Comscore Tracker

[NOVEL] Sweetheart of Nobody - BAB 5

Penulis : Malashantii

5. Because I Love You To The Moon and Back

----

...beberapa tahun yang lalu...

 

"Nyet, buruan ah! Keburu hilang itu Julian!"

"Eh, bentar. Tunggu. Tali sepatu gue lepas."

"Duh, rempong amat. Nyusahin aja. Gue tinggalin juga nih. Tuh! Tuh! Juliannya udah mau jalan ke lobi. Mana udah banyak banget cewek-cewek yang ngikutin. Ah, bisa-bisa gue gagal foto bareng sama dia! Argh!"

"Tungguin gue kali, Jul!"

"Makanya ayo buruan!"

Berdua, mereka berdesakan di antara kerumunan puluhan cewek-cewek penggemar Julian Rashad yang menyemut di depan pintu lobi menunggu sang idola masuk ke hotel.

Namun akhirnya, Julie harus menelan rasa kecewa. Mereka tak berhasil mengejar Julian. Ada terlalu banyak orang di sana. Semua sama gigihnya mengejar sang idola. Sementara, acara jumpa fans itu digelar secara eksklusif dan tertutup. Yang berarti hilang pula kesempatannya untuk ikut berfoto bersama. Julie tak punya tiket, satu-satunya akses untuk masuk ke venue acara.

Leta yang sudah kelelahan menemaninya berlari-lari mengejar dan menguntit rombongan Julian semenjak mereka tiba di hotel sudah kelelahan. Hilang minat dan semangat. Dan mulai merengek mengajak Julie pulang saja. Menurut Leta, kecintaan sahabatnya kepada sang idola sudah pada taraf yang berlebihan dan agak tidak masuk akal.

"Pulang aja sana. Gue masih mau nungguin Julian."

"Nunggu buat apa coba? Lo mau ngapain, tiket masuk aja nggak punya."

"Itu kan salahnya elo yang nggak buru-buru kasih kabar tentang penjualan tiket itu sama gue!"

"Hadoh. Malah gue lagi yang disalahin. Terserah lo deh. Gue capek. Laper. Mau pulang."

"Ya udah. Sana!"

"Lo sendiri?"

"Udah gue bilang, gue mau nunggu Julian!"

"Mau ngapain sih lo emangnya kalau udah ketemu nanti, hah?"

"Belum tahu. Ntar aja gue pikirin."

"Nggak jelas banget sih."

"Sebodo."

Leta pun menyerah dan meninggalkan Julie di lobi hotel itu. Sementara Julie dengan sabar menanti rombongan Julian keluar dari salah satu hall hotel tempat acara meet and greet berlangsung. Mencegatnya di pintu. Berharap jika nanti sang idola keluar dari sana, setidaknya dia bisa melambaikan tangan dan menyatakan betapa dia mencintai Julian.

Sembari menunggu, Julie terus menajamkan mata. Tak ingin kecolongan barang sedetik pun. Kapan lagi dia bisa punya kesempatan sedekat ini untuk bisa bertemu dengan Julian?

Julian Rashad sudah menjadi aktor ketika usianya masih sangat remaja. Kesuksesan dan popularitasnya berawal dari sebuah film petualangan anak-anak yang dia bintangi ketika berusia 12 tahun, yang mendulang sukses luar biasa. Semenjak saat itu, berbagai tawaran deras mengalir, dari mulai film, bintang iklan hingga tawaran untuk membentuk boyband. Selain wajah rupawan, akting bagus, perilakunya yang nyaris tanpa cela dan sifat ramahnya kepada para penggemar membuatnya bisa terus bertahan di puncak popularitasnya.

Biasanya, Julie sudah akan merasa puas dengan hanya menonton film atau serial yang dibintangi Julian. Bergabung dengan grup-grup penggemar. Mengoleksi segala macam tabloid, majalah, poster, serta menjadi konsumen setia apa pun yang diiklankan atau dipakai oleh Julian.

Kali ini, dia merasakan dorongan yang sangat besar untuk bisa bertemu dengannya. Julie mendapat informasi tentang acara meet and greet ini sejak lama. Namun, tiket eksklusifnya yang langsung terjual habis hanya satu jam setelah pemesanan resmi dibuka, membuatnya sempat kehilangan harapan.

Ketika Leta mengajaknya untuk untuk memenuhi undangan ulang tahun dari salah seorang sepupunya, harapannya melonjak kembali ketika Julie menyadari bahwa ini adalah hotel yang sama.

Dia masih punya kesempatan.
Kali ini dia harus bisa bertemu dengan Julian. Kalaupun setelahnya dia mati, dia tidak akan punya penyesalan apa pun lagi.

Satu jam berlalu, seharusnya acara sudah selesai. Tapi Julie masih berpikir bahwa mungkin saja durasi acara memang diperpanjang karena permintaan foto misalnya.

Namun setelah tiga jam berlalu, Julie mulai merasa janggal. Apalagi, tidak ada tanda-tanda pintu hall itu akan terbuka.

Iseng, dia pun bertanya pada seorang staf hotel yang melintas.

"Oh, acaranya sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Tapi memang pintu keluar untuk peserta acara berbeda dengan pintu masuk."

Seketika Julie tertunduk lemas.

Sudah selesai.
Itu artinya, Julian sudah pergi.

Ketika menghubungi Leta, cewek itu malah menertawakannya dan menyuruhnya segera pulang saja.

Julie belum ingin pergi.
Ada Julian di sini.
Dia harus bisa menemuinya hari ini.

Dilanda rasa penasaran nyaris mendekati frustrasi akibat keinginan yang sangat besar untuk bertemu, Julie pun memilih nekat. Satu kali saja. Satu kali seumur hidup.

Julie mulai berusaha mencari tahu di mana letak kamar Julian. Dia teringat, berdasarkan informasi dari salah satu grup penggemar, Julian dan tim manajemennya baru akan check out dari hotel ini besok siang.

Julie segera memutar otak, kemudian mengendap-endap di lorong yang menghubungkan kamar-kamar di lantai sembilan. Setelah menemukan kamar yang dia cari, Julie masih harus memikirkan lagi bagaimana caranya supaya bisa masuk.

Pertama kali mengetuk, pintu tak juga dibuka. Ketika melihat seorang staf house keeping muncul dari ujung lorong, Julie berpikir inilah kesempatan terakhirnya. Dia pun membuntuti.

Troli penuh peralatan yang dibawanya membuat si staf agak kerepotan dan tidak terlalu waspada bahwa ada seseorang yang menguntitnya. Ketika pintu kamar dibuka, meniru akting aktor-aktor yang berperan sebagai agen rahasia dia pun berusaha menyelinap masuk. Ketika akhirnya berhasil, dia hanya diam menunggu. Bersembunyi di salah satu sudut ketika si staf melakukan pekerjaannya.

Sayangnya, Julian ternyata tidak ada di kamar saat itu.

Sekitar sepuluh menit setelah si staf pergi, terdengar suara pintu dibuka dan seseorang masuk dari sana. Julie yang tengah mengamati tanda-tanda keberadaan Julian di kamar itu, seketika memekik kaget.

"Kamu siapa? Apa kamu salah satu kru? Atau staf hotel?"

Julie masih saja menganga saking tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Versi asli dari Julian Rashad beratus-ratus kali lebih memesona dari foto atau apa pun yang pernah dia lihat sebelumnya.

"Bukan. Aku... aku... "

Julie mendadak gugup dan gelagapan. Kenapa Julian harus jadi sebegini tampan?

"Dan kamu adalah?"

"Aku penggemar Kakak."

"Penggemar? Tapi bagaimana kamu sampai bisa masuk ke dalam sini?"

Alih-alih waspada atau ketakutan, Julian lebih terlihat kebingungan.

"Aku tadi kehabisan tiket meet and greet, jadi nggak bisa masuk ke acara. Tapi aku ingin sekali bertemu dengan kakak."

Ekspresi Julian berubah menjadi perpaduan antara terharu juga geli.

"Wah, padahal menurut manajerku tingkat pengamanan hotel ini sangat bagus. Ternyata kamu berhasil masuk."

Jawaban Julian membuat Julie kontan bengong. Tindakannya ini bisa dibilang sebagai penyusup. Tapi Julian menanggapinya dengan santai sekali.

"Well, kamu sudah bertemu denganku sekarang. Apa yang ingin kamu lakukan?"

Apa yang ingin dia lakukan?
Julian menanyakan apa yang ingin dia lakukan?

Oh, sebagai remaja yang sudah cukup terpapar banyak hal dari internet, maupun dari pergaulan, ada daftar yang cukup panjang berisi hal-hal nakal yang selalu ingin Julie lakukan kepada sang idola. Sesuatu yang membuat Leta selalu mencibir atau menggetok kepalanya. Tapi, di sinilah dia sekarang. Berada tepat di hadapan Julian. Dan dia boleh melakukan apa saja?

Argh!

"Hey, kenapa diam saja?" tanya Julian lagi ketika lama sekali Julie justru hanya terdiam.

"Ah... aku... aku nggak tahu apa yang harus kulakukan."

Julian terlihat kaget, tapi segera tertawa setelahnya. "Kamu ini unik juga. Kuberi tahu ya, hal semacam ini sudah beberapa kali terjadi. Kamu bukan cewek pertama yang berusaha menyelinap masuk ke dalam kamarku. Biasanya mereka yang senekat itu, berisik sekali. Dan well... membuatku agak terganggu. Meminta ini dan itu. Berteriak histeris sehingga membuat orang dari manajemen atau staf hotel segera datang. Kamu... malah kebingungan seperti ini?"

"Eh, itu... aku gugup, Kak."

"Gugup? Kenapa gugup?"

Julie hanya nyengir.

"Siapa namamu?"

"Aku... aku Julie."

"Julie?"

"Ng... Juliette."

"Namamu bagus. Dan agak sedikit mirip dengan namaku." Julian balas nyengir.

Rasanya Juliette seketika meleleh di tempat persis seperti keju quickmelt di dalam microwave. Julian kelihatan jahil dan imut sekali.

"Begini saja," kata Julian sembari melirik jam tangannya. "Karena kamu sudah ada di sini, jika ada yang ingin kamu katakan, atau ingin kamu lakukan, kalau itu masih cukup wajar dan tidak berlebihan, segera lakukan saja. Sebentar lagi manajer dan asistenku akan segera kembali. Mereka tidak akan suka melihatmu di sini, dan kemungkinan akan langsung mengusirmu."

Oh, Julian ternyata memang sangat baik hati. Sifat ramahnya kepada penggemar ternyata tidak palsu atau dibuat-buat. Tanpa pikir panjang, Julie pun melontarkan jawaban.

"Aku ingin menikah dengan kakak."

"Menikah denganku?" Julian membeo. "Wah wah, apa kamu serius?"

"Tentu saja. Aku sangat mencintai kakak. Aku hanya ingin menikah dengan kakak."

Julian seperti berusaha keras untuk tidak terlihat geli.

"Julie, hampir setiap hari aku menerima permintaan semacam itu. Jika harus mengabulkannya, itu berarti aku harus menikahi banyak sekali gadis."

"Tidak. Yah, itu betul juga sih. Tapi, aku nggak tahu apa yang harus kukatakan. Hanya itu yang terbayang-bayang di dalam kepalaku."

"Kamu yakin ingin menikah denganku?"

"Yakin. Yakin sekali!"

Julian menggeleng, dan tertawa.

"Kalau begitu, berdoalah selalu kepada Tuhan. Kita tidak pernah tahu takdir seseorang kan?"

Julie segera mengangguk bersemangat. Dia sudah akan meminta untuk berfoto bersama tapi segera mengumpat ketika menyadari daya ponselnya ternyata habis.

"Jika sudah cukup, bisa nggak kamu pergi sekarang? Manajerku akan segera kembali." Pinta Julian sopan. "Aku nggak ingin kamu mendapat masalah."

"Aku ingin berfoto, tapi baterai ponselku habis." Keluh Julie kesal.

Julian terlihat prihatin. Matanya segera memindai sekeliling dan mencari-cari sesuatu. Setelah merasa menemukannya, dia mengulurkannya kepada Julie.

"Bawa saja ini, ini salah satu topi kesayanganku. Anggap saja sebagai penanda bahwa kita memang pernah benar-benar bertemu."

Julie menerima topi warna putih itu dengan jemari gemetar. Ini topi Julian. Ini topi yang pernah dipakai Julian.

"Bagaimana? Apa kamu bisa pergi sekarang? Aku benar-benar nggak ingin kamu mendapat masalah."

Juliette tak kunjung beranjak, malah terdiam di tempat dengan ekspresi resah. Julian menunggu dengan sabar.

"Apa aku boleh meminta satu hal lagi?"

Kening Julian berkerut heran, tapi dia mengangguk.

Juliette mengerjap takjub, nyaris tak percaya pada keberuntungan yang dia miliki. Mengumpulkan segenap keberanian dan membuang habis segala rasa malu yang dia miliki, Julie bergegas mendekat. Memeluk Julian erat-erat dan mencium pipi kanannya.

Julian shock dan hanya bisa mengerjap.

"Maaf. Aku nggak bermaksud untuk bersikap kurang ajar, tapi aku suka banget sama kakak. Aku benar-benar ingin menikah dengan kakak nanti." Kata Julie salah tingkah. Dan malu.

Julian menghela napas dan tersenyum manis.

"Semoga doamu didengar Tuhan," balasnya kalem. "Tapi, please.... bisakah kamu pergi sekarang? Manajerku orangnya tidak terlalu ramah pada penggemarku yang, hmm... agak nekat seperti ini. Aku khawatir dia nanti akan bersikap kasar kepadamu."

Julian terdengar begitu tulus. Membuat Julie sangat ingin memeluknya sekali lagi. Tapi Julie harus tahu diri. Dia juga tidak ingin menciptakan keributan. Maka dengan berat hati, menggenggam erat topi yang diberikan Julian, dia pun melangkah menuju pintu. Ketika tangannya sudah mencapai handle, didengarnya Julian memanggil namanya pelan.

"Juliette?"

Julie menoleh.
Lagi-lagi merasa sangat jatuh cinta melihat senyum manis Julian.

"Senang bertemu denganmu. Semoga kita bertemu lagi suatu hari nanti."

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Sweetheart of Nobody - BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya