Comscore Tracker

[NOVEL] Save Our Story-BAB 4

Penulis: Pradnya Paramitha

5 Signs That Your Boyfriend is Cheating on You

 

Setelah Harris sibuk dengan laptopnya, Ayas buru-buru membuka browser di laptopnya sendiri. Tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabar selama menunggu internetnya loading. Komputer kantornya memang sudah bapuk. Hal itu kadang berimbas pada koneksi internetnya. Lemot luar biasa dan harus di-restart berkali-kali bila terlalu lama dipakai. Sudah sering Ayas mengajukan komputer baru pada bagian HRD. Namun, nyatanya sampai sekarang dia belum mendapat yang baru.

Setelah laman Google Chrome terbuka sempurna, tangan Ayas lincah mengetik kata kunci yang sedari tadi mengganggu pikirannya.

SIMPLE SIGNS THAT YOUR BOYFRIEND MIGHT BE CHEATING ON YOU

Sungguh dalam hati Ayas merasa miris. Seumur-umur, dia tidak pernah memikirkan akan meng-googling hal-hal seperti ini. Selama kurang lebih empat tahun bersama, Ayas tidak pernah meragukan kekasihnya. Nara bukan orang romantis. Hal paling manis yang dia lakukan hanyalah memberinya tiket gratis dengan posisi yang paling strategis setiap kali kelompok teaternya ada pertunjukan.

Nara juga tidak pernah mengobral kata-kata manis yang membuat cewek mana pun melambung tinggi. Hal paling manis yang Nara katakan adalah "Hanya karena aku nggak pernah menyinggung-nyinggung soal pernikahan, bukan berarti aku nggak serius sama kamu." yang dia ucapkan dua tahun lalu saat Ayas minta putus karena Nara tak kunjung memberi kepastian. Ayas sendiri masih ragu apakah itu memenuhi kriteria kata-kata romantis, yang jelas kata-kata itu berhasil membuatnya menyesali permintaan putusnya.

Mesin pencari Google segera menampilkan apa yang dia cari. Ayas ber-wow kecil saat melihat begitu banyak artikel yang menyuguhkan tanda-tanda orang selingkuh. Setiap artikelnya punya 10-20 tanda-tanda. Wow! Jadi sejelas itukah perangai orang yang sedang mendua? Dan apa itu berarti banyak orang yang insecure dan mencurigai pasangannya?

Berusaha untuk tidak lebih deg-degan lagi, Ayas membuka satu artikel dan mulai membaca.

"He tells you he isn't really ready for a relationship early on .... He takes his phone with him every time he goes to the bathroom .... You haven't met a lot of his friends even though you hang out with him .... He brings you flower or gift with no reason ...."

"Ebuset!"

Sebuah celetukan di belakang punggungnya membuat Ayas buru-buru menutup laman artikel yang sedang dia buka.

"Lo beneran berpikir Nara selingkuh, Yas?" tanya Jessica, jelas-jelas menangkap website apa yang tadi dia baca.

Alih-alih menjawab, Ayas malah menunduk sambil mengacak-acak rambutnya. Dalam benaknya muncul tanda-tanda pertama: He tells you he isn't ready for relationship early on. Memang tidak persis seperti itu. Namun, sejauh ini Nara tidak pernah mengatakan dia mau menikah. Meski juga tidak mengatakan dirinya belum atau tidak siap menikah. Dan yang jelas, Nara tidak pernah menanggapi sindirannya soal kapan akan dilamar. Intinya sama saja, bukan?

"Eh iya, kemarin gue ketemu Arfie, lho."

Refleks Ayas menegakkan badan dan menoleh. "Arfie? Kapan? Di mana?"

"Di acara gathering blogger gitu. Sejak kapan dia di Jakarta?"

Ayas menggeleng. "Gue aja nggak tahu dia di Jakarta. Nggak ada laporan."

"Kok lo masih kontak-kontakan sama mantan sih, Yas? Nara nggak apa-apa gitu?"

Ayas mengedikan bahu. "Dalam prinsip gue musuhan sama mantan itu nggak keren, say."

Lagi pula, Nara juga menyebut-nyebut nama perempuan lain dalam tidurnya. Seharusnya tidak boleh protes bila dia masih berhubungan dengan Arfie. Toh, Ayas tidak pernah menyembunyikan fakta itu.

"Tunggu, tunggu." Harris tiba-tiba menggeser kursinya dan bergabung. "Ini kita lagi ngomongin Arfie si James Bond?"

"Arfie mantannya Ayas," jawab Jessica dingin. Sepertinya dia masih kesal pada Harris. "Yang pernah nge-hack website kampus."

"Wah, masih hidup dia? Kirain udah tewas diserang kawanan gajah pas jalan-jalan ke India."

Ayas meringis. Hubungannya dengan Arfie Nataprawira memang sedikit unik. Mereka berteman sejak SMP, dan jadian saat kelas satu SMA. Meski putus selepas lulus SMA, persahabatan mereka tetap terjalin erat. Apalagi mereka juga kuliah di kampus yang sama. Nara pun sudah tahu hubungan mereka. Tak jarang mereka nongkrong bersama-sama. Kata Jessica, inilah yang membuat relasi Nara - Ayas - Arfie sangat aneh di matanya. 

"Lo nggak berasa lagi threesome kalau nongkrong bareng pacar dan mantan pacar lo gitu?" tanya Jessica dulu. 

Biasanya Ayas hanya akan menggeplak lengan Jessica dan memberinya sunoah serapah atas kata-kata yang tidak senonon itu. Ayas yakin, Jessica hanya iri karena dirinya tidak pernah bisa menjalin hubungan baik dengan mantan pacarnya.

Aktivitas Arfie tidak terdeteksi selepas lulus kuliah. Pekerjaan Arfie sebagai travel blogger membuat pria itu tak pernah lama di suatu tempat. Selain itu, Arfie juga melanglang buana ke sana kemari untuk melakukan hal yang tidak terpuji. Namun biasanya Arfie akan menghubunginya setiap kali pulang ke Jakarta. Kali terakhir Ayas berjumpa dengannya adalah satu tahun lalu.

"Duh Miss, ngomong mbok yang baik-baik aja ...."

"Gue bukan Miss!"

Mengabaikan kedua sahabatnya yang sepertinya masih akan lama bermusuhan dan saling debat, Ayas meraih ponselnya. Dia akan melayangkan protes kenapa Arfie ada di Jakarta dan tidak mengabarinya.

***

"Neng?"

Ayas mengangkat wajahnya dari bantal. Di pintu, Abah sudah rapi jali dengan kemeja bergaris dan celana bahan.

"Lho, kok kamu masih tidur?"

"Abah mau ke mana?" tanya Ayas dengan suara serak.

"Ya mau ke rumah sakit, gimana toh? Jenguk Mas Nara. Itu Mas Pandu udah siap di depan."

Ayas menggeliat. "Ayas nggak ikut ya, Bah? Nanti bilang aja Ayas masih di kantor."

Zacharia, pria pertengahan 70-an yang rambutnya sudah memutih semua itu, mendekati ranjang. Ayas dan Pandu memanggilnya Abah. Namun, sebenarnya Zacharia adalah kakek bagi mereka berdua. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal akibat kecelakaan pesawat. Saat itu Pandu baru kelas 3 SD, dan Ayas bahkan masih berusia 2 tahun. Tak satu pun kenangan tentang Ayah dan Ibu yang masih bisa Ayas ingat. Hanya Abah dan Ambu yang membesarkan dia dan kakaknya hingga dewasa.

Ketika Ayas duduk di bangku SMA, Ambu menyusul anak dan menantunya. Penyakit gula yang dideritanya sejak muda membawa berbagai komplikasi di masa tua. Sejak itu, Abah seorang diri membesarkan kedua cucunya dengan gaji pegawai kejaksaan pusat. Kini Abah sudah pensiun, dan kembali menempati rumah sederhananya di kawasan Depok. Rumah orang tua Ayas dan Pandu yang megah di Jakarta disewakan.

"Besok aja aku ke sana pulang kerja," tambah Ayas lagi. "Lagian di sana juga udah ada Tante Nilam."

Ayas kembali menyurukkan wajahnya ke bawah bantal. Dia pikir Abah langsung pergi ketika dia mengatakan tak mau ikut. Namun, pria itu justru mendekat dan duduk di pinggir ranjangnya.

"Neng teh ada masalah sama pekerjaan?" tanya Abah.

Ayas menggeleng. "Capek, Bah. Banyak deadline belakangan," jawab Ayas dengan suara tidak jelas karena wajahnya tersembunyi di balik bantal.

"Ya sudah. Neng istirahat dulu. Makanan sudah disiapkan sama Hasnah." Dua tepukan lembut mendarat di pundaknya. "Abah ke rumah sakit dulu."

Sebelum Abah benar-benar keluar dari kamarnya, Ayas mendongak.

"Bah," panggilnya cepat-cepat. Abah menoleh. "Nanti jangan bilang kalau Ayas udah di rumah, ya? Bilang aja Ayas belum pulang."

Abah hanya tertawa dan mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Ayas nyengir. Abahnya sudah pasti mengerti. Ayas sedang lelah dan tidak ingin diganggu. Sebenarnya, Ayas ingin sejenak menyingkir dari hal per-Nara-an. Setidaknya sampai otaknya bisa sedikit mendingin dan melupakan soal Raisa yang disebut-sebut Nara dengan nada penuh cinta itu.

Sampai kapan?

Entahlah, Ayas tidak tahu. Yang jelas, hatinya sudah sembuh atau belum, besok dia harus tetap datang ke rumah sakit dan menjadi kekasih yang baik untuk Nara. Berpura-pura tidak ada yang salah. Jadi untuk malam ini dia ingin menikmatinya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Namun sebenarnya, memang tidak ada yang salah, kan?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Save Our Story-BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya