Comscore Tracker

[NOVEL] The Journalist-BAB 4

Penulis: Mita Vacariani

Gara-gara Ramalan Bintang

 

Agung sedang memeriksa surat-surat yang masuk ke kediaman pribadi Teddy Atmadja ketika ditemukannya sebuah paket yang mencurigakan. Paket tanpa nama pengirim dan segel jasa pengiriman. Itu artinya seseorang secara khusus mengantarkannya langsung.

Sudah beberapa bulan belakangan ini, Teddy sering menerima paket tidak dikenal. Isinya adalah hal-hal yang tidak wajar seolah ditujukan untuk mengancam atasannya. Agung sebagai sekretaris pribadi Teddy tentunya bertugas menjadi gerbang awal yang menyeleksi surat atau kiriman yang ditujukan kepada atasannya itu.

Benar saja, ketika paket tersebut dibuka, Agung melihat kepala ayam dengan darah yang masih segar di sana. Tanpa surat, tanpa kata-kata, apalagi nama pengirim. Agung tahu dia harus segera melenyapkan paket tersebut sebelum diketahui Teddy dan membuatnya khawatir.

Baru saja dia akan memanggil Mbok Sum, asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana untuk membuang paket tersebut, atasannya itu sudah muncul dan melihatnya.

"Apa itu, Gung?" Teddy memicingkan mata dan memperhatikan kardus di tangan Agung.

Dengan sigap Agung berusaha menutupi kardus yang dipegangnya. "Bukan apa-apa, Pak."

Teddy sudah hafal betul gelagat anak buahnya ini. Setelah hampir sepuluh tahun menjadi sekretaris pribadinya, Teddy tahu jika Agung sedang menyembunyikan sesuatu.

"Mana coba lihat isinya?"

Refleks Agung menarik kardus tersebut. "Sebaiknya nggak usah dilihat, Pak. Isinya juga nggak penting."

"Teror lagi?"

Agung mengangguk pelan. Sebelum atasannya itu meminta lagi, Agung segera memanggil Mbok Sum dan meminta beliau membuangnya. Tidak ada waktu untuk membahas paket tidak penting seperti itu karena Teddy punya jadwal yang cukup padat seharian ini.

"Pukul sembilan Bapak ada rapat dengan Fraksi Partai Merah Putih, kemudian lanjut makan siang dengan Bapak Gunawan Santoso, kemudian-" ucapan Agung seketika terhenti karena Teddy memotong.

"Sejak kapan, ya paket-paket seperti itu saya terima?"

Agung berpikir sejenak. "Hmm ... mungkin sekitar enam bulan lalu."

"Berarti persisnya setelah saya resmi bergabung dengan Partai Merah Putih?"

Agung berusaha menangkap arah pembicaraan atasannya. "Apa Bapak mau saya selidiki lebih lanjut?"

Sudah bukan hal aneh bagi seorang politisi mendapatkan teror-teror murahan seperti itu. Jauh sebelum paket-paket tersebut, Teddy pernah menerima teror lainnya. Kebanyakan berupa berita hoax yang berusaha merusak citranya. Terutama di masa-masa Teddy maju dalam pencalonan walikota Bandung periode lalu. Sekarang hal yang sama kembali terjadi, mungkin juga karena dirinya akan maju dalam Pilkada Jakarta tahun ini.

Sebelumnya dia tidak terlalu merisaukan hal-hal tersebut. Selalu ada staf di sekelilingnya yang siap membereskan hal tersebut. Namun, kali ini berbeda. Ada hal lain yang membuatnya cemas. Putri satu-satunya, Nadine.

"Coba cari tahu saja, Gung, tapi jangan terlalu menarik perhatian. Saya hanya khawatir soal Nadine."

"Maksud Bapak, Mbak Nadine bisa saja mendapatkan teror serupa?"

Teddy mengangguk. "Apalagi sekarang dia mulai bersinggungan dengan dunia yang selama ini hanya saya yang tahu. Mudah-mudahan ini hanya perasaan saya saja yang terlalu berlebihan."

"Saya mengerti, Pak. Mobil dan sopir merangkap pengawal sudah saya siapkan untuk Mbak Nadine."

"Terima kasih, ya Gung. Berjaga-jaga jauh lebih baik. Setidaknya sampai masa kampanye dan pemilihan ini selesai."

***

Nadine seharusnya percaya pada ucapan Nico. Laki-laki itu memang selalu punya cara untuk membuat Nadine terbahak dan gemas di waktu bersamaan. Tadi pagi tiba-tiba saja dia menelepon Nadine dan melarangnya keluar rumah karena berdasarkan ramalan bintang, kesialan akan mewarnai harinya.

Tentu saja Nadine tidak akan menurut. Lagi pula, mana mungkin Nadine meminta izin Mas Aryo untuk bolos kerja dengan alasan ramalan bintang, terlalu tidak masuk akal dan memalukan.

Namun, sepertinya perkataan Nico kali ini ada benarnya. Baru saja dia sampai di pelataran parkir kantornya, Nadine sudah disambut oleh Agung dan seorang pria yang baru dilihatnya.

"Pagi, Mbak Nadine," sapa Agung ramah.

Sudah cukup lama Nadine tidak bertatap muka langsung dengan Agung. Biasanya mereka hanya berkomunikasi lewat telepon, itu pun jika ada hal-hal penting yang berhubungan dengan ayahnya, termasuk janji temu. Mengingat kesibukan sang ayah, lebih mudah bagi Nadine untuk meminta Agung yang mengatur pertemuan mereka agar tidak bentrok dengan jadwal ayahnya.

"Eh, Mas Agung, tumben ke sini. Ada apa, Mas?"

"Ini kenalkan, Tito. Mulai sekarang Tito yang akan antar dan mengawal Mbak Nadine ke mana-mana?"

Nadine melirik sekilas ke arah laki-laki berbadan tinggi dengan potongan rambut cepak di sebelah Agung. Penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti seorang sopir. Dari perawakannya dia akan terlihat sangat pantas menjadi polisi atau mungkin tentara sekalian. Nadine sudah bisa menebak ayahnya ada di balik semuanya ini.

"Ini apa lagi sih Mas Agung? Kenapa tiba-tiba kirim mobil segala?"

"Bapak sudah beberapa kali menghubungi Mbak Nadine untuk pakai salah satu mobil yang ada di rumah, kan? Tapi karena Mbak Nadine nggak ambil mobilnya jadi saya antar ke sini."

"Tapi kan nggak harus diantar ke sini juga, pakai sopir pribadi segala pula. Ini saya jadi nggak enak sama orang-orang kantor. Mana saya mau ngomong langsung sama Papa."

Tidak butuh waktu lama bagi Agung membuat panggilan telepon dengan Teddy. Tanpa basa-basi, Nadine langsung menembak ayahnya. "Pap, ini kenapa tiba-tiba ada mobil sama sopir di kantor aku?"

"Oh Agung sudah datang, Nad?"

"Papa!" Nadine mulai kesal karena Teddy sama sekali tidak menjawab pertanyaan.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Kalau Agung sudah selesai suruh segera balik, ya. Papa mau ada rapat dengan ketua paguyuban Jabodetabek, materi rapatnya Agung yang siapkan-"

"Ya ampun, Pap, aku nggak mau tahu sekarang Papa mau ngapain." Nadine dengan cepat memotong perkataan Teddy. "Yang aku mau sekarang Papa suruh Mas Agung pindahin mobilnya dan nggak ganggu aku di jam kantor seperti ini."

"Nad, Papa kan nggak minta kamu yang aneh-aneh." Suara Teddy mulai melembut. "Apa susahnya menerima kebaikan Papa kamu sendiri?"

Walaupun tidak pernah dekat dengan sang ayah, Nadine tahu ada beberapa sifat ayahnya yang menurun kepadanya. Salah satunya jika sudah menginginkan sesuatu, Teddy tidak akan dengan mudah digoyahkan. Jadi rasanya percuma berdebat sekarang.

Sekeras apa pun Nadine menolak, Mercedes Benz S-Class silver keluaran terbaru sudah terparkir manis tepat di sebelah camry putih milik Ibu Diana, salah satu direksi BC Channel. Seolah disengaja, mobil itu tampak mentereng karena terparkir di area parkir khusus direksi dan jajaran petinggi perusahaan. Sontak hal ini menjadi perhatian dan menjadi bahan gunjingan beberapa orang. Bahkan, di antara teman-teman kantornya yang lumayan dekat pun hal ini sukses menjadi bahan ledekan.

"Wah Nad, lo nggak harus antre sopir sama mobil kantor lagi dong buat liputan," kata Ayu selepas mereka briefing pagi.

Para reporter di BC Channel memang disediakan mobil dan sopir kantor untuk tugas liputan, tapi mereka harus mendaftar setiap pagi dan berebut dengan reporter lainnya. Jika daftar liputan cukup banyak sementara kendaraan terbatas, bukan hal yang tidak mungkin mereka tidak akan kebagian. Pilihannya menunggu ketersediaan mobil atau dengan terpaksa menggunakan kendaraan apa pun yang memungkinkan, karena tenggat waktu terus mengejar dan narasumber tidak mungkin menunggu.

"Iya, malah yang ada sekarang Bu Diana bisa-bisa kepingin nebeng mobil barunya Nadine," tambah Muthia yang disambut tawa Ayu dan beberapa reporter lain yang ikut nimbrung di sekitar mereka.

"Eh tapi lo pantas, Nad pakai mobil begitu untuk liputan. Nongkrongnya kan di kantor DPR atau kantor-kantor partai yang narsumnya berdasi semua. Itu mobil nggak malu-maluin-lah parkir di sana."

"Terus tinggal sebut nama bokap, langsung dapat kartu VIP lewat jalur belakang. Liputan aman."

"Bawel deh lo semua." Nadine berusaha mengatur emosinya.

Beruntung Nico datang dan menjadi penyelamatnya kala itu. Jika terlambat beberapa menit saja mungkin sudah habis Nadine jadi bulan-bulanan rekan kerjanya sendiri.

"Udah-udah, lo semua masih pada ngumpul di sini gangguin Nadine, nggak pada antre mobil di bawah? Pada mau jalan kaki apa gimana, nih?" ujar Nico santai dan langsung berhasil membubarkan kumpulan.

"Tumben lo nggak ikut-ikutan ledekin gue, Nic," sahut Nadine sambil membantu Nico membawakan tripod sebagai bentuk terima kasihnya.

"Soalnya hari ini gue kepingin ngerasain nikmatnya naik Benz keluaran terbaru." Nico menunjukkan wajah tanpa ekspresi yang spontan membuat Nadine terbahak dan geleng-geleng kepala.

"Dasar sama busuknya lo, Nic."

***

Seolah belum cukup membuat mood Nadine berantakan pagi ini karena urusan mobil, narasumber yang Nadine hadapi kali ini juga tidak mudah. Tina Elka Susilo, sekretaris jenderal Partai Kebangkitan Nasional atau PKN yang seharusnya Nadine wawancara siang ini, memundurkan waktu wawancara secara sepihak. Selain itu wawancara pun berlangsung alot dan Nadine kesulitan mendapatkan bahan yang cukup untuk membuat laporan ke kantor.

Bukannya mau berprasangka buruk, tapi ketidakramahan Tina membuat Nadine yakin adanya sentimen pribadi di sana. Sejak ayahnya memutuskan keluar dari PKN dan bergabung dengan Partai Merah Putih, hubungan ayahnya dengan partai yang dulu membesarkan namanya itu tampak kurang baik. Beberapa media bahkan memberitakan ada perselisihan tajam di antara kedua partai yang berbeda ideologi politik ini.

Dengan terpaksa, Nadine harus meminta kelonggaran tenggat waktu untuk bahan beritanya dan mencari bahan liputan lain. Untungnya Aryo bisa mengerti walaupun harus tetap ada sedikit omelan keluar dari mulutnya.

Gara-gara itu, Nadine kembali teringat dengan peringatan Nico tadi pagi soal ramalan bintang miliknya. Apalagi ketika detik berikutnya, sebuah panggilan telepon kembali membuatnya kesal.

Rangkaian nomor tidak dikenal muncul di layar. Nadine hendak mengabaikannya, tetapi sepertinya penelepon tidak menyerah dan terus menghubungi Nadine sampai panggilannya diangkat.

"Halo, siapa nih?"

"Kamu nggak selalu bicara seketus itu setiap kali jawab telepon, kan?"

"Ini siapa, ya?"

"Nomor aku kok nggak di-save?"

"Maaf, Anda siapa, ya? Dan ada perlu apa?"

"Masa nggak hafal suara aku?"

Nadine mulai jengkel dengan permainan konyol seperti ini. Dia tidak punya waktu untuk meladeni ulah orang iseng atau mungkin modus penipuan yang seringkali terjadi. "Maaf salah sambung, Mas."

"Eh, Nad, jangan ditutup teleponnya. Ini aku, Ben."

Nadine hampir saja mematikan ponsel tepat ketika dia mendengar Ben menyebutkan namanya. "Kenapa, ya?"

"Kamu di mana?"

"Nggak penting aku ada di mana, kamu ada perlu apa?"

"Karena sekarang aku ada di rumah kamu dan kamunya nggak ada makanya aku tanya kamu ada di mana."

What?

Ini ramalan bintang yang Nico bilang beneran kejadian atau bagaimana, sih?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] The Journalist-BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya