Comscore Tracker

Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!

Segera terapkan agar trauma tidak berlarut-larut

Setiap orang bisa mengalami trauma setelah menghadapi suatu peristiwa menakutkan. Namun, pada anak, jika mereka mengalami peristiwa traumatis, mereka akan lebih membutuhkan dukungan orang dewasa segera setelah peristiwa traumatis tersebut.

Reaksi terhadap peristiwa traumatis tidak selalu terjadi saat itu juga, kadang bisa terjadi beberapa saat atau lama setelahnya. Itulah sebabnya anak-anak butuh dukungan pada hari-hari dan minggu-minggu atau bulan-bulan sesudah mengalami peristiwa traumatis. 

Anak-anak dari segala usia membutuhkan bantuan untuk mengatasi dan pulih dari peristiwa traumatis pada hari-hari dan minggu-minggu sesudahnya. Di bawah ini telah dirangkum dari laman Child Mind Institute dan Raising Children Network mengenai cara mengatasi trauma pada anak sesuai usianya.

1. Cara membantu anak usia 0-2 tahun

Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!ilustrasi bayi sedang menangis (pexels.com/William Fortunato)

Bayi akan bereaksi sesuai dengan emosi orang di sekitarnya. Jika kamu tetap tenang, bayi juga akan merasa aman. Sebaliknya, jika kamu panik, bayi lebih mungkin menjadi rewel, sulit ditenangkan, susah makan dan tidur, serta bertindak menarik diri.

Berikut ini hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu anak usia 0-2 tahun dalam menghadapi peristiwa traumatis:

  • Sebisa mungkin tetaplah bertindak tenang. Bahkan, meskipun kamu merasa cemas, bicaralah dengan bayi dengan suara yang menenangkan.
  • Tetap penuhi kebutuhan bayi secara konsisten. Misalnya, jika bayi masih mendapatkan ASI, maka ibu tetap harus menyusui. Ini penting agar bayi tetap sehat dan terhubung dengan ibu atau orang yang mengasuhnya.
  • Tatap mata bayi, tersenyumlah padanya, dan berikan sentuhan. Kontak mata, sentuhan, dan kehadiran ibu membantu menjaga keseimbangan emosi bayi.

2. Cara membantu anak usia 2-5 tahun

Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!ilustrasi balita sedang menangis (unsplash.com/arwansutanto)

Setelah peristiwa traumatis, anak-anak pada usia ini mungkin tidak mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. Beberapa anak mungkin mengungkapkan perasaan melalui permainan atau perilaku seperti tantrum.

Anak-anak dalam kelompok usia ini mungkin juga kurang bermain atau kreatif setelah peristiwa traumatis. Mereka juga biasanya merespons situasi sesuai dengan bagaimana reaksi orangtua.

Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk membantu anak di usia ini merasa lebih baik setelah mengalami peristiwa traumatis:

  • Buat anak merasa aman dengan menyentuh dan memeluk anak sesering mungkin. Katakan kepadanya bahwa kamu ada bersamanya dan akan menjaganya.
  • Pertahankan rutinitas sebisa mungkin. Cobalah untuk melakukan hal-hal yang selalu kamu lakukan dengan anak-anak, seperti bangun dan tidur di jam yang sama, makan tepat waktu, berdoa, dan sebagainya.
  • Jika peristiwa traumatis yang mereka alami ada dalam berita, jangan mengekspos anak-anak ke berita tersebut. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa gambar yang mereka lihat di berita tidak terjadi lagi dan lagi. Mereka juga tidak boleh mendengarkan radio.
  • Dorong anak untuk berbagi perasaannya.
  • Dengarkan jika anak ingin menceritakan apa yang terjadi. Ini akan membantunya memahami peristiwa yang ia alami dan mengatasi perasaannya.
  • Menggambar. Anak kecil sering kali berhasil mengekspresikan emosi dengan baik dengan menggambar.
  • Jika anak menunjukkan tingkah yang tidak biasa, itu mungkin pertanda bahwa anak membutuhkan perhatian ekstra. Jelaskan bahwa ia boleh merasa sedih, marah, takut, tetapi tidak boleh melampiaskannya secara negatif, seperti memukul orang lain atau merusak barang. Lalu, tunjukkan kepadanya cara berperilaku yang benar.
  • Libatkan anak dalam kegiatan. Distraksi adalah hal yang baik untuk anak-anak pada usia ini.
  • Bicara tentang hal-hal yang berjalan dengan baik. Bahkan di saat-saat yang paling sulit, penting untuk mengidentifikasi sesuatu yang positif untuk membantu anak pulih.
  • Jika kebiasaan buruk di masa lalu, seperti mengisap jempol atau mengompol kembali muncul, ingatlah bahwa ini normal. Kebiasaan ini akan hilang saat anak merasa aman kembali. Jadi, tidak perlu memarahinya.

Baca Juga: 5 Dampak Jangka Panjang Trauma yang Tidak Diatasi, Bisa Berbahaya

3. Cara membantu anak usia 6-11 tahun

Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!ilustrasi anak sedang menangis (pexels.com/Ba Phi)

Anak-anak usia 6-11 tahun mungkin merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan mengalami kesulitan berkonsentrasi di sekolah.

Anak-anak dalam kelompok usia ini lebih mampu berbicara tentang pikiran dan perasaan mereka serta dapat menangani kesulitan dengan lebih baik, tetapi masih membutuhkan orang dewasa untuk memberikan kenyamanan dan bimbingan. Saat mengalami hal-hal yang mengerikan, melihat fakta bahwa orangtua masih ada mungkin menjadi hal yang paling menenangkan bagi mereka.

Kunci penting untuk membantu menghadapi trauma adalah dengan mendengarkan mereka. Selain itu, kamu juga dapat membantu mereka lewat cara berikut:

  • Anak-anak kelompok usia ini dapat dihibur oleh fakta, jadi yakinkan anak bahwa dia aman. Orangtua tidak perlu takut mengucapkan kata-kata nyata, seperti angin topan, gempa bumi, banjir, gempa susulan karena untuk anak-anak usia ini, pengetahuan memberdayakan dan membantu menghilangkan kecemasan.
  • Pertahankan hal-hal senormal mungkin. Rutinitas waktu tidur dan makan membantu anak-anak merasa aman dan terlindungi.
  • Batasi paparan ke TV, surat kabar, dan radio. Makin banyak anak usia sekolah terpapar berita buruk, mereka akan makin khawatir.
  • Berikan kesempatan bagi anak untuk berbicara. Biarkan ia tahu bahwa tidak apa-apa untuk mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan kekhawatiran atau kesedihan.
  • Jika anak menjadi sangat pendiam, buka diskusi dengan membagikan perasaanmu. Ini membantu anak merasa bahwa dia tidak sendirian dalam kekhawatiran atau ketakutannya.
  • Buat anak-anak sibuk. Aktivitas sehari-hari, seperti pergi ke sekolah, mungkin terasa tidak nyaman. Bantu anak-anak memikirkan kegiatan alternatif dan atur kelompok bermain agar pikiran anak dari peristiwa traumatis teralihkan.
  • Dorong anak-anak untuk membantu. Ini akan memberi anak rasa pencapaian dan tujuan pada saat mereka mungkin merasa tidak berdaya.
  • Temukan harapan. Anak-anak perlu melihat masa depan untuk pulih dan menghargai hal-hal yang spesifik. Misalnya, jika terjadi bencana alam, katakan bahwa orang-orang dari seluruh negeri mengirimkan obat-obatan, makanan, air, serta membangun tempat untuk merawat orang-orang yang membutuhkan.
  • Jika anak berperilaku dengan cara yang menantang, tanyakan mengapa mereka bertindak seperti itu dan bantu mereka menemukan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya.
  • Jika anak merasakan sakit kepala atau sakit perut, bantu anak merawat dirinya sendiri dengan minum air, obat, dan istirahat. Jika masalahnya tidak kunjung hilang, ada baiknya memeriksakan anak ke dokter.
  • Jika anak menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, yakinkan mereka bahwa mereka bukanlah menyebabkan peristiwa tersebut dan tidak ada yang menyalahkan mereka untuk itu.
  • Dorong anak untuk memikirkan semua hal baik yang mereka dan orang lain lakukan untuk tetap aman. Ini akan membantu mereka merasa kuat dan berdaya.
  • Jika anak terus menghidupkan kembali peristiwa itu melalui permainan atau gambar, pandu permainan, menggambar, atau cerita mereka dengan lembut ke hal-hal lain.

4. Cara membantu anak usia 12-18 tahun

Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!ilustrasi remaja merasa sedih (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Masa remaja adalah masa yang penuh tantangan bagi banyak orang karena mereka mengalami begitu banyak perubahan dalam hidupnya. Remaja berjuang untuk menjadi lebih mandiri dan punya kecenderungan untuk merasa tidak ada yang dapat membahayakan mereka.

Peristiwa traumatis dapat membuat remaja merasa di luar kendali. Mereka juga akan merasa kasihan pada orang yang terkena bencana dan memiliki keinginan kuat untuk mengetahui mengapa peristiwa itu terjadi.

Berikut adalah beberapa cara membantu remaja melalui peristiwa traumatis:

  • Buat anak merasa aman kembali. Meskipun mereka mungkin menolak pelukan dan sentuhan, tetapi sebenarnya ini dapat membantu mereka merasa aman.
  • Beri anak tugas dan tanggung jawab kecil dalam rumah, lalu pujilah mereka atas apa yang sudah mereka lakukan. Namun, jangan membebani remaja dengan terlalu banyak tanggung jawab.
  • Buka kesempatan untuk berdiskusi. Cobalah untuk memulai percakapan saat sedang melakukan aktivitas bersama agar percakapan tidak terasa terlalu intens atau konfrontatif.
  • Beberapa remaja mungkin merasa lebih nyaman berbicara dengan teman sebayanya, jadi pertimbangkan untuk mengaturnya. Juga, dorong percakapan dengan orang dewasa tepercaya lainnya, seperti kerabat atau guru.
  • Anak-anak kelompok usia remaja umumnya memiliki keinginan membantu masyarakat. Temukan peluang sukarelawan yang sesuai;
  • Waspadalah terhadap penyalahgunaan zat. Remaja sangat berisiko beralih ke alkohol atau obat-obatan untuk menghilangkan kecemasan. Jika sudah terlanjur, hubungi dokter dan tetaplah berbicara pada anak dengan cara yang baik.
  • Jika anak menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, beri tahu anak bahwa wajar jika merasa seperti ini, tetapi bukan anak yang menyebabkan peristiwa tersebut.
  • Jika anak mengalami masalah di sekolah, bicarakan dengan anak dan guru tentang apa yang telah terjadi. Diskusikan dengan pihak sekolah apakah anak dapat menemui psikolog atau konselor sekolah.
  • Jika anak terburu-buru mengambil keputusan besar, seperti ingin meninggalkan sekolah, beri tahu anak bahwa yang terbaik adalah meninggalkan keputusan besar sampai ia merasa tenang.
  • Jika peristiwa traumatis ada dalam berita, bantu anak membatasi liputan media. Jelaskan bahwa melihat liputan peristiwa traumatis berulang kali dapat membuat anak merasa stres atau kesal.

5. Mencegah PTSD pada anak

Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!ilustrasi ibu dan anak sedang berpelukan (pexels.com/Julia Kimmerle)

Mengalami trauma tidak selalu menyebabkan posttraumatic stress disorder (PTSD) gangguan stres pascatrauma. Bahkan, sebagian besar anak-anak dan remaja yang mengalami trauma tidak mengembangkan PTSD. Namun, PTSD dapat berkembang saat anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi trauma yang dialaminya.

Menurut penjelasan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), tidak diketahui secara pasti mengapa beberapa anak mengalami PTSD setelah mengalami peristiwa stres dan traumatis, sedangkan yang lainnya tidak.

Namun, mencegah risiko trauma, seperti kekerasan, cedera, atau mengurangi dampak bencana pada anak-anak dapat membantu melindungi anak dari PTSD. Selain itu, segera melakukan strategi yang telah dijelaskan pada poin-poin sebelumnya juga diharapakan dapat mencegah anak mengalami PTSD.

Membantu anak mengatasi peristiwa traumatis bisa sangat sulit. Orangtua atau orang-orang dewasa di sekitar anak memiliki peran besar untuk mendukung anak, jadi penting untuk selalu menjaga diri sendiri. Jika kamu mengalami kesulitan mengatasinya, penting untuk mencari bantuan dari dokter, ahli kesehatan mental, atau teman tepercaya.

Baca Juga: Kenali 5 Gejala PTSD agar Kamu Lebih Peka terhadap Orang Sekitar

Topic:

  • Nurulia R F

Berita Terkini Lainnya