Comscore Tracker

Sudah Mengurangi Garam tapi Tensi Masih Tinggi, Kenapa Ya?

Salah satunya adalah pertambahan usia

Mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi bisa menjadi masalah serius. Karena bila tidak ditangani sedini mungkin, kondisi tersebut akan berkembang dan menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.

Apakah kamu pernah mengalami hasil cek tekanan darah atau tensi tetap tinggi, padahal sudah membatasi asupan makanan dan minuman yang tinggi garam atau natrium? Bila pernah, bisa jadi tingginya tekanan darah itu bukan cuma akibat asupan garam, tetapi karena penyebab lainnya yang tidak kamu sadari.

Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang bisa membuat tekanan darah kamu tetap tinggi meskipun sudah membatasi asupan natrium harianmu.

1. Tidak berolahraga secara teratur

Sudah Mengurangi Garam tapi Tensi Masih Tinggi, Kenapa Ya?pixabay.com/StockSnap

Olahraga merupakan serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencapai tingkat kemampuan jasmani.

Berdasarkan sebuah laporan dalam Jurnal Berkala Epidemiologi tahun 2016, olahraga yang teratur dapat menurunkan risiko terbentuknya plak aterosklerosis yang merupakan salah satu penyebab hipertensi.

Selain itu, dengan melakukan olahraga yang teratur seperti jalan cepat, joging, bersepeda, renang, dan senam dapat menurunkan tekanan darah hingga 5-10 mmHg.

Bagi orang-orang dengan hipertensi, olahraga menjadi terapi pendukung selain konsumsi obat-obatan. Olahraga akan membantu kerja obat menjadi lebih efektif pada penderita hipertensi.

Pada lansia mulai usia 45 tahun, olahraga secara teratur terbukti dapat meningkatkan fungsi kardiovaskular yang memperlambat penurunan fungsi tubuh.

2. Mengalami kegemukan atau obesitas 

Sudah Mengurangi Garam tapi Tensi Masih Tinggi, Kenapa Ya?pixabay.com/geralt

Laporan dari jurnal Gizi Indonesia tahun 2010 menyebutkan, orang-orang dengan berat badan berlebih 2,3 kali lebih berisiko mengalami hipertensi dibanding orang dengan berat badan normal dan kurus.

Kondisi kegemukan dapat menyebabkan penumpukan jaringan lemak, yang dapat menimbulkan peningkatan resistansi pembuluh darah dalam meningkatkan kerja jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Laporan dalam jurnal tersebut menyebutkan, penelitian pada kelompok usia 20-39 tahun dengan berat badan lebih menunjukkan mereka berpeluang dua kali lipat dibandingkan dengan orang-orang dengan berat badan normal, dan berpeluang tiga kali lebih besar mengalami hipertensi apabila dibandingkan dengan orang berbadan kurus.

Sementara itu, pada kelompok usia 40-64 tahun dengan berat badan lebih mempunyai peluang 50 persen menderita hipertensi dibandingkan dengan berat badan normal.

Pada orang dengan obesitas, organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat. Oleh sebab itu mereka akan lebih cepat gerah dan lelah. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Ini berarti, volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat, sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding pembuluh darah (arteri).

Baca Juga: 7 Cara Menurunkan Darah Tinggi, Sederhana tapi Ampuh

3. Kebiasaan mengonsumsi alkohol 

Sudah Mengurangi Garam tapi Tensi Masih Tinggi, Kenapa Ya?pixabay.com/NickyPe

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa minum minuman beralkohol merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya tekanan darah tinggi.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal Gizi Indonesia 2010 dijelaskan bahwa pada pria peminum alkohol dengan dosis 300-499 ml per minggu dapat meningkatkan tekanan sistolik/diastolik rata-rata 2,7/1,6 mmHg, dan untuk peminum alkohol ≥500 ml per minggu memiliki tekanan darah 4,6/3,0 mmHg lebih tinggi dibandingkan yang bukan peminum alkohol.

Sementara untuk perempuan, peminum berat (≥300 ml per minggu) tekanan darahnya 3,9/3,1 mmHg lebih tinggi dibandingkan dengan yang bukan peminum.

Dalam laporan tersebut juga dikemukakan bahwa keterkaitan alkohol dengan hipertensi lebih kuat daripada banyaknya asupan garam terhadap terjadinya hipertensi.

4. Kebiasaan merokok 

Sudah Mengurangi Garam tapi Tensi Masih Tinggi, Kenapa Ya?pixabay.com/PublicDomainPictures

Telah banyak penelitian melaporkan terkait efek yang disebabkan dari merokok, antara lain meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.

Studi yang dimuat dalam Jurnal Keperawatan tahun 2019 mengatakan bahwa efek jangka panjang dari merokok adalah peningkatan tekanan darah karena adanya peningkatan zat inflamasi, pembentukan plak (aterosklerosis), dan kerusakan pembuluh darah.

Hal ini dikarenakan asap rokok mengandung karbon monoksida dan nikotin serta berbagai bahan toksik lainnya. Zat yang terdapat dalam rokok dapat merusak lapisan dinding arteri berupa plak. Ini menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri yang dapat meningkatkan tekanan darah.

Karbon monoksida dalam asap rokok menggantikan oksigen dalam darah. Hal ini mengakibatkan tekanan darah karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh.

Zat kimia seperti nikotin juga dapat meningkatkan adrenalin yang membuat jantung berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras, frekuensi denyut jantung meningkat, dan kontraksi jantung meningkat, sehingga menimbulkan tekanan darah jadi naik.

5. Stres yang berkepanjangan 

Sudah Mengurangi Garam tapi Tensi Masih Tinggi, Kenapa Ya?pixabay.com/sasint

Laporan yang tertuang dalam Jurnal Promosi Kesehatan tahun 2013 menyatakan, stres juga sangat erat hubungannya dengan kenaikan tekanan darah. Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis. Peningkatan saraf dapat menaikkan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu).

Stres merupakan respons fisiologi, psikologi, dan perilaku seseorang untuk penyesuaian diri terhadap tekanan. Stres juga dapat merangsang ginjal melepaskan hormon adrenalin yang menyebabkan tekanan darah naik dan meningkatkan kekentalan darah.

Pada dasarnya, stres tidak menyebabkan hipertensi yang menetap, tetapi stres berat dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah sementara yang sangat tinggi. Jika periode stres sering terjadi, maka bisa terjadi kerusakan pada pembuluh darah, jantung, dan ginjal, sama halnya menyebabkan tekanan darah tinggi yang menetap.

6. Semakin bertambahnya usia 

Sudah Mengurangi Garam tapi Tensi Masih Tinggi, Kenapa Ya?freepik.com/pch.vector

Usia juga mempengaruhi tekanan darah seseorang. Semakin usia bertambah, maka tekanan darah pun akan meningkat.

Sebenarnya wajar bila tekanan darah sedikit meningkat dengan usia yang menua. Ini disebabkan karena perubahan alami pada jantung, pembuluh darah, dan hormon. Semakin bertambahnya usia, pembuluh arteri juga mulai mengalami penurunan elastisitasnya atau kelenturannya, sehingga risiko terjadinya hipertensi meningkat.

Berdasarkan sebuah laporan dalam Jurnal Kesehatan tahun 2017, disebutkan bahwa hipertensi paling dominan pada kelompok usia 31-55 tahun. Meningkatnya tekanan darah umumnya berkembang pada saat usia seseorang mencapai paruh baya, yakni cenderung meningkat khususnya yang usianya lebih dari 40 tahun, bahkan pada usia di atas 60 tahun.

Namun, meski usia semakin tua, tekanan darah tetap bisa dikendalikan dengan menjaga pola makan tetap sehat, rajin berolahraga, dan melakukan pemeriksaan rutin tekanan darah.

7. Keturunan 

Sudah Mengurangi Garam tapi Tensi Masih Tinggi, Kenapa Ya?pixabay.com/Smiling_Vivian

Faktor keturunan memang selalu memainkan peranan penting dari timbulnya suatu penyakit yang dibawa oleh gen keluarga. Jika salah satu anggota keluarga atau orang tua memiliki tekanan darah tinggi, maka anak pun memiliki risiko yang sama, bahkan bisa lebih besar dibanding yang diturunkan oleh gen orang tuanya.

Laporan dalam Jurnal Kesehatan tahun 2017 menyebutkan bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. Kasus hipertensi esensial 70-80 persen diturunkan oleh orang tuanya. Apabila riwayat hipertensi didapat dari kedua orang tua, maka kemungkinan hipertensi esensial lebih besar.

Itulah beberapa penyebab yang bisa jadi risiko kamu mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi. Jadi, bukan cuma konsumsi tinggi garam saja, ya. Hipertensi terjadi sebagai manifestasi akibat pola makan dan kebiasaan yang kurang sehat selama bertahun-tahun. Bukan berarti hipertensi tidak bisa dicegah, karena banyak faktor pemicu hipertensi yang bisa dikendalikan.

Oleh sebab itu, menerapkan pola makan dan kebiasaan sehat sedini mungkin bisa diupayakan demi menurunkan risiko mengalami hipertensi di kemudian hari.

Selain itu, semakin muda kita menerapkan gaya hidup sehat, itu juga akan meningkatkan potensi melahirkan keturunan yang sehat pula, sehingga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit yang dibawa oleh sifat genetik pada keturunan selanjutnya.

Baca Juga: 10 Masalah Kesehatan Ini Disebabkan Tekanan Darah Tinggi, Waspadai ya!

ilham Photo Verified Writer ilham

dimana-mana hatiku senang, lalala~

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya