Comscore Tracker

Khawatir karena Sering Bersin? Ini Beda Gejala COVID-19 dan Flu Biasa

Ada beberapa karakter gejala yang membedakannya

Di masa pandemik, saat ada gejala seperti flu banyak orang yang langsung khawatir apakah itu flu biasa atau infeksi akibat SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Hingga kini, mungkin masih banyak orang yang tidak membedakannya.

Keluhan bersin bisa membuat penderitanya tidak nyaman, bahkan merasa takut dengan kesehatannya. Orang-orang di sekitarnya pun bisa menjadi tak nyaman dan mungkin mencurigai orang tersebut membawa virus corona.

Agar tak bingung atau khawatir berlebihan, yuk, memahami gejala antara flu biasa dan akibat SARS-CoV-2. Simak ulasannya di bawah ini.

Gejala COVID-19 dan flu yang mirip

Khawatir karena Sering Bersin? Ini Beda Gejala COVID-19 dan Flu BiasaIlustrasi corona. IDN Times/Mardya Shakti

Melansir laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), COVID-19 dan flu punya gejala yang mirip, memiliki berbagai tingkat tanda dan gejala, mulai dari tanpa gejala (asimtomatis) hingga gejala yang parah.

Gejala umum COVID-19 dan flu meliputi:

  • Demam atau menggigil
  • Batuk
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas
  • Kelelahan
  • Sakit tenggorokan
  • Hidung berair atau tersumbat
  • Nyeri otot atau nyeri tubuh
  • Sakit kepala
  • Beberapa orang bisa mengalami muntah-muntah dan diare, walaupun gejala lebih umum dialami anak-anak

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk membedakan gejala flu biasa dan COVID-19.

1. Perhatikan gejala demam yang muncul

Khawatir karena Sering Bersin? Ini Beda Gejala COVID-19 dan Flu BiasaIlustrasi Demam (IDN Times/Mardya Shakti)

Melansir BBC, kebanyakan orang yang terpapar virus corona memiliki paling tidak satu dari gejala umum di bawah ini:

  • Suhu yang terukur tinggi
  • Mengalami batuk terus-menerus
  • Kehilangan atau perubahan pada indra perasa dan penciuman

Kalau mengalami demam, apakah itu akibat infeksi SARS-CoV-2?

Suhu yang terukur tinggi berarti 37,8 derajat Celcius atau lebih. Demam seperti ini bisa terjadi saat tubuh sedang berperang melawan infeksi, bukan cuma virus corona.

Paling baiknya, ukur suhu tubuh dengan termometer. Bila tidak ada, cek bila dirimu atau orang yang demam merasakan panas saat menyentuh dada atau punggung. 

Walaupun demam adalah gejala penting pada COVID-19, tetapi itu bisa juga akibat flu atau infeksi lainnya. Namun, bila flu, biasanya demam yang dihasilkan tidak akan tinggi.

Bila curiga tertular COVID-19, segera hubungi fasilitas layanan kesehatan untuk melakukan tes.

2. Waspadai bila muncul sesak napas

Khawatir karena Sering Bersin? Ini Beda Gejala COVID-19 dan Flu BiasaIlustrasi corona. IDN Times/Mardya Shakti

Melansir Harvard Health Publishing, salah satu gejala COVID-19 adalah sesak napas atau kesulitan dalam bernapas. Sesak napas mengacu pada napas tersengal-sengal secara tiba-tiba atau kehabisan napas. Pertanyaannya, kapan sesak napas harus dikhawatirkan?

Ada banyak contoh sesak napas yang tidak berbahaya. Misalnya saat merasa cemas, ini umum terjadi akan hilang dengan sendirinya bila sudah tenang. Namun, bila kamu merasa sesak napas atau kesulitan menghirup udara setiap kali memaksakan diri, sebaiknya segera periksakan ke dokter, baik di masa pandemik seperti sekarang ini atau setelah pandemik ini selesai.

Sementara itu, penting untuk diingat jika sesak napas adalah adalah satu-satunya gejala yang dirasakan, tanpa adanya batuk atau demam, kemungkinan penyebabnya adalah selain COVID-19.

Baca Juga: Studi: Obat Kecemasan dan OCD Bisa Cegah COVID-19 Bergejala Berat 

3. Waspada durasi kemunculan gejala atau bila gejala yang dirasakan menetap dan/atau lebih parah

Khawatir karena Sering Bersin? Ini Beda Gejala COVID-19 dan Flu BiasaIlustrasi corona. IDN Times/Arief Rahmat

Salah satu hal yang membuat COVID-19 sulit dipahami adalah serangannya yang berbeda-beda pada tiap orang. Ada yang tanpa gejala, sementara yang lainnya — bahkan pada orang yang sehat dan relatif muda — mengalami sakit parah atau bisa sampai meninggal. Melansir Harvard Health Publishing, ini mungkin ada hubungannya dengan interferon.

Studi terbaru menunjukkan bahwa hingga 14 persen orang-orang yang mengembangkang gejala COVID-19 parah memiliki respons interferon yang tidak adekuat. Pada beberapa orang, ini terjadi karena antibodinya secara keliru menyerang dan menetralkan interferon mereka. Pada beberapa orang lainnya memiliki mutasi genetik dan mencegah tubuh memproduksi cukup jenis interferon tertentu.

Alasan penting lainnya tentang perbedaan tingkat keparahan penyakit COVID-19 juga berhubungan dengan sistem kekebalan. Bila sistem kekebalan tidak mati setelah virus dikendalikan, itu bisa menjadi overdriver. Akibatnya, terjadi respons peradangan yang intens dan meluas yang merusak jaringan di seluruh tubuh. Ini sering disebut sebagai badai sitokin.

Melansir CDC, baik flu biasa maupun COVID-19, 1 hari atau lebih bisa berlalu antara seseorang yang terinfeksi dan ketika dia mulai mengalami gejala.

Pada COVID-19, butuh waktu lebih lama untuk mengembangkan gejala dibandingkan jika mereka terserang flu.

Pada flu, biasanya gejala akan muncul 1-4 hari setelah infeksi. Sementara pada COVID-19, biasanya seseorang akan mengembangkan gejala 5 hari setelah terinfeksi, tetapi gejala bisa muncul paling cepat 2 hari setelah infeksi atau paling lambat 14 hari setelah infeksi, dan rentang waktunya bisa bervariasi.

Apakah gejala COVID-19 bisa memburuk dengan setelah beberapa hari sakit?

Gejala umumnya adalah demam, batuk kering, kelelahan, hilangnya kemampuan perasa, penciuman, dan nyeri tubuh. Pada beberapa orang, COVID-19 menyebabkan gejala lebih berat seperti demam tinggi, batuk parah, dan sesak napas yang sering menandakan pneumonia.

Seseorang mungkin memiliki gejala ringan selama seminggu, lalu memburuk dengan cepat. Bila ini terjadi, segera periksakan ke dokter, atau bila ada gejala seperti: sulit bernapas, nyeri atau tekanan persisten di dada, kebingungan atau ketidakmampuan untuk menyadarkan orang tersebut, serta bibir atau wajah kebiruan.

4. Hilangnya kemampuan indra pengecap dan penciuman

Khawatir karena Sering Bersin? Ini Beda Gejala COVID-19 dan Flu Biasapxhere/Dana Tentis

Perlu diperhatikan, pada flu, tidak terjadi perubahan atau kehilangan kemampuan indra perasa dan indra penciuman. 

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University College London, Inggris, hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa mungkin lebih reliabel sebagai indikator COVID-19 ketimbang batuk atau demam. 

Studi tersebut menemukan, pada 590 orang yang kehilangan kemampuan penciuman atau pengecap, 80 persen dari mereka memiliki antibodi virus corona.

5. Gejala bisa muncul dari aktivitas yang berisiko terhadap penularan COVID-19

Khawatir karena Sering Bersin? Ini Beda Gejala COVID-19 dan Flu BiasaIlustrasi virus corona (IDN Times/Arief Rahmat)

Perbedaann lainnya yang perlu diperhatikan adalah ada atau tidaknya risiko penularan SARS-CoV-2. Misalnya bepergian ke luar rumah tidak pakai masker, pergi ke tempat dengan kerumunan orang, bepergian ke daerah dengan tingkat kasus tinggi, atau berinteraksi dengan pasien positif.

Bepergian dan menghadiri tempat di mana banyak orang berkumpul berisiko menularkan virus corona, seperti yang ditulis oleh David J Cennimo, MD, FAAP, FACP, AAHIVS dari Rutgers New Jersey Medical School, Amerika Serikat, di laman Medscape.

Itulah poin-poin perbedaan gejala flu biasa dan COVID-19. Bila kamu curiga tertular dan mengalami gejala, segera lakukan isolasi mandiri, hubungi fasilitas layanan kesehatan terdekat, ceritakan kondisimu, dan lakukan tes untuk memastikannya. 

Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19, menggelar kampanye 3M: gunakan Masker, Menghindari kerumunan atau jaga jarak fisik, dan rajin Mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir. Jika protokol kesehatan ini dilakukan dengan disiplin, diharapkan dapat memutus mata rantai penularan virus. Menjalankan gaya hidup 3M, akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times.

Agil Antono Photo Writer Agil Antono

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya