Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Abu-abu

Balasan itu pasti ada

Bagiku, manusia adalah makhluk yang paling sulit aku mengerti. Cara berpikir setiap orang berbeda, barangkali lingkungan pun ialah faktor terbesar yang mendorongnya. Setiap orang punya alasan untuk tindakan mereka masing-masing, entah alasan itu baik ataupun buruk. Terkadang, hal itu memang sulit untuk dijelaskan.

Yang paling aku yakini adalah, tidak ada warna yang benar-benar hitam, atau warna yang sepenuhnya putih. Semuanya abu-abu dengan kadarnya masing-masing. Begitu pula dengan sifat manusia. Ah, apakah ada di dunia ini seseorang yang terlahir untuk menjadi penjahat?

Aku sering memikirkan tentang warna-warna itu. Putih dan hitam, serta abu-abu. Barangkali, hal itu pula yang membuatku ragu. Aku terlalu memikirkan kadar hitam dan putih dalam tindakan seseorang, berulang kali mengaduk dua warna itu dalam pikiranku agar tercipta seberapa baik atau buruk nilainya.

Salah satu contohnya terpampang nyata berada di depanku. Anak kurus kering yang kelihatan tidak berdaya itu berulang kali didorong ke sana dan kemari oleh beberapa anak yang lain, sambil tertawa-tawa.

Ayub. Itulah nama dari anak laki-laki yang sekarang ini sedang menjadi pusat perhatian. Anak murid lain hanya melihat, entah itu ikut tertawa atau kemudian mengabaikan karena tidak tertarik. Ya, pemandangan itu sudah bukan hal baru lagi di sekolah ini. Setiap hari, selalu saja ada anak-anak yang diperlakukan seperti boneka mainan.

Walaupun begitu, tidak ada yang bereaksi. Mereka hanya diam dan tidak melawan. Aku mencoba memikirkan penyebabnya. Tentu saja, warna dari peristiwa ini masih abu-abu. Ah, apa salah para anak murid tersebut sehingga diperlakukan demikian?

Aku telah mencoba memikirkannya sejak lama, memperhatikan gerombolan anak-anak itu menjadikan anak lainnya sebagai mainan. Mereka biasanya melakukan intimidasi terhadap anak lain karena beberapa kesalahan yang aku pikir sepele. Seperti tidak sengaja menyenggol badan atau menghalangi jalan. Sisanya bahkan menjadi mangsa tanpa alasan yang jelas.

Gerombolan hampir mereka selalu sama. Bahkan aku kenal betul dengan salah satunya yang merupakan teman dekatku sendiri, Adnan. Aku pernah menanyakan alasan mengapa dia berbuat demikian. Hasilnya, dia tidak menjawab dan malah mengganti topik pembicaraan. Tidak penting rupanya ya?

"Ngelamun aja, Dri," suara Adnan tiba-tiba memecah rantai pikiranku.

"E-eh." Aku hanya bisa sedikit terbata, sambil menoleh ke arahnya dan memberi senyum tipis. Sekarang ini kami berdua sedang berada di kantin, menikmati makan siang masing-masing. Tentu saja, adegan Ayub yang menjadi bulan-bulanan anak-anak lain masih terus berlanjut. Bahkan dengan bumbu segelas teh hangat yang baru dibelinya tadi, sekarang sudah membasahi sekujur tubuhnya.

Adnan melihat ke arah pandanganku, lalu berdehem dengan suara keras yang disengaja. Aku kembali menoleh ke arahnya, dan memberi senyum terpaksa. "Iya?"

"Gak mau ke kelas duluan, Dri?" Aku tahu bahwa itu adalah tanda bahwa dia akan ikut dengan gerombolan anak-anak itu lagi, seolah tidak mau ketinggalan untuk bersenang-senang. "Aku mau ikut sama teman-teman dulu."

Aku menghela napas pasrah lalu menggeleng. "Mau ngabisin jus ini dulu deh, Nan. Kalau mau ditinggal ya gak apa-apa kok."

"Oke." Tanpa melirik lagi, dia langsung meninggalkanku. Sampai di tempat tujuan, anak laki-laki bertubuh tinggi itu langsung menyambar buku milik Ayub dari atas meja dan menginjak-injaknya. Aku hanya bisa meringis dari kejauhan. Kenapa kamu melakukan hal ini, Nan?

Sampai bel masuk berbunyi, pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Jus jeruk di depanku tidak jadi kuhabiskan, langsung saja aku menuju ke ke kelas dengan pertanyaan yang tidak terjawab. Bahkan hingga bel pulang berbunyi, aku masih memikirkannya.

Adnan memberiku helm. Aku memakainya, lalu langsung naik ke sepeda motornya. Kami berkendara membelah jalanan yang ramai, bising. Walau demikian, kesunyian tetap mengambil tempat di antara kami berdua.

Beberapa detik aku berdebat dengan diriku sediri. Kemudian detik berganti menit. Aku semakin ingin menanyakannya kepada Adnan, perihal kejadian di kantin tadi.

"Kenapa kamu ngelakuin itu, Nan?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku tanpa bisa aku cegah lagi.

Sedetik, dua detik. Adnan tidak menjawab. Kesunyian masih hadir di antara kami. Tentu dia paham maksud pertanyaanku, bukan? Tiba-tiba perasaan menyesal karena telah menanyakannya menelingkupiku.

"Ya gak apa-apa. Seru aja," jawabnya kemudian dengan nada santai. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi ada sedikit raut kesombongan di sana. Dari caranya menekan kata-kata, aku tahu dia enggan membicarakan hal ini lebih jauh.

"Oh." Aku hanya bisa menjawab pendek. Antara terkejut dan tidak percaya bahwa Adnan telah berujar demikian. Kau ingin bahagia di atas penderitaan orang lain, Nan? Ingin sekali aku menanyakan hal itu padanya. Namun aku tahan, lebih memilih untuk berdialog dengan pikiranku sendiri.

Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya kami sampai di rumah yang jaraknya hanya bersebelahan. Aku mengucapkan terima kasih lalu turun dari motornya, menuju rumah. Dia mengangguk.

**

Berhari-hari aku berangkat ke sekolah dengan diantar Kakak. Adnan ada urusan, lomba bermain basket di suatu universitas di luar kota. Hal itu tentu saja juga mengharuskanku pergi ke kantin sendirian, yang biasanya ditemani oleh Adnan.

Hari ini masih sama. Pemandangan seperti kemarin-kemarin. Kali ini anak lain yang menjadi sasaran. Dia adalah anak baru, entah siapa namanya. Adnan yang mengatakan padaku bahwa akan ada anak baru. Tapi dia tidak menyebutkan namanya.

Rambut anak itu panjang dikuncir kuda. Kacamata minus bertengger di atas hidungnya yang dikenakan dengan longgar sehingga yang melihatnya akan khawatir jika kacamata itu nantinya jatuh. Tali rambutnya telah ditarik oleh salah satu anak dari gerombolan itu, membuat rambutnya terurai. Kacamatanya juga telah direbut secara paksa.

Hal ini membuatku teringat pada Ayub yang telah pindah sekolah dua hari lalu. Semua anak di sekolahku tentu tahu alasannya, walau tidak dibicarakan secara terang-terangan.

Sedangkan anak baru itu terus-terusan dipermainkan oleh segerombolan anak murid lain. Meskipun tubuhnya kecil dan kalah jumlah, ternyata anak itu masih berani melawan. Mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan-tangan jahil.

Semakin lama melihatnya, hal itu semakin membuatku meringis. Bermenit-menit berlalu, aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya rambut itu ditarik-tarik oleh banyak tangan. Jeritan penuh kesakitan akhirnya terdengar, menarik banyak perhatian para siswa lain.

Tubuhku rasanya panas dingin. Aku menunggu, selama satu menit hingga dua menit terlewat. Mereka masih tidak berhenti.

Aku yang sendari tadi telah mengamati mereka tiba-tiba merasa tidak tahan lagi. Aku bangkit dan menuju ke arah gerombolan itu. Tangan salah satu anak yang masih mencengkram rambutnya aku tepis agak kasar.

Tiba-tiba saja suasana kantin menjadi sunyi. Semua mata tertuju padaku dan anak baru yang masih meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Kali ini dia berhasil. Gerombolan itu barangkali tidak tahu bagaimana untuk bereaksi.

Dengan cepat aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menepis semua tangan yang tersisa dan menarik anak itu untuk berdiri, lalu menyeretnya menuju ruang kesehatan. Luka-luka kecil itu mulai aku obati dengan hati-hati.

**

Dan aku pun tahu akibatnya akan bagaimana. Dua orang dari gerombolan anak itu menghampiriku sepulang sekolah. Oktavian dan Rafael. Mereka menyeretku ke lantai dua, tempat yang jarang dilewati. Aku tahu selama ini mereka menghindariku karena Adnan. Sekarang, Adnan pun tidak berada di sini.

Dua anak bertubuh tinggi itu menekanku ke pagar yang telah berkarat, membuat goresannya terasa agak perih saat menusuk kulit.

Mereka memulai pembicaraan tanpa basa-basi. Menyuruhku untuk tidak ikut campur urusan mereka dan mengeluarkan sederet ancaman. Tentu saja, mereka juga membawa Adnan ke dalam pembicaraan. Menjelaskan bahwa seandainya tidak ada Adnan di sisiku, maka nasibku sudah akan seperti anak-anak itu.

Aku tahu mereka tentu tidak akan puas hanya dengan memakai lisan. Dan benar saja, aku merasakan rambut panjangku ditarik dengan salah satu dari mereka tetap menekanku ke pagar. Meronta pun tiada gunanya, malah menambah rasa sakit sebab tarikan semakin kuat.

Lama aku menutup mata, membayangkan bahwa semua yang aku rasakan itu hanya semu. Menyuruh tubuhku sendiri untuk membuat semuanya mati rasa. Dan memang semua itu menjadi kenyataan.

Aku merasakan tubuhku jatuh.

Pagar itu sudah sangatlah rapuh. Tidak kuat menahan berat tubuhku ditambah dorongan dari mereka.

Badanku terasa remuk ketika akhirnya menghantam tanah. Kemudian ... semuanya gelap dan sunyi.

**

Segala sesuatu harus ada pengorbanan. Begitulah cara membayar sesuatu yang tidak dapat dibayarkan dengan uang. Barangkali, beginilah pengorbanan yang harus aku lakukan.

Demi membuat Adnan sadar.

Dan itu berhasil. Adnan merasa bersalah. Ah, tapi bukan dia yang sepenuhnya bersalah. Di sini pun aku juga berperan. Sudah seharusnya aku mencoba menghindarkannya dari gerombolan itu sejak awal. Lingkungan juga mengambil bagian dalam membentuk karatker seseorang, begitu juga dengan Adnan. Itulah kenapa tidak ada sesuatu yang sepenuhnya hitam. Selalu akan ada alasan, walau tidak semuanya dibenarkan.

"Sesuatu yang kamu lakukan suatu saat akan ada balasannya, Nan," kataku padanya. Saat ini kami berada di atap rumah, memandang ke biru langit. Keadaanku memang masih belum sembuh total, masih ada perban tebal di sana dan sini.

"Entah balasan itu akan ditimpakan padamu sendiri atau orang terdekatmu. Balasan itu pasti ada," aku melanjutkan.

Adnan masih terdiam, matanya tertutup. Tapi ketika dia membukanya, ada raut bersalah yang jelas di sana. Adnan telah meminta maaf kepadaku, berkali-kali. Hingga aku tidak tahan, dan menyuruhnya berhenti.

"Adri ...." Dia tersenyum pahit.

Sebaliknya, aku memberi sahabat sejak kecilku ini senyum yang tulus. Aku hanya berharap dia mendapatkan pelajaran dari semua ini.

Setelah peristiwa yang menimpaku, anak-anak yang menjadi korban bullying mulai buka suara. Saling mendukung satu sama lain. Asri, anak baru itulah yang pertama kali melaporkannya pada kepala sekolah. Dan aku harus berterima kasih padanya atas hal itu.

Tidak perlu dikatakan apa hukumannya. Tapi yang jelas, anak-anak yang suka mengintimidasi itu mendapatkan hukuman yang setimpal. Aku juga berharap mereka akan sadar, walau barangkali mereka berada jauh dariku saat ini.***

Boyolali, 19 April 2019

 

Maya Photo Verified Writer Maya

A teen aspiring writer

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya