Comscore Tracker

5 Fakta Terapi Musik, Dijalani oleh Para Member SHINee

Terapi yang membantu mengelola kesehatan fisik dan mental

Bagi penggemar K-pop, pasti sudah tahu grup idol SHINee, dong. SHINee merupakan grup idol K-pop yang mulai debut pada tahun 2008. Menjelang comeback pada tahun 2021, SHINee aktif di channel YouTube-nya.

Pada 5 Februari 2021, mereka mengunggah konten dengan judul [REPLAY] The Ringtone: SHINee is Back untuk menyapa penggemarnya. Nah, dalam konten tersebut mereka menceritakan kegiatan yang mereka lakukan menjelang comeback, salah satunya menjalani terapi musik.

Menurut keterangan dari Australian Music Therapy Association, terapi musik digunakan untuk secara aktif mendukung peningkatan kesehatan, fungsi, dan kesejahteraan seseorang. Terapi ini bisa membantu orang-orang dari segala usia untuk mengelola kesehatan fisik dan mental, serta meningkatkan kualitas hidupnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini lima fakta terapi musik berdasarkan hasil beberapa kajian ilmiah. Bisa nambah pengetahuan, nih!

1. Menerapkan terapi musik pada penderita stroke iskemik dapat meningkatkan gaya berjalan, kemampuan berjalan, fungsi motorik tungkai bawah, kemampuan keseimbangan, dan kepuasan pengobatan

5 Fakta Terapi Musik, Dijalani oleh Para Member SHINeesutterhealth.org

Berdasarkan hasil penelitian Wang dkk. yang diterbitkan dalam Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases tahun 2021, disebutkan bahwa terapi musik pada pasien stroke bisa secara signifikan meningkatkan gaya berjalan, kemampuan berjalan, fungsi motorik ekstremitas, keseimbangan, dan kepuasan pengobatan pasien.

Ritme musik digunakan sebagai indikator eksternal untuk membantu pasien menyesuaikan gerakan tubuh mereka secara akurat. Dilaporkan bahwa respons motorik jadi lebih teratur dan fungsi motorik secara signifikan lebih tinggi daripada pasien yang tidak menerima irama musik. Ini menunjukkan bahwa indikasi ritme musik dapat meningkatkan respons motorik pasien.

Dikatakan juga bahwa terdapat peningkatan kecepatan berjalan berjalan. Ini menunjukkan bahwa efek stimulasi ritme terapi musik terhadap gaya berjalan pasien stroke lebih baik daripada pelatihan berjalan tradisional.

Tim peneliti menduga bahwa kemungkinan alasan untuk efek positif tersebut di antaranya stimulasi sinyal irama musik eksternal dapat meningkatkan keteraturan respons motorik pasien dan meningkatkan fungsi motorik pasien.

Ada pula kemungkinan karena sinyal chronaxie dari sistem pendengaran manusia dapat secara akurat dan cepat masuk ke dalam sinyal indikasi gerakan. Saat memutar musik untuk pasien dengan ritme yang teratur, pasien dapat memperoleh sinyal jelas cepat di bawah instruksi titik irama ritme, dan berjalan teratur di bawah irama tetap.

Selain itu, pasien terbiasa dengan musik yang dimainkan dalam terapi musik, yang meningkatkan keakuratan genggaman pasien pada irama musik sampai batas tertentu. 

Hasil penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa peningkatan fungsi motorik dan kemampuan keseimbangan tungkai bawah lebih baik pada kelompok studi daripada pada kelompok kontrol, begitu pula pada tingkat kepuasan pengobatan pasien. 

Hasil ini menunjukkan bahwa rangsangan ritme dari terapi musik tidak hanya dapat meningkatkan gaya berjalan pasien dengan stroke, tetapi juga meningkatkan kemampuan keseimbangan mereka dan meningkatkan fungsi motorik ekstremitas bawah dengan penerimaan yang lebih baik. 

2. Pada situasi darurat bisa dilakukan intervensi dukungan terapi musik jarak jauh untuk staf klinik yang dikelilingi situasi menegangkan

5 Fakta Terapi Musik, Dijalani oleh Para Member SHINeehopkinsmedicine.org

Giordano dkk., melakukan evaluasi mengenai pengaruh terapi musik sebagai intervensi pendukung untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan staf klinik yang menangani pasien COVID-19.

Berdasarkan hasil evaluasinya yang diterbitkan di jurnal The Arts in Psychotherapy tahun 2020, mereka mengonfirmasi bahwa pada situasi darurat bisa dilakukan intervensi dukungan terapi musik jarak jauh untuk staf klinik yang dikelilingi situasi menegangkan.

Penelitian tersebut melibatkan 34 staf klinik, di antaranya 14 dokter dan 20 perawat. Sampel mencakup 22 perempuan dan 12 laki-laki dengan rentang usia 22 hingga 59 tahun.

Hasil temuan mereka menunjukkan penurunan signifikan pada intensitas kelelahan, kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran seperti yang dilaporkan oleh staf klinik setelah menerima intervensi terapi musik.

Menurut literatur, efek psiko-biologis penting dari musik pada kondisi stres dianggap berasal dari aktivitas yang berkurang dari sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal dan karenanya menurunkan produksi kortisol, salah satu hormon stres.

Pada minggu pertama, playlist disiapkan oleh tiga terapis musik terlatih. Playlist disiapkan dengan mempertimbangkan sejauh mana musik dapat melibatkan bidang fisik, emosional, dan mental serta bidang pemikiran dengan cara yang ditargetkan tanpa menimbulkan efek samping, termasuk stimulasi berlebihan dan kehilangan kontak dengan kenyataan.

Melalui penilaian mingguan, terapis musik terlatih mampu menciptakan hubungan terapeutik jarak jauh dengan staf klinik, di antaranya untuk mengidentifikasi permintaan mereka dan mengurus kebutuhan, komentar, dan pengalaman khusus mereka; untuk menentukan dan mengatur pilihan musik berdasarkan beberapa fitur musik tertentu; untuk mempertimbangkan tingkat energi, keadaan kesehatan fisik dan suasana hati, genre, dan gaya musik yang disukai para peserta; dan untuk menyesuaikan playlist untuk mereka masing-masing.

Data yang diperoleh menyoroti bahwa playlist yang disesuaikan memiliki dampak yang lebih besar pada penanda tertentu, karena mampu menanggapi kebutuhan khusus yang muncul selama penilaian mingguan.

Selain itu, data juga menunjukkan bahwa meskipun staf klinik sering menggunakan musik yang direkam sebelumnya melalui perangkat pemutar musik pribadi atau media lainnya, keberadaan terapis musik terlatih dianggap sebagai bantuan dan dukungan yang lebih besar.

Staf klinik mendefinisikan intervensi terstruktur ini, yaitu di antaranya penilaian mingguan, pedoman mendengarkan, personalisasi playlist, sebagai empatik, suportif, dan profesional.

Baca Juga: 5 Informasi tentang Radioterapi sebagai Metode Pengobatan Kanker

3. Terapi musik kreatif berpotensi untuk meningkatkan hasil perkembangan saraf jangka panjang pada anak-anak yang lahir prematur

5 Fakta Terapi Musik, Dijalani oleh Para Member SHINeepbs.org

Haslbeck dkk., melakukan penelitian uji coba terkontrol secara acak mengenai terapi musik kreatif untuk meningkatkan fungsi otak dan struktur otak bayi prematur yang diterbitkan di jurnal NeuroImage: Clinical tahun 2020.

Terapi musik kreatif memiliki efek menguntungkan pada aktivitas fungsional otak dan konektivitas dalam jaringan yang mendasari fungsi kognitif, sosio-emosional, dan motorik tingkat tinggi pada bayi prematur. Ini menunjukkan potensi terapi musik kreatif untuk meningkatkan hasil perkembangan saraf jangka panjang pada anak-anak yang lahir lebih cepat.

Tim peneliti menemukan peningkatan konektivitas struktural dari cingulate gyrus posterior kiri (terkait dengan fokus perhatian dan empati) dan peningkatan konektivitas antara sentralitas di hipokampus kiri dan kanan (terkait dengan pemrosesan emosi sosial dan memicu reaksi emosional yang sesuai). 

Dikatakan bahwa respons terapeutik terhadap musik dengan koordinasi tindakan timbal balik dan koregulasi efektif dapat memfasilitasi penggandengan intrabrain dan dengan demikian mengaktifkan jaringan otak yang terlibat dalam regulasi emosi, perilaku sosial, empati, dan pemrosesan kognitif.

Hasil penelitian menunjukkan dominasi otak kiri untuk efek terapi musik kreatif. Peningkatan aktivitas frontal kiri dikaitkan dengan pengalaman emosional positif dan kecenderungan untuk mendekati stimulus, sedangkan peningkatan aktivitas frontal kanan dikaitkan dengan pengalaman emosional negatif. Dengan ini mereka berasumsi bahwa pemrosesan yang teridentifikasi di area frontal kiri menunjukkan pengaruh positif terapi musik kreatif pada bayi prematur.

Selain itu, terapi musik kreatif adalah pendekatan pengintegrasian keluarga yang bertujuan untuk memberdayakan orang tua dalam melalui interaksi vokal intuitif dengan bayi mereka.

Jadi, dengan mengurangi stres orang tua dan meningkatkan harga diri dan daya tanggap orang tua dalam terapi musik, ini bisa membuat bayi prematur jadi lebih relaks dan mudah diatur oleh orang tua. Namun, meskipun terlalu spekulatif untuk menyimpulkan pada titik ini bahwa keterlibatan orang tua meningkatkan konektivitas fungsional otak pada bayi prematur, tetap dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

4. Terapi musik rumahan memberikan kesempatan bagi klien, terapis musik, dan keluarga klien untuk mengeksplorasi kepribadian klien dan memperkuat hubungan mereka masing-masing

5 Fakta Terapi Musik, Dijalani oleh Para Member SHINeeukhealthcare.uky.edu

Otera dkk., melakukan penelitian pada perempuan Jepang yang berusia 80 tahunan, yang terdiagnosis mengidap Alzheimer. Penelitian tersebut dilakukan guna untuk mengeksplorasi ciri klinis terapi musik rumahan dalam menunjang kepribadian pada orang dengan demensia yang diterbitkan di jurnal The Arts in Psychotherapy tahun 2020. Dalam studi kasus ini, terapi musik memberikan klien, yang cenderung terisolasi, kesempatan untuk interaksi sosial dan menciptakan kenangan.

Mereka mengeksplorasi apa yang disajikan terapi musik kepada klien pada tingkat pribadi dan mempertimbangkan kepribadian dari perspektif tema intersubjektivitas dan singularitas dari Charon (2006).

Dalam membangun hubungan seperti itu dari perspektif terapi musik, peran yang dimainkan dengan menyanyikan lagu-lagu yang akrab bersama-sama, mendiskusikan topik, dan berbagi gambar yang berkaitan dengan nyanyian sangat penting.

Betapa pentingnya musik yang akrab di rumah seseorang menunjukkan bahwa ada signifikansi klinis untuk terapi musik berbasis rumah. Peristiwa yang berkaitan dengan intersubjektivitas adalah: hubungan antara terapis dan klien, hubungan antara klien dan putrinya, gambar yang dihasilkan oleh musik yang sudah dikenal, dan ruang terapi selama sesi. Pengaruh lingkungan rumah pada empat peristiwa ini sangat penting.

Dinamika hubungan pemberian asuhan dan asuhan antara klien dan terapis di lingkungan rumah berbeda dari yang ada di fasilitas medis atau keperawatan. Dalam fasilitas seperti ini, klien adalah penerima perawatan dan terapis adalah pemberi perawatan. Namun, dalam pengaturan rumah klien, klien adalah tuan rumah sedangkan terapis adalah tamu. 

Melakukan sesi di rumah klien juga dapat meningkatkan singularitas narasi. Lingkungan rumah memudahkan terapis untuk mendapatkan informasi latar belakang klien, termasuk riwayat, budaya, dan komunitasnya dalam konteks nyata. Eksposur ini memberi terapis sumber daya yang kaya untuk merencanakan terapi musik dan memahami kepribadian klien.

Menyediakan terapi musik di rumah klien dapat membantu keluarga merasa musik dan terapi musik lebih mudah diakses. Meskipun intersubjektif, yaitu gambar dan ruang, umumnya dialami dalam terapi musik terlepas dari tempat praktiknya. Lingkungan rumah dapat membuat ruang terapi lebih aman dan unik.

Bahkan jika sumber daya kognitif, fisik, mental atau sosial terbatas karena demensia, terapi musik rumahan dapat memberikan kesempatan bagi klien untuk mempertahankan kepribadian mereka, dan bagi keluarga dan pengasuh untuk mengeksplorasi kepribadian orang dewasa yang lebih tua dengan demensia. 

5. Selama terapi musik, perilaku sosial anak-anak dengan autisme mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelum terapi

5 Fakta Terapi Musik, Dijalani oleh Para Member SHINeebiola.edu

Pater dkk., melakukan studi kasus ganda mengenai kemajuan perkembangan perilaku sosial anak dengan gangguan spektrum autisme yang mendapatkan terapi musik. Penelitian ini mengonfirmasi penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa selama terapi musik, perilaku sosial anak-anak dengan autisme mengalami peningkatan, dibandingkan dengan sebelum terapi.

Dalam studi ini mereka mencoba menjawab pertanyaan apakah perilaku sosial anak-anak dengan autisme meningkat selama Program Terapi Musik Papageno (PMTP). Dikarenakan PMTP ini baru dikembangkan, maka studi kasus ini dilakukan pada 10 anak selama 23 minggu. Perilaku sosial dinilai sebelum, setelah 10 minggu, dan di akhir terapi dengan Kuisioner Inventarisasi Perilaku Sosial Anak (VISK), serta secara mingguan dengan Social Behavior Questionnaire (SBQ). 

Penelitian ini menunjukkan setidaknya lima anak mengalami sedikit peningkatan dalam melakukan kontak mata, mampu berkonsentrasi pada permainan selama 5 menit, mampu mengatasi perubahan, adaptasi dengan situasi, berkomunikasi secara lisan, mampu fokus pada sesuatu secara bersama, mampu mempertimbangkan orang lain, dan mengambil inisiatif dari SBQ. 

Kemajuan terbesar, tiga anak menunjukkan perkembangan yang kuat, terlihat dalam bidang mengerjakan sesuatu bersama dan mengambil inisiatif. Hasil aktivitas sosial sebagian konsisten dengan peringkat VISK. Analisis statistik tambahan dari faktor-faktor ini menunjukkan pola substansial dalam data yang menunjukkan perkembangan yang dapat dikorelasikan dengan proses intervensi.

Akhirnya, dalam penelitian ini mereka memperoleh wawasan tentang jalannya terapi musik dan kemungkinan kontribusinya terhadap perilaku sosial. Intervensi berdasarkan pengalaman seperti terapi musik tampaknya merupakan intervensi yang rumit untuk mengidentifikasi efeknya, sehingga masih butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitasnya.

Demikianlah lima fakta mengenai terapi musik dari beberapa studi kasus. Ternyata, terapi musik ini bisa diterapkan di berbagai situasi dan permasalahan dan manfaatnya bisa dirasakan oleh mental maupun fisik.

Baca Juga: Ini 10 Hal yang Terapis Massage Ingin Kamu Tahu Soal Pijat Sejujurnya

Sarah Ferwinda Photo Writer Sarah Ferwinda

Who passionate about writing

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya