Comscore Tracker

[NOVEL] Rumah untuk Cinta-BAB 4

Penulis: Riawani Elyta

Kemarahan Aprilia

 

Tatya di depan laptop. Menarikan jemari diatas keyboard, sesekali menggeser tetikus, dan mata terfokus pada layar. Sesekali dia menopang dagu dengan kening mengernyit, pertanda kalau otaknya tengah keras berpikir. Dan seperti biasa, segelas cappuccino bertabur bubuk coklat setia menemaninya.

Malam ini, segelas cappuccino itu hanya tinggal busa dan ampas, menempel menjilati dinding gelas. Dan ini ... sungguh, kuharap kau tak kaget mendengarnya - adalah gelas kopinya yang ketiga dalam rentang waktu enam jam!

Ini memang kebiasaan buruk gadis bermata sepekat malam itu. Dia selalu menenggelamkan pikiran kusut dan ide yang mendadak buntu di dalam lautan kopi. Hari-hari menjelang deadline, tong sampahnya akan dipenuhi berbungkus-bungkus kemasan kosong kopi instan, krimer, juga gula sintetik. Ah. Setidaknya ia masih cukup aware untuk mengontrol kadar gula darahnya dengan tidak menggunakan gula murni. Tetapi, tetap saja, berakrab ria dengan caffeine is absolutely unhealthy choice.

Tatya melirik jam meja. Sedikit lagi ujung panahnya akan menunjuk ke angka 12. Mendadak, hawa di sekelilingnya terasa hangat. Padahal, AC kamarnya diset pada suhu 18 derajat. Berulang kali arah matanya berpindah dari layar laptop ke ponsel, dan .....

....Tring....tring....triiiing.

Hening malam terpecahkan. Nama Aprilia muncul di layar ponsel. Mbakyunya itu tetap seorang Ms. Right time. Namun, Tatya belum bisa menarik napas lega.

"Assalamu'alaikum. Kak April?" Tatya menyapa serileks mungkin.

"Waalaikumsalam. Kirain elo dah tidur." Suara Aprilia terdengar datar. Mudah-mudahan pertanda baik.

"Ya enggaklah. 'Kan udah janji nungguin telpon kakak."

"Elo masih online 'kan?"

"Mm..masih. Kenapa?"

"Sekarang juga elo buka WA. Gue barusan kirim skrinshot yang harus elo baca."

Sejak tadi, Tatya memang belum membuka Whatssap. "Emangnya.... apa isinya, kak?"

"Baca dulu, baru komentar!"

Pfuh! Tatya mendengus. Sampai kapan pun, seorang kakak tetap punya otokrasi untuk memerintah adiknya. Ada tidak kurang sebelas skrinshot dikirim Aprilia. Tatya membuka satu per satu, juga membaca satu demi satu. Baru tiga skrinshot yang ia baca, jantungnya sudah berdegup kencang.

Isi WA-nya kurang lebih sama. Mengomentari novel yang ia tulis yang diyakini para pengirimnya adalah sesungguhnya kisah Aprilia. Mereka pasti teman-teman Kak April. Batin Tatya. Karena sebagian besar teman Aprilia, mulai dari teman TK, tetangga sebelah rumah, teman manjat pohon mangga sampai teman kuliah, tahu persis kalau dirinya adalah adik kandung Aprilia. Yang tepat urutannya berada dibawah Aprilia. Dan sejak novel pertamanya terbit, Tatya memang menggunakan nama aslinya sebagai nama pena.

SS I :

Nggak nyangka banget elo segitu setianya sama dia. Berarti sampe sekarang elo masih ngejomblo? Aduh kacian ya,beruntung banget sang Mr. A, dah punya bini, tetep aja elo-nya nggak bisa ngelupain.

SS II :

Ril, gue jodohin ama tetangga gue mau nggak? Produk patah hati, seleranya perfect banget, pengennya dapet bini yang super setia, super pengertian, juga punya ciri-ciri alami bakal jadi super mom. Ngebaca novel adikmu itu, kaya'nya gue yakin banget kalau elo pasti the most right one.

SS III :

Aprilia....Aprilia....makanya dulu itu jangan nyuekin gue mulu. Coba kalo lo nggak terlanjur kepincut sama dia, gue jamin lo nggak bakal menderita begini. Sayang aja gue dah punya bini. Kalo enggak udah gue lamar lo. Atau lo nggak keberatan kalau....jadi bini kedua?

Tatya geleng-geleng kepala. Teman-teman Aprilia, dahsyat juga ya? Pantes aja Aprilia uring-uringan.

"Gimana? Puas?" Suara Aprilia kembali terdengar di ponsel.

"Kak, itu 'kan WA doang. Tinggal dihapus aja kan? Nggak usah diladenin, besok-besok juga berhenti sendiri....."

"Trus, gimana dengan mereka yang nelpon gue langsung? Mau di-reject, mereka temen-temen gue. Asal lo tahu, gue udah kaya' seleb yang ketahuan selingkuh! Tiap hari adaaa aja yang nelpon, minta konfirmasi kebenaran cerita itu. Gue juga nggak bisa matiin ponsel karena bos gue bawel banget. Itu aja dia udah rusuh, bilang kalo gue sekarang udah sok sibuk en sok dicariin. Padahal gue sekarang udah kaya' orang ngutang miliaran! Dan SS yang gue forward ke lo, itu belum semuanya, Tya. Dan isinya bikin eneg semua! Heran. Sejak kapan temen-temen gue demen baca novel. ..."

Aprilia terus mengoceh, dan Tatya hanya bisa diam menyimak. Tidak tahu harus ngomong apa, juga mendadak mati rasa, tak bisa meraba perasaannya sendiri terhadap Aprilia, apakah harus sedih, iba, prihatin, atau justru sebel, marah dan dongkol.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Seandainya posisinya sekarang dibalik, ia yang menjadi Aprilia dan Aprilia-lah yang telah menuliskan lalu memublikasikan kisah hidupnya, sepanjang itu bukan mengekspos sisi-sisi buruk dirinya, Tatya pasti tidak akan merasa terlalu direpotkan apalagi dipermalukan. Masalahnya, meski mama mereka adalah orang yang sama, yang dari rahimnya terlahir empat perempuan secara rapat dan berurutan, tak satupun dari mereka punya sifat yang sama.

Aprilia seorang yang teguh pada prinsip, menjunjung tinggi integritas, hangat, terbuka, dan luas pergaulan. Hanya dia satu-satunya di antara mereka berempat, yang pernah gonta-ganti jurusan kuliah sampai tiga kali di tiga lokasi yang berbeda pula. Selain itu, Aprilia juga - yang Tatya tahu - bukan tipe orang yang suka memendam sendiri semua permasalahan.

Barangkali, itulah sebabnya, respons atas publikasi kisah masa lalunya itu, andaikan benar seperti yang dikatakan Aprilia, cukup membuat Tatya tercengang-cengang dan merasa perlu meyakinkan diri akan kebenarannya. Sebab lain yang juga harus dipertimbangkan, adalah penerbitan dalam oplah cukup besar oleh salah satu penerbit terkemuka se-Indonesia raya itu, dan sudah berkali-kali pula dicetak ulang.

Semua berawal dari keinginan Tatya untuk menuliskan kisah cinta pertama Aprilia. Sekaligus menjadi cinta terakhirnya. Cinta yang kandas beberapa tahun silam ketika kekasih Aprilia memutuskan untuk menikah dengan wanita lain.

Pada awalnya Aprilia memang memberi izin untuk menuliskan kisahnya itu dengan setengah hati. Pun dengan banyak wanti-wanti. Karena baginya, satu-satunya love story yang ia miliki itu tak lebih dari goresan masa lalu yang noraknya setengah mampus dan setiap kali mengingatnya hanya membuat perutnya mulas-mulas.

Tetapi, di tangan Tatya, kisah cinta yang 'norak dan bikin mulas' itu justru menemukan jalan keluar dari labirin yang menyesatkan, bertransformasi menjadi kisah yang berhasil meneteskan air mata banyak pembacanya.

Tidak kurang puluhan surel, inbox dan WA Tatya terima, dari para pembaca yang mengaku tersentuh dan terharu akan makna kesetiaan dan pengorbanan. Tak ayal, sang novel pun laris manis. Namun, sungguh tak terbayangkan, di balik stempel best seller itu, malam ini dia harus menanggung omelan panjang lebar Aprilia.

"Lo tahu nggak apa kesalahan lo yang paling fatal?" Energi Aprilia untuk mengomel masih konsisten. Suaranya pun masih stabil. Padahal, sekarang sudah hampir pukul satu malam.

Tatya diam, dan Aprilia lanjut nyerocos. "Elo memang udah mengganti semua nama tokohnya, tapi tidak dengan settingnya! Mulai dari nama sekolah dasar, SMP, SMA, bahkan sampai tempat kuliah gue yang tiga biji itu lo tulis sedetil-detilnya! Dan semua temen gue tahu persis kalo elo itu, penulis novel bernama Tatya Mariska itu, ADIK...KANDUNG...GUE!"

Sungguh, di tengah malam sehening ini, suara Aprilia terdengar bak guntur yang membelah langit malam. Padahal, di luar sana purnama bersinar penuh, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Tatya hampir saja melempar ponselnya ke kasur.

"Oke deh kak. Tya minta maaf. Tya siap ngelakuin apa aja untuk nyelamatin reputasi kakak yang hancur ..."

"Eh, siapa bilang reputasi gue hancur? Elo tu ya, paling bisaaa mendramatisir sesuatu!"

Yaelah. Marah lagi. Tatya menggaruk kepalanya keras-keras, demi menghalau kesal sekaligus rasa kantuk yang mulai menyerang.

"Sekarang dengerin baik-baik apa aja yang elo harus lakuin. Pertama, elo harus buat statement di blog lo atau di socmed lo kalau kisah itu bukan kisah gue! Terserah lo mau bilang itu kisah siapa, kisah sahabat elo kek, tetangga elo kek, kucing bu Selvi kek, atau kisah elo sendiri! Yang penting jangan lagi menghubung-hubungkannya dengan gue!"

Hm. Sepertinya tidak terlalu sulit. Tapi.... harus diakuin sebagai kisahnya siapa? Tatya garuk-garuk kepala lagi.

"Kedua, elo 'kan minggu depan mau ke Jakarta? Ada talkshow tentang novel lo itu 'kan? Nah, itu kesempatan buat elo ceritain didepan media dan pembaca-pembaca novel elo kalau itu sebenarnya kisah siapa! Tapi ingat, jangan-pernah-bawa-bawa-nama-gue!"

Tatya lemas total. Tak sanggup lagi untuk menggaruk-garuk kepala karena penampakannya didepan cermin sekarang sudah mirip wewek gombel.

"Kak April, jadinya Tya harus ngomong nggak jujur dong?"

"Terserah! Selama ini kerjaan elo 'kan emang tukang ngibul! Ngarang-ngarang cerita fiktif gitu, apalagi namanya kalau bukan ngibulin orang?"

Kantuk Tatya sirna dalam sekejap. Ia paling antipati disebut tukang ngibul. Antara pengarang cerita dan tukang ngibul, dari sudut pandang manapun dan indikator apapun, tidak akan pernah berada dalam ruang apresiasi yang sama.

Baginya fiksi adalah hasil dari proses yang matang, kreativitas, riset dan kerja keras, yang terlahir dengan ijin Sang Maha Pemilik Ilham.

Toh tak semua orang mampu mengolah kata menjadi kalimat indah dan mampu menyentuh relung jiwa. Dan lebih tak banyak lagi orang yang mau menjadi penulis fiksi, profesi yang di negeri ini belum mampu mengantarkan banyak pelakunya menjadi orang kaya.

Namun, malam ini Tatya enggan berdebat. "Ya udah. Tya udah ngerti apa yang harus Tya lakukan."

"Bagus. Pokoknya besok malem gue lihat statement elo udah nongol di blog, IG, FB, pokoknya dimana pun, kalau perlu di media cetak !"

"Kak..."

Tuut...tuuut. Pembicaraan berakhir. Tatya menatap nanar pada pintu kamarnya yang tertutup rapat. Entah mengapa, dia mulai berhalusinasi. Membayangkan ada sesosok monster telah dikirimkan Aprilia untuk menunggu dan mengawasinya melakukan semua perintah Aprilia, persis berada di balik pintu itu.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Rumah untuk Cinta-BAB 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Budi A.

Berita Terkini Lainnya