Comscore Tracker

[NOVEL] Shelter: Prolog

Penulis: MosaicRile

Prologue - Mission to Kill

 

ELAINE menekan pedal gas lebih dalam. Sekilas ia mengawasi laju Ferrari di belakang. Ia menambah kecepatan, membelah jalan raya pukul dua dini hari. Sepi. Lenggang. Hanya suara mesin menderu memenuhi kabin mobil. Ia tidak sempat berpikir mengapa peristiwa yang menyebabkan kematian mengejarnya terus-menerus.

Bukan Elaine Daniswara namanya kalau tidak melawan. Ia membanting setir ke kiri, menghalangi pengemudi ambisius di belakang, merelakan bumper mobilnya ditabrak. Ferarri itu bergerak mendesak, meremukkan besi lebih dalam.

Elaine mengumpat, baru sadar ia sudah mengemudi jauh dari kota. Ia meneba-nebak, orang yang berada di balik kemudi pastilah orang suruhan yang dibayar. Sementara Elaine menjaga agar mobilnya terus menguasai jalan, sebelah tangannya menekan nomor yang telah dihafal di luar kepala. Ia menunggu nada dering pertama. Ferrari berpindah posisi, menyerempet jalur kanan. Timbul suara decit akibat gesekan antar mobil. Posisi kendaraan mereka sejajar, tetapi ia belum melihat wajah pengemudi.

Panggilan tersambung. Suara di seberang menjawab dengan nada tenang, “Yes?”

“Ian!” panggil Elaine, nadanya tinggi bercampur lega. Elaine tidak langsung berbicara. Mobilnya berhasil melaju cepat ke depan jalan. “Aku perlu bantuan,” pinta Elaine singkat.

I'm right behind you.

Mendengar jawaban barusan, Elaine mendadak menginjak rem. Tabrakan terjadi. Tangan kirinya mendorong maju persneling mobil seraya menaikkan rem tangan. Dahinya ikut membentur setir bertepatan saat kendaraan berhenti. Ia menggeleng cepat berharap dapat meredam rasa sakit, mengabaikan degup jantung yang bertalu-talu. Elaine melepas sabuk pengaman, mendorong pintu dan keluar dari mobil.

Tidak perlu menunggu menit berlalu untuk tahu siapa pria yang sekarang berdiri tepat di depannya, berjarak beberapa langkah. Dengan tangan terangkat lurus sejajar bahu, ada pistol di tangan lelaki itu. Elaine bergeming, tetapi satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Ia tidak ingin percaya, hanya saja pembunuh bayaran yang tadi ditebaknya ternyata Ian Cakra.

“Kamu tidak dalam pengaruh obat, kan, Ian?”

Pertanyaan pertama Elaine tak berhasil mengundang jawaban. Ia mundur selangkah, sebab pria di depannya melangkah mendekat. Ia memperhatikan tangan Ian menekan pelatuk pistol. Elaine mencari jawaban melalui mata kelam itu, tetapi seperti biasa, tidak ada petunjuk jelas di sana.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Elaine mendesah. “Aku tidak mau dibunuh pakai pistol,” tolaknya. “If you kill me, you'll regret it for the rest of your life.

Let's see,” balas Ian.

Elaine tidak menunggu sampai Ian menekan pemicu. Ia memutar tubuh cepat, mencoba menghindar sebelum peluru lepas dari laras, tetapi sebuah mobil berkecepatan tinggi dari arah berlawanan menabraknya. Kepala Elaine membentur kaca, tubuhnya berguling dari kap depan mobil, berakhir turun di atas aspal.

Ian menyimpan pistol ke balik celana, menutupi benda itu dengan kemeja putih yang dikenakan. Pengemudi turun tergesa-gesa, memeriksa Elaine dengan tangan gemetar. Pengemudi itu menoleh saat melihat sepasang sepatu Broque hitam berhenti tepat di atas darah pekat yang mulai menggenang.

Ian menunduk, mengarahkan telunjuk ke bawah hidung Elaine, memeriksa napas wanita itu. Senyum tipis terbit di bibir Ian. Ia mendesah, mengangkat tubuh Elaine, meletakkannya di dalam kabin Ferarri. Sementara gangguan yang tak diharapkan muncul, ia sudah tahu bagaimana harus membereskan pengemudi yang kebetulan mengabulkan keinginan Elaine beberapa menit lalu.

Iris Ian menggelap ketika balas menatap wanita yang ketakutan melihatnya. Langkahnya ringan dan cepat, memilih pisau lipat ketimbang pistol, membungkam jeritan histeris. Ian membersihkan noda darah di tangan sebelum mengambil ponsel dari saku celana, menekan nomor, dan menunggu jawaban.

Ia sedang mengawasi keadaan sunyi di sekitar ketika panggilan telepon tersambung. “Bersihkan sisanya.”

Ian kembali masuk ke dalam Ferarri, menyetir jauh menuju utara. Ia memutuskan membuang tubuh Elaine ke laut saja.

Misi selesai.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Tanda Baca: Prolog

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya