Comscore Tracker

Betrayal Trauma: Gejala, Penyebab, Dampak, dan Mekanisme Koping

Ketika pengkhianatan dapat menyebabkan trauma

Betrayal trauma atau trauma pengkhianatan adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan seseorang mengalami periode traumatis akibat pengkhianatan yang dilakukan orang lain kepadanya. Selain meninggalkan trauma yang membekas, pengkhianatan bisa merusak kepercayaan dan memengaruhi kesehatan.

Jenis trauma satu ini biasanya berkaitan dengan sosok figur keterikatan utama, seperti orang tua atau pengasuh sejak masa kanak-kanak. Sementara itu, pada orang dewasa cenderung berhubungan dengan pasangan romantis mereka. Betrayal trauma mungkin menyisakan rasa sakit dan gejolak di hati akibat pengalaman dari episode pengkhianatan.

1. Asal muasal teori betrayal trauma

Betrayal Trauma: Gejala, Penyebab, Dampak, dan Mekanisme Kopingilustrasi betrayal trauma (pexels.com/Keira Burton)

Teori mengenai betrayal trauma dicetuskan oleh peneliti asal Amerika Serikat (AS), Jennifer Freyd, PhD, pada tahun 1991. Ia menggambarkan keadaan ini sebagai trauma spesifik yang terjadi dalam hubungan sosial utama, yaitu ketika seseorang yang dikhianati perlu mempertahankan hubungan dengan si pengkhianat untuk mendapatkan dukungan atau perlindungan.

Menurut teorinya, seseorang rentan mengalami betrayal trauma ketika:

  • Merasa ketakutan, terlebih yang berkaitan dengan keselamatan hidup.
  • Menjadi korban pengkhianatan dari seseorang yang sangat dipercaya.

Dalam teori betrayal trauma juga mencantumkan pengalaman terkait pelecehan fisik, seksual, atau sadisme pada masa kanak-kanak sebagai contoh pengkhianatan traumatis. Pengkhianatan demikian dapat menyebabkan anak-anak mengalami gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD), terutama jika kejadiannya menimbulkan ketakutan secara signifikan.

2. Penyebab

Betrayal Trauma: Gejala, Penyebab, Dampak, dan Mekanisme Kopingilustrasi betrayal trauma (pexels.com/cottonbro)

Meskipun teori lebih menitikberatkan betrayal trauma dengan masa kanak-kanak, pada dasarnya kondisi ini digambarkan lebih kompleks. Terdapat dua penyebab potensial seseorang dapat mengembangkan trauma jenis ini, yakni:

  • Didasarkan trauma pada masa kecil: Pelecehan yang dialami pada masa kanak-kanak merupakan salah satu penyebab paling umum trauma pengkhianatan. Pengalaman tersebut mencakup pelecehan fisik, verbal, emosional, hingga seksual.
  • Didasarkan atas trauma saat dewasa: Trauma pengkhianatan pada masa dewasa biasanya dialami seseorang dalam hubungan bersama pasangan, terutama jika individu yang bersangkutan pernah mengalami trauma pada masa lalu. Namun, orang lain seperti teman atau kerabat juga bisa dikaitkan dengan penyebab betrayal trauma. Adapun contoh perilaku tersebut meliputi pelecehan (fisik, verbal, emosional, bahkan seksual), ketidaksetiaan, persoalan finansial, atau motif tersembunyi lainnya.

Baca Juga: Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!

3. Gejala

Betrayal Trauma: Gejala, Penyebab, Dampak, dan Mekanisme Kopingilustrasi betrayal trauma atau trauma pengkhianatan (pexels.com/Andres Ayrton)

Betrayal trauma dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental dengan efek spesifik yang bervariasi tergantung pada masing-masing orang. Perlu diingat juga bahwa tidak semua orang mengalami trauma dengan cara yang sama.

Beberapa tanda betrayal trauma pada masa kanak-kanak dapat meliputi:

  • Kesulitan mengelola dan mengekspresikan emosi.
  • Mengalami sakit fisik, misalnya sakit perut.
  • Mengalami periode kecemasan, depresi, dan gejala kesehatan mental lain.
  • Kecenderungan mimpi buruk.
  • Rentan terhadap serangan panik.
  • Muncul pikiran untuk bunuh diri.
  • Kesulitan mempercayai orang lain.
  • Peningkatan risiko gangguan makan dan penyalahgunaan zat.

Sementara betrayal trauma pada masa dewasa biasanya diakibatkan oleh perselingkuhan, tetapi jenis pengkhianatan lainnya, seperti masalah finansial, juga dapat memicu respons trauma.

Seseorang yang diselingkuhi pasangannya mungkin akan mengalami periode marah, curiga, sulit mengendalikan emosi, kehilangan kepercayaan, rentan mengembangkan gejala kondisi kesehatan mental (depresi dan kecemasan), serta kondisi kesehatan fisik (insomnia, nyeri, dan sakit perut).

4. Dampak yang ditimbulkannya

Betrayal Trauma: Gejala, Penyebab, Dampak, dan Mekanisme Kopingilustrasi seorang anak sedang menenggelamkan wajah (pexels.com/Pixabay)

Yang membuat betrayal trauma begitu menyakitkan adalah korban yang dikhianati sering kali tidak bisa begitu saja memutuskan hubungannya dengan si pelaku. Misalnya dalam kasus orang tua atau pengasuh yang melakukan tindak kekerasan atau mengkhianati kepercayaan anak.

Bagaimanapun juga, anak tetap bergantung pada orang tua atau pengasuh karena keterbatasan kemampuan. Situasi tersebut akan menciptakan hubungan yang kompleks dengan figur keterikatan utama memberikan bahaya dan dukungan secara berbarengan.

Anak-anak korban betrayal trauma mungkin akan tumbuh menjadi orang dewasa dengan menghindari pemrosesan perilaku yang merusak. Mereka dapat membuat alasan atau mengarang cerita untuk mengimbangi kenangan yang menyakitkan. Mirisnya lagi, mereka bisa saja menyalahkan diri sendiri atas peristiwa traumatis pada masa lampau.

Individu yang pernah mengalami trauma pengkhianatan cenderung melepaskan diri dari trauma tersebut. Pada titik tertentu kehidupan, mereka mungkin akan berjuang dengan konsekuensi disosiasi ekstrem dari emosi, perasaan, dan reaksi terhadap trauma. Alih-alih menghadapinya secara langsung, mereka bisa terjebak bias dengan mengobati diri sendiri, tetapi cara yang dipilih kurang sehat atau kurang tepat.

5. Mekanisme koping

Betrayal Trauma: Gejala, Penyebab, Dampak, dan Mekanisme Kopingilustrasi sesi konseling (pexels.com/SHVETS production)

Betrayal trauma bisa menjadi masalah yang serius dengan dampak utamanya adalah masalah kesehatan fisik maupun mental. Dengan demikian, orang yang mengalaminya sebaiknya perlu mendapatkan penanganan dengan tepat dan sehat melalui:

  • Mengakui pengkhianatan yang diterima dan yang dirasakan: Langkah pertama adalah dengan mengakui bagaimana rasanya dikhianati dan disakiti. Setiap orang yang mengalaminya harus jujur pada diri sendiri dan mempertimbangkan dampak pengkhianatan tersebut.
  • Tuangkan perasaan melalui journaling: Memanfaatkan jurnal sebagai media pelampiasan emosi bisa memberikan kelegaan tanpa adanya unsur penghakiman. Selain itu, jurnal dapat membantu mengidentifikasi emosi yang sedang dialami dan menciptakan ruang untuk merenungkannya.
  • Berusaha memproses emosi secara sadar: Menghadapi trauma masa lalu dapat memunculkan banyak emosi, seperti kesedihan, kecemasan, ketakutan, kehilangan, kemarahan, sampai penyesalan. Dengan demikian, penting untuk memproses emosi tersebut secara sadar agar memudahkan fase penyembuhan.
  • Menetapkan batasan: Jika pelaku masih berada dalam lingkup kehidupan korban dalam kapasitas tertentu, maka penting bagi korban untuk menetapkan batasan secara tegas.
  • Memahami pola pengkhianatan: Usahakan untuk mengenali apakah peristiwa traumatis terdahulu memengaruhi hubungan yang berlangsung pada masa kini. Pada intinya, setiap orang berhak memiliki hubungan sehat yang saling mendukung dan menguntungkan.
  • Optimalkan dukungan dari pihak lain: Ini dapat melibatkan ahli, misalnya terapis, psikolog, atau psikiater untuk membantu memanajemen kondisi dengan pendekatan kesehatan.

Seseorang tidak dapat menuntut orang lain untuk senantiasa bersikap baik terhadap dirinya. Adakalanya dinamika hidup membuat orang lain bersikap khianat karena satu dan lain hal.

Pengkhianatan dalam bentuk apa pun dapat meninggalkan bekas yang menyakitkan, yang sering kali tidak mudah pula untuk menerima kenyataan pahit tersebut. Apabila saat ini kamu tengah berada pada fase sulit yang bisa memicu betrayal traumasebaiknya segera cari bantuan untuk mengelola kondisi tersebut.

Baca Juga: Mengenal Trauma Bonding, Keterikatan Emosional Akibat Hubungan Toxic

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Full-time learner, part-time writer and reader. (Insta @ani412_)

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya