Comscore Tracker

6 Efek Buruk Menurunkan Berat Badan secara Drastis dalam Waktu Singkat

Menurunkan berat badan harus perlahan

Memiliki berat badan ideal menjadi dambaan bagi sebagian orang. Sebab berat badan yang sehat membantu menurunkan risiko beberapa masalah kesehatan. Namun, tak sedikit orang yang ingin mendapatkan hasil signifikan dalam waktu singkat.

Meskipun terlihat menggiurkan, penurunan berat badan secara cepat ternyata tidak disarankan. Sebab, hal ini dapat mengganggu fungsi normal tubuh sehingga meningkatkan risiko masalah kesehatan. Berikut penjelasan tentang efek buruk menurunkan berat badan secara drastis dalam waktu singkat. 

1. Kehilangan nutrisi penting

6 Efek Buruk Menurunkan Berat Badan secara Drastis dalam Waktu Singkatilustrasi diet ekstrem (unsplash.com/Thought Catalog)

Beberapa metode diet menyarankan agar kita membatasi kelompok makanan tertentu untuk menurunkan berat badan. Akan tetapi, tubuh tetap membutuhkan asupan lemak, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral dalam jumlah tertentu untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Ketika seseorang membatasi asupan kelompok makanan tertentu, maka ia akan kehilangan nutrisi diperlukan tubuh.

Seperti dicontohkan Cleveland Clinic, seseorang yang tidak mengonsumsi kelompok makanan jenis karbohidrat atau produk susu akan meningkatkan risiko masalah pencernaan seperti konstipasi, kelelahan, kepadatan tulang menurun, hingga kerontokan rambut. Diet harus mengandung berbagai jenis makanan sehat dan utuh. Selain itu, jumlah kalori yang dikurangi tidak boleh melebihi 500 kalori per hari.

2. Menurunkan metabolisme tubuh

6 Efek Buruk Menurunkan Berat Badan secara Drastis dalam Waktu Singkatilustrasi diet ketat (pexels.com/Engin Akyurt)

Dilansir Healthline, penurunan berat badan dalam waktu singkat biasanya terjadi karena kekurangan kalori secara ekstrem. Ini membuat tubuh menganggap pasokan makanan terbatas dan masuk ke dalam mode kelaparan.

Ketika tubuh berada dalam mode kelaparan, maka metabolisme menjadi lambat dengan tujuan untuk menghemat energi. Makin banyak berat badan yang berkurang dalam waktu singkat, maka metabolisme tubuh kian melambat. Akibatnya, kesehatan pencernaan kita pun akan menjadi korban.

Maka dari itu, jumlah asupan kalori yang dikurangi tidak boleh lebih dari 500 kalori per hari. Kebanyakan orang berat badannya turun sekitar 0,5 kilogram dalam seminggu ketika mereka mengurangi mengonsumsi 500 kalori per hari, yang diimbangi dengan diet dan olahraga. Meskipun penurunan berat badan tidak langsung terlihat, tetapi hasil yang didapatkan bisa lebih bertahan lama.

Baca Juga: Studi: Menurunkan Berat Badan Kurangi Risiko Osteoartritis Lutut

3. Diet yang dijalankan akan gagal

6 Efek Buruk Menurunkan Berat Badan secara Drastis dalam Waktu Singkatilustrasi makan berlebih (pexels.com/Gustavo Fring)

Ketika penurunan berat badan terjadi cepat, proses selanjutnya menjadi semakin sulit. Mengurangi terlalu banyak kalori secara cepat dapat mengganggu produksi leptin, yaitu hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, mengutip penjelasan Healthline.

Normalnya, ketika kita sudah mengonsumsi makanan dengan jumlah cukup, hormon leptin akan memberi tahu otak bahwa tubuh sudah kenyang. Sementara itu, diet dengan sangat rendah kalori menyebabkan hormon leptin terganggu sehingga keinginan makan menjadi lebih besar. Akibatnya, nafsu makan menjadi meningkat dan cenderung makan berlebihan.

4. Kehilangan massa otot

Diet ketat memang bisa menunjukkan hasil penurunan berat badan yang signifikan pada banyak orang. Namun, berat badan yang berkurang ini tak hanya karena hilangnya lemak, tapi juga massa otot.

Ketika massa otot berkurang, penurunan berat badan akan menjadi lebih sulit karena otot mampu membakar lebih banyak kalori, mengutip penjelasan Cleveland Clinic. Sebaliknya, penurunan berat badan secara perlahan disertai olahraga membuat tubuh membakar lemak secara perlahan dengan tetap mempertahankan massa otot.

5. Mengalami dehidrasi

6 Efek Buruk Menurunkan Berat Badan secara Drastis dalam Waktu Singkatilustrasi minum air (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Metode penurunan berat badan tertentu seperti diet rendah karbohidrat bisa menunjukkan hasil yang signifikan secara cepat, kira-kira selama 1 hingga 2 minggu pertama. Namun, berat badan yang berkurang tersebut berasal dari jumlah air yang hilang dari tubuh.

Healthline menjelaskan bahwa kehilangan jumlah air menyebabkan seseorang mengalami dehidrasi. Masalh ini akan menimbulkan berbagai efek samping, seperti konstipasi, sakit kepala, nyeri otot, hingga energi yang menurun.

Beberapa orang terlalu fokus terhadap mengatur pola makan ketika baru memulai diet, namun mengabaikan asupan air. Maka dari itu, ketika melakukan perubahan pola makan, pastikan mencukupi kebutuhan cairan.

6. Masalah batu empedu

6 Efek Buruk Menurunkan Berat Badan secara Drastis dalam Waktu Singkatilustrasi nyeri perut (freepik.com/freepik)

Seseorang yang menjalani penurunan berat badan secara cepat atau dalam jumlah besar meningkatkan risiko terjadinya batu empedu. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menjelaskan, penurunan berat badan dalam waktu cepat membuat kantung empedu tidak dapat mengosongkan dengan baik.

Sementara itu, penurunan berat badan secara bertahap dapat mencegah terjadinya masalah batu empedu. Dilansir WebMD, orang yang menurunkan berat badan secara perlahan, yaitu sekitar 0,5 kilogram dalam waktu seminggu, lebih jarang mengalami batu empedu.

Menurunkan berat badan memang disarankan, terutama bagi orang yang mengalami obesitas. Namun, jangan mengharapkan proses yang instan dan cepat. Faktanya, penurunan berat badan secara cepat dalam waktu singkat justru akan mendatangkan lebih banyak masalah. Pakar kesehatan lebih menyarankan menurunkan berat badan secara perlahan sehingga tidak mengganggu fungsi normal tubuh. 

 

Baca Juga: Kenapa Penurunan Berat Badan Membantu Kurangi Risiko Penyakit Jantung?

Dewi Purwati Photo Verified Writer Dewi Purwati

Health enthusiast

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya