Comscore Tracker

[CERPEN-AN] After Dark

Demi bunga Lily yang kau berikan...

Aku tidak mengerti kenapa setiap dia datang bertemu denganku, langit berubah kelabu, angin berdesir menggetarkan kalbuku, seakan-akan menggoyahkan keyakinanku untuk peduli dengan kedatangannya. Lagi, dia datang lagi. Dia datang setiap dua kali dalam sebulan. Membawakanku bunga Lily berwarna putih yang dipetiknya entah dari mana.

Hari seperti biasanya. Aku hanya memandang kehadirannya dengan perasaan tidak suka, sembari duduk di pinggir danau, tidak jauh dari tempat tinggalku kini berada.

Di daerah ini banyak sekali orang yang datang ketika akhir pekan, selain untuk mengunjungi keluarganya, juga untuk merefleksikan diri sembari merehatkan pikiran dengan menikmati hari, memandangi kehidupan di danau yang berada di depanku.

Aku menghela napas. Dia berada dekat denganku, namun aku masih tidak peduli jika dia datang hanya ingin mengantarkan bunga yang dia petik untuk mengambil kecantikannya, sekadar simbol untuk diberikannya kepada seseorang sebagai permintaan maaf lalu pergi, hingga ia lupa bunga itu tidak bisa kembali seperti semula, layu kemudian mati dengan konyol.

Cahaya matahari ini samar-samar, mengingatkanku terakhir kali saat bertemu dengannya. Entah mengapa aku selalu saja terlihat seperti orang bodoh. Aku tidak yakin apakah Tuhan yang mengirimkannya untuk menguji kesabaranku.

Aku ingat. Hari yang dingin itu, hatiku menahan sakit, menggigil, menangis sendirian. Pada saat itu aku berharap dia akan membuka matanya lebar, dan menyadari apa yang telah ia lakukan padaku. Namun, kehadiranku di matanya bagaikan sebuah asap yang mengganggu pandangannya, lalu lenyap karena sapuan inginnya.

Aku tidak baik dalam berekspresi. Aku sangat payah, bahkan sangat gugup menatap orang-orang yang ada di sekelilingku. Aku lebih menyembunyikan perasaanku. Meskipun itu hal baik atau buruk sekalipun—teman yang datang dan pergi. Bagaimana bisa aku mengatakan kepada mereka apa yang sedang ku rasakan.

Jika aku saja tidak yakin siapa teman yang akan berdiri bersama ku sampai garis finish. Jadi aku mudah untuk menangis untuk menyampaikan perasaan, meskipun itu adalah hal yang tidak begitu serius. Orang-orang mengejekku, tapi bagaimanapun air mataku selalu terjatuh. Berjalannya waktu aku belajar untuk menyembunyikannya, sejak saat itu aku tidak menangis lagi di depan orang, namun rasanya sakit sekali di dalam.


Sore ini.

Dia duduk tidak jauh dari tempatku. Mengawali kedatangannya dengan senyuman, menaruh seikat bunga Lily yang malang di atas sebuah pembatas yang terbuat dari nikel berwarna gelap, penanda tempatku. Kesalku memudar sesaat ku dengar dia berbicara untuk pertama kalinya di hadapanku.

“Menurutmu, hari ini akan hujan?”

Aku hanya mengerjapkan mataku.

“Bagaimanapun, aku tidak bisa melupakan hari di mana terakhir bertemu denganmu.” Katanya, tatapannya teduh. “Andai saja aku menyadari lebih awal. Mungkin hari itu tidak terjadi—jadi, apakah aku harus meminta maaf, untuk ke sekian, lagi?” Dia menarik napasnya sejenak. Mengontrol intonasi suaranya yang sedikit tersekat.

“Bagaimana aku tahu kalau aku bisa termaafkan—aku benar-benar menyesal.” Dia mengembuskan napasnya. Lalu berdiam lama sekali.

Pandangannya penuh harap. Ia mengatur posisinya, menghadap ke arah yang sama denganku, memandangi danau.

“Mungkin mendung ini hanya mendung yang menipu, untuk mengingatkan kesalahanmu.” Gumamku di tengah keheningan.

Dia tersenyum memandangi sekelompok bebek yang sedang berenang. “Kau tahu, sekarang aku sudah bekerja—andai saja, aku bisa mengganti kacamatamu yang selalu saja patah atau membelikan obat untuk lukamu, karena ulahku dulu...” Ia mengenang kesalahannya.

Kupikir dia masih menahan egonya untuk tidak peduli akan masa lalu itu dan hanya mencari simpati padaku dengan mengirimkan bunga setiap bulan, sekadar hanya ingin tidak di cap anak yang kurang ajar oleh warga sekitar.

Bagaimana bisa kulupakan segalanya, apa yang telah dia lakukan padaku. Aku bahkan masih ingat sangat jelas, selama dua tahun itu. Aku tidak mengerti kenapa di matanya dan di mata kawan se-gengnya, seorang sepertiku, anak yang menggunakan kacamata tebal bagai boneka di hidupnya, yang seenaknya dipermainkan sesuka hatinya—bagaimanapun boneka ini juga punya hati.


Lima tahun lalu.

Semua itu berawal sewaktu aku hampir saja ketinggalan bus. Aku berdiri di halte bersama segerombolan anak laki-laki yang sudah memandangku semenjak aku berlari tergopoh-gopoh membawa buku yang sedang ku peluk, karena tidak muat dalam ransel ku. Kebetulan sekali, waktu itu aku masih murid baru SMA. Kesan pertama yang tidak menyenangkan.

Dari jarak dua meter dari gerombolan anak laki itu, aku mendengar beberapa kali mereka Memanggilku dengan sebutan “nenek SMA." Aku mengerti, tentu saja panggilan itu untukku, karena di halte itu hanya ada aku dan gerombolan anak itu.

Seorang cowok yang tidak ku kenal mendekat ke sampingku lalu tiba-tiba berseru, mengejek, “Wah, ini seperti kaca pembesar di lab... Tebal sekali kaca matamu!” Ia mengambil kacamataku tanpa permisi, begitu saja dari wajah ku.

Aku kaget dan memintanya baik-baik untuk segera dikembalikan. Namun, anak laki-laki itu malah mempermainkan ku dengan melambai-lambaikan kacamataku di atas kepalanya, yang sama sekali tidak bisa ku raih.

Bus akhirnya datang. Anak-anak itu segera memasuki bus tanpa peduli aku yang kesulitan melihat jalan karena mataku yang minus lima. “Kumohon kembalikan kacamataku!” Pintaku, namun ragu untuk menyaringkan suaraku. Tapi anak-anak itu tidak peduli dan begitu saja masuk, bahkan ingin menutupkan aku pintu bus.

Aku berlari. Bergegas masuk, naik ke dalam bus... Sial! Aku terpeleset di kaki tangga bus, karena kesulitan melihat, hingga membuat daguku terhantam lantai bus dengan sangat keras. Bukannya membantu aku berdiri, anak-anak di dalam bus hanya tertawa-tawa, seakan-akan kesakitan ku ini patut untuk ditertawakan. Melihat reaksi teman-teman satu bus, tadinya aku ingin menangis karena menahan perih di dagu dan rahangku, menjadi tertahan. Jadi aku memutuskan diam saja.

Pak supir pun memilih untuk diam dan menungguku untuk segera ke tempat duduk... Namun apalah dayaku, ku rasa semua makhluk di dalam bus sudah bersekongkol untuk mengerjaiku. Aku bahkan tidak mendapat tempat duduk, meskipun aku meminta dengan sopan, tempat duduk yang seharusnya belum terisi menjadi terisi dengan tas atau kaki yang sengaja di pasang agar aku tidak duduk di samping mereka.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Dengan pasrah aku akhirnya memilih duduk di tangga bus bagian depan sambil berpegangan pada tiang untuk menjaga keseimbangan.

Setibanya di halte sekolahan. Aku menunggu anak-anak itu mengembalikan kacamataku, tepat di luar, di depan pintu bus, syukurlah akhirnya anak-anak itu mau mengembalikan kacamataku ... Dengan bingkainya yang sudah patah.

“Ternyata aku menaruhnya di kantong belakangku... Ups! Tertindih saat aku duduk... Hahaha,” katanya tanpa rasa bersalah lalu meninggalkanku begitu saja meratapi kacamataku yang patah.


Hari-hari berikutnya.

Setelah mengambil kacamataku tanpa izin—mematahkan tanpa mengganti rugi—Memanggilku dengan sebutan nenek SMA—kini anak-anak itu mengubah panggilannya untukku menjadi “si buta” alasannya karena mereka peduli padaku.

Ya, benar saja. Ketika aku sedang berada di lab untuk mengerjakan tugas menggunakan alat optik. Mereka turut andil untuk membela ku, katanya “jangan menyuruhnya menggunakan mikroskop—dia itu buta, tau!” Pembelaan yang menyakitkan. Kurasa semenjak saat itu tidak ada lagi kata-kata yang benar-benar pembelaan.


Berjalannya waktu.

Aku seperti boneka mereka. Apa yang ku lakukan selalu saja lucu di depan mereka. Kekurangan ku ini juga memperjelas hal yang selama ini tertutupi oleh kesibukanku sebagai pelajar, bahwa ... Aku sendirian. Bahkan jika aku menyimpan keberanian yang semu di hatiku, setidaknya itu menjadi kekuatanku untuk bertahan melewati hari. Perasaan yang tak tersampaikan, ku titipkan saja lewat doa semoga tersampaikan suatu saat nanti.

Seolah aku menenangkan diriku pada pagi itu, aku memandang langit yang mulai mengelap dengan perasaan resah. Untuk menyembunyikan keresahan itu aku mencoba menggambar di bagian belakang buku pelajaran ku hari itu. Angin hari itu seperti menghubungkan kesepian duniaku dan mengembuskan awan untuk menutupi langit pagi itu—perasaan semakin kuat menyuruh ku untuk pergi, tapi aku tidak tahu harus pergi ke mana.

Benar saja, keresahan itu ternyata pertanda kesialan ku untuk ke sekian kalinya. Pertemuanku dengan anak laki-laki itu selalu saja membuatku berang, tapi tak bisa kulampiaskan. Lagi-lagi, kacamata yang merupakan bagian dari hidupku dijadikan bahan mainan mereka sewaktu pulang sekolah. Dan mereka mengambilnya begitu saja, hingga aku kesulitan pulang ke rumah hari itu.

Ini sudah dua tahun setelah aku melewati masa terberatku di SMA. Demi menghindari anak-anak itu, sudah lama aku memutuskan untuk pulang dan pergi dengan bus yang berbeda. Menghampiri halte yang lebih jauh dari biasanya.

Seperti hari ini, hanya insting saja yang bisa membawaku ke halte tujuanku dengan perasaan takut.

Hari semakin sore, dan langit semakin tidak bersahabat. Aku merasa dikutuk oleh beberapa zat di bumi ini. Tidak ada yang benar-benar membela ku. Aku menangis sepanjang perjalanan. Mata yang kabur semakin kabur karena tangisan di tambah lagi hujan yang turun dengan deras di sepanjang perjalanan.

Ya, Tuhan apa benar-benar aku tidak cocok tinggal di belahan bumi ini? Apakah ada bendanya jika aku tinggal di belahan bumi lain?

Berapa banyak waktu yang telah berlalu? Berapa banyak air mata yang harus kukeluarkan untuk mencari jalan keluar dari ini semua? Aku sudah cukup lelah dengan mereka yang selalu mempermainkan ku.

Aku benar-benar terlalu lelah, sampai aku tersadar badanku baru saja seperti dilempar dengan kuat oleh suatu benda yang bisa kupastikan adalah sebuah mobil baru saja menabrakku ... Yang baru ku sadari sesaat aku menatap langit yang menjatuhkan butir-butir airnya dari langit. Aku tergeletak di jalanan.

Dan menemukan, pemimpin pasukan dari anak laki-laki yang sering mempermainkanku kini berjongkok di sampingku dengan tatapan yang selama ini aku ingin lihat dari wajahnya... Wajah bersalah.


Hari ini.
Setelah hari itu, ketika aku terbaring di jalanan, sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadaku. Hingga suatu hari aku menyadari aku telah dikelilingi oleh bunga-bunga harum yang selalu diantar orang-orang bahkan keluargaku di tempat baruku, di tepian danau ini.

Aku tidak akan pernah tahu, jika anak laki-laki itu tidak datang dan mengakui sendiri kesalahannya dan meminta maaf berulang-ulang kali di sini—aku telah berbeda dunia dengannya.. Akankah itu berarti lagi? Haruskah aku memaafkannya? Atau...tersampaikan padanya, jika aku memaafkannya?

Aku bukanlah air yang mengalir pada aliran sungai, aku tidak bisa memaksa diriku lagi untuk menerjang bebatuan untuk mengalahkan rasa ketidakpercayaan diriku.

Jika aku bisa memutar waktu, aku ingin menyadari kehadiranmu lebih lebih cepat. Sehingga aku bisa menghindarimu dan menjalani hidupku dengan normal.

Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, mungkinkah suatu hari nanti akan ada orang yang akan tulus menyukaiku? Mungkin jika itu terjadi, itu benar-benar sebuah keajaiban yang indah.

Aku ingin menghentikan waktu dengan bernapas dengan tenang. Namun, kau telah menghentikan waktuku dengan merengut napasku hari itu.

Tidak ada artinya lagi.

Jika kematianku ditiadakan, mungkinkah rasa bersalah itu menghampirimu seperti hari ini?

***

Bandung, 15 April 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Semakin Lama Dianggap Wajar

Tavisha Photo Community Writer Tavisha

Penikmat berbagai macam kue dan kopi.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

JADWAL SALAT & IMSAK

25
MEI
2019
20 Ramadan 1440 H
Imsak

04.26

Subuh

04.36

Zuhur

11.53

Asar

15.14

Magrib

17.47

Isya

19.00

Just For You