Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Nemesis

Nemesis adalah Dewi Pembalasan

Detak jam yang menempel di dinding tak jauh dari tempat dudukku itu serasa berjalan lebih lambat, atau mungkin hal itu dikarenakan aku terlalu sering meliriknya. Jarum panjang hampir menyentuh angka tiga, dan jarum pendek sedikit demi sedikit merambat ke angka sembilan.

Dia berjanji menemuiku pukul delapan malam tepat. Teks yang baru saja dikirimnya menyatakan bahwa dia sedang dalam perjalanan dan memintaku menunggu sedikit lebih lama.

Suasana kafe semakin sepi. Hanya tersisa beberapa orang yang sekadar ingin mencari teman mengobrol dan mahasiswa yang sibuk mengerjakan tugas ditemani secangkir kopi panas. Hawa yang berembus semakin dingin. Aku perlahan menggosok kedua tanganku dan merapatkan jaket.

Kopi yang kupesan masih terisi setengah cangkir, namun aku terlalu malas menyentuh cairan yang sepenuhnya sudah berubah dingin itu.

Ujung mataku menangkap para pegawai kafe itu sedang bersantai. Beberapa dari mereka mengamatiku, lalu bergegas mengalihkan pandangan ke arah pengunjung yang lain. Aku tahu apa yang ada dalam benak mereka. Selepas tempat ini benar-benar sepi, mereka akan diperbolehkan pulang. Namun rupanya hal itu terhambat oleh kehadiran kami yang masih bertahan menikmati dinginnya malam ini.

Berkali-kali aku melirik ke arah pintu. Setiap pengunjung masuk, aku selalu berharap dialah yang melewati pintu itu. Satu dua pengunjung telah masuk dan mulai menikmati kopi mereka. Masih belum ada tanda-tanda dari orang yang kutunggu.

Rasanya ingin sekali aku pergi saja jika dia memang tidak kunjung datang. Aku menahan diri. Masih ada sebuah urusan yang belum selesai di antara kami berdua.

Aku mengembuskan napas dan memejamkan mata, membuat suara detak jam itu semakin terasa saja di telinga. Dan ketika aku membuka mata lagi, aku menangkap sosok itu telah melewati pintu kafe.

Dia menyapu pandangan ke seluruh pengunjung, menarik perhatian sebagian besar orang di dalam kafe dengan aura percaya diri yang dimilikinya. Dua bola mata itu menangkap sosokku, dan tanpa pikir panjang lagi dia mulai berjalan menghampiriku.

"Maaf, Ra. Sudah nungguin lama ya? Soalnya tadi macet." Dia meminta maaf, tersenyum tipis lalu duduk di kursi berseberangan dengan milikku. Aku hanya mengangguk perlahan dan memberinya senyum kecil.

Adri memesan secangkir kopi hangat, lalu mengalihkan kembali perhatiannya kepadaku selepas pelayan itu mencatat pesanannya. Dia bertanya, "Gimana kabarnya, Ra? Lama gak ketemu ya?"

Aku sedikit meringis, teringat pertemuan terakhir kami yang tidak bisa dibilang bersahabat. Aku menatapnya dan mengangguk. "Baik-baik aja kok, kalau kamu gimana?"

Aku memerhatikan seberapa cepatnya dia berubah dalam waktu enam tahun ini. Aura dalam dirinya masih sama, penuh percaya diri namun telah kehilangan rasa arogansi. Sosok yang dulu kerap kali membuatku menghindar bila berpapasan itu telah berubah lebih dewasa. Kehidupan yang nyata telah mengubahnya, bahwa semuanya bukan hanya tentang bersenang-senang semata.

Selepas aku pindah rumah sekaligus sekolah memang jarang aku mendengar kabar tentangnya, dan baru kali ini aku benar-benar bertemu dengan sosok yang telah membuatku sempat putus asa tersebut.

Tadinya, perlakuan Adri semasa sekolah membuatku ragu menemuinya, tapi aku meyakinkan diri bahwa kami memiliki urusan yang perlu diselesaikan. Aku juga membutuhkan jawaban atas segala perlakuannya padaku.

Dia tersenyum mendengar pertanyaanku, lalu dengan suara perlahan seakan berbisik dia memberitahuku, "Aku sebenarnya lagi sakit, Ra. Sudah beberapa tahun ini..."

Aku hanya bisa terdiam mendengar pengakuannya. Sejenak, kami diinterupsi oleh pelayan yang membawakan kopi pesanannya. Selepas pelayan itu pergi, aku masih terdiam tak bisa berkata-kata. Dan aku tahu aku harus mengatakan sesuatu. Aku baru hendak membuka mulutku sebelum suara halusnya membuat kata-kata itu terhenti di tenggorokan.

"Aku mau minta maaf, Ra," Dia terhenti sejenak, "perlakuanku selama ini ke kamu sewaktu sekolah ... aku tahu itu semua salah besar." Dia sedikit menunduk, ragu untuk menatap ke arahku.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Jika ingin jujur, kata-kata jahat yang dia utarakan kepadaku sewaktu sekolah dulu, dan sikapnya yang sering menindas dan mengintimidasi benar-benar memengaruhi psikologisku. Aku membutuhkan waktu cukup lama untuk meyakinkan diriku bahwa aku tidak seperti yang dia katakan. Perlahan namun pasti, atas bantuan orang-orang di sekitarku, aku mulai bangkit lagi kembali menjadi sosokku yang dulu.

Aku masih teringat betul beberapa perlakuan tidak mengenakan yang pernah dia lakukan padaku. Seperti memaksaku mengerjakan PR-nya, menumpahkan air ke seragam sekolahku dan melontarkan kata-kata kasar bahwa aku tidak berharga untuk bersekolah di antara para anak orang kaya. Terakhir yang benar-benar membuatku trauma dan pindah sekolah, dia mengunciku di suatu ruang kosong cukup lama.

"K-kenapa?" Pernyataan itu terlontar begitu saja tanpa bisa aku cegah lagi. Hanya satu kata, tapi aku yakin dia paham maksudku. Dia tersenyum kecut. "Iri dan dengki adalah salah satu penyakit yang menggerogoti hati. Manusia yang terkena penyakit ini hatinya telah teracuni. Apa pun yang diperbuat orang lain, dia akan selalu membencinya karena mata yang telah buta."

Dan aku memahami hal itu sekarang. Dia memang dulu tampak seperti siswa dengan prestasi biasa saja, tapi cukup disegani oleh anak-anak lain karena mereka tahu siapa ayah Adri, seorang pejabat setempat. Adri pun cukup populer di sekolah. Sedangkan aku, adalah kebalikan dari dirinya.

Suaraku seperti tercekat di tenggorokan, tapi aku paksa kata-kata itu untuk keluar. Dengan sedikit terbata, aku memberitahunya, "A-aku sudah maafin kamu, Dri..."

Dia memandangku dengan penuh rasa terima kasih. Senyum merekah di wajahnya yang terlihat lelah dan agak sedikit pucat, namun tetap tidak memudarkan paras cantiknya. "Kamu memang baik banget, Ra. Makasih banget ya kamu sudah mau maafin orang kayak aku."

Aku hanya bisa mengangguk lemah, entah kenapa perasaanku pun telah sedikit membaik setelah rasa penasaran itu terungkap. Dan malam ini memang dia yang lebih banyak berceloteh, mengenang masa-masa sekolah yang cukup lucu walau jumlahnya hanya sedikit. Dia sengaja menghindari topik tentang kenangan yang buruk.

"Pembalasan itu pasti ada, Ra. Dan aku telah menerima segala balasan atas hal yang telah aku perbuat semasa sekolah dulu."

Dia bahkan sampai membicarakan tentang Dewi Nemesis. Dewi Yunani yang aku kenal sebagai Dewi Keseimbangan. Dia hanya menggeleng ketika aku mengatakan itu padanya.

"Ada alasan kenapa Nemesis bukan hanya sebagai Dewi Keseimbangan, tapi juga Dewi Pembalasan, karena pembalasan itu memang ada. Dan hal itu membuat segalanya menjadi seimbang." Aku mengangguk, paham dengan kata-katanya.

Setelah itu kami berdiskusi lebih banyak tentang bermacam hal. Melupakan bahwa dulunya kami bak air dan minyak yang mustahil untuk bersatu. Malam ini, kami bersikap seperti sepasang sahabat yang telah lama tidak berjumpa.

Aku tidak bisa menyangkal bahwa aku juga menikmati malam ini. Namun segala hal pasti akan berakhir pada saatnya. Begitu juga dengan sekarang pertemuan ini. Ketika berpamitan satu sama lain, kami menyadari bahwa kami adalah satu-satunya pelanggan yang masih berada di dalam kafe.

Waktu berlalu begitu cepat. Aku sama sekali tidak menyesali pertemuan itu dengan Adri, malah aku bersyukur malam itu aku tidak menolak untuk bertemu dengannya. Masalah kami telah terselesaikan.

Namun hal itu juga datang dengan pukulan telak. Empat bulan kemudian, aku menerima kabar bahwa Adri telah pergi selama-lamanya karena penyakit yang selama ini menggerogotinya. Dan itukah pembalasan yang dia maksud? Aku masih sulit untuk mencernanya.

Adri, bagaimanapun telah mengambil tempat dalam kenangan di memoriku, karena dahulu kala sebelum sekolah menengah dimulai, Adri dan Ara adalah sepasang sahabat masa kecil.***

 

Boyolali, 19 Mei 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Kesalahan Masa Lalu

Maya Photo Community Writer Maya

A teen aspiring writer

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You