Comscore Tracker

[NOVEL] Sweetheart of Nobody - BAB 2

Penulis : Malashantii

2. Kalau Begitu, Perpanjang Lagi ya?

----

"Pikirkan lagi, Jul. Apa tidak sayang kalau kamu mundur begitu saja?" tanya Pak Rico sambil cemberut.

Rupanya, Leta nggak berhasil menyampaikan keinginanku kepada produserku ini. Buktinya, Pak Rico masih saja nggak percaya bahwa aku memang sudah benar-benar nggak ingin memperpanjang kontrak lagi. Siang ini saat kami sedang break, lagi-lagi dia mendatangi lokasi untuk bicara denganku.

Aku tersenyum. Menggeleng.

"Sebenarnya kenapa kamu tidak mau lagi memperpanjang kontrak?" lanjutnya gusar. "Penonton tentu kehilangan kalau tidak ada kamu lagi di sini."

"Saya sudah dua kali menandatangani perpanjangan kontrak, Pak."

"Satu kali perpanjangan lagi apa masalahnya?"

Masalahnya, jika aku setuju sign kontrak kali ini, di belakang nanti bakalan ada perpanjangan keempat, kelima, keenam dan seterusnya. Biasanya seperti itu.

"Kamu sudah menerima tawaran untuk main di sinetron lain?" kejarnya.

Aku segera teringat tawaran dari Arcade yang belum kuiyakan. Juga tawaran dari beberapa PH lain. Aku pun menggeleng. "Tawaran sih banyak, Pak. Tapi kayaknya saya mau break dulu. Dan kebetulan durasi kontrak saya di sini juga sudah hampir habis, 'kan?"

"Kalau kamu mundur, mau jadi apa sinetron ini?" keluhnya.

"Ya, tetap jadi Cita Cinta Farisa lah, Pak."

"Ratingnya masih cukup tinggi. Apa yang akan terjadi kalau kamu tidak ikut syuting lagi?"

"Saya pikir nama Roland dan Medina saja sudah sangat menjual, Pak."

Pak Rico menggeleng. "Tidak. Karakter kamu penting sekali di sini."

"Iya, Jul," Mas Norman menimpali. "Apalah artinya drama semacam ini kalau nggak ada antagonisnya?"

"Betul. Justru antagonislah sentral dari drama-drama semacam ini." Pak Rico menatapku serius. "Malah, kamulah sebenarnya tokoh kunci paling penting di sini."

"Kalau peran saya memang sepenting itu, ya paling nggak seharusnya honor saya sama dengan Medina dong, Pak."

"Jadi itu masalahmu?" sambar Pak Rico cepat. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Itu kan bisa kita bicarakan. Kalau kamu mau bertahan, saya bisa usahakan supaya honor kamu naik."

Wuih, itu tawaran yang menggiurkan. Leta akan langsung menoyor-noyor kepalaku kalau dia tahu Pak Rico memberi penawaran semacam itu, dan aku nggak langsung mengiyakan.

"Bagaimana?" tanya Pak Rico penuh harap.

"Terima sajalah, Jul," sahut Mas Norman. "Kapan lagi bos mau berbaik-baik begini sama kamu?"

Dia baik, kan karena memang ada maunya.

Kulirik Pak Rico yang masih diam menunggu reaksiku. Dan Mas Norman yang sesekali sibuk dengan ponselnya. Dan teringat lagi isi skenario yang sudah melenceng jauh dari apa yang kupelajari di awal produksi sinetron ini.

Bukannya sok idealis ya, tapi repetisi adegan dan plot ceritanya mulai membuatku bosan. Enak sih, sebenarnya. Nggak perlu bekerja terlalu keras lagi untuk menyelami adegan dan konflik di tiap take yang kami lakukan. Tapi...

"Saya cukup sampai di sini saja, Pak Rico." Aku meringis ketika menjawab.

"Serius kamu? Saya benar-benar bersedia menaikkan honor kamu lho?"

Jangan sampai Leta mendengar bagian ini. Bisa-bisa aku dicekiknya. Atau paling mujur, digoblok-goblokkan sampai mampus.

Aku menggeleng pelan.

Pak Rico mendengus jengkel. Lelaki agak tambun berkulit putih bersih itu pun beralih pada Mas Norman. "Kalau begitu, panggil Nita dan Bagas kemari sekarang." Titahnya. Mas Norman segera mengangguk.

Tak lama, mereka berdua bergabung.

"Skenario baru?" tanya Nita.

"Iya, karena Julie tidak mau memperpanjang kontrak lagi, sementara syuting tetap harus berjalan, kita harus membuat beberapa penyesuaian." Terang Pak Rico.

"Man, menurutmu siapa kandidat pemeran Mercy yang paling mendekati Julie?" dia beralih pada Mas Norman.

Lelaki berambut gondrong nanggung itu berpikir. Kemudian mengajukan beberapa nama. Terjadi diskusi di antara mereka berempat. Aku cuma duduk diam menyimak.

"Kalau begitu, Gas, kamu segera hubungi manajer Sofia Bella."

Bagas segera mengangguk.

"Tapi, Pak," sela Nita. "Kalau ada pergantian pemeran, skenario harus disesuaikan juga kan?"

"Itulah alasannya kenapa saya panggil kamu ke sini sekarang."

"Jadi Mercy ini enaknya saya apakan?" tanya Nita dengan antusiasme yang agak berlebihan.

Kontan mereka semua beralih memandangku. Dan terdiam dengan ekspresi serius.

 

Nita : "Kita kasih kecelakaan mobil?"

Mas Norman : "Itu sudah sering kupakai di beberapa sinetronku sebelumnya."

Nita : "Atau pesawat yang lost contact aja? Di bagian syuting terakhir Julie kalau nggak salah dia pergi berlibur."

Mas Norman : "Kalau bisa jangan yang melibatkan kecelakaan begitu, Nit. Sudah sering banget kupakai."

 

Nita terdiam mengamatiku.

Dan perasaanku mulai nggak enak.

Sudah sejak lama aku merasa, personally dia nggak terlalu menyukaiku. Padahal, awalnya hubungan kami baik-baik saja. Kurasa, penyebabnya karena kejadian beberapa waktu lalu ketika kami baru menjalankan syuting untuk beberapa episode awal.

Menurut bisik-bisik dan gosip yang kudengar dari beberapa kru, Nita naksir Rofik, astradanya Mas Norman. Suatu ketika Rofik malah pernah ke-gap oleh Nita sedang diam-diam merayuku. Aku tentu saja nggak meladeni, karena memang nggak memiliki perasaan apa-apa kepada cowok itu. Tapi sejak saat itu, sikap Nita padaku berubah. Dari yang awalnya ramah dan akrab jadi terasa menjaga jarak. Menurut Leta, mungkin saja Nita ini dibakar cemburu.

Yah, setelah kejadian itu dia nggak membenciku secara vulgar sih, tapi ada efek yang jauh lebih mengerikan. Naskah-naskah skenario yang selanjutnya ditulis Nita jadi terasa nggak masuk akal di mataku.

Iya, aku tahu di dalam sinetron semacam ini, antagonis memang biasa dicitrakan memiliki sikap buruk yang keterlaluan, berlebihan, dan nggak masuk akal jahatnya. Tapi cara Nita menangani karakter Mercy di sini benar-benar membuatku ngeri. Pernah aku mencoba komplain ke Mas Norman atau Pak Rico, tapi mereka malah senang-senang saja. Itu bagus untuk mempermainkan psikologi pemirsa, kata mereka.

Iya, bagus. Bagus banget. Karena bukan mereka yang menerima efek buruk skenario julid yang diciptakan Nita. Aku, aku lah yang selalu jadi korban penggemar baper yang kebanyakan adalah ke ibu-ibu yang butuh pelampiasan emosi.

"Gimana kalau Mercy dibikin tobat saja, Mas? Jadi entah karena apa dia jadi insaf, minta maaf kepada Farisa, dan pergi selama-lamanya deh dari kehidupannya dan Dimas." Usulku.

"Nggak bisa!" sela Nita galak. "Mercy itu harus tetap jahat sampai akhir. Teori dari mana, antagonis, kok akhirnya tobat? Itu namanya antiklimaks. Nggak ada seru-serunya. Penonton juga pasti nggak akan suka!"

Yaelah, elu apa penonton yang nggak bakalan suka, Halimah?

Tapi aku hanya tersenyum manis pada Mas Norman dan Pak Rico yang mengangguk sepakat dengan pernyataan Nita. Kembali aku hanya diam menyimak mereka mendiskusikan cara paling sadis dan dramatis untuk menghabisi karakterku.

"Bisa bikin plot yang beda, Nit?" tanya Pak Rico.

"Anu, bagaimana kalau kita skenariokan Mercy harus menjalani operasi plastik karena wajahnya disiram air keras?"

Seketika kupelototi Nita yang nyengir culas dengan ekspresi puas.

"Mas Norman pikir saja baik-baik. Jika kita memang terpaksa harus mengganti aktrisnya, itu opsi yang paling masuk akal. Dengan plot semacam ini, kita nggak perlu terlalu banyak merombak jalan cerita." Jawabnya.

Dan Pak Rico serta Mas Norman terdiam dan mempertimbangkan dengan serius.

"Tapi, Nit, siapa yang akan melakukan itu?" tanya Pak Rico.

"Bener, tuh." Timpal Mas Norman. "Di sini, karakter yang sejahat dan senekat itu, hanya Mercy. Masa iya, dia mau kamu bikin menyiram dirinya sendiri?"

"Iya, betul itu, Nita." Sahut Pak Rico.

"Saya, saja Pak! Eh... "

Lah?

"Kamu? Kok kamu sih? Ngapain? Kamu, kan nggak ikutan main?" balas Mas Norman jengkel.

Pak Rico geleng-geleng kepala mendengarnya sementara Nita nyengir malu kali ini.

Sepertinya, scriptwriter kami ini memang ada bakat psikopat.

Nita, belum juga mau menyerah. Entah apa saja isi kepalanya. Kayaknya dia masih punya seribu satu cara dan metode untuk menyiksa dan menyengsarakan hidupku. Hidup Mercy, maksudnya.

"Atau dicakar-cakar hewan buas sewaktu liburan? Saya bisa bikin dia pergi liburannya ke tempat yang banyak beruangnya, Pak. Ke Kamchatka atau Danau Baikal misalnya? Kalau ke Sumatera kan nggak mungkin, macannya sudah punah semua. Atau Mercy terjebak kebakaran hutan sewaktu dia jalan-jalan ke Riau sana."

Serius, cewek ini mengerikan.
Padahal, wajahnya imut dan sikapnya sopan. Nggak ada vulgar-vulgarnya sama sekali. Kalau begini, mulut soak Leta jadi terasa nggak ada apa-apanya.

Kutinggalkan sajalah mereka yang masih sibuk mendiskusikan cara paling mantap untuk menyiksa atau menghabisi karakterku sampai puas.

Aku pun keluar dari ruangan, dan mengamati sekeliling. Halaman rumah besar ini dipenuhi kru, pemain, juga aneka peralatan. Semuanya sedang menikmati break. Ada yang ngobrol, ada yang bergerombol dan makan rame-rame. Dari jauh kuamati Bang Hasbi si tengah menggelar makan siangnya di gazebo di dekat kolam renang. Kudekati dia.

"Makan, Jul? Bini gue bawain bekal agak banyak nih!" tawarnya.

Kutengok kotak Tupperware warna-warni yang ada di depannya. Duh, jengkol dan Pete lagi.

"Nggak ada yang lain apa, Bang? Sayur-mayur gitu biar sehat."

"Sayur itu makanannya kambing." Sahutnya.

Aku hanya tersenyum. Mengamatinya melahap makan siangnya. Sebelum Pak Rico memanggilku tadi, sebenarnya aku belum selesai makan nasi kotak jatah katering. Tapi obrolan kami, ditambah ide-ide sadis Nita membuatku kenyang alias mual seketika.

"Gue denger lo mau berhenti, ya?"

"Siapa yang bilang?"

"Si Bagas dari tadi heboh ngehubungi manajernya... siapa itu yang langganan main di sinetronnya FrameHits?"

"Sofia Bella?"

Dia mengangguk, menelan nasi yang dia kunyah kemudian menenggak air.

"Kenapa pakai berhenti segala, sih lo?"

"Kan kontrak gue sudah habis, Bang?"

"Bos pasti nyodorin perpanjangan, 'kan? Medina dan Roland kemarin sudah tanda tangan, kok. Untuk lima puluh episode tambahan."

Lima puluh episode? Busyet!

"Lo ada masalah, sampai minta berhenti begitu?"

"Enggak, lah, Bang. Memang udah pengin berhenti aja."

"Haduh, Jul, kalau memang benar si Sofia Bella itu yang gantiin elo, alamat mati kaku kita-kita yang ada di sini."

Walau aku juga mendengar selentingan tentang perangai buruknya, aku tetap pura-pura bertanya. "Memangnya kenapa sih, Bang?"

Bang Hasbi menggeleng dan mendengus jengkel. Lalu dagunya menunjuk ke arah Medina Syifa sang bintang utama yang tengah duduk bermain ponsel di kursi sutradara, sementara asistennya menyuapkan makan siangnya. "Sudah cukup satu mahluk kayak dia yang ada di lokasi ya, nggak perlu ditambah satu lagi."

"Satu lagi?"

"Lo nggak tahu, Sofia Bella itu sama saja kayak Medina."

"Kita kan nggak pernah satu frame, Bang. Mana gue tahu?"

"Percaya deh, Jul. Gue udah pernah jadi kru di sinetron yang dia mainin. Kacau pokokny orangnya. Belum lagi," Mas Hasbi mencondongkan kepala lebih dekat. Duh, bau jengkol!

"Mereka berdua juga sama-sama simpanannya si bos." Bisiknya.

Kontan mulutku bersiul usil.

"Lo bayangin aja bakalan jadi kayak apa situasi lokasi andai mereka berantem karena ngerebutin perhatian si bos. Kan, kita-kita ini juga yang kena."

Seketika aku tertawa ngakak, nggak nyangka Bang Hasbi yang sudah pernah umroh dan selalu langganan jadi imam solat jamaah di lokasi ini ternyata suka bergosip juga.

"Ya itu sih derita lo, Bang." Balasku sekenanya.

Aku ketawa makin ngakak melihat Bang Hasbi mendelik padaku.

"Atau lo udah nerima tawaran main di judul lain?"

Aku menggeleng.
Dia lanjut menyuap nasi lagi.

"Lo bukannya lagi ada masalah sama Medina atau Roland kan?" Bang Hasbi masih saja gigih mengorek keterangan.

"Nggak lah, Bang. Kalau pun memang ada masalah dengan kru atau pemain lain, nggak bakalan gue bawa-bawa sampai baper ke pekerjaan."

Nggak seperti Nita.
Huh!

Bang Hasbi mengangguk-angguk. "Kalau nggak bisa profesional, bisa-bisa nggak makan kita. Ya kan?" kelakarnya.

Aku tersenyum masam. Mengamatinya yang kembali melanjutkan melahap makan siangnya. Kemudian kuamati kru-kru lain yang menyebar di berbagai tempat dalam beragam posisi. Orang-orang yang menggantungkan hidup dari emosi yang diluapkan pemirsa dan kesetiaan mereka terhadap drama yang kami produksi. Aku punya sedikit lebih banyak pilihan dibanding para kru itu.

Kurogoh saku jumpsuit ketika kudengar bunyi ponsel. Telepon masuk dari Leta. Aku malas mengangkatnya. Paling-paling dia akan terus mendesakku untuk menerima tawaran dari Arcade.

Kuamati Bang Hasbi yang sudah selesai makan dan tengah membereskan perangkat makannya. Jika hilang satu, alamat dia nggak boleh pulang. Istrinya lemah lembut, menurut pengakuannya sendiri, tapi bisa berubah anarkis kalau sampai ada perangkat makannya yang hilang.

Lalu aku hanya diam menatap layar ponsel yang mulai memunculkan rentetan pesan yang dikirim Leta. Masih tentang penawaran dari Arcade. Leta ini kalau ada maunya bisa lebih gigih dari tentara Nazi.

Kuusap wajah dengan resah.

Duh, bohong banget.
Sebenarnya, aku memang nggak seprofesional itu...

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Sweetheart of Nobody - BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya