Comscore Tracker

Peluncuran AlteaCare, Aplikasi Telemedicine Mitra Resmi Kemenkes RI

Telemedicine menjadi lebih populer di situasi pandemik

Telemedisin atau telemedicine merupakan layanan perawatan medis jarak jauh yang biasa dilakukan melalui obrolan video secara daring. Pilihan layanan ini kian menjadi populer selama pandemik COVID-19 karena kita tidak perlu pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasilkes).

Selain itu, telemedicine juga bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang masih kesulitan dalam menjangkau fasilkes yang memadai di daerahnya.

Peluncuran AlteaCare, aplikasi telemedicine mitra resmi Kemenkes RI

Peluncuran AlteaCare, Aplikasi Telemedicine Mitra Resmi Kemenkes RIPeluncuran aplikasi AlteaCare (IDN Times/Enrico Gary Himawan/)

Telemedicine adalah metode yang memungkinkan perawatan medis jarak jauh dan dapat menawarkan konsultasi perawatan primer, psikoterapi, terapi fisik, dan bahkan beberapa layanan darurat.

Layanan seperti ini di Tanah Air sudah cukup banyak, dan bertambah satu lagi dengan diluncurkannya aplikasi telemedicine AlteaCare. Aplikasi telemedicine ini bermitra dengan Kementerian Kesehatan RI serta menjadikan jaringan Rumah Sakit Mitra Keluarga sebagai mitra pertamanya.

“Dalam mendukung upaya masyarakat untuk tetap sehat, kami hadir untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat tanpa perlu ada rasa khawatir, mengutamakan rasa aman dan nyaman untuk berkonsultasi dengan dokter berpengalaman secara virtual melalui video yang dapat diakses di mana pun pasien berada.

"Konsultasi melalui panggilan video juga merupakan fitur utama kami guna memaksimalkan keefektifan konsultasi klinis agar dapat mempermudah para dokter spesialis dalam memberikan informasi dan edukasi seputar diagnosis, evaluasi, hingga pencegahan dan pengobatan penyakit,” ungkap Mikaela Oen, Chief Executive Officer (CEO) AlteaCare melalui live streaming peluncuran aplikasi AlteaCare pada Selasa (21/9/2021).

1. Fungsi telemedicine

Peluncuran AlteaCare, Aplikasi Telemedicine Mitra Resmi Kemenkes RIilustrasi telemedicine (pexels.com/Anna Shvets)

Dilansir Medical News Today, dokter dan pasien dapat menggunakan telemedicine untuk:

  • Menilai apakah pasien membutuhkan perawatan secara langsung atau tidak
  • Menulis atau memperbarui resep
  • Menawarkan jenis terapi tertentu, seperti terapi wicara dan fisik
  • Memberikan jenis perawatan medis tertentu, seperti perawatan kesehatan mental dan penilaian untuk infeksi ringan

2. Kapan telemedicine sebaiknya digunakan

Peluncuran AlteaCare, Aplikasi Telemedicine Mitra Resmi Kemenkes RIilustrasi telemedicine (pexels.com/Edward Jenner)

Telemedicine sendiri merupakan layanan yang dapat digunakan kapan saja untuk kondisi apa pun, terutama untuk keluhan yang tidak memerlukan tes laboratorium atau pemeriksaan fisik. Telemedicine juga dapat menawarkan berbagai bentuk perawatan berkelanjutan, seperti psikoterapi.

Di masa pandemik, telemedicine dapat sangat berguna karena dapat meminimalkan kontak fisik dan tidak perlu langsung mengunjungi fasilitas kesehatan secara langsung, sehingga jaga jarak fisik tetap dapat dijalankan. Dokter juga dapat meresepkan obat-obatan yang diperlukan pasien melalui telemedicine.

3. Manfaat dan potensi penggunaan telemedicine

Peluncuran AlteaCare, Aplikasi Telemedicine Mitra Resmi Kemenkes RIilustrasi resep obat yang diberikan dokter (freepik.com/freepik)

Telemedicine merupakan layanan yang dapat memfasilitasi mitigasi kesehatan masyarakat selama pandemik dan merupakan pilihan yang lebih aman baik bagi profesional kesehatan maupun pasien, karena dapat mengurangi potensi paparan infeksi SARS-CoV-2, virus corona penyebab COVID-19, mengutip Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Metode ini dapat membantu masyarakat yang rentan secara medis atau bagi mereka yang sulit mengakses layanan kesehatan di daerahnya. Layanan ini juga dapat membantu menjaga hubungan pasien dengan dokter atau profesional kesehatan terkait saat kunjungan langsung tidak mungkin dilakukan. Lebih lanjut, layanan telemedicine juga dapat digunakan untuk:

  • Melakukan skrining pada pasien yang mungkin memiliki gejala COVID-19.
  • Memberikan perawatan darurat berisiko rendah untuk berbagai kondisi kesehatan, membantu orang-orang yang mungkin memerlukan konsultasi medis, dan memberikan rujukan yang sesuai.
  • Mampu memantau tanda-tanda klinis kondisi medis kronis tertentu seperti tekanan darah, glukosa darah, dan penilaian jarak jauh lainnya.
  • Mempermudah pasien yang kesulitan mengakses perawatan karena memiliki mobilitas yang terbatas, berusia lanjut, atau karena tinggal di daerah pedesaan.
  • Dapat memberikan perawatan nondarurat jangka panjang kepada pasien.
  • Dapat menjadi tindak lanjut perawatan pada pasien yang telah melakukan rawat inap.
  • Memberikan akses kepada dokter dan spesialis kesehatan.
  • Dapat memberikan konsultasi pada pasien yang mengelola kondisi kesehatan kronis, termasuk manajemen berat badan dan konseling nutrisi.

Baca Juga: Mudah Dilakukan, Ini 11 Cara Meredakan Mual secara Alami

4. Kekurangan telemedicine

Peluncuran AlteaCare, Aplikasi Telemedicine Mitra Resmi Kemenkes RIilustrasi anak menggunakan telemedicine (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Meski memiliki banyak kelebihan, telemedicine tentunya tidak sempurna. Sebab, jenis perawatan kesehatan lain juga dapat dibutuhkan sebagai tingkat lanjutan dari telemedicine, seperti misalnya perawatan darurat atau pemeriksaan fisik. Dikutip Healthline, beberapa kekurangan telemedicine dapat meliputi:

  • Pemeriksaan fisik seperti mendengar detak jantung menggunakan stetoskop, mengukur tekanan darah, atau memeriksa tanda vital lainnya tidak dapat dilakukan.
  • Tidak dapat mengambil sampel darah atau urine.
  • Untuk orang dengan kondisi kronis yang perlu minum obat, telemedicine dapat menghambat penentuan perubahan dosis yang diperlukan, sehingga dapat memperpanjang waktu sebelum diagnosis baru dibuat.
  • Dokter hanya dapat mengandalkan penilaian visual yang mungkin dapat lebih sulit dilakukan secara visual.
  • Anak-anak mungkin mengalami kesulitan berkonsentrasi saat berkonsultasi dengan dokter secara virtual.
  • Berbagai tes seperti pemeriksaan tekanan mata untuk glaukoma, sonogram, mamografi, dan berbagai pemeriksaan lain harus dilakukan secara langsung dan tidak bisa menggunakan telemedicine.

5. Beberapa jenis masalah medis yang cocok menggunakan telemedicine

Peluncuran AlteaCare, Aplikasi Telemedicine Mitra Resmi Kemenkes RIilustrasi telemedicine (freepik.com/wirestock)

Sebenarnya, kebanyakan jenis masalah medis dapat menggunakan telemedicine untuk perawatan berkelanjutan, atau paling tidak untuk membuat diagnosis awal. Mengutip Healthline, profesional medis yang dapat secara efektif menggunakan telemedicine adalah:

  • Praktisi kesehatan mental
  • Dokter kulit
  • Ahli endokrin reproduksi
  • Dokter umum
  • Ahli jantung
  • Ahli gastroenterologi
  • Ahli onkologi

Pada aplikasi telemedicine, biasanya telah disediakan pula berbagai pilihan profesional kesehatan yang dapat disesuaikan dengan keluhan pasien. 

6. Potensi keterbatasan telemedicine

Peluncuran AlteaCare, Aplikasi Telemedicine Mitra Resmi Kemenkes RIilustrasi internet yang buruk saat menggunakan telemedicine (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Terdapat berbagai potensi keterbatasan dari telemedicine yang dapat mencakup:

  • Akses terbatas ke perangkat teknologi yang diperlukan untuk kunjungan jarak jauh seperti ponsel pintar, tablet, atau komputer.
  • Masalah konektivitas atau jaringan internet yang buruk.
  • Kunjungan langsung dapat lebih tepat dan akurat karena telemedicine tidak dapat melakukan permeriksaan fisik yang memadai.
  • Telemedicine mungkin sulit membahas topik yang sensitif, terutama bila pasien tidak nyaman atau khawatir akan privasi mereka.
  • Peralihan budaya dalam melakukan kunjungan virtual sebagai pengganti kunjungan langsung mungkin masih sulit diterima dan dilakukan.

Telemedicine merupakan pilihan yang dapat sangat bermanfaat dan membantu bagi orang yang tidak dapat melakukan kunjungan dokter atau rumah sakit secara langsung. Terlebih, layanan ini dapat menjadi solusi dari sulitnya berkonsultasi dengan profesional medis di situasi pandemik.

Meski demikian, telemedicine tidak dapat menggantikan metode atau prosedur medis lainnya. Sebab, beberapa kondisi medis tertentu juga tetap memerlukan pemeriksaan dan perawatan secara tatap muka atau fisik.

Baca Juga: Penanganan Patah Tulang, Langsung ke Dokter atau Alternatif?

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya