Comscore Tracker

5 Alasan Kenapa Masker Scuba dan Buff Tidak Efektif Cegah COVID-19

Banyak yang pakai, tapi ternyata tak bisa melindungimu

PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) lewat akun media sosial Instagram-nya mengumumkan agar pengguna kereta rel listrik (KRL) menghindari penggunaan masker buff dan masker scuba.

Lewat akun Instagram @commuterline, PT KCI menjelaskan bahwa efektivitas masker scuba maupun masker buff hanya 5 persen dalam mencegah penularan virus SARS-CoV-2, virus corona strain baru penyebab COVID-19.

Penting untuk dibaca, khususnya kamu yang selama ini sering memakai kedua jenis masker tersebut dan punya banyak stok di rumah, berikut ini adalah beberapa alasan untuk tak lagi menggunakan masker tersebut.

1. Belum diakui secara medis

5 Alasan Kenapa Masker Scuba dan Buff Tidak Efektif Cegah COVID-19unsplash.com/Vladimir Palyanov

Mengutip dari berbagai sumber, masker buff berasal dari perusahaan di Amerika Serikat (AS), yang mana kebanyakan penggunaanya adalah pengendara motor. Masker ini bisa menutup bagian kepala, dari wajah hingga leher.

Selain itu, masker ini juga diketahui multifungsi karena bisa juga digunakan sebagai bandana atau topi. Namun, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Duke University, AS, masker buff memiliki tingkat perlindungan yang buruk ketimbang masker biasa. Studi yang dimuat dalam jurnal Science Advances yang terbit pada awal September 2020 lalu menyebut bahwa masker buff hanya memiliki tingkat perlindungan sekitar 5 persen. Duh!

Selain itu, masker ini juga belum diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) untuk menangkal SARS-CoV-2. Beda dengan masker N95 yang sudah terbukti mampu mencegah penyebaran virus secara efektif.

Sementara itu, pada masker scuba, ketebalan masker adalah 1-3 mm. Bahannya biasanya elastis dengan tingkatan hingga 40 persen.

2. Bahannya tipis

5 Alasan Kenapa Masker Scuba dan Buff Tidak Efektif Cegah COVID-19pixabay.com/Alexas Fotos

Bahan masker scuba dan buff yang tipis menjadi salah satu alasan kenapa dua masker tersebut dikatakan tidak efektif. PT KCI menyebut bahwa masker tersebut hanya mampu mencegah virus, debu, dan bakteri sebanyak 5 persen.

Turut menanggapi imbauan dari PT KCI, Juru Bicara Satgas COVID-19, Prof. drh. Wiku Adisasmito, MSc. Ph.D., setuju bahwa masker scuba tidak cocok untuk mencegah COVID-19.

"Masker yang baik adalah masker bedah dan ini biasanya digunakan untuk terutama orang-orang yang sedang sakit atau memiliki gejala dan juga bisa menggunakan masker kain untuk masyarakat yang sehat," kata Prof. Wiku dalam konferensi pers daring dari Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (15/9/2020).

Dia mengatakan, masker kain yang bagus adalah masker berbahan katun dan berlapis 3 karena mampu memfiltrasi dan menyaring partikel virus. Sementara itu, masker tipe scuba atau buff hanya memiliki satu lapis. Lapisan tersebut pun tipis, sehingga tidak efektif untuk melindungi penggunanya dari virus.

"Masker scuba atau buff ini adalah masker dengan satu lapis saja dan terlalu tipis sehingga kemungkinan untuk tembus tidak bisa menyaring lebih besar. Maka dari itu, disarankan untuk menggunakan masker yang berkualitas," terang Prof. Wiku.

Selain itu, laki-laki usia 56 tahun ini juga mengatakan bahwa masker scuba sering mudah ditarik ke bawah sampai dagu, sehingga membuat fungsi masker menjadi tidak efektif dalam mencegah virus.

Masker, apa pun jenisnya, harus dipakai dengan benar, yaitu menutupi batang hidung sampai mulut dan dagu serta rapat di pipi.

Menurut keterangan dari penelitian dari Universitas Oxford, Inggris, kain yang dipakai untuk masker harus memiliki tingkat ketahanan dari penularan virus corona sebanyak 70 persen. Penelitian tersebut juga menyebut, untuk meningkatkan ketahanan masker, kamu bisa menggunakan tisu yang dilipat menjadi tiga lapis lalu dimasukkan ke dalam masker.

WHO sendiri mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker tiga lapis karena dinilai efektif untuk melindungi kita dari paparan virus penyebab COVID-19.

Baca Juga: Hati-hati, 5 Masalah Kulit Ini Bisa Timbul Akibat Penggunaan Masker

3. Tidak memiliki filtrasi

5 Alasan Kenapa Masker Scuba dan Buff Tidak Efektif Cegah COVID-19unsplash.com/Long Truong

Masker scuba dan buff juga dikatakan tidak memiliki filtrasi yang mumpuni untuk menyaring partikel-partikel. Beda halnya dengan masker bedah atau masker N95.

Menurut keterangan dari Badan Standardisasi Nasional (BSN), persyaratan mutu masker medis dilihat dari bacterial filtration efficiency (BFE), microbial cleanlinessdifferential pressure, infective agent, splash resistance, serta sub-micron particulate filtration (PFE).

Dalam sebuah siaran pers, Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Halal BSN, Dr. Wahyu Purbowasito Setyo Waskito, S.W., M.Sc, menjelaskan bahwa BFE adalah efektivitas material masker medis dalam mencegah lewatnya bakteri aerosol, serta dinyatakan dalam persentase dari jumlah diketahui yang tidak menembus material masker medis pada laju alir aerosol yang ditetapkan.

Sementara itu, differential pressure menunjukkan tingkat permeabilitas udara dari masker, diukur dengan menentukan perbedaan tekanan di masker dalam kondisi aliran udara, suhu dan kelembapan tertentu. Ini merupakan indikator "kemampuan bernapas" dari masker. “Dengan kata lain, differential pressure adalah indikator seseorang nyaman bernapas atau tidak menggunakan masker juga dihitung dalam standar ini,” seperti yang tertulis dalam siaran pers.

Masker scuba dan buff saat dipakai akan mengalami kerenggangan, sehingga kerapatan dan pori akan membesar. Hal ini dapat menyebabkan permeabilitas udara menjadi tinggi. Kondisi ini akan membuat peluang partikel virus untuk menembus masker makin tinggi.

4. Memudahkan droplet untuk terbang

5 Alasan Kenapa Masker Scuba dan Buff Tidak Efektif Cegah COVID-19unsplash.com/sebastiaan stam

Studi dari Duke University juga menyebut bahwa masker buff tidak efektif dalam menahan droplet yang keluar dari mulut. Padahal, mulut merupakan media utama dari jalur keluar masuk virus penyebab COVID-19. Nah, saat seseorang berbicara, tertawa, batuk, atau bersin saat menggunakan masker buff atau scuba, droplet bisa dengan mudah keluar dan menyebarkannya ke orang di sekitar.

Inilah yang membuat PT KCI meminta pengguna KRL untuk tidak menggunakan kedua masker tersebut karena bisa membahayakan penumpang lainnya, apalagi di jam-jam berangkat dan pulang kantor yang padat penumpang.

5. Masker yang direkomendasikan

5 Alasan Kenapa Masker Scuba dan Buff Tidak Efektif Cegah COVID-19pexels.com/Ketut Subiyanto

Menurut keterangan dari WHO, masker medis dapat melindungi pemakainya agar tidak terinfeksi virus, serta dapat mencegah penularan dari orang lain yang memiliki gejala. Kelompok yang direkomendasikan untuk memakai masker medis adalah petugas kesehatan, siapa pun yang menunjukkan gejala COVID-19, termasuk orang dengan gejala ringan, serta orang yang merawat kasus suspek atau konfirmasi COVID-19 di luar fasilitas kesehatan.

Masker medis juga direkomendasikan untuk orang-orang berisiko, ketika mereka berada di daerah di mana terjadi penyebaran COVID-19 secara meluas dan tidak menjamin dapat menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain.

Masker kain nonmedis banyak digunakan di masyarakat, tetapi bukti-bukti terkait efektivitasnya masih terbatas dan WHO tidak merekomendasikan penggunaannya secara luas di kalangan masyarakat untuk pengendalian COVID-19.

Namun, untuk daerah di mana terjadi penyebaran COVID-19 secara meluas, yang kapasitasnya terbatas untuk menerapkan langkah-langkah pengendalian dan terutama di tempat-tempat di mana menjaga jarak fisik minimal 1 meter tidak dimungkinkan (seperti di transportasi umum, toko, atau lingkungan tertutup atau tempat ramai lainnya), WHO menyarankan pemerintah untuk mendorong masyarakat untuk menggunakan masker kain nonmedis.

Masker nonmedis (juga dikenal sebagai masker kain, masker buatan rumahan, masker buatan sendiri) dapat menjadi penghalang untuk mencegah penyebaran virus dari pemakai ke orang lain.

Masker jenis ini dapat dibeli atau dibuat sendiri, dan umumnya tidak memiliki standar seperti masker medis. Jenisnya ada banyak sekali.

Kriteria masker kain yang disarankan oleh WHO adalah:

  • Masker harus menutupi hidung, mulut, dan dagu
  • Dapat dikencangkan dengan tali melingkar atau ikatan elastis
  • Terdiri dari beberapa lapisan
  • Dapat dicuci dan digunakan kembali.

Bila perlu, tambahkan filter untuk dimasukkan ke dalam masker kain yang dipakai.

Perlu diingat bahwa penggunaan masker kain saja tidak cukup untuk melindungimu dari penularan virus corona secara memadai. Optimalkan dengan jaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain (lebih jauh lebih baik), cuci tangan sesering mungkin, hindari menyentuh wajah dan masker, serta jaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat.

Baca Juga: Masyarakat Diimbau Pakai Masker Kain, Masker Bedah untuk Tenaga Medis

Rizky Kusumo Photo Writer Rizky Kusumo

Sedang menjajaki karir sebagai penulis

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya