Comscore Tracker

Makanan Lengket dan Manis Memperparah Plak Gigi

Lebih baik dikurangi

Kebanyakan orang hanya pergi ke dokter gigi kalau sudah sakit. Entah itu karena gigi berlubang, gusi bengkak, atau masalah mulut lainnya. Padahal, idealnya kita perlu melakukan kontrol rutin enam bulan sekali. Salah satunya untuk mengecek apakah ada plak di gigi atau tidak.

Lantas, apakah plak gigi berbahaya bagi kesehatan? Ini akan dijelaskan oleh drg. Mirza Mangku Anom, SpKG, dokter gigi spesialis konservasi gigi, pada Jumat (5/8/2022). Tema yang diangkat ialah "Plak Menumpuk di Gigi, Berbahayakah bagi Kesehatan?" dan disiarkan langsung di Instagram @dynamichealthid. Here we go!

1. Plak adalah lapisan tipis tempat bakteri bersarang

Sebagian orang berpikir bahwa plak dan karang gigi adalah hal yang sama. Padahal tidak. Dokter Mirza menegaskan bahwa plak adalah sesuatu yang terbentuk secara alami dan tidak bisa dihindari. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrolnya.

"Air ludah akan meninggalkan lapisan tipis atau biofilm yang tidak terlihat. Lalu, 70 persen bakteri pada rongga mulut akan menempel pada lapisan biofilm tadi. Itu yang disebut dengan plak," terangnya.

Kalau plak menumpuk, akan menjadi kalkulus atau karang gigi. Plak bisa dikontrol dengan rutin menyikat gigi dengan pasta gigi berfluorida serta rajin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.

2. Makanan tertentu bisa memperparah kondisi plak gigi

Makanan Lengket dan Manis Memperparah Plak Gigiilustrasi makan kue (unsplash.com/Icons8 Team)

Berhati-hatilah dengan makanan yang manis dan lengket. Makanan ini bisa terselip di antara sela-sela gigi dan membuatnya sulit untuk dibersihkan. Tidak hanya membuat gigi jadi berlubang, tetapi juga memperparah kondisi plak.

Mengutip Ultimate Smile Design, bakteri mengubah gula menjadi asam yang memecah email gigi dan menyebabkan pembusukan. Selain itu, bisa berkembang menjadi periodontitis, yaitu infeksi gusi serius yang merusak gigi, jaringan lunak, dan tulang penyangga gigi.

3. Plak bisa dicek dengan disclosing agent

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, plak tidak kasatmata. Namun, plak bisa dicek dengan bantuan disclosing agent. Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam World Journal of Pharmaceutical Research tahun 2017, disclosing agent adalah sediaan yang mengandung zat pewarna untuk mengidentifikasi plak.

"Ini adalah tablet yang dikunyah lalu (pasien) disuruh meludah dan kumur-kumur. Setelah berkumur, nanti di permukaan giginya ada sisa-sisa warna merah. Itulah plaknya," tutur alumnus Universitas Gadjah Mada ini.

Pada orang yang menggunakan behel, plaknya cenderung lebih banyak. Mengapa? Karena pembersihan giginya menjadi lebih sulit. Mereka wajib menjaga kebersihan mulutnya dan kontrol rutin ke dokter gigi.

Baca Juga: Tumbuh Gigi Bungsu, Apakah Harus Dicabut?

4. Gunakan obat kumur dan benang gigi agar bersih maksimal

Makanan Lengket dan Manis Memperparah Plak Gigiilustrasi benang gigi (pixabay.com/muklinika)

Yang paling utama adalah menyikat gigi dengan pasta gigi berfluorida. Supaya bersih maksimal, gunakan obat kumur (mouthwash) dan benang gigi (dental floss).

"Sayangnya, flossing belum terbiasa dilakukan oleh orang-orang Indonesia. Mereka menganggap flossing itu aneh. Padahal, flossing itu penting banget karena bulu sikat itu tidak bisa masuk ke dalam sela-sela gigi," ujar drg. Mirza.

Menurutnya, urutan yang benar adalah sikat gigi, dilanjutkan dengan flossing, dan diakhiri dengan obat kumur. Jika disiplin melakukannya, maka akan terlihat hasilnya!

5. Derajat keasaman saliva menentukan cepat atau tidaknya karang gigi terbentuk

Yang menentukan cepat atau tidaknya karang gigi terbentuk bukanlah makanan, melainkan kondisi saliva. Lebih spesifik adalah derajat keasaman atau pH air ludah.

"Ngetesnya pakai pH tester. Kalau pH mulut cenderung asam, maka giginya mudah keropos atau berlubang. Kalau terlalu basa, yang akan terjadi adalah pertumbuhan karang giginya lebih cepat daripada orang yang derajat keasaman mulutnya normal," drg. Mirza menjelaskan.

Lantas, berapa pH air liur yang normal? Dilansir Healthline, pH yang normal berada di kisaran 6,2 sampai 7,6. Gunakan strip pH yang dijual di apotek atau toko online untuk mengetahui tingkat keasaman saliva.

Baca Juga: 7 Penyebab Karies Gigi, Penyakit yang Banyak Dialami Anak Indonesia

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya