Comscore Tracker

Picu Keriput hingga Obesitas, Ini 5 Risiko Kesehatan 'Nonton Maraton'

Apalagi kaum rebahan yang sudah kecanduan

Yang di rumah aja selama masa pandemik, siapa yang sering menghabiskan waktu untuk menonton film atau serial televisi selama berjam-jam? Kebiasaan ini populer disebut sebagai "nonton maraton" atau binge-watching.

Beberapa tahun belakangan beberapa tahun belakangan telah menjadi tren tersendiri dan sering dianggap sebagai cara terbaik untuk mengusir penat dan kebosanan. Dari mulai film romantis, komedi, horor, hingga K-drama, semua "dilahap" untuk menepis stres.

Sebagai hiburan, nonton maraton memang mengasyikkan. Namun, kalau sudah jadi kebiasaan dan dilakukan dalam jangka waktu lama, itu akan berdampak buruk bagi kesehatan. Risikonya beragam, mulai dari kulit kusam hingga obesitas.

Berikut ini adalah beberapa risiko kesehatan dari nonton maraton yang perlu kita semua ketahui.

1. Kenaikan berat badan hingga obesitas

Picu Keriput hingga Obesitas, Ini 5 Risiko Kesehatan 'Nonton Maraton'pexels.com/Andrea Piacquadio

Selama menonton, kita biasanya akan berada dalam posisi duduk atau berbaring dalam waktu lama. Hal ini juga bisa mendorong keinginan untuk memakan camilan yang tidak sehat, seperti junk food atau makanan tinggi gula. Bila ini juga jadi kebiasaan, tentu saja bisa bikin berat badan bertambah.

Menurut sebuah studi dalam International Journal of Environmental Research and Public Health yang terbit pada bulan April lalu menjelaskan adanya perbedaan antara duduk aktif yang dilakukan orang-orang yang bekerja di depan layar komputer, dengan duduk pasif pada orang-orang yang menonton televisi.

Ditemukan bahwa duduk pasif dikaitkan dengan persentase indeks massa tubuh yang lebih tinggi, lemak tubuh, dan sindrom metabolik. Hal ini bisa menaikkan risiko obesitas sekitar 20 persen.

2. Kulit kusam dan keriput

Picu Keriput hingga Obesitas, Ini 5 Risiko Kesehatan 'Nonton Maraton'pexels.com/Andrea Piacquadio

Banyak orang mulai mengeluh tentang kondisi kulit yang makin kusam selama pandemi berlangsung. Selain pada matahari, cahaya tampak atau high-energy visible (HEV) dapat ditemukan pada ponsel, komputer, laptop dan perangkat elektronik lainnya.Terlalu lama menonton bisa jadi faktor penyebab kulit kering.

Menurut sebuah laporan dalam International Journal of Cosmetic Science, selain dapat memengaruhi ritme sirkadian tidur, cahaya biru yang terpancar dari perangkat elektronik juga bisa memengaruhi ritme sirkadian sel kulit.

Kerusakan siklus regeneratif kulit menyebabkan masalah kulit dari waktu ke waktu. Dampak pancaran cahaya pada layar elektronik ini dapat menyebabkan bintik matahari, yang lama-lama memicu kemunculan keriput dan kulit kendur.

Baca Juga:  10 Cara Alami Mencerahkan Kulit Wajah Tanpa Skincare, Dijamin Ampuh!

3. Mata kering hingga sakit kepala

Picu Keriput hingga Obesitas, Ini 5 Risiko Kesehatan 'Nonton Maraton'unsplash.com/Mollie Sivaram

Rasa hampir semua orang tahu kalau terlalu lama menonton dapat berdampak buruk pada kesehatan mata. Cahaya biru yang dipancarkan layar elektronik dapat menyebabkan kerusakan mata apabila dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Apalagi kamu yang suka nonton maraton hingga rela begadang, kebiasaan ini bisa memicu mata kering, penglihatan kabur, hingga perih.

Survei yang telah dilakukan di Amerika Serikat oleh The Vision Council menyebutkan bahwa 80 persen orang menggunakan perangkat elektronik selama 2 jam lebih per hari. Sebanyak 59 persen dari orang-orang tersebut mengeluhkan mata lelah, nyeri leher, sakit kepala, dan penglihatan kabur.

Ada aturan "20-20-20" yang bisa kamu terapkan agar mata tidak terlalu kelelahan. Caranya adalah dengan mengistirahatkan mata selama 20 detik, setiap 20 menit menonton, dengan mengalihkan pandangan pada benda yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter) di depan.

4. Menurunnya kualitas tidur 

Picu Keriput hingga Obesitas, Ini 5 Risiko Kesehatan 'Nonton Maraton'unsplash.com/Victoris Heath

Kecanduan menonton film akan mengorbankan waktu tidur setiap orang. Apalagi jika kebiasaan ini dilakukan hingga berjam-jam atau seharian, yang mana mengabaikan kebutuhan tubuh akan tidur yang cukup.

Menurut penelitian dalam Journal of Clinical Sleep Medicine tahun 2017, beberapa orang mengeluhkan kualitas tidur yang buruk, kelelahan, hingga gejala insomnia yang dirasakan saat terlalu lama binge-watching.

Cahaya biru yang dipancarkan layar perangkat elektronik dapat menunda pelepasan melatonin yang berpengaruh pada keinginan untuk terjaga. Jika ini terus dibiarkan, maka kualitas tidur akan semakin buruk dan akan berdampak buruk pada kesehatan.

5. Perubahan postur tubuh

Picu Keriput hingga Obesitas, Ini 5 Risiko Kesehatan 'Nonton Maraton'Nonton maraton selama berjam-jam bisa mengubah postur tubuh. unsplash.com/John Tuesday

Kebiasaan binge-watching berhubungan erat dengan posisi tubuh selama menonton. Tanpa disadari, ini akan berdampak buruk pada postur tubuh. Efek yang bisa langsung dirasakan adalah pegal-pegal dan rasa sakit di badan. Kepala dan leher adalah "sasaran empuk".

Menurut keterangan dari Northwestern Medicine, postur tubuh yang buruk dapat memicu tulang belakang menjadi lebih lengkung dan lemah. Salah satunya adalah posisi duduk dengan menekankan pada tulang punggung, yang dikatakan dapat menyebabkan perubahan kelengkungan di tulang belakang. Bila ini dilakukan secara terus-menerus, maka postur tubuhmu perlahan akan mengalami perubahan.

Beberapa risiko kesehatan di atas harus kamu waspadai bila kamu termasuk seseorang yang senang nonton maraton selama berjam-jam. Yuk, lebih peduli dengan kesehatanmu dengan membatasi waktu menonton, terapkan pola hidup sehat, serta perhatikan kualitas tidur demi daya tahan tubuh optimal.

Baca Juga: 5 Hal yang Terjadi pada Tubuh Saat Menonton Film Horor, Sudah Tahu?

Nurul Aulia Photo Verified Writer Nurul Aulia

Ketika dia sedang tidak menulis, kamu akan menemukan dia sedang sibuk rebahan.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya