Comscore Tracker

[NOVEL] The Journalist-BAB 2

Penulis: Mita Vacariani

Mimpi buruk bernama Benjamin Wiratama

 

"Aku suka kamu, Ben. Kamu mau nggak jadi pacar aku?"

Ben terkejut mendengar pengakuan berani dari teman sekelasnya itu. Selama ini laki-laki itu cukup menyadari ada beberapa teman perempuannya yang seringkali curi-curi perhatian atau memberikan kode-kode untuk menunjukkan ketertarikan mereka. Namun, tidak pernah ada yang seberani Nadine.

Tidak pernah sekali pun terlintas dalam pikiran Ben dia akan ditembak seperti itu. Di matanya, Nadine adalah teman sekelas yang selalu menjadi saingannya. Mereka selalu bergantian menduduki posisi nilai tertinggi di kelas, bersaing dalam pemilihan ketua OSIS, dan sama-sama populer di sekolah mereka. Ben-si badung nan pintar dan Nadine-si galak dan cantik, begitulah mereka dikenal di sekolah. Kadang mereka bersaing, terkadang pula mereka begitu kompak dan menjadi rekan yang sepadan.

Sayangnya, Ben belum cukup siap untuk memiliki pasangan. Dia masih asyik dengan dunianya sebagai anak SMA yang bebas melakukan apa saja yang dia suka tanpa harus diusik oleh kekasih yang menuntut perhatian. Jadi dia pun menolak Nadine.

"Maaf ya, Nad, tapi aku nggak bisa pacaran sama kamu."

"Kenapa?"

"Karena aku belum mau pacaran."

Nadine tertunduk beberapa saat kemudian berkata, "Ya udah nggak apa-apa, tapi kita masih bisa temenan, kan?"

"Sure."

Seharusnya setelah jawaban itu, semuanya selesai dan hubungan mereka bisa kembali seperti semula. Namun, entah dari mana asalnya gosip-gosip itu beredar. Mungkin dari teman-teman Ben yang usil dan menambah-nambahkan cerita. Atau bisa juga dari teman-teman Nadine yang nggak terima sahabat mereka itu ditolak cintanya.

Jadi mulailah berita-berita simpang siur itu menyebar. Ada yang bilang Ben dan Nadine resmi pacaran. Ada lagi yang bilang mereka hanya teman tapi mesra. Yang paling mengganggu adalah Ben dibilang mengejar-ngejar Nadine dan ditolak olehnya.

Harga diri Ben mulai terusik. Apalagi setelahnya, teman-temannya tidak berhenti menggodanya. Ben merasa dia harus menghentikan ejekan-ejekan itu dan mengembalikan gengsinya. Jadi ketika dia dan teman satu gengnya berkumpul, Ben merasa perlu membela diri.

"Gue 'kan udah nolak si Nadine, ya udah lah kenapa masih harus diceng-cengin terus sih?"

"Soalnya lo masih baik sih sama dia, kirain malah udah jadian diam-diam."

"Nggak lah, gue kasihan aja sama dia."

"Baik bener lo."

"Kasihan, lah. Kenapa juga gue harus jahat sama cewek yang suka sama gue."

"Tapi nggak tahu malu juga ya si Nadine, terang-terangan ngejar lo gitu."

"Urat malunya udah putus kali atau memang gue yang terlalu keren buat dikejar-kejar cewek."

Teman-teman Ben terbahak mendengar ucapannya. Namun, detik berikutnya Ben menyesali setiap perkataan yang telah dia ucapkan. Seseorang yang sepertinya telah mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi berlari menjauh. Sejak hari itu hingga mereka lulus, Ben tidak pernah berbicara lagi dengan Nadine. Dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk sungguh-sungguh minta maaf karena telah menyebabkan rumor yang tidak sedap beredar dan memojokkan Nadine.

Dan kini, gadis yang akan selalu dia ingat dengan keberaniannya itu kini muncul di hadapannya, seolah memberinya sebuah kesempatan kedua. 

***

"Saya tahu, mungkin kebijakan-kebijakan partai kami seringkali menjadi kontroversi, tetapi yang saat ini kami kerjakan adalah menyuarakan kebenaran dan membuat perubahan. Selain itu, ini juga waktunya anak-anak muda di negeri ini bersuara dan bergerak. Bukankah anak muda yang bisa menjadi tumpuan dan harapan negeri ini?"

Karisma itu, ketegasan dan keyakinan dalam suaranya sama sekali tidak berubah. Untuk beberapa saat Nadine seakan tersihir dibuatnya.

"Cut!" Beruntung suara Nico menyadarkannya kembali.

"Oke, Pak Ben, terima kasih untuk waktun dan kesediaannya kami wawancarai."

"Nad, tanyain soal nama yang mereka usung untuk maju Pilkada," bisik Nico sambil menyikut lengan Nadine.

Ben tersenyum paham melihat kasak-kusuk di depannya ini. "Ini sudah off record, kan?"

Nico mengangguk cepat kemudian berkata, "Saya pribadi penasaran saja sih, katanya PIM tidak berkoalisi dengan Partai Kebangkitan Nasional karena akan maju independen, tapi sekarang malah pindah haluan bergabung dengan Partai Merah Putih dan ikut mendukung salah satu calon."

"Wah sebetulnya belum waktunya untuk saya ungkap sekarang. Tapi sedikit bocoran saja, yang namanya politik itu rasanya tidak mungkin kalau tidak memihak dan kami akan mendukung calon yang kami pandang layak."

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Ben mengucapkan perkataannya sambil menatap Nadine tajam. "Nadine pasti kenal baik siapa orangnya."

Nico memandang Ben dan Nadine bergantian. Dalam hati dia berjanji sepulangnya dari tempat ini dia akan menuntut penjelasan lebih kepada rekan kerjanya itu. "Okelah kalau belum bisa disebutkan sekarang, nanti saya tanya Nadine saja. Begitu, Pak maksudnya?"

Ben kembali menunjukkan senyum ramahnya. "Ya, ya bisa begitu. Dan nggak perlu panggil saya Bapak kalau sudah off record, saya ini seumuran Nadine, kok. Jadi temannya Nadine ya teman saya juga."

Nadine memicingkan mata mendengar perkataan Ben barusan. Berada terlalu lama di dekat laki-laki itu bisa membahayakan kesehatan. Tekanan darahnya bisa tiba-tiba naik atau mungkin dia kena serangan jantung. Nadine heran kenapa setelah sekian tahun berselang, karisma Ben tidak juga memudar, justru semakin kuat. Dan Nadine harus berusaha keras untuk tetap menguasai dirinya.

"Nad, kita bisa bicara dulu sebentar?"

Nico mengerti kedua orang ini perlu ruang berdua, dia pun pamit. "Nad, gue beresin peralatan dulu, ya. Take your time, gue tunggu di mobil."

"Tapi, Nic," Nadine berusaha mencegah Nico, sayangnya dia keburu berpamitan langsung kepada Ben.

"Saya duluan Pak Ben, semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu."

Ben menerima uluran tangan Nico dan menjabatnya mantap. "Tentu. Saya senang kok bertemu dengan awak media seperti kalian. Apalagi kalau jurnalisnya seperti Nadine ini."

Sepeninggal Nico, Nadine bergegas membereskan buku catatannya seolah ingin menunjukkan dia tidak bisa berlama-lama berada di tempat itu.

"Apa kabar, Nad?" Ben mencoba membuka pembicaraan. "Kamu banyak berubah, makin cantik."

"Ini kita mau membicarakan apa, ya? Apa masih ada yang kurang dari wawancara tadi?" Dengan sengaja Nadine tidak memberi kesempatan Ben bersikap ramah kepadanya. Dia harus menjaga jarak yang tegas bahwa hubungan mereka hanyalah seorang jurnalis berita dan narasumber yang diwawancarai.

"Dan masih saja galak." Ben tidak tergoyahkan dengan jawaban ketus Nadine. "Sudah berapa tahun ya, Nad? Lima tahun atau enam?"

"Ben, saya buru-buru harus kembali ke kantor. Hasil liputan saya sekarang harus segera diedit karena akan tayang untuk segmen berita siang, yang artinya saya hanya punya waktu beberapa jam lagi untuk mengerjakannya."

"Aku senang akhirnya kita bisa bertemu lagi. Sejak kejadian waktu itu, kamu nggak pernah lagi mau bicara sama aku. Aku sampai mikir jangan-jangan namaku juga di-blacklist oleh ajudan papa kamu dan akan langsung ditangkap kalau berani mendekati putri satu-satunya itu."

"Kamu berlebihan, Ben. Dan itu semua sudah berlalu lama."

Sudah berlalu lama, tetapi kenapa masih saja membekas jelas di benak Nadine. Nadine mulai gelisah dan ia merasa harus segera menyudahi pembicaraan ini. "Kalau nggak ada hal penting lagi, saya pamit sekarang."

"Aku minta nomor kontak kamu, Nad," ujar Ben tanpa basa-basi lagi.

"Untuk apa?"

Ben terdiam beberapa saat memikirkan alasan yang tepat. "Untuk bisa ajak kamu makan malam, mungkin?"

"Nggak usah, Ben. Besok-besok mungkin aku juga sudah tidak menjadi reporter politik lagi, jadi kita nggak perlu bertemu lagi."

"Kamu tahu aku, Nad. Kalau kamu nggak mau kasih sekarang nggak apa-apa, aku tetap bisa mendapatkannya nanti. Dan kita masih akan bertemu lagi, Nadine."

Nadine melangkah menjauh dan meninggalkan Ben tanpa berpamitan secara pantas. Ben membuktikan ucapannya. Hanya butuh waktu satu jam setelah pertemuan mereka. Nadine baru saja akan menyerahkan hasil liputan ke control room ketika dilihatnya beberapa notifikasi masuk di ponselnya.     

Instagram. Benwiratama started following you.

Twitter. Benwiratama followed you.

Facebook. Benjamin Wiratama send a friend request.

Dan pesan WhatsApp masuk. Dari nomor asing yang tidak ada dalam daftar kontak Nadine.

Hai, Nad. Ini Ben. See, I got your number. Jangan lupa nomorku disave, ya.

Dan hari-hari Nadine Atmadja pun tidak lagi sama.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] The Journalist-BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya