Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Segelas Kopi

Dia sahabat terburuk yang kumiliki...

Perempuan bermata sipit itu duduk termangu menopang dagunya yang lancip, di sebuah kedai kopi dengan nuansa klasik di pusat kota. Sesekali perempuan itu menengok ke arah jam tangan mungil yang menghias tangannya yang putih bak pualam. Bibir tipisnya yang disapu warna merah itu tertekuk ke depan, ketika dia melihatku.

“Maaf, membuatmu menunggu.” Pintaku basi,

“Kau membuatku menunggu seperti orang gila!” Marah si perempuan bermata sipit itu sambil membuang muka.

“Maafkan aku, kau tahu, jalanan di kota kecil kita sudah semakin dipadati oleh kendaraan roda dua dan roda empat? Aku terjebak di antara kedua jenis kendaraan itu.” Kataku membela diri. Ribi hanya memutar bola mata hitamnya, Sepertinya perempuan bermata sipit itu mulai memaklumi alasanku masuk akal.

Ribi, sahabatku sejak kami sama-sama duduk di bangku kuliah, dia selalu mengisi hari-hariku dengan sifatnya yang hamble dan gaya feminin yang up to date-nya. Entah kenapa tiba-tiba mengajak ketemuan di kedai kopi favorit kami.

“Arti, aku putus dengan Zaki!” Curhatnya tenang, sembari menyeruput café latte kesukaannya. Aku tersedak setelah meneguk sedikit macchiato-ku. Zaki adalah laki-laki yang membuat perempuan berbibir tipis itu berfikir tentang pentingnya pernikahan. Setidaknya Zaki adalah laki-laki pertama yang mengubah cara berfikir Ribi yang parsial, eksentrik tapi modern itu. Aku juga mengakui bahwa Ribi dan Zaki adalah pasangan yang serasi, disamping kesempurnaan fisik yang mereka miliki, mereka juga sama-sama telah sukses meraup karir di usia muda. Aku pun sedikit iri pada kehidupan sahabatku yang nyaris sempurna itu. Sangat disayangkan jika hubungan mereka harus kandas padahal separuh dunia telah mereka miliki. Lantas apa yang membuat pasangan nyaris sempurna itu meretas di tengah jalan?

“Kenapa? Bukankah kalian saling mencintai dan akan melangsungkan pernikahan?” Tanyaku setelah menenangkan kekagetanku.

“Entahlah, cinta saja tidak cukup Arti.” Sergahnya halus seraya mengaduk-ngaduk caffe latenya yang tinggal setengahnya itu. Aku hanya diam memperhatikan mata cantiknya dengan bulu mata yang lebat itu, terlihat sendu.

Setelah kudesak dengan pertanyaan-pertanyaanku yang memojokkannya, akhirnya dia menceritakan alasannya putus dengan laki-laki yang telah mengisi hari-harinya selama satu tahun itu.

“Sebenarnya aku bosan dengan hubungan kami yang monoton, aku ingin ada sesuatu yang mengejutkan, mendebarkan dalam hubungan kami, tapi selama satu tahun ini aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan, Zaki orang yang baik, tapi aku hanya hidup untuk dirinya sendiri, aku tidak menjadi diriku sendiri”. Ceritanya panjang lebar sambil mengaduk caffe latenya.

“Tapi setelah aku berjumpa dengan seseorang, rasanya aku seperti menemukan kembaran diriku. Dia benar-benar membuat hidupku lebih berwarna.” Lanjutnya seraya menyunggingkan seulas senyum. Aku hanya diam mendengarkan kata per kata dari bibir ranum sahabat jelitaku.

“Jadi intinya adalah kau jatuh cinta lagi?”  Celetukku tiba-tiba, membuat kepala gadis jelita itu menoleh ke arahku. Lalu menganggukkan kepalanya bahagia.

“Lalu siapa laki-laki yang telah membuatmu meninggalkan seorang pria bermasadepan cerah itu? Apa penggantinya jauh lebih tampan, lebih kaya raya, lebih segalanya dari Zaki?” Tanyaku antusias. Gadis berkulit putih bersih itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Dia adalah laki-laki yang sederhana, dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Tapi hatinya sungguh luar biasa.” Jawab Ribi. Aku hanya mengernyitkan keningku. Sederhana bukanlah tipe Ribi, Ribi memiliki ekspektasi yang tinggi untuk calon pasangannya. Aku salut pada pria sederhana itu yang telah berhasil memikat seorang Ribi yang memiliki standar hidup tinggi. 

***

Selama dua minggu aku tidak mendengar kabar sahabatku setelah pengakuannya di kedai kopi tempo hari. Di samping itu juga aku disibukkan oleh pekerjaanku sebagai tour guide di sebuah biro perjalanan yang mengharuskanku bolak-balik ke luar kota. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponsel pintarku, kulihat dari Ribi.

‘Aku ingin kita bertemu di tempat biasa jam tiga nanti.’ Aku menghela nafas panjang, aku menereka-nerka apa lagi yang akan Ribi ceritakan pasca putus dari Zaki.

Pukul tiga kurang seperempat aku sudah stand by di kedai kopi langganan kami berdua dan duduk di tempat duduk favorit kami. Kulihat wanita berwajah sedikit oriental bertubuh tinggi semampai, mengenakan rok diatas lutut dan atasan blus putih yang dipadankan dangan cardigan hitam, kontras dengan kulitnya yang seputih susu.

“Hai, kau sudah lama disini?” Tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku gelagapan.

“Tidak, baru seperempat jam yang lalu.” Jawabku menguasai rasa kikuk. Ribi hanya tersenyum, lalu dia memanggil salah satu pelayan dan memesan caffe late kesukaannya.

“Arti, tebak, kabar apa yang akan aku sampaikan padamu?” Sergahnya sambil menjentikkan jari telunjuknya yang lentik.

“Paling kau mendapat promosi jabatan dari atasanmu kan?” jawabku sekenanya. Ribi hanya tertawa mendengar jawabanku. Aku memaklumi jika dia mendapatkan jabatan yang dia inginkan, karena dia sangat pintar, rajin dan dedikasinya tinggi untuk perusahaan. Aku tahu karena Karin, teman kostku juga bekerja di perusahaan yang sama dengan Ribi.

“Tidak, bukan itu Arti, aku akan menikah.” Sergahnya lugas.

“Apa? Menikah?” Kagetku. Sejak aku mengenalnya, Ribi selalu penuh kejutan.

“Kenapa kau sekaget itu? Apa aku tidak pantas untuk menikah?” Guraunya sambil tertawa. Dia selalu tertawa setiap kali aku kaget dan gelisah.

“Dengan si pria sederhana itu?” Tebakku. Ribi hanya tertawa, menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ribi memang tidak pernah terduga, dia dengan tenang menikmati caffe latenya tanpa tahu hatiku begitu penasaran dengan kabar selanjutnya.

“Ya! Aku akan menikah dengan pria sederhana itu. Untuk lebih jelasnya kau baca saja undangan pernikahanku. Tapi maaf Arti, aku tidak akan lama disini, aku harus pergi mengurus rencana pernikahanku.” Katanya.

“Tapi sebelumnya aku ingin minta maaf padamu, karena aku selalu mengalahkanmu!” Bisiknya di telingaku. Ribi berlalu begitu saja tanpa menjelaskan rasa penasaranku. Aku benar-benar tidak bisa lagi menerka jalan pikiran sahabatku itu. Aku membuka undangan pernikahan Ribi, disitu tertulis Ribi Sofhia dengan  Satya Gerhana Putra.

Tanganku gemetar memegang undangan pernikahan sahabatku. Tiba-tiba kata-kata terakhir Ribi sebelum pergi meninggalkan kedai kopi menohok ulu hatiku. Ribi tahu sejak kami sama-sama duduk di bangku kuliah, aku sudah tergila-gila pada Satya yang kala itu adalah teman kampus kami. Ribi bahkan berusaha untuk menjodoh-jodohkan aku dengan Satya. Karena Ribi tahu aku sangat pemalu dalam urusan cinta.

Sejak kami bersahabat, Ribi selalu lebih unggul dariku. Dia selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Kecantikan, harta, jabatan, dan juga cinta. Jujur, pada awalnya aku sama sekali tidak iri padanya, tapi orang-orang di sekeliling kami sering sekali membanding-bandingkan kami. Dan hal itu membuatku sakit hati, semenjak itulah Ribi sering menyuruhku apapun seolah aku ini pengawalnya. Awalnya aku merasa terhina dengan perlakuan Ribi yang semena-mena, tapi melihat apa yang pernah dilakukan keluarga Ribi padaku membuatku merasa berhutang budi.

Aku terpaksa menjadi bayang-bayangnya, pernah suatu ketika kami bertengkar karena suatu hal kecil, akibat sikap kekanak-kanakkannya itu Ribi membullyku secara verbal dengan menyebarkan gosip bahwa aku adalah benalu yang hanya ingin memanfaatkan kekayaannya pada teman-teman kampus. Sehingga aku merasa malu bahkan berhari-hari menangis di kamar mandi. Meskipun beberapa hari kemudian Ribi segera meminta maaf, namun perkataan dan sikapnya membuatku muak. Tak hanya itu saja, Ribi selalu mengambil apapun yang kumiliki, dari mulai perhatian keluargaku, teman-temanku, pekerjaanku dan orang yang kusukai. Seolah dia tidak ingin aku bahagia.

Dan kini Ribi akan menikah dengan Satya, mengingat hal itu tentu saja aku sangat kecewa. Aku memilih lelaki bernama Satya untuk aku cintai. Karena aku tahu Satya bukanlah tipe Ribi. Dilihat dari segi manapun, Satya bukanlah tipenya. Tapi kini semuanya berbalik, dalam hitungan hari Satya akan menjadi suami dari sahabatku sendiri. Aku membenci diriku sendiri, kenapa aku begitu pemalu, sehingga untuk mengungkapkan perasaan pun aku tak mampu. Padahal Satya dan aku sangat dekat, aku merasa bahwa Satya menyukaiku juga. Kenapa Ribi harus memilih Satya? Padahal dia mampu mendapatkan pria manapun yang lebih kaya dan lebih tampan.

Jujur, kebencianku pada Ribi semakin memuncak. Tak terasa air mataku menetes, membasahi macchiatoku yang belum kusentuh. Sepintas aku melihat tanda bibir di gelas caffe late pesanan Ribi. Darahku tiba-tiba berdesir.

***

Dua hari sejak pernikahan Ribi dengan Satya, aku mengajak pasangan pengantin baru itu untuk ketemuan di kedai kopi sore ini, sekaligus mengucapkan salam perpisahan, karena aku akan pergi.

Aku sudah tiba di kedai kopi favorit kami setengah jam yang lalu, begitu Ribi dan suaminya datang aku mencoba untuk tersenyum, kulihat Ribi semakin cantik, dengan balutan dress selutut berwarna merah maroon, begitu juga dengan Satya, begitu gagah dengan kemeja dan jeans birunya, meskipun telah menikah dengan wanita secantik Ribi, gaya busananya tidak berubah. Aku menatap iri pada sepasang suami istri itu.

“Hai Arti” Sapa Ribi sambil mencium pipi kanan dan kiriku. Satya hanya tersenyum sambil membungkukkan kepalanya sopan.

“Aku sudah memesan kopi kalian.” Sergahku pada mereka.

“Ribi dengan caffe latenya dan Satya dengan caffucinno  ice, betulkan?” Lanjutku. Satya hanya mengangguk tersenyum. Kulihat ekspresi Ribi sedikit berubah.

“Sepertinya kau tahu banyak tentang suamiku.” Cetus Ribi sedikit sinis ke arahku. Aku dan Satya besitatap kaget.

“Tentu saja, Satya adalah temanku juga. Mungkin sekarang kau lebih tahu banyak tentangnya.” Kataku halus, mencoba mencairkan suasana hati Ribi yang cemburu.

“Tentu saja, aku kan istrinya” Sergah Ribi agak ketus, sambil menggamit lengan Satya mesra. Aku sedikit risih melihatnya.

“Oke, sebenarnya aku mengundang kalian kemari untuk berpamitan, kalau aku akan tinggal di Bali, selamanya.” Kataku memecah keheningan. Ribi dan Satya kaget mendengar keputusanku.

“Kau serius?” Tanya Ribi setengah tak percaya. Aku hanya menganggukkan kepala, pasti. Kulihat air muka Ribi berubah panik.

“Kenapa mukamu berubah gelisah?” Tanyaku menangkap ekspresi Ribi. Ribi kemudian mengubah kekagetannya dengan senyum manisnya yang palsu.

“Tidak, aku hanya berfikir kalau aku nanti akan kesepian disini.” Jawabnya.

“Kau tidak akan kesepian, bukankah Satya selalu ada disampingmu?” Balasku lagi.

“Ya tentu, kalau begitu, semoga kau sukses disana dan menikahlah, karena sendirian itu sangat tidak enak!” Lanjut Ribi lagi, seraya mengangkat gelas caffe latenya dan meminumnya. Akupun meminum kopiku yang hampir dingin, sambil sesekali melihat ekspresi panik Ribi.

Aku tahu kalau obsesi Ribi adalah membuatku jatuh dan terpuruk. Dia sejatinya bukanlah sahabatku, dia hanya ingin membuat hidupku tidak bahagia. Aku sudah mengenalnya sejak dulu, bahwa Ribi mengalami gangguan narsistik yang parah, dia tidak ingin aku yang memiliki standar dibawahnya mengunggulinya dalam hal apapun juga, maka dari itu dia selalu mengambil apapun yang menjadi milikku. Dan aku merasa kalau Ribi adalah sahabat yang buruk.

***

Aku meninggalkan pasangan pengantin baru itu dan melenggang bebas keluar kedai kopi sambil menatap langit yang biru. Kulihat dari kejauhan Ribi melempar gelas kopi ke lantai, sedangkan Satya mencoba menenangkannya. Aku tahu Ribi hanya memanfaatkan Satya untuk membuatku sakit hati lebih dalam.

Aku tersenyum, misi balas dendamku berhasil, mengenai Satya, aku hanya pura-pura menyukainya, aku justru membantu Satya untuk membuat skenario ini, karena Satya sangat tergila-gila pada Ribi. Cocok, kan?

***

 

Tasikmalaya, 24 Mei 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Setan-Setan di Kepala Saya

Asih Purwanti Photo Verified Writer Asih Purwanti

Bukan Siapa-Siapa

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You