Comscore Tracker

5 Mitos Douching, Membersihkan Vagina dengan Menyemprotkan Cairan 

Amankah douching atau justru menimbulkan masalah? 

Pernah gak kamu melakukan vaginal douching? Sebuah praktik membersihkan vagina dengan menyemprotkan atau membilas vagina menggunakan air atau cairan khusus yang mengandung soda kue, cuka, yodium, dan parfum?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seperti dilansir Women’sHealth, douching digambarkan sebagai penembakan bertekanan atau pemompaan larutan air (atau gel douching) ke dalam vagina. Praktik ini sangat umum di dunia, yang dimaksudkan untuk menjaga kebersihan vagina dan mencegahnya dari penyakit seksual berbahaya.

Douching tidaklah sama dengan praktik membersihkan bagian luar vagina seperti yang kita lakukan saat mandi. Membilas bagian luar vagina tidak membahayakan, tetapi douching justru sebaliknya.

Berdasarkan penelitian, vaginal douching ternyata memiliki banyak risiko kesehatan yang lebih besar daripada manfaatnya itu sendiri. Apa saja mitos mengenai douching yang paling banyak dipercaya? Inilah ulasannya.

1. Mitos #1 : Douching dapat menghilangkan gejala genital, seperti bau tidak sedap, keputihan, nyeri atau gatal pada vagina 

5 Mitos Douching, Membersihkan Vagina dengan Menyemprotkan Cairan ilustrasi douching untuk meredakan gejala genital (pixabay.com/Victoria_Borodinova)

Faktanya, douching tidak bekerja untuk menghilangkan bau, keputihan, nyeri, atau gatal pada vagina. Douching berfungsi hanya menyembunyikan bau untuk sementara dan tidak menghilangkannya.

Adanya gejala genital pada vagina bisa menjadi tanda infeksi bakteri, infeksi kandung kemih, atau penyakit menular seksual. Melakukan douching justru dapat memperburuk kondisinya.

Apalagi jika kamu memiliki infeksi vagina sebelumnya, douching dapat mendorong infeksi tersebut masuk ke dalam sistem reproduksi lain, seperti Rahim, saluran tuba, dan ovarium, yang pada akhirnya bisa menjadi pemicu penyakit radang panggul, yaitu kondisi kronis yang dapat menyebabkan infertilitas atau bahkan kematian jika tidak segera diobati.

Ketika kamu mengalami geala-gejala genital tersebut, sebaiknya segera menemui dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Infeksi bakteri dapat diatasi dengan pengobatan.

2. Mitos #2 : Douching dapat membersihkan bagian dalam vagina

5 Mitos Douching, Membersihkan Vagina dengan Menyemprotkan Cairan ilustrasi vagina (pexels.com/Cliff Booth)

Vagina adalah salah satu organ seksual yang dirancang bisa membersihkan dirinya sendiri. Mereka menghasilkan sekresi alami yang membawa darah menstruasi, sel-sel tua, dan materi lain keluar dari vagina untuk mempertahankan kebersihan dan kesehatan vagina.

Tak hanya itu, di dalam vagina juga terdapat ekosistem bakteri ‘baik’ dan ‘jahat’ yang seimbang yang membantu lingkungan vagina tetap asam. Di mana kondisi ini baik untuk melindungi vagina dari infeksi atau iritasi.

Melakukan praktik douching untuk membersihkan bagian dalam vagina dapat menghilangkan bakteri normal dalam vagina dan mengubah pH atau keasaman vagina. Ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan memicu pertumbuhan bakteri ‘jahat’ berlebih, yang pada gilirannya meningkatkan risiko infeksi jamur maupun bakteri.

Baca Juga: 5 Cara Merawat Miss V atau Vagina agar Tetap Sehat

3. Mitos #3 : Douching setelah berhubungan seks dapat mencegah penularan penyakit menular seksual (IMS)

5 Mitos Douching, Membersihkan Vagina dengan Menyemprotkan Cairan ilustrasi (freepik/wayhomestudio)

Pada sebuah studi dalam American journal of Obstretics and Gynecology tahun 2008, yang berjudul “Does Douching Increase Risk for Sexually Transmitted Infection? A Perspective Study in High-Risk Adolescents”, menjelaskan bahwa banyak wanita yang menggunakan douching untuk membersihkan vagina setelah berhubungan seksual dan mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS). Tetapi, douching justru dapat meningkatkan risiko bakterial vaginosis dan IMS.

Dalam studi lain, yang dimuat dalam jurnal Obstetrics and Gynecology, juga dilaporkan douching dapat meningkatkan risiko mengembangkan klamidia serviks. Ini adalah infeksi menular seksual paling umum, yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis.

4. Mitos #4 : Douching setelah berhubungan seks juga dapat membantu mencegah kehamilan

5 Mitos Douching, Membersihkan Vagina dengan Menyemprotkan Cairan ilustrasi tes kehamilan (pexels.com/cottonbro)

Ini adalah ide yang sangat buruk yang harus segera kamu lupakan. Pasalnya, douching setelah berhubungan seksual justru bisa mendorong sperma masuk ke dalam Rahim lebih cepat daripada proses yang seharusnya. Lagi pula, sperma juga memiliki pergerakan yang sangat cepat menuju Rahim, yang bahkan mungkin sudah mencapai Rahim sebelum mulai melakukan douching.

Dalam kehamilan, douching juga sering kali dikaitkan terhadap masalah kehamilan ektopik (sel telur yang sudah dibuahi menempel di luar Rahim), kelahiran prematur, dan berat badan bayi lahir yang rendah. Douching juga disebut sebagai penyebab utama infertilitas sekunder, yaitu kondisi di mana pasangan yang telah berhasil hamil di masa lalu tidak lagi dapat hamil.

5. Mitos #5 : Douching dapat mengobati infeksi

5 Mitos Douching, Membersihkan Vagina dengan Menyemprotkan Cairan ilustrasi buang air kecil (pixabay.com/bzndenis)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, teknik douching justru dapat menyebarkan infeksi pada vagina. Selain itu, bahan kimia pada cairan yang digunakan dalam douche juga berisiko untuk mengiritasi kulit atau menciptakan sensasi terbakar pada kulit. Ini justru akan membuat infeksi menjadi lebih buruk dan rentan terhadap infeksi baru.

Vaginal douching bukanlah cara yang aman dan efektif untuk membersihkan vagina. Jika kamu ingin menjaga kebersihan dan kesehatan vagina, kamu bisa melakukan beberapa praktik kebersihan, seperti membasuh bagian luar vagina dengan air hangat saat mandi, menghindari tampon, pembalut, bedak, atau semprotan beraroma lainnya karena dapat meningkatkan risiko infeksi.

Baca Juga: Dear Ladies, Ini 7 Bahaya Douching Vagina yang Harus Kamu Tahu

Dwi wahyu intani Photo Verified Writer Dwi wahyu intani

@intanio99

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Indiana Malia
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya