3 Dekade Berlalu, Ini 7 Pengembangan Vaksin HIV dari Awal hingga Akhir

Tambah pengetahuanmu dengan membaca ini, yuk!

Tanggal 18 Mei diperingati sebagai Hari Vaksin HIV Sedunia. Selain diperingati, hari itu juga digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan vaksin HIV. Konsep hari vaksin HIV ini didasari oleh pidato mantan presiden Amerika, Bill Clinton pada 18 Mei 1997 di Morgan State University.

Riset tentang vaksin HIV sendiri dimulai pada 3,5 dekade silam, tepatnya pada tahun 1984. Sepanjang itu, telah banyak penelitian dan pengembangan tentang vaksin HIV. Ingin tahu lebih lanjut? Simak yuk penjelasannya dari awal sampai akhir!

1. 1984: Tahun dimana vaksin HIV mulai dikembangkan

3 Dekade Berlalu, Ini 7 Pengembangan Vaksin HIV dari Awal hingga Akhiracadienouvelle.com

Pengembangan vaksin HIV telah menempuh proses yang panjang dan berliku. Ini diawali dari penemuan virus HIV sebagai pemicu AIDS pada tahun 1983-1984, peneliti lalu mulai mengembangkan vaksin untuk menangkal virus itu.

Di tahun tersebut, banyak orang percaya bahwa vaksin dapat dikembangkan dengan mudah, mengingat waktu itu teknologi di bidang kesehatan telah berkembang pesat, ungkap jurnal yang dipublikasikan dalam laman US National Library of Medicine National Institute of Health.

Namun, hal ini tak sesuai dengan ekspektasi, karena sebagian besar vaksin virus didasarkan pada kekebalan yang bereaksi untuk melindungi tubuh. Sementara, dalam AIDS, kekebalan yang diinduksi oleh virus tidak mampu mencegah infeksi ulang dan tidak efisien dalam memperlambat pengembangan penyakit.

2. 1987: Uji klinis vaksin HIV untuk pertama kali

3 Dekade Berlalu, Ini 7 Pengembangan Vaksin HIV dari Awal hingga Akhirsvt.se

Tiga tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1987, uji coba vaksin HIV pertama kali diadakan. Uji klinis ini pertama dibuka di Pusat Klinik National Institute of Health (NIH) di Bethesda, Maryland. Pada uji coba tahap pertama ini, terdapat 138 sukarelawan yang sehat dan berstatus HIV negatif, ungkap laman National Institute of Allergy and Infectious Diseases.

Setelah vaksin sukses dilaksanakan, ditemukan bahwa tiada efek samping yang serius. Uji coba vaksin ini berusaha mencari informasi tentang keselamatan, efek samping vaksin dan memberikan data tentang imunogenisitas vaksin, termasuk dosis dan jadwal yang tepat, jelas laman AIDS Info. Uji coba tahap 1 ini berlangsung hingga dua tahun sebelum beranjak ke tahap-tahap selanjutnya.

3. 1992: Uji coba vaksin HIV tahap 2 dimulai

3 Dekade Berlalu, Ini 7 Pengembangan Vaksin HIV dari Awal hingga Akhirla-croix.com

Setelah uji coba vaksin tahap pertama sukses, di tahun 1992 National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) melaksanakan uji coba tahap kedua. Percobaan ini melibatkan sukarelawan yang terdeteksi HIV negatif, namun dengan riwayat perilaku berisiko tinggi. Semisal pengguna narkoba suntikan, memiliki banyak pasangan seks hingga mempunyai infeksi menular seksual, terang NIAID.

Di uji coba tahap kedua melibatkan 137 sukarelawan dan ingin meneliti apakah vaksin HIV bermanfaat bagi orang yang terinfeksi virus dan memiliki riwayat perilaku berisiko tinggi, ungkap AIDS Info. Selain itu, sukarelawan juga dikonseling berulang kali untuk menghindari perilaku yang menempatkan mereka pada risiko infeksi HIV. 

4. 1997: Penetapan hari vaksin HIV sedunia

3 Dekade Berlalu, Ini 7 Pengembangan Vaksin HIV dari Awal hingga Akhirpbs.org

Selain mengembangkan penelitian, peningkatan kesadaran akan HIV terus dilakukan. Pada 18 Mei 1997, mantan presiden AS, Bill Clinton melakukan pidato di Morgan State University. Bill Clinton menantang negara untuk berkomitmen mengembangkan vaksin HIV hingga 10 tahun ke depan, terang laman AIDS Info. 

Inisiatif penting pun dilakukan seperti melakukan kolaborasi internasional antar negara, membuat pusat penelitian khusus untuk vaksin HIV, bekerja sama dengan ilmuwan dan perusahaan farmasi untuk memaksimalkan tujuan ini. "Hanya vaksin HIV pencegahan yang benar-benar efektif untuk membatasi dan menghilangkan ancaman AIDS," tegas Bill Clinton.

Baca Juga: 7 Gejala Penyakit HIV atau AIDS, Semakin Awal Disadari Makin Baik

5. 1999: Melakukan ujicoba vaksin HIV di Uganda, Afrika

3 Dekade Berlalu, Ini 7 Pengembangan Vaksin HIV dari Awal hingga Akhirsunnewsonline.com

Dua tahun berselang, di tahun 1999 NIAID memulai uji coba vaksin pencegahan HIV pertama di Afrika. Uganda adalah negara yang terpilih untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Estimasi penderita HIV di Uganda di tahun 1999 yaitu sekitar 350 ribu untuk laki-laki berusia 15-49 tahun, sekitar 400.000 untuk perempuan berusia 15-49 tahun dan 50 ribu untuk anak-anak berusia 10-14 tahun, menurut laman National Center for Biotechnology Information.

Meski begitu, mengadakan ujicoba vaksin HIV di negara berkembang seperti Uganda terasa sulit karena terdapat hambatan ilmiah, sosial, etis sampai logistik. Misalnya, kebingungan tentang perbedaan vaksin dan obat-obatan atau berpikiran bahwa vaksin dapat melindungi mereka dari hubungan seks yang tidak aman.

6. 2009: Melakukan ujicoba dengan 16 ribu sukarelawan

3 Dekade Berlalu, Ini 7 Pengembangan Vaksin HIV dari Awal hingga Akhirimmunize.org

Tahun demi tahun pengembangan terus dilakukan. Di tahun 2009, dilakukan uji coba tahap 3 di Thailand dan hasilnya terungkap bahwa kombinasi beberapa vaksin menunjukkan efek pencegahan yang sederhana pada manusia. Uji coba ini melibatkan sekitar 16.000 sukarelawan dan merupakan studi yang terbesar untuk meneliti efek vaksin HIV, terang laman NIAID.

Sukarelawan ini adalah laki-laki dan perempuan dari kategori usia 18-30 tahun. HIV vaksin yang diujicoba adalah RV 144. Hasilnya, relawan yang menerima vaksin memiliki potensi 31 persen lebih rendah untuk terinfeksi HIV. Vaksinasi dilakukan selama 24 minggu di Thailand, lalu pada Juli 2006 dilakukan tes HIV.

7. 2019: Peneliti menemukan vaksin baru yang dapat membunuh virus HIV

3 Dekade Berlalu, Ini 7 Pengembangan Vaksin HIV dari Awal hingga Akhirraconteur.net

Biasanya, penderita HIV/AIDS akan mendapat terapi antiretroviral untuk mengobati mereka. Namun, baru-baru ini, ilmuwan telah berhasil menggunakan sel kekebalan untuk mengeluarkan virus HIV yang tidak aktif dari tempat persembunyiannya dan menghancurkannya, terang laman Medical News Today.

Terapi antiretroviral sendiri membuat virus lebih lemah dan penderita HIV/AIDS tidak dapat menyebarkannya ke orang lain. Namun, sebenarnya virus HIV tetap hidup, jadi penderita tetap harus mengonsumsi obat untuk mencegahnya membesar. Di sisi lain, antiretroviral juga punya efek samping, misalnya masalah kardiovaskular, resistensi insulin hingga berefek pada kepadatan tulang, kesehatan hati, gangguan neurologis dan kejiwaan.

Nah, itulah fakta-fakta mengenai pengembangan vaksin HIV dari awal hingga sekarang. Semoga vaksin HIV terus disempurnakan agar kita dapat terhindari dari penyakit AIDS, ya!

Baca Juga: 11 Mitos dan Fakta Tentang AIDS yang Harusnya Semua Orang Pahami

Topic:

  • Nena Zakiah
  • Bayu D. Wicaksono

Just For You