Comscore Tracker

[CERPEN] Kisi Hati Ayas

Ayas merasa dirinya belum siap...

Matahari sudah tergelincir di ufuk sebelah barat, Ayas tengah berjalan menuju tempat kostnya yang kumuh dan jauh dari hingar bingar jalanan ibu kota setelah dirinya seharian berkutat dengan rutinitas kerja yang mengikat.

Setelah selesai mengguyur tubuh lelahnya, Ayas merebahkan diri di kasur yang sebagian isinya sudah menipis. Dirinya mengingat perkataan bosnya ketika briefing tadi pagi, bahwa perusahaan tempatnya bekerja kini tengah dalam kondisi pailit dan ada kemungkinan untuk ditutup dalam waktu dekat.

Ayas menghela napas panjang, dirinya berpikir untuk kembali ke kampung halaman setelah lima tahun bergulat dengan kerasnya kehidupan ibu kota. Namun, entah apa yang akan dia lakukan di kampung halamannya nanti, entah itu mencari pekerjaan lagi atau berwiraswasta. Dirinya semakin pesimis mendengar dulu hampir semua teman-teman sepermainan di kampung halamannya sering sekali meminta info lowongan kerja.

Apakah kini mencari pekerjaan di kampung halaman sudah sedemikian sulit? Apalagi dirinya memiliki stuttering* yang sudah diidapnya sejak masih kecil. Dirinya bahkan pernah mengalami berbagai penolakan ketika melamar pekerjaan, sampai akhirnya dia diterima di perusahaan yang sekarang. Ayas memijat kepalanya yang tiba-tiba pening.

Dalam kondisi mengantuk, ponsel Ayas berbunyi, sebuah nomor tidak dikenal yang mengaku sebagai Nawang. Dalam chat WhatsApp, Nawang mengatakan ada seorang perempuan yang menyukainya dan hendak memintanya untuk bertaaruf.

“Apa lagi ini?” Kata Ayas sambil tangannya tak henti memijat kepalanya yang semakin sakit. Ayas mencoba untuk tak mengindahkan chat WhatsApp dari seseorang yang bernama Nawang itu namun dalam hati dia juga tidak bisa lepas dari rasa penasaran tentang sosok perempuan yang menyukainya, jika yang dikatakan Nawang serius, lalu siapa perempuan yang menyukainya itu?

**

Di kantor, Ayas tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, bahkan berkali-kali dia ditegur oleh rekan kerjanya karena mengulang-ulang kesalahan. Pikirannya dipenuhi oleh identitas perempuan yang diam-diam menyukainya itu. Sudah lama dia tidak pernah lagi merasakan perasaan jatuh hati atau perasaan rindu terhadap seseorang, sekarang perasaan itu hadir lagi tanpa diduga dan anehnya perasaan itu entah ditujukan untuk siapa.

Di sela-sela istirahat, Ayas mencoba untuk membalas pesan serta menebak setiap clue yang diberikan oleh Nawang. Nomor kontak perempuan di ponselnya selain adik dan sepupunya hanya ada beberapa, namun komunikasi yang terjalin juga tidak terlalu intens. Tapi ada satu orang perempuan yang mendekati clue yang diberikan Nawang, Raya, apakah dia?

Ayas mencoba menyebut nama Raya dan tebakannya ternyata benar. Raya adalah temannya sejak masih duduk di bangku SMA hanya saja mereka berbeda kelas. Sejak SMA Ayas tidak terlalu dekat dengan Raya hanya sesekali mengobrol itu juga seputar pelajaran, tidak lebih. Bahkan Ayas dan Raya tidak pernah bertemu lagi pasca kelulusan SMA, dirinya kembali berkomunikasi dengan Raya saat di media sosial dan obrolannya pun hanya obrolan biasa.

Tapi Ayas mengapresiasi keberanian Raya untuk jujur pada perasaannya, bagi Ayas dirinya tidak merasa pantas mendapatkan perasaan itu dari seorang perempuan. Rasa minder akibat stuttering yang dideritanya membuatnya tidak percaya diri untuk sekadar memberi atau menerima perasaan berharga seperti rasa suka, rindu atau bahkan cinta.

Tapi di sisi lain ada kebanggaan dan rasa senang yang hadir di sela-sela hati Ayas, bahwa dirinya ternyata masih disukai oleh perempuan.

Setiap pulang bekerja, Ayas menyempatkan waktu untuk sekedar menatap ponsel, melihat-lihat status apa yang diposting oleh Raya di media sosial, meskipun sebenarnya Ayas masih ragu dengan perasaannya sendiri.

Chat WhatsApp dari Nawang sudah lama diabaikannya, bukannya dia terganggu, tapi Ayas tak kuasa menjawab rentetan pertanyaan dari Nawang seperti, apakah dirinya tertarik dengan Raya? Apakah dirinya bersedia mengirimkan CV taaruf, apakah dirinya sudah siap untuk menikah dan apakah-apakah lainnya yang tidak kuasa Ayas jawab.

Setiap hari Ayas dihadapkan dengan masalah pekerjaannya yang sudah diujung tanduk, rekan-rekan kerjanya yang lain sudah mengundurkan diri bahkan ada yang pulang ke kampung halaman.

Masa depan baginya masih abu-abu, apalagi dirinya memiliki tiga adik yang masih sekolah, orangtuanya juga pasti membutuhkan bantuannya untuk ikut serta membiayai pendidikan ketiga adiknya, sebagai kakak dan seorang anak pastinya dirinya berkewajiban untuk membantu meringankan biaya pendidikan bahkan biaya hidup keluarganya.

Baginya pernikahan adalah sesuatu yang sulit dijangkau, meskipun dalam lubuk hati Ayas yang paling dalam, dirinya juga ingin segera menikah. Karena menikah adalah bentuk ibadah dan ketaatan kepada Tuhan.

**

Sudah hampir satu bulan sejak Nawang menghubungi Ayas atas permintaan Raya, namun Ayas sama sekali tidak pernah lagi membalas chat WhatsApp dari Nawang. Dalam hati Ayas merasa bersalah pada Raya yang dengan serius dan menggadaikan rasa malunya sebagai perempuan untuk mengungkapkan perasaannya pada dirinya. Ayas benar-benar merasa terenyuh, tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

Di sisi lain Ayas ingin mengatakan bahwa dirinya belumlah siap mengarungi pernikahan dalam waktu dekat, namun hati kecilnya merasa takut kehilangan seseorang yang sangat tulus menyukainya. Jika Ayas mengungkapkan perasaannya pada Raya berarti dia harus sudah siap untuk menikah, sedangkan dirinya masih kekanak-kanakkan, masih plin plan dan merasa belum pantas meskipun usianya sudah dewasa.

Bagi Ayas, dirinya sudah lebih dari cukup hanya sekedar menikmati setiap postingan Raya di media sosial, tanpa mengetahui bahwa Ayas secara tidak sadar telah menggantungkan perasaan orang lain.

Perasaan galau yang tak berkesudahan membuat Ayas sering melamun dan tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya, dirinya sudah merasa lelah dan merasa sendirian, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk sekedar mencurahkan perasaan atau menedengarkan dirinya bercerita. Dirinya terlalu malu dan merasa tidak berguna.

Hal yang membuatnya khawatir akhirnya menjadi kenyataan, pagi-pagi sekali setelah dirinya hendak bersiap-siap sarapan, ponselnya berbunyi dan terlihat nama Raya tertera di layar. Jantung Ayas berdebar-debar, dirinya memberanikan diri untuk membuka pesan WhatsApp dari teman SMA-nya itu. Isinya membicarakan kekecewaan Raya terhadapnya karena tidak pernah merespon atau sekadar menjawab pertanyaan yang diajukan Nawang, padahal Raya serius dengan maksudnya.

Dengan berat hati Raya pun menghentikan rencananya untuk bertaaruf dengan Ayas, karena merasa dirinya digantungkan terlalu lama, menurut Raya, kemungkinan Ayas tidak tertarik padanya dan hal itu tidak bisa dipaksakan.

Tetiba mata Ayas berkaca-kaca, entah bagaimana bentuk perasaannya itu kini. Ayas merutuki kebodohannya sendiri, dirinya benar-benar menjadi seorang pecundang karena telah tega membuat anak berharga orang lain menunggu tanpa kepastian. Karena rasa bersalah yang besar, Ayas memutuskan untuk menutup akun media sosialnya termasuk WhatsApp.

**

Hari-hari Ayas menjadi hampa, namun dirinya mencoba untuk survive meskipun dirinya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hatinya. Ayas menyibukkan diri dengan bekerja keras sepanjang hari, pagi sampai sore hari dirinya bekerja di kantor, sorenya sepulang dari kantor, Ayas bekerja sebagai tukang ojek online sampai malam hari.

Dalam hati Ayas yang paling dalam dirinya berharap untuk bisa mengubah nasibnya yang sulit menjadi sedikit lebih sukses, dirinya juga ingin segera merasakan bahagia yang sama seperti halnya orang lain rasakan. Ayas melihat langit sore yang sedikit mendung, dirinya mencoba memejamkan mata dan merapal harap serta doa.***

Tasikmalaya, 18-11-19

 

*Gangguan komunikasi

Baca Juga: [CERPEN] Kemelut Hati Raya

Asih Purwanti Photo Verified Writer Asih Purwanti

Bukan Siapa-Siapa

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You