Comscore Tracker

[NOVEL] Transisi Dua Sisi: BAB 1

Penulis: Aldo Manalu

Kasus Pembunuhan Pertama

 

Sinar matahari begitu terik di tengah penyelidikan terhadap mayat seorang anak laki-laki berumur 9 tahun. Anak lelaki itu tewas mengenaskan dengan sepuluh luka tusuk di bagian perut dan sebuah luka sayat memanjang di bagian leher. Adi menduga kalau korban dibunuh dengan menggunakan senjata tajam. Namun, siapa pelaku dan apa motifnya belum diketahui. Ia masih mengorek keterangan melalui para saksi yang menemukan mayat anak malang itu terdampar di tepi sungai Bahapal.

"Jadi, apakah Bapak orang pertama yang menemukan mayat itu di sana?" Tanya Adi sembari mengeluarkan catatan dari dalam saku celana. "Sebelumnya, siapa nama Bapak?"

"Na-nama saya Imam, Pak Detektif," jawab lelaki berambut cepak itu, setengah gugup.

"Jangan takut, Pak Imam. Kedatangan saya bukan bermaksud menuduh Anda sebagai pelaku melainkan meminta keterangan sebagai saksi yang pertama kali melihat korban," jelas Adi.

Pak Imam mengangguk pelan begitu mendengarkan penjelasan Adi.

"Sebenarnya, bukan saya saja yang melihat mayat itu terdampar di sana. Ketika itu, saya bersama teman saya sedang melakukan pengorekan pasir di daerah aliran sungai ini," tutur Pak Imam.

"Lanjutkan, Pak."

"Awalnya, saya tidak melihat apa pun yang di sekitar aliran sungai. Tapi, teman saya, Jonno, mengamati ada sesuatu sebesar ukuran tubuh manusia, tersangkut di cabang pohon rumbia. Mulanya saya mengira kalau yang mengambang itu bangkai anjing. Tapi, Jonno mengajak saya mendekati benda aneh itu. Ketika kami sudah berada di depan benda itu, Jonno mencoba melihat bagaimana wujud sebenarnya benda aneh itu. Saat kami membalikkan posisi benda itu, kami berdua terlonjak kaget karena ternyata benda itu adalah mayat seorang anak lelaki," urai Pak Imam panjang lebar.

"Lalu, apa tindakan yang Anda lakukan setelah menemukan mayat anak lelaki itu?" tanya Adi lagi.

"Jonno langsung menghubungi polisi dan ambulans. Sedangkan saya memanggil warga sekitar guna mengangkut mayat jika ambulans sudah tiba. Begitulah yang bisa saya ceritakan, Pak Detektif."

Adi sudah selesai menulis semua keterangan Pak Imam di dalam catatan. Ia menutup ujung pulpen, menyimpan catatan ke dalam saku. Ia mengambil sebatang rokok Surya dari kemasan lalu dibakar di bagian ujung hingga berpijar, mengeluarkan kepulan asap tipis.

"Jangan panggil pak detektif. Panggil saja saya Pak Adi," ucap Adi sambil mengeluarkan asap sisa dari mulutnya.

"Baik, Pak Adi," sahut Pak Imam.

"Tapi Pak Imam, bisakah saya melakukan pemanggilan jika saya memerlukan lagi keterangan dari Bapak?"

"Boleh, Pak. Tapi, hubungi saya jika Bapak ingin mengundang saya ke kantor polisi."

"Apakah Anda mempunyai nomor telepon yang bisa dihubungi?"

"Ada." Pak Imam mengeluarkan ponsel, memberikan nomor miliknya pada Adi. Sesudah bertukar nomor handphone, Imam berpamitan pada Adi sebab ia harus melanjutkan pekerjaan.

Para warga dan pejalan kaki masih memadati TKP. Mereka tertarik melihat aktivitas para polisi menyisir daerah pinggiran. Para polisi masih mencari barang bukti lain guna mempermudah penyelidikan mereka mengenai identitas mayat anak lelaki itu. Di tengah kesibukan para polisi, para pengeruk pasir sungai masih melakukan aktivitas mereka. Para pekerja tidak terpengaruh dengan ingar bingar dan tatapan mata yang mengamati kegiatan penyisiran.

Ketika Adi membaca ulang catatan miliknya, seorang laki-laki berdinas cokelat muda menghampirinya.

"Pak Adi, kami tidak menemukan barang-barang yang dimiliki korban di sekitar pinggiran sungai," lapor sang polisi berpangkat Bripka, Gerry Dharmawan atau sering dipanggil Bripka Dharmawan.

"Ke mana mayat anak lelaki itu dibawa?"

"Mayat itu sudah dibawa ke rumah sakit umum terdekat," jawab Bripka Dharmawan.

"Bisa antarkan saya ke sana?"

Bripka Dharmawan menyetujui permintaan sang detektif. Dengan mobil dinas Bripka Dharmawan, mereka mengendarai mobil pelan-pelan, mengingat di jalan di depan masih dikerumuni banyak orang.

Bisa dibilang jalan menuju rumah sakit begitu dipadati ratusan mesin bermotor melaju kencang di jalan raya. Jalan raya juga dipenuhi ratusan anak-anak yang telah pulang menimba ilmu di sekolah. Jalan yang semula padat, terlihat kondusif begitu sang Briptu membunyikan sirine agar para pengguna jalan leluasa memberi jalan untuk mereka.

Mobil dinas Bripka Dharmawan diparkir di tempat yang disediakan rumah sakit. Langkah kedua lelaki itu begitu tegas seolah meyakinkan para pengunjung maupun petugas rumah sakit bahwa mereka adalah orang penting.

"Ibu, kalau boleh tahu ruang bedah di sebelah mana, ya?" tanya Adi pada salah satu suster yang kebetulan lewat di depan mereka.

"Oh, ada di lantai dua. Sesudah bapak tiba di lantai dua, jalan saja terus, nanti belok kiri. Ruang bedah berada di sebelah laboratorium," jelas sang suster.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Terima kasih atas penjelasannya, Ibu Suster," balas pak Adi sembari mengulas senyum.

Keduanya melakukan sesuai yang dikatakan oleh suster tadi. Memang, posisi mereka berada di lantai satu koridor rumah sakit.

Rumah sakit ini sudah dibangun sejak 24 tahun lalu, terdapat kurang lebih 36 ruangan dan salah satu ruangan yang mereka cari adalah ruang bedah. Tidak sampai semenit, mereka sudah berada di lantai dua. Tepat yang dikatakan oleh sang suster. Lantai dua juga terdapat meja tunggu yang didalam ada seorang resepsionis.

Keduanya bertanya lagi pada resepsionis di meja tunggu, memastikan keberadaan ruangan yang mereka cari.

"Permisi, kalau boleh tahu ruangan bedah di mana ya?" tanya sang Bripka.

"Oh, Bapak jalan lurus saja dari sini. Setelah itu, belok sebelah kiri. Ruang bedah berjarak tiga blok dari ruang laboratorium," jelas sang resepsionis.

Hal yang sama diutarakan sang resepsionis. Setelah mengucapkan terimakasih, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ruangan bedah. Tidak terlalu jauh, diperkirakan hanya berjarak 50 meter dari meja tunggu.

RUANG BEDAH

Mereka membaca plakat yang terpampang di atas sana. Dan memang, kedua lelaki itu tepat berada di hadapan pintu ruang bedah. Adi hanya mengetuk pintu sekali kemudian mendorong gagang pintu. Di sana, terdapat beberapa dokter berpakaian hijau sedang memegang pisau bedah.

"Selamat siang, Dokter. Maaf kami mengganggu kerja Anda. Apakah mayat ini sudah selesai diautopsi?"

"Ya, kami hampir selesai mengautopsi mayat ini. Kami punya dugaan bahwa korban terlebih dahulu mengalami pelecehan seksual oleh pelaku."

"Pelecehan seksual?" sambung sang Briptu.

"Ya, betul sekali. Ada luka memar akibat benda tumpul sekitar dubur. Kami berpendapat bahwa pelaku menyodomi korban sebelum dibunuh."

Adi sedikit merinding mendengar penjelasan sang dokter bedah sekaligus ahli forensik. Adi bisa melihat ekspresi keterkejutan disembunyikan sang Bripka. Sesudah menerima keterangan dari sang dokter, mereka berpamitan seraya meninggalkan ruang bedah.

***

Adi berkutat dengan buku agenda yang saat ini masih digenggamnya. Pandangan mata memang menatap berbagai tulisan yang ditorehkan di sana. Tiga lembar kertas berisikan keterangan dua penambang pasir sungai yang ditanyainya tadi siang dan beberapa petunjuk mengenai benda-benda di sekitar sungai dan kondisi mayat anak lelaki sebelum diserahkan ke rumah sakit untuk uji forensik.

Benar-benar pembunuh gila! Ada saja manusia iblis yang tega menghabisi seorang anak-anak! 

Adi tersentak ketika istrinya merangkul mesra di bagian leher. Memang, Adi selalu serius ketika ia sedang meneliti bukti dan keterangan yang diperoleh selama menangani kasus kejahatan. Baginya, segala sesuatu yang dilakukan istrinya, Cahyana, selalu membuatnya tenteram dalam menemukan benang merah dari kasus-kasus yang sedang ditangani.

"Sayang, kamu kelihatan serius banget, sampai-sampai kamu nggak tahu aku datang ke sini," ucap Cahyana manja.

Adi memutar kepala ke belakang, mencium pipi kanan Cahyana lalu menjawab. "Bisa dibilang ini kasus pembunuhan dan kekerasan seksual yang baru pertama kali kuselidiki, Yana," balas Adi.

"Siapa yang menjadi korban?"

"Kami menemukan mayat anak lelaki kira-kira berusia 10 tahun di sekitar sungai tempat penambangan pasir. Kami dari kepolisian dan dokter forensik pun belum menemukan petunjuk mengenai identitas mayat anak lelaki itu. Namun aku enggak habis pikir, ada orang yang tega berbuat sesadis itu pada anak-anak di bawah umur. Aku akan berusaha menemukan semaksimal mungkin menangkap sang pelaku."

Cahyana bisa melihat kobaran semangat terpancar dari kedua bola mata suaminya. Suatu semangat untuk menuntaskan aksi kejahatan sampai ke akar-akar. Tentu saja hal ini yang membuatnya semakin mencintai Adi. Penuh gairah dan selalu fokus pada satu tujuan, itulah sifat yang terlihat dari diri suaminya.

"Biar kamu semangat, aku sudah seduh secangkir kopi luwak untuk kamu." Cahyana meletakkan secangkir kopi luwak beserta dengan tatakan di atas meja kerja Adi.

"Makasih ya, Sayang." Adi tersenyum puas melihat sang istri membawakan minuman kesukaannya.

"Tapi kamu menyusul, ya, ke kamar," tutup Cahyana meninggalkan ruang kerja Adi.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Transisi Dua Sisi: PROLOG

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya