Comscore Tracker

[NOVEL] Until We Meet Again-BAB 3

Penulis: Flara Deviana

OLLA MENATAP lesu layar laptopnya. Dia tidak mau meninggalkan dunia menulis, tetapi tidak tahu juga harus menceritakan apa. Tiga hari ini, dia berusaha menemukan lagi hasrat menulis tentang cinta, kesembuhan, dan harapan dengan menonton banyak film percintaan Korea-Hollywood-Bollywood. Dia juga membaca ulang naskah-naskah lamanya, dan novel romance best seller empat bulan terakhir. Nihil. Tidak ada satu pun alur cerita berhasil dia ciptakan tanpa melibatkan kemarahan, putus asa, dan kesedihan. Seolah hal-hal menyenangkan enggan menghampiri Olla, sekalipun untuk fiksi.

Olla siap mencoba lagi sewaktu pintu apartemen yang seingat dia sudah dikunci, terbuka. Heidi muncul dengan tangan penuh bungkusan dan tanpa memberi salam, berjalan santai menuju meja makan sekaligus dapur.

"Permisi. Apartemennya berpenghuni, loh," ucap Olla keras-keras.

Heidi tidak menanggapi, dan Olla enggan memanjangkan kalimatnya. Beruntung dia tinggal di apartemen studio berukuran 6 x 4,5 meter semua jadi dekat dan mudah dilihat. Tidak perlu repot-repot berdiri, Olla tetap bisa memperhatikan Heidi mengisi meja makan dengan tiga Lock&Lock persegi panjang kecil dan satu bulat sedang, lalu mengambil dua piring bersih.

Setelah beberapa menit mengabaikan Olla, Heidi berkacak pinggang dan menoleh ke arahnya. "Udah siap! Ayo, makan."

Meski tidak tertarik makan bersama Heidi, hidungnya yang mengendus aroma lezat dari meja makan mengirim sinyal ke perut dan menyuruhnya menghampiri makanan yang dibawakan Heidi. Mata Olla mengitari meja makan bulat kecilnya, bihun goreng, tempe orek, dan ayam suwir pedas. Makanan rumah favoritnya. Porsi dua orang dan masih hangat.

"Aman. Nggak ada racun atau pelet," kata Heidi. Olla belum menanggapi, tetapi Heidi sudah lebih dulu menaruh nasi putih di piring Olla. "Makan yang banyak."

"Katanya access card mau dipakai buat situasi gawat aja. Tapi sejak gue pindah ke apartemen ini nggak terhitung berapa kali lo datang tanpa pemberitahuan, dan gue baik-baik saja."

Heidi memutar bihun dengan garpu, melirik Olla sekilas, lalu mengangkat kedua bahu tidak acuh. "Ini situasi gawat. Setiap kali gue datang, selalu ada situasi gawat dan penting."

"Gawat? Nggak ada orang pingsan atau mati di sini. Gue sehat."

"Kalau gue nggak datang hari ini, dua atau tiga hari bakal ada." Heidi menjajarkan ujung sendok dengan mata Olla, menuntun pandangannya menuju ke tempat sampah di bawah kompor yang penuh bungkus mi dan kotak kopi instan berbagai macam rasa. Tiga hari ini dia hanya fokus pada laptop sehingga tidak memikirkan hal lain. Apartemennya berantakan. Dia bahkan lupa menaruh sampah-sampah itu ke lift sampah. "Serius deh, kapan lo terakhir makan yang layak?"

Sebelah alis Olla terangkat selagi menaruh tempe orek dan ayam suwir di atas nasinya. "Nggak usah berlebihan."

"Ya. Ya. Buat Fayolla, semua yang gue lakukan dan katakan selalu berlebihan, selalu." Heidi mengeluarkan suara menggerutu di sela-sela suapan, dan Olla segera tahu kalimat selanjutnya.

"Lo bisa masak. Kenapa sih nggak masak aja?" kata Olla nyaris berbarengan dengan Heidi. Setiap kali Heidi datang, dan mereka makan bersama, pertanyaan itu tidak pernah absen. Olla hafal nada dan gerakan yang menyertai kalimat itu. "Lo tahu alasannya."

Heidi menggeleng, lalu berdiri dan menuju kulkas. "Berhenti makan popcorn, jual rumah terus pindah ke apartemen, nggak mau masak, selalu nulis tentang kesedihan nggak berujung, menutup diri dari kehidupan sosial. Setelah ini apa lagi, Olla?" Pintu kulkas terbuka dan menutup cepat.

Olla mengangkat bahu, fokus menyuap makanan tanpa jeda. Menjaga mulutnya terisi adalah cara ampuh agar debat kusir ini tidak panjang. Heidi kembali duduk di depannya, menaruh dua botol air mineral 600 ml di samping piring masing-masing dengan kasar, tanpa berhenti menggerutu. Olla berpura-pura tidak mendengar. Setelah tiga tahun akrab dengan kalimat-kalimat sejenis, dari yang halus sampai sarkasme, Olla terlatih mengabaikan ocehan Heidi.

"Olla, lo-"

"Nggak tahu!" tegas Olla sebelum kalimat itu selesai. "Lo mau tanya, lo yakin ini yang Dhika mau? Iya, kan?" Olla membanting sendok di piring yang kosong. Khusus pertanyaan ini, Olla sudah tidak bisa lagi mengabaikannya. Semakin sering didengar, hatinya makin sakit. "Kalau aja orang meninggal bisa berkirim pesan seperti kita yang hidup, bakal mudah buat gue kasih jawaban ke lo, atau lebih cepat lo tanya langsung ke Dhika. Sayangnya nggak bisa! Lo juga tahu itu, tapi kenapa lo nggak pernah bosan mengajukan pertanyaan sama selama tiga tahun?! Gue nggak tahu Dhika mau gue melanjutkan hidup seperti apa. Dia nggak pamit. Nggak ada pesan. Dia pergi gitu aja."

Setiap malam selama 1080 hari, Olla tidak pernah tidur tenang. Di saat semua orang beristirahat, otaknya justru bekerja keras. Memutar momen kebersamaannya bersama Dhika, dari awal mereka bertemu di sekolah, sampai lamaran di Bali. Menggemakan janji-janji Dhika, yang katanya akan selalu menemani Olla. Mengulang pengandaian yang sama; kalau hari itu Dhika menunggunya tiba di Yogyakarta, bertahan untuk mengatakan sepatah dua kata, apa dia tetap sehancur hari ini?

Kalau Dhika menahan sakit satu atau dua hari, memberi dia waktu mengucapkan sepatah dua kata, memberi perpisahan yang layak-apa patah hatinya tetap separah ini? Hingga penyesalan tak berujung, seandainya dia lebih keras melarang Dhika ikut touring motor, mungkin saat ini dia sedang bahagia-bahagianya.

"Setiap kali gue melakukan sesuatu, lo cuma protes. Daripada ini, mending itu. Nggak pernah sekali pun lo tanya; Udah lega, La?" Olla meneguk air putih. "Gue jual rumah terus pindah ke apartemen, bukan semata-mata buat kabur dari kenangan gue bareng Dhika, tapi buat keluarga Dhika. Waktu kebaktian 100 hari Dhika, gue nggak sengaja dengar salah satu adik Dhika bilang mau berhenti kuliah daripada Bunda stres mikirin biaya. Gue tahu betul Dhika sangat mementingkan pendidikan dua adiknya. Gue nggak bisa biarin itu terjadi. Jadi gue langsung memutuskan buat jual, dan hasilnya cukup buat tabungan Bunda sampai salah satu adik Dhika lulus kuliah dan kerja. Lagi pula, rumah itu dibeli hasil patungan gue dan Dhika."

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Setelah beberapa menit berlalu hanya memandang sisa-sisa lauk di kotak, Olla mengadu pandang dengan Heidi. Heidi bersandar ke kursi, dengan wajah seorang pemancing yang berhasil mendapatkan ikan. Olla menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Bertekad menghentikan mulutnya, tetapi gagal.

"Popcorn dan masak. Dua hal itu terlalu dekat sama Dhika. Gue yang diajarin masak sama Dhika. Dhika yang suka banget popcorn caramel, bahkan dia ke bioskop cuma beli itu tanpa nonton. Gue takut jadi gila, atau buruk-buruknya gue nekat nyusul dia. Jadi, gue memutuskan buat menghindar dari semuanya."

Olla menemukan kelembutan di tatapan Heidi, dan itu membuatnya panik untuk alasan yang sulit dijelaskan. Dia menurunkan kedua tangan ke bawah meja, mengepalkan tangan hingga kukunya menekan telapak, menarik napas dalam-dalam.

"Kehidupan sosial. Lo tahu sendiri sudah berapa kali gue konsul ke psikiater. Gue berusaha buat mengatasi trauma atau apa pun sebutan ini. Tapi, gue belum sanggup ...."

Pandangannya dan Heidi masih terkunci, meski keinginan untuk berpaling sangat besar.

"Menulis. Bisa kan, lo panjangin lagi sabarnya? Gue pasti menemukan cara buat balik nulis kayak dulu. Pasti."

Olla berhasil mengalihkan pandangan ke arah ruang duduk, spot ternyaman untuk bekerja. Meja panjang, karpet bulu, beberapa bantal kecil, dan standing rack kayu tiga tingkat yang dipenuhi pot kaktus. Kemudian, ia pergi menuju ruangan itu untuk menghindari suasana aneh di meja makan.

"Terima kasih buat makanannya. Tumben, enak," kata Olla setelah berhasil duduk di depan laptop.

"Iva."

Olla menurunkan sedikit layar laptop dan memiringkan kepala.

"Itu masakan Iva, bukan gue. Masa lo lupa, kalau kompor dan wajan musuhan sama gue," sahut Heidi sambil membawa kotak-kotak dan piring ke tempat cucian. "Cewek yang putihnya kebangetan, mukanya mirip cewek Jepang, yang berdiri di samping lo kemarin."

Olla mengerjap. Tidak tahu harus berkomentar apa jadi dia menunggu Heidi melanjutkan kalimat. Namun, Heidi tetap sibuk dengan air, sabun, dan, peralatan makan yang kotor. Setelah piring terakhir selesai dicuci, Heidi baru menoleh ke arahnya.

"Kenapa lo? Aman-aman, walaupun bukan gue yang masak tetap nggak ada racun. Enak, kan? Iva tuh paling jago masakan di antara kami, kualitas makanannya pasti terjamin. Gue aja heran, tiba-tiba doi telepon dan kasih kabar kalau udah masak lebih buat lo sama gue. Kebetulan banget gue memang niat mau datang ke sini, tapi bingung mau alasan apa. Kayaknya si Iva dipakai Tuhan, yang kasihan lihat lo makan mi instan mulu."

Olla memutar bola mata, mengabaikan tatapan geli Heidi. Dia siap menyumpal telinga dengan earphone, tetapi Heidi kembali memanggilnya.

"La ...."

Dengan ogah-ogahan, Olla mengalihkan lagi tatapan dari layar laptop.

Heidi bersandar di pinggiran meja makan seraya melemparkan senyum penuh arti kepadanya. "Thank you udah mau cerita alasan sebenarnya dari setiap keputusan yang lo buat, kayak dulu. Sekarang gue makin yakin Fayolla yang gue kenal masih ada, cuma lagi babak belur saja." Mata Heidi tertuju pada deretan buku di rak panjang pembatas ruang depan dan ruang tidur, alasan mereka bertemu dan dekat. Novel buatan Olla. "Gue mau nunggu. Kapan pun lo butuh bantuan gue dalam proses pencarian itu, gue siap."

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Until We Meet Again-BAB 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya