Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Lebah-Lebah Perusak 

Andai ada pilihan, aku ingin menjadi seperti yang diharapkan

Memang ada lebah perusak?”

“Entah.”

“Yang ada itu lebah sosial dan lebah soliter. Kalau lebah sosial selalu hidup berkelompok, nah sebaliknya lebah soliter itu hidup menyendiri sepanjang hidupnya.”

“Kalau gitu aku ingin jadi lebah soliter saja. Menjauh dari lebah-lebah perusak di sekitarku.”

***

Aku ingin hidup mandiri, itu tekadku sejak tamat kuliah. Tetapi keadaan tidak selalu mudah. Mencari pekerjaan di negeri berkembang itu rasanya seperti hidung kembang kempis. Kadang harapan itu terbuka lebar, tetapi seringkali redup tak berjejak.

Ketidakpastian dalam mendapatkan pekerjaan idaman membuatku berpikir keras. Hari akan terus berjalan, sedangkan kebutuhan hidup terus merengek minta dipenuhi. Aku sendiri perempuan pengangguran yang tinggal numpang sama orang tua. 

Hingga akhirnya aku bekerja di supermarket. Tanpa tes, tanpa surat lamaran kerja. Diterima begitu saja karena bosnya kenalan lama. Duh rasanya senang banget deh, setelah hampir setahun lebih nganggur di rumah terus, akhirnya dapat pekerjaan juga.

Tetapi yang namanya hidup takkan semudah itu kan? Ceritaku tentang lebah-lebah perusak baru saja dimulai...

***

“Lulus sarjana S1 hanya kerja di supermarket? Plis deh anak saya yang SMA juga bisa. Buat apa disekolahin tinggi-tinggi.” Makcik Wati berkata sambil berlagak pinggang di depan semua tamu. Menyindir emak yang dari tadi tersenyum sambil sibuk menyuguhkan minuman. 

Seminggu setelah kabarku diterima kerja di supermarket, semua orang berebut ocehan di telingaku, telinga emak, telinga adikku yang bungsu, dan di telinga ipar-iparku. Semua berbisik-bisik, entah sengaja atau tidak. Entah mengejek, menghina, senang, atau simpati, aku tidak tahu.

Mereka seperti lebah yang berdengung setiap pagi dan sore. Berkerumun di bale-bale depan rumah. Selalu riuh saat aku pergi dan pulang kerja. Menjadikanku makanan santapan mereka. Salahku apa? Aku lulusan S1 yang kerja di supermarket. Mungkin bagi mereka itu dosa terbesar yang harus didengungkan setiap waktu. 

Dengungan lebah ini memang tidak main-main. Sudah menyebar sampai ke seluruh pelosok kampung. Tempat kelahiranku yang indah dan damai, sekarang tercemar dengan kata-kata penuh penghakiman.

Seperti saat menghadapi lebah-lebah kecil, “Kak, nanti dedek nggak mau jadi sarjanalah. Sayang mamak sekolahin tinggi-tinggi, habis duit. Habis waktu. Sama habis usia, eh cuman jadi satpam di bank cabang yang nasabahnya bisa dihitung jari. Ihh nggak keren banget kan lulusan S1 jadi satpam. Malu deh kak!”

Hatiku memberontak mendengar anak SD berkata sejauh itu. Batinku tersiksa. Ternyata sudah begitu jauh frekuensi gosip yang menyebar di kampungku. Sampai anak-anak pun berpikiran sama seperti yang dikatakan orang dewasa. 

Tetapi serangan lebah-lebah perusak belum selesai. Ketika aku sudah sangat nyaman bekerja di supermarket, dengan gaji yang cukup, lingkungan kerja yang mendukung, hubungan antar karyawan yang harmonis, dan sistem kerja yang sehat, aku memutuskan untuk menikah. Melepas masa lajangku dengan pria biasa yang bekerja sebagai salesman.

“Lagi-lagi deh, masak nikah dengan orang yang tidak bertitel sih. Setidaknya cari kek yang D3, yang sama-sama berpendidikan gitu.”

“Iya nih, sayang kuliah tinggi-tinggi, dapatnya malah yang SMA juga.”

“Kawan dari keponakan CikLim ada lho yang kerja di bank, mau nggak dikenalin. Kalau sama dia hidup udah terjamin. Katanya dia juga lagi cari jodoh.”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menghampiri telingaku menjelang pernikahan. Setiap waktu, ada saja kabar yang tidak-tidak dan kurang pemahaman yang datang memanas-manasin. “Duh yang nikah itu aku, kok yang repot malah tetangga sih.”

“Memang seperti itu dek, dibiarin aja. Nanti juga capek sendiri.” Kakak iparku mencoba menenangkanku yang sedikit emosi.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Rasanya ingin sekali membalas perkataan mereka. Tetapi aku selalu menahan diri. Berpikir matang bahwa tidak baik melawan orang tua, apalagi masih tetanggaan dan kerabat sendiri. Namun lama-lama perasaan tidak becus terus hinggap di hatiku.

“Apakah aku membawa pengaruh buruk untuk anak-anak kampung ini?” Tanyaku suatu malam pada Abu Chik, dia adalah kakekku.

“Sama sekali tidak Nyak long.” (Nyak long artinya anakku, kakek sering memanggil kami Nyak long).

“Lalu kenapa semua yang aku lakukan salah di mata semua orang? Lulusan S1 yang bekerja di supermarket. Bukankah itu tidak salah? Kenapa semua orang, terutama Makcik membesar-besarkannya?”

Abu Chik diam dalam hening. Dahi keriputnya berkerut lebih banyak. Meskipun begitu, ada sisi tegas yang menonjol dari wajah tuanya. Dia menghela nafas perlahan, kemudian siap memberiku nasehat terbaiknya.

“Nyak long tidak salah. Mereka juga tidak salah.”

“Lho kok tidak salah?” Aku ingin protes, tetapi urung saat melihat wajah Abu Chik yang serius.

“Mereka itu tidak salah menurut pemikiran dan adat dalam kehidupan mereka. Dan Nyak long juga tidak salah menurut pemikiran bijak dan baiknya. Kita sama-sama tidak salah dalam berpikir, tapi akan ada dampak bahaya dari cara pikir seseorang.”

Aku sama sekali tidak mengerti. Tetapi tidak berani menyelanya.

“Mereka yang berpikir sempit, maka hidupnya akan penuh kesempitan. Sebaliknya, jika berpikir luas dan terbuka, maka hidup akan membuka banyak jalan untuk kemudahan. Maka percayalah pada pikiranmu sendiri. Kelak mereka akan menelan omongan mereka sendiri.”

Meski belum paham betul, tetapi aku percaya dengan kata-kata Abu Chik. Bahwa pemikiranku kelak yang berani menghadapi kenyataan pahit bekerja di luar bidang pendidikanku akan membuahkan hasil maksimal yang luar biasa. Aku yakin.

***

Tujuh tahun kemudian, anakku berulang tahun ke 5 tahun. Semarak kebahagiaannya mewarnai rumah tangga kami. Dia Kalela, putri kecilku yang sudah pandai bahasa Inggris meski belum masuk sekolah. Siapa yang mengajarinya? Aku sendiri.

Aku dan suami sudah membuka bisnis baru, minimarket kecil-kecilan bernama Kalela Mart. Kami beruntung memiliki banyak kenalan salesman yang membantu mewujudkan impian kami membuka minimarket. Dan tentunya takkan ada artinya tanpa pengalaman bertahun-tahun bekerja di supermarket dulu.

Semua nasihat Abu Chik benar. Tidak ada yang salah dengan apa yang dipikirkan orang lain, semua berhak untuk mengeluarkan pendapat, tetapi kita juga berhak untuk melawan dampak dari pemikiran salah orang lain.

Lawanlah dengan pembuktian. Bahwa apa yang dipikirkan buruk oleh orang lain, belumlah buruk untuk hidup kita. Jalani dengan tulus dan biarkan semua cemoohan dan hinaan terbakar oleh semangat kita untuk menanamkan banyak harapan dalam hidup.

Kamu masih ingin menjadi lebah soliter?

“Tidak lagi. Aku ingin menjadi lebah pekerja saja.”

“Kenapa lebah pekerja?”

“Aku ingin menjadi penjaga dari lebah-lebah yang baru dilahirkan, dan mengajarkan kepada mereka, betapa pentingnya menghargai orang lain.”***

 Aceh, 02 Mei 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Lelaki dengan Sayap di Punggungnya

Yenny Anggrainy Photo Community Writer Yenny Anggrainy

Penulis dan calon pengusaha

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

JADWAL SALAT & IMSAK

26
MEI
2019
21 Ramadan 1440 H
Imsak

04.26

Subuh

04.36

Zuhur

11.53

Asar

15.14

Magrib

17.47

Isya

19.00

Just For You