMP, dia mengikuti ekstrakurikuler futsal. Sempat jadi kapten sebentar dan membawa kemenangan pertama bersama adik-adik kelasnya. Aku ingat, Faizal yang rajin belajar berubah malas. Dia lebih senang berlatih futsal. Saat kutanya kenapa, dia bilang, "Anak-anak Bara pinter parah. Belajar rajin pun aku nggak akan berprestasi. Mending main futsal terus bawa piala kemenangan pertama."

Langit-langit kamar seperti mengejekku yang mulai terisak. Dulu, begitu mudah. Jarak tidak pernah jadi masalah. Aku dan Faizal sama-sama berkilat semangat saat berbagi cerita. Aku membanggakan ekstrakurikuler desainku, prestasiku di sekolah, dan teman-teman dekatku. Sementara Faizal, tidak pernah kehabisan bahan cerita tentang persaingan ketat Yayasan Bara, tugasnya yang menggunung, atau tim futsal solid kesayangannya.

Kami selalu antusias.

Atau, jangan-jangan, hanya aku yang antusias?

Kakiku menendang-nendang ujung meja sambil merengek. Kenapa jadi seperti ini, sih?

***

Lilian memang orang paling kepo seantero galaksi.

"Mau apa lo ke sini?"

Orang yang ditanya malah nyengir kuda sambil mengangkat dua plastik hitam. "Numpang makan sambil melegakan dahaga."

Aku memutar mata.

"Dahaga akan informasi." Tangan Lilian terbuka lebar, seakan-akan aku adalah seorang yang mengagumkan.

Aku berdecak kesal dan menggiring Lilian ke kamar. Dari dapur, Ibu mengintip. Sejak kemarin, Ibu belum bertanya. Ayah juga sama. Mereka jelas tahu aku menangis seperti bayi, tapi dua-duanya membisu. Kemarin, Ibu hanya mengetuk kamarku untuk membawakan makan malam.

Lilian menyapa Ibu, berlari ke dapur untuk mencium tangan Ibu, lalu meminjam piring. Dia juga bercerita tentang nasi padang dekat kantornya. Bahasanya melebih-lebihkan sekali. "Nasi padang ini dibuat oleh tangan orang asli Padang. Keturunan murni, Bu. Makanya, rasanya enak banget." Matanya berbinar. "Wah, Bu, saya sampai lupa diet."

"Kok Ibu nggak dibeliin?" tanya Ibu, menggoda.

"Ibu, besok Lili beliin buat Ibu. Kalau untuk Ibu harus di-custom, nggak baik, kolesterol."

Tanganku sudah terlipat di depan dada, menunggu Lilian selesai dengan semua omong kosongnya. Pantas dia bekerja sebagai sales. Omongannya memang mahal walaupun kopong.

Selesai dengan masalah nasi, Lilian menyusulku ke kamar. Begitu masuk, dia langsung menarik stokingnya, mengambil kapas dan micellar water, membuka setelannya sampai tersisa tank top ditambah celana pendek, lalu dia duduk di depanku. "Alma, gimana? Kenapa? Lo prank semua orang, kan?"

Aku menunjuk mataku dengan kesal. "Lo pikir ini bohong? Kapan lagi coba gue nangis sampe kayak gini, Li."

"Oh, dear. My dear." Lilian memelukku erat, kemudian tangannya mengelus punggungku.

Awalnya, tenggorokanku mulai sakit, mataku panas lagi, dan kesedihan itu kembali keluar dalam bentuk air mata. Beberapa detik setelah peluk terurai, aku menyembur Lilian, "FAIZAL SIALAN!"

Ceritaku dimulai dari pesan singkat Faizal. Aku sempat tersenyum menerimanya. Akhirnya, setelah berminggu-minggu sibuk, Faizal menghubungiku.

Kubuka ponsel dan kutunjukkan pesan itu kepada Lilian.

 

Faiz [11.48]

Lagi deadline ga? Aku mau ketemu, ngobrol.

 

Tentu kusambut dengan riang.

 

Alma [11.55]

AYO! Di mana?

 

Faiz [11.56]

Kujemput.

 

Beberapa menit kemudian, Faizal datang dengan Agya hitamnya. Dia melambai seperti biasa, senyum semanis biasa, dan bertanya seramah biasa.

Anehnya, dia tidak bercerita. Sepanjang jalan, hanya aku yang mengoceh tentang klien menyebalkan. "Komikus baru, Iz. Ngeselin. Masa revisi sampai 4 kali. Terus dengan enaknya dia bilang, 'tugas kamu, kan, colorist, mewarnai. Palet warnanya gimana aku, dong.' Ngeseliiin! Padahal, pilihan warnanya benar-benar nggak masuk akal!"

Ocehanku terus berlanjut ke masalah komik yang belum dapat konfirmasi dari editor. Ditambah Wacom-ku mulai macet. Terus, sampai masalah susah kentut. Bodohnya, aku tidak sadar kalau Faizal tidak menyimak.

Sampai di tempat makan, Faizal langsung memesankan makan. Dia duduk di hadapanku, menggulung lengan kemejanya, kemudian mengusap wajah. Begitu telapak tangannya menyugar rambut, aku sadar ada yang salah.

Aku sempat kebingungan. Aku ingin bertanya soal bisnisnya, tapi rasanya tidak enak. Setelah kuliah, Faizal diajak bergabung dalam sebuah startup di bidang teknologi. Namun, nasib baik ternyata belum berpihak kepada Faizal. Setelah mendapat beberapa investor yang mau menggelontorkan uang dengan jumlah lumayan, founder dan co-founder perusahaan malah hengkang. Alasannya, salah satu diterima PNS, sedangkan yang lainnya memilih kuliah lagi. Sekarang, Faizal dan lima temannya mati-matian mempertahankan perusahaan yang kian merugi.

Mulutku baru saja mangap, hendak menanyakan kabar Mami. Namun, Faizal sudah menyulut sumbu petasan.

"Kita putus aja, ya, Al."

Duar! Mesiu meledak.

"Gimana?" Aku jelas tidak mengerti, salah satu saraf otakku terasa putus. Kami tidak sedang bertengkar, tidak ada masalah, kiamat kayaknya masih lama. Kok mau putus?

"Aku belum siap nikah, Al."

"Siapa juga yang minta nikah?" tanggapku cepat.

"Ayahmu."

Aku tertawa kaku. "Cuma bercanda itu."

"Aku mau fokus sama ART-INT, Al. Nggak kepegang ...."

"Maksudnya nggak kepegang?"

Faizal membuang muka. "Hubungan kita. Aku nggak bisa kabari kamu seintens biasanya, nggak punya waktu untuk kamu, dan-"

"Aku nggak masalah."

"Itu menggangguku. Aku mau fokus."

Faizal sudah bersabda, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku mengulurkan tangan, mengajaknya bersalaman. "Teman, ya?"

Hubungan kami selesai dengan jabat tangan.

Aku menarik napas panjang, lelah menceritakan bagian paling tragis dari hubunganku. Lilian tidak bereaksi. Sepertinya, syok.

"Nggak jelas, Al."

Aku menggangkat bahu.

"Hubungan kalian berakhir dengan sangat nggak jelas." Lilian menggelengkan kepala dengan sangat keras. Sedikit tenaga lagi, maka lehernya akan menggelinding ke sisi kamar. "Dia selingkuh, pasti."

"Faiz bukan orang kayak gitu, Li." Jangankan selingkuh, punya waktu untuk tidur saja sepertinya tidak. Saat terakhir ketemu, kantong matanya sudah tidak termaafkan. Concealer mahal pun akan lari ketakutan melihatnya.

Sepuluh jari Lilian terangkat di depan mataku. "Sepuluh tahun! Orang bisa berubah!"

Aku terpana melihat Lilian murka. Dia tampaknya kelewat kesal dengan jawabanku. Namun, sungguh, tidak ada yang salah dengan Faizal. Kami berdua memang banyak berubah, tapi semuanya berjalan ke arah yang baik. Metamorfosis kami tidak berpengaruh banyak pada hubungan kami.

Apa jangan-jangan, ada perubahan yang tidak kudeteksi? Apa ada sesuatu yang tidak kusadari?

Tapi, apa?

"Tenang-tenang, makan dulu." Lilian membuka bungkusan nasi. Menu yang disodorkan kepadaku adalah rendang dengan kikil.

Faizal suka kikil sedangkan aku membencinya.

"Loh, kok nangis lagi?" Lilian menyingkirkan piring. "Gue salah, ya?"

"Gue nggak suka kikil! Ngapain lo beli kikil!" hardikku.

Lilian menepuk kening. "Ampun, dah. Tukeran aja apa susahnya, sih, Al?"

Susah! Cuma gara-gara kikil, aku jadi ingat lagi dengan Faizal. Sedih banget rasanya. Sementara aku sibuk menangis seperti cewek cengeng, Faizal pasti sedang menjalankan bisnisnya dengan lebih fokus. Aku yang membebaninya selama ini sudah hilang.

Aku menghapus air mata dengan kasar dan menyendok nasi banyak-banyak. Cukup! Menangisnya cukup, Al!

Lilian pulang saat jam menunjuk angka sepuluh. Dia masih harus bekerja besok. Setelah Lilian pulang, aku mandi dan duduk di depan laptop. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Gara-gara putus, aku harus minta perpanjangan deadline. Artinya, honorku berkurang beberapa persen.

Mengesalkan.

Baru saja aku mengecek gambar, ponselku bergetar. Dengan kecepatan super, kusambar ponsel yang tergeletak di atas bantal. Sedetik tadi, aku berharap Faizal mengirim pesan. Nyatanya, bukan.

 

Bang Andri [22.54]

Al, lo putus sama Faizal?

Kok foto dia di IG lo ilang semua.

 

Instagram memang tempat paling laknat sedunia! Selain bisa membawaku bernostalgia sambil menahan rasa pedih, dia juga menyebarkan kabar putusku kepada semua orang. Termasuk kepada Bang Andri, kakak tingkatku saat kuliah. Dulu, kami sempat dekat karena satu organisasi. Jadwal yang cukup padat membuat kami sering makan bersama sambil curhat tipis-tipis. Hubungan kami merenggang saat aku sudah lulus. Berbeda dengannya yang sering ke kampus walaupun statusnya bukan mahasiswa lagi, aku malas datang ke acara-acara UKM setelah sarjana.

Aku sempat bertemu dengannya beberapa bulan lalu. Setelah itu, kami tidak saling berkomunikasi, tidak bertemu, tidak bertukar pesan, apalagi mengobrol soal pacar.

Jadi, kalau bukan karena Instagram menggembar-gemborkan kabar putusku, pasti Bang Andri tidak akan tiba-tiba menghubungiku.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Putus-BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya