Comscore Tracker

6 Tahapan Masalah Mental yang Bisa Terjadi Berdasarkan Usia

Tiap usia punya kerentanannya sendiri

Rasanya lebih banyak yang memprioritaskan kesehatan fisik ketimbang mental. Padahal, kesehatan mental itu sama pentingnya pada berbagai usia.

Dilansir Mental Health Foundation, melihat statistik, masalah mental bisa mulai dialami sejak masa kanak-kanak. Sebanyak 20 persen remaja mungkin mengalami masalah mental pada tahun tertentu. Masalah mulai terbentuk pada usia 14 tahun, dan sebanyak 75 persen pada usia 24 tahun.

Yang menyita perhatian adalah 70 persen anak-anak dan remaja yang mengalami masalah mental belum mendapatkan intervensi yang tepat pada usia yang cukup dini.

Seperti yang disinggung di atas, gangguan mental akan terus berkembang seiring bertambahnya usia. Akan ada tahapan sesuai dengan kenyataan hidup yang akan dilalui, seperti enam tahapan ini.

1. Anak-anak dan praremaja: kecemasan, trauma dan ketakutan

6 Tahapan Masalah Mental yang Bisa Terjadi Berdasarkan Usiailustrasi anak (pexels.com/MatheusBertelli)

Tahapan usia anak hingga praremaja adalah usia di mana manusia sudah mulai mengenal dunia yang lebih luas. Makanya, anak-anak sudah seharusnya belajar bagaimana menavigasi dunianya sendiri. Jika mereka mengalami kesulitan dengan itu, mereka bisa mengalami kecemasan.

Pada tahapan usia ini, anak juga mungkin sudah berjuang melawan rasa malu, dipisahkan dari orang tua, atau harus mandiri. Pada tahapan inilah anak-anak belajar menghadapi masalah hingga menghindari apa yang membuat mereka takut, seperti tugas sekolah atau binatang seperti anjing dan sebagainya.

2. Remaja usia 14 hingga 18 tahun: kecemasan, terutama kecemasan sosial

6 Tahapan Masalah Mental yang Bisa Terjadi Berdasarkan Usiailustrasi remaja sedang main smartphone (pexels.com/Pixabay)

Usia ini adalah tahapan di mana manusia umumnya sudah mengalami pubertas, sehingga remaja tentu berusaha menunjukkan atau mencari tahu jati dirinya. Otak manusia pada usia ini juga belum berkembang sepenuhnya sampai usianya mencapai sekitar 25 tahun, terutama fungsi eksekutif.

Hal itu membuat remaja kurang bisa mengendalikan emosinya, termasuk kecemasan. Salah satu kecemasan yang banyak dialami oleh remaja adalah kecemasan sosial, ketakutan, dan terkadang berusaha menjauh dari situasi yang ramai.

Alasan klasiknya adalah, para remaja mengira bahwa semua orang memperhatikan mereka, tetapi kenyataannya, bukan itu masalahnya. Masalahnya hanya mereka terlalu peduli dengan apa yang orang lain akan katakan.

Baca Juga: Manfaat Berdoa bagi Kesehatan Fisik dan Mental, Bisa Tenangkan Hati

3. Dewasa muda usia 18 hingga 25 tahun: kecemasan, gangguan bipolar, skizofrenia

6 Tahapan Masalah Mental yang Bisa Terjadi Berdasarkan Usiailustrasi kecemasan (pexels.com/KatJayne)

Dengan beberapa kondisi kesehatan mental, khususnya gangguan psikotik, ada komponen genetik atau biologis yang memiliki pengaruh dalam menyebabkan stres kehidupan. Selain itu, tentunya perkembangan otak orang dewasa muda dapat membuat mereka lebih berisiko.

Perilaku lain, seperti merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang, dapat memicu psikosis yaitu suatu gangguan mental yang ditandai dengan putusnya koneksi dari kenyataan.

Bercermin ke hal lainnya, misalnya tuntutan sosial dan kehidupan yang meningkatkan risiko gangguan mental. Baik itu lingkungan, media sosial yang bisa menyebabkan seseorang merasa insecure, hingga tuntutan pekerjaan atau pernikahan bisa jadi penyebab.

4. Usia 25 hingga 40 tahun: kecemasan, depresi, dan depresi pascapersalinan

6 Tahapan Masalah Mental yang Bisa Terjadi Berdasarkan Usiailustrasi depresi (pexels.com/Daria Shavtsova)

Pada usia 30-an, perasaan depresi telah banyak dialihkan oleh kecemasan. Kecemasan yang dimaksud adalah keadaan berorientasi masa depan yang mengkhawatirkan, yang ditandai dengan pemikiran "bagaimana jika".

Jadi, orang-orang yang berada di tahap usia ini cenderung sangat berorientasi pada masa depan karena mereka melihat sebagian besar hidup mereka jauh di depan. Depresi yang timbul umumnya dicirikan oleh pemikiran yang merenungkan hal buruk. Saat itulah orang dewasa mulai curiga ataupun khawatir dengan hal-hal yang tidak terjadi seperti yang mereka inginkan.

Stresor (pemicu stres), seperti kehilangan pekerjaan, juga dapat memicu depresi, seperti halnya memiliki bayi. Menurut laporan dalam jurnal JAMA tahun 2010, sekitar satu dari tujuh perempuan dan 10 persen ayah menderita depresi pascapersalinan.

5. Tahap dewasa tua usia 41-50 tahun: depresi hingga bunuh diri

6 Tahapan Masalah Mental yang Bisa Terjadi Berdasarkan Usiailustrasi pemakaman (pexels.com/BrettSayles)

Usia ini adalah usia paling matang seseorang, yang mana telah memiliki banyak pengalaman bahkan telah memiliki segudang kisah hidup untuk dibagikan. Namun, orang dewasa yang berusia 40 hingga 59 tahun memiliki tingkat depresi tertinggi, terutama perempuan, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Kelompok usia ini juga memiliki tingkat bunuh diri tertinggi, berdasarkan American Foundation for Suicide Prevention. Mengapa? Peristiwa traumatis (kecelakaan atau perceraian) bisa memicu depresi. Begitu juga dengan mengkhawatirkan anak-anaknya akan bagaimana masa depannya kelak.

6. Tahap tua hingga lansia: depresi hingga demensia

6 Tahapan Masalah Mental yang Bisa Terjadi Berdasarkan Usiailustrasi lansia (pexels.com/CraigDennis)

Orang berusia di atas 50-an ke atas lebih cenderung menghadapi peristiwa yang memicu depresi, seperti kematian pasangan. Juga, kondisi tubuh yang semakin tua menjadi masalah akibat masalah kesehatan sampai pola hidup yang tidak teratur di masa lalu.

Semakin tua seseorang, maka masalah akan semakin klimaks. Seperti kehilangan nafsu makan, masalah tidur, energi yang semakin melemah. Seiring bertambahnya usia, para lansia memiliki lebih banyak masalah medis dan mereka mungkin juga memiliki lebih banyak mengalami isolasi sosial.

Selain itu, ada hubungan antara depresi di kemudian hari dan demensia yang memiliki masalah perilaku seperti mudah tersinggung, cemas, dan paranoia seiring perkembangannya.

Lalu apa yang bisa membantu kondisi ini? Tentunya peran anak-anaknya sangat dibutuhkan. Ada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior and Social Networking tahun 2016 yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat mencegah kesepian dan meningkatkan kesehatan fisik dan mental di antara mereka yang berusia di atas 65 tahun.

Nah, itulah klasifikasi masalah mental yang bisa dialami sesuai tahapan usia. Bila kamu mengalami masalah kesehatan mental, jangan pernah malu untuk konsultasi ke profesional seperti psikolog atau psikiater. Mereka bisa membantu menemukan penyebab dan memberi penanganan tepat sebelum kondisi memburuk dan terlambat untuk ditangani.

Baca Juga: Ini Dampak Aplikasi Kencan Online pada Kesehatan Mental

Basri W Pakpahan Photo Verified Writer Basri W Pakpahan

Menulis untuk Memperbaiki Diri

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya