Comscore Tracker

[CERPEN] Hati Kerdil yang Terluka

Auramu keji hingga melihatmu saja mataku pilu

Tegar Langgeng seorang pria yang selalu celaka dalam dunia asmara. Memiliki tubuh yang tinggi dan wajah khas orang Jawa dengan karakter komedian Tegar Langgeng banyak digemari wanita. Tegar Langgeng berasal dari keluarga sederhana dengan 4 ekor sapi peliharaan orang tuanya yang disiapkan untuk biaya pendidikan Tegar Langgeng.

Hingga SMA, Tegar Langgeng tak pernah menjalin hubungan asmara walaupun sebenarnya banyak wanita yang menyukainya, bukan karena Tegar Langgeng tidak memahaminya tetapi dia tidak menemukan sosok wanita yang mampu membuka hatinya.

Tragedi terjadi pada saat Tegar Langgeng duduk di kelas 12. Dia mengenal sosok wanita yang membuatnya terpana. Wanita itu bernama Siti Hayati, gadis cantik yang banyak bicara, lahir dari keluarga yang kaya raya. Ayah Siti Hayati  memiliki banyak kebun kelapa sawit di Kalimantan. Hal itulah yang membuat Tegar Langgeng merasa minder dengan gadis pujaannya.

"Siti Hayati kau adalah cinta pertamaku yang lahir dari kehampaan hati. Auramu keji hingga melihatmu saja mataku pilu. Seperti arti namamu tanah kehidupan kau membawa dunia baru dalam langkahku," di balik sifatnya yang humoris Tegar Langgeng piawai dalam mengolah bait-bait puisi, malam itu dia menulis surat untuk Siti Hayati.

Tegar Langgeng selalu mencuri waktu bisa melihat gadis pujaannya, walaupun dia harus memalingkan muka saat Siti Hayati juga melihatnya. "Sungguh aku tak mampu kau tatap Siti," kata Tegar Langgeng dalam hati.

Setiap hari Tegar Langgeng selalu mencuri pandang gadis pujaannya hal itu pun diketahui oleh Siti Hayati.

"Tegar, kamu kenapa ngeliatin aku terus, ada yang aneh sama aku?" Tanya Siti pada Tegar saat Tegar terciduk melihat Siti di tempat parkir.

Antara tegur dan tanya Tegar Langgeng tidak bisa membedakan lontaran kata dari Siti "Aku tidak melihatmu tadi ada cewek cantik di belakangmu sedang menyapaku," jawab Tegar Langgeng berpaling.

"Dasar kamu Pria kebanyakan cewek," ungkap Siti Hayati kesal dengan jawaban Tegar.

Begitu menyesalnya Tegar Langgeng melontarkan kalimat yang berlainan dengan hatinya, berhari-hari Tegar Langgeng kepikiran kejadian di tempat parkir itu.

Pagi hari Langgeng berangkat sekolah dengan membawa surat yang telah dibuatnya, dia menyelipkanya di tengah buku milik Siti hal itu dilakukan Tegar saat jam istirahat. 

Terjadi obrolan sengit di tempat parkir waktu pulang kuliah, Siti Hayati menghampiri Tegar Langgeng di parkiran. "Kamu laki-laki apa bukan ngomong cinta pakai surat? Percuma kamu diidolakan banyak wanita tapi kamu tak punya nyali," cetus Siti Hayati.

"Kamu boleh mengolokku apa saja, tapi aku tidak akan pernah mengolokmu. Kamu simbol kebenaran bagiku. Aku melakukan itu bukan ingin mengajakmu pacaran, aku hanya ingin berterus terang," jawab Tegar Langgeng dengan kepala merunduk.

"Lalu apa pentingnya buatku kalau hanya soal terus terang? Pria lain banyak yang lebih bernyali dari pada kamu," papar Siti Hayati dengan lantang.

"Aku tidak mengajakmu pacaran karena aku takut melukaimu, aku ingin memilikimu saat aku sudah layak nanti, surat itu aku tujukan biar kamu pandai menjaga hati," jawab Tegar Langgeng dengan suara lembut.

"Kamu siapa berani bilang layak, tiap hari aku naik mobil kamu hanya motor butut, kebun ayahku luas di luar pulau. Kamu apa yang dibanggakan hanya hewan peliharaan milik ayahmu? Mungkin hewan peliharaanmu harganya lebih tinggi biaya pajak keluargaku. Aku nanti mau cari suami kaya,  pengusaha, punya banyak mobil bahkan punya pesawat pribadi, kamu tidak akan mampu," jelas Siti.

"Kenapa hidup selalu soal harta? Aku punya cinta untukmu tidak akan dimiliki pria lain, aku tidak memandang parasmu, hartamu, bahkan selangkanganmu. Aku mencintaimu karena panggilan hati, kamu adalah simbol kebenaran bagiku, aku tidak akan menyalahkanmu, terima kasih banyak kamu mengajariku arti kehidupan," pungkas Tegar Langgeng sambil bergegas meninggalkan Siti Hayati.

"Tegar Langgeng! Tegar Langgeng bangun sudah Subuh segera salat dan siap-siap antarkan Ibu ke pasar!" Ibu Langgeng membangunkan Langgeng.

Tegar Langgeng bangun mengusap kedua matanya dan menampar-nampar wajahnya.

"Alhamdulilah cuman mimpi." Bergegas Tegar Langgeng mengambil wudu.***

 

Baca Juga: [CERPEN] Senja Datang Terlalu Cepat 

Diktator Kampung Photo Writer Diktator Kampung

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya