Comscore Tracker

[NOVEL] Shelter: BAB 2

Penulis: MosaicRile 

2. Under Wraps

 

“HEZKIEL Nataliz!”

“Itu dia!”

“Apakah sudah ada kepastian kapan jadwal syuting di Berlin?”

“Bagaimana rasanya mendapat peran second male lead di rumah produksi MGM?”

“Apakah itu artinya Hezkiel Nataliz resmi menjadi salah satu artis Indonesia berbakat yang melebarkan sayapnya ke ranah internasional?”

Hezkiel Nataliz sudah lebih dulu mengenakan kacamata hitam untuk melindungi matanya dari sorot kamera serta kumpulan wartawan di pintu kedatangan bandara. Ia mengambil sebuket bunga dari tangan salah seorang penggemar, beragam pertanyaan dijawab dengan senyum lebar meski telinganya sakit mendengar pekik histeris dari segala arah.

Ia menemukan Saul berlari kecil menerobos kerumunan, salah seorang kru langsung mengambil alih koper bawaan Hezkiel, memberi ruang baginya untuk berjalan dan masuk ke dalam kendaraan. Beberapa menit kemudian, manajernya duduk di samping usai menutup kencang pintu mobil.

“Kenapa tiba-tiba ganti jadwal penerbangan, sih?” gerutu Saul.

Hezkiel melepas kacamata, iris cokelatnya menyesuaikan cahaya masuk. “Dia udah sadar?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Saul.

“Baru aja.”

“Terus?”

Saul menoleh menatap Hezkiel kesal. Pria itu mengacak rambut, sementara Hezkiel masih menunggu kelanjutan cerita. “Sekarang dia ada di apartemen lo. Harusnya lo itu baru balik ke Jakarta dua hari kemudian. Kalau tahu lo sulit bedain mana urusan kerjaan dan pribadi, harusnya gue nggak perlu ngabarin keadaan dia secepat itu.”

It's been almost five months, Saul,” jawab Hezkiel. “Gue jelas aja langsung pulang pas lo telepon tentang perkembangan kondisinya.”

“Yeah, it took five months and become more complicated, Hez. Sampai kapan lo mau nyembunyiin keberadaan dia?”

Wait,” potong Hezkiel. Ia menoleh memandang Saul. “Nggak ada orang yang tahu lo bawa dia ke apartemen gue, kan?”

Saul mengangkat bahu. “Gue udah berusaha serapi mungkin. Emang apa yang bakal lo lakuin habis ini? I mean, once her condition become more stable.

Hezkiel mendesah panjang. “Gue bakalan nanya dulu apa yang terjadi sama dia waktu itu. She owes me an explanation.

“Lo bakal kaget aja nanti,” ujar Saul.

“Kenapa?”

Saul tidak menjawab pertanyaannya. Ia mengamati Saul menutup wajah dengan topi dan menurunkan sandaran kursi. Hezkiel mengalihkan pandang gelisah. Lima bulan lalu, mereka sepakat menyembunyikan sebuah rahasia yang tidak diketahui publik. Jika bukan karena terjebak semalaman berada di lokasi syuting, Saul tidak akan menemukan tubuh seorang wanita terdampar di tepi pantai.

Hezkiel menghela napas, mencoba bersabar dengan rutinitas jalan raya yang selalu terjebak macet. Ia menggulir berita digital dari layar ponsel. Topik tentangnya yang baru saja tiba di Jakarta dan berhasil menjadi pemeran kedua utama dalam film layar lebar Hollywood menjadi berita hangat Nusantara. Beberapa minggu ke depan, ia sudah bisa memprediksi betapa ketat jadwal yang harus dijalani. Sejak terjun ke dalam dunia hiburan dan mendapatkan cukup banyak tawaran bermain film, namanya mulai dikenal dan perlahan diakui sebagai salah satu artis ibu kota populer.

Satu jam telah berlalu ketika mobil mereka berhenti di depan lobi gedung Residence 8. Hezkiel berjalan cepat, langkahnya lebar. Ia masuk ke dalam lift yang memiliki akses privat agar terhubung dengan kamar miliknya. Tidak ada yang berubah dari kondisi ruang seluas 180 meter persegi selain kehadiran seorang wanita yang ia tolong di masa lalu. Hezkiel memutar tubuh, mendapati Saul memandangnya aneh.

“Dia di kamar tamu?” tanya Hezkiel.

“Lo berharap dia ada di kamar lo gitu?” Saul bertanya balik sembari mengangkat alis.

Hezkiel tak menjawab. Ia melepas overcoat hitam Salle Privée, menyampirkannya pada standing hanger di ruang depan. Hezkiel lalu melangkah lurus melewati dapur dan ruang tengah. Ia membuka pintu tanpa terlebih dahulu mengetuk, menyapa dokter Kanya yang sedang melakukan pemeriksaan pasien.

Kehadirannya membuat Kanya memandang Hezkiel sambil menghela napas pelan. “Aku tidak tahu kenapa kamu bersikeras membawanya ke sini, dia butuh perawatan lengkap di rumah sakit, Hezkiel,” keluh wanita itu. “By the way, I'm glad you're home.

Hezkiel mengulas senyum kecil, mendekat dan memeluk singkat Kanya yang tak lain adalah sahabatnya. “Gue punya alasan untuk itu,” jawab Hezkiel. “Gimana kondisinya?”

Sesudah bertanya demikian, ia melempar pandang ke arah tempat tidur. Di atasnya berbaring wanita dengan wajah sepucat keramik porselen, terlihat lemah, bibir itu pun kering tak merona. Hezkiel sekarang meragukan kabar baik dari Saul.

“Kamu mengharapkan apa dari wanita yang baru siuman setelah koma berbulan-bulan?” Kanya menjawab tatapan bingungnya. “Kita perlu bicara di ruangan lain, Hez.”

Hezkiel mengangguk. Ia mengikuti Kanya yang terlebih dahulu meninggalkan kamar. Di ruang tamu, ia mendapati Saul duduk nyaman di sofa berwarna krem pastel bermodel vintage sambil meluruskan kaki menunggu keduanya. Hezkiel melempar ringan bantalan sofa pada Saul, mendorong lelaki itu berpindah tempat dengan menggerutu. Ia sempat menduga ada sesuatu yang disembunyikan oleh manajernya dan Kanya.

“Apa yang terjadi?” tanya Hezkiel buru-buru.

“Biar aku luruskan,” ujar Kanya lambat. “Sebelum aku mengambil alih dan mulai menanganinya, aku perlu tahu siapa wanita itu.” Kanya melipat tangan, bola mata itu bergantian menatap tajam ia dan Saul.

She's one of my friend, Kanya,” jawabnya singkat. “Skip aja semua formalitas, come on, kita lagi nggak di rumah sakit, Dok.”

Wanita itu tampak belum terpengaruh. “And?”

“Bisa lo jelasin dulu keadaannya gimana?” tanya Hezkiel tak sabar. “Gue kasih tahu kebenarannya nanti.”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Ketika wanita itu sadar kemarin malam, dia tidak ingat siapa dirinya,” jawab Kanya. Dokter itu melanjutkan kalimat setelah mendapati Hezkiel mengangkat alis. “Dugaan sementara, amnesia. Kita perlu membawanya kembali ke rumah sakit dan melakukan beragam tes diagnostik.”

Tentu saja Hezkiel terkejut mendengar pernyataan Kanya. Ia butuh beberapa detik berpikir sebelum berujar kembali. “Lo nggak mungkin bilang gitu kalau tahu gimana gue dan Saul nemuin dia di pinggir pantai, roughly five months ago,” tolak Hezkiel dengan gelengan pelan.

“Memangnya kenapa?” Kanya meminta penjelasan.

Well, to be honest, dia kelihatan seperti korban pembunuhan,” jawab Saul singkat.

Pupil Kanya melebar. Wanita itu nyaris memekik kala berbicara. “Kenapa nggak kalian laporin ke polisi?!”

Welcome back, Kanya,” gumam Hezkiel setelah mengetahui perubahan cara bicara dan ekspresi di wajah wanita itu.

Explain,” tegas Kanya.

“Elaine sempat sadar pas gue nemuin dia,” ujar Hezkiel cepat. Ingatannya mundur ke peristiwa beberapa bulan lalu, tentang momen yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun kecuali Saul, alasan mengapa ia merawat Elaine diam-diam. “Dia minta supaya gue rahasiain ini semua sampai dia bangun lagi. Unfortunately, dia koma. Ada orang yang mau bunuh dia, tapi Elaine melindungi pelaku. Cuma itu kesimpulan yang bisa gue tarik.”

“Apa itu jadi alasan yang cukup buat lo mutusin di mana dia dirawat dan dengan siapa seharusnyabersama dia?” tanya Kanya lagi. “Lo sadar apa yang lo lakuin itu bertentangan dengan hukum? Dalam beberapa bulan terakhir, bisa aja keluarganya nyari-nyari dia!”

Hezkiel diam. Ia mengembuskan napas kuat sebelum menatap Saul, memberi isyarat agar Saul menjelaskan lebih lanjut.

Saul membuka suara. “She wasn't expected to be found alive, Kanya. Pemakamanannya ada di San Diego, nama Elaine Daniswara jelas-jelas ada di batu nisannya.”

“Itu sebabnya kita nggak bisa mempercayakan Elaine sekalipun itu keluarganya. Nggak ada yang tahu siapa yang lagi dia lindungi,” timpal Hezkiel.

“Dan lo ngira keluarganya mau ngambil nyawa dia?” tanya Kanya skeptis.

Hezkiel mengangguk samar.

“Demi karier, Hez! Lo itu artis!” seru Kanya tak terima. “Kalau ada yang tahu lo nyimpen wanita yang seharusnya udah meninggal, ini bisa masuk golongan skandal!”

Stop being overreacting, Kanya,” cegah Hezkiel.

You keep this secret for months! Lo mau reaksi gue kayak gimana?”

Well, sorry. Semua asumsi yang gue bilang tadi bukan tanpa dasar. Saul bantu menyelidiki ini.” Ia memandang lurus wanita yang duduk di depannya. “Lo bisa balikin ingatannya?”

Kanya mengangkat bahu. “Dari apa yang lo bilang, kemungkinan besar dia mengalami trauma. Dia bahkan nggak kenal siapa dirinya. Gue tetap nyaranin supaya dia diperiksa menyeluruh. Langkah selanjutnya baru bisa ditentukan kemudian.”

Mereka sama-sama diam. Hezkiel duduk bersandar, membuka dua kancing kemeja teratas. Ia mengacak rambut cokelat gelap miliknya, sebelah tangan singgah di pangkal hidung yang mancung. Matanya terpejam sementara hingga Hezkiel menemukan sedikit jalan terang.

“Kanya,” panggil Hezkiel. “Please, help me. Lo dokter terbaik, termuda, juga paling fleksibel yang gue kenal. Lo pasti punya jalan untuk nyembuhin Elaine meski itu nggak dilakukan di rumah sakit.”

“Hez, jangan mulai lagi.”

“Gue bisa ngatur gimana kita sembunyiin identitasnya selagi lo nanganin dia,” terang Hezkiel, ia menoleh memandang Saul. “Terus Saul menyelidiki apa yang terjadi di keluarga Daniswara.”

“Daniswara itu bukan nama keluarga yang jejaknya bisa kita selidiki gitu aja, Hez,” Saul mengingatkan. “We’ve tried before, dan nihil. Itu kenapa gue setuju untuk nunggu Elaine sadar dari koma. Kesepakatan awal, kan, cuma ngerawat doang,” protes Saul.

Hezkiel mengangguk. “That’s why gue minta lo atur ulang. Kita akan tahu hasilnya dan lihat gimana Elaine menyikapi semua ini. Sampai dia sembuh, Elaine akan tinggal di sini.”

Excuse me, Hez?” Kanya menyela.

Hezkiel mengabaikan wajah kesal Kanya karena ia tahu wanita itu selalu menyanggupi permintaannya.

“Gue nggak mau ikutan terlibat di sini, kerjaan gue banyak, nggak cuma ngurusin wanita dari antah-berantah yang terdampar di apartemen mewah,” tolak Kanya sarkas.

Sekarang penolakan itu membuat Hezkiel menatap lurus bola mata Kanya. “I will make sure you’re safe, Kanya. Lagi pula, kita semua hanya menolong seorang teman,” simpul Hezkiel.

Tidak ada balasan dari ucapan Hezkiel. Beberapa menit berlalu dengan hening menggantung di atas ruang. Kanya yang pertama kali bangkit berdiri, mengambil sling bag putih yang senada warnanya dengan atasan baju. Wanita itu tidak perlu berbasa-basi pamit pada mereka saat berlalu pergi dari ruang tamu.

“Lo nggak peka, apa gimana?” tanya Saul usai Kanya keluar.

“Apanya?”

Saul mendesah. “Kata ‘menolong seorang teman’ itu dalam tanda kutip, kan? Sebenarnya ada apa antara lo dan Elaine? Dan gue percaya hubungan lo dan Kanya nggak cuma sebatas sahabatan—setidaknya di mata Kanya.”

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Shelter: BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya