Comscore Tracker

Hobi Mengonsumsi Makanan Ultra-Proses saat Pandemik? Waspada Risikonya

Yuk, tetap jaga pola makan sehat selama pandemik

Saat pandemik seperti ini, banyak orang yang lebih banyak beraktivitas di rumah. Meski begitu, bukan berarti dengan di rumah saja kita jadi lebih sehat. Kadang, pola makan kita bahkan tak sehat, misalnya mengonsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed food) alias makanan yang melewati banyak proses pengolahan.

Contoh makanan ultra-proses adalah roti tawar, permen, es krim, sirop, cookies, piza, keripik, sup kemasan siap masak, nugget, dan masih banyak lagi. Makanan tersebut telah ditambahkan zat kimia (pemanis buatan, garam, penyedap, pewarna) di dalamnya supaya tahan lama.

Jelas ada risiko kesehatan yang mengintai bila kamu terlalu banyak mengonsumsi makanan ultra-proses. Apa saja? Yuk, simak ulasannya di bawah ini!

1. Produk olahan daging meningkatkan risiko penyakit jantung dan inflamasi pada tubuh

Hobi Mengonsumsi Makanan Ultra-Proses saat Pandemik? Waspada Risikonyapexels.com/ROMAN ODINTSOV

Sumber utama makanan ini biasanya terdapat pada olahan produk hewani seperti sosis, burger, hot dog, piza, nugget, bacon, hingga daging asap. Kandungan yang umumnya ada dalam produk olahan tersebut adalah lemak trans.

Menurut sebuah studi dalam Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews tahun 2019, peningkatkan 2 persen dalam asupan energi dari lemak trans dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 23 persen.

Selain itu, melansir Medical News Today, konsumsi lemak trans yang terlalu tinggi dapat meningkatkan inflamasi atau peradangan dalam tubuh.

2. Produk olahan dengan pemanis tambahan meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, hingga obesitas

Hobi Mengonsumsi Makanan Ultra-Proses saat Pandemik? Waspada Risikonyapixabay.com/JillWellington

Senang makan produk olahan yang manis-manis? Sebetulnya tak masalah, tetapi perhatikan dulu bahan pemanis yang dipakai. Bila berupa gula merah, gula pasir, sirop, molases, madu, dan sejenisnya, kamu perlu hati-hati.

Cookies, permen, minuman bersoda, biskuit, es krim, atau minuman berenergi adalah sebagian contoh dari produk olahan dengan pemanis yang perlu dikurangi atau dibatasi konsumsinya.

Melansir Healthline, mengonsumsi makanan tinggi pemanis tambahan dapat meningkatkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tidak sehat, dan obesitas.

Baca Juga: Sering Gak Sadar, 5 Makanan Gurih Ini Ternyata Pemicu Kanker Payudara

3. Produk olahan yang mengandung pewarna dan pengawet kimia dapat meningkatkan risiko kanker hingga gangguan perilaku pada anak

Hobi Mengonsumsi Makanan Ultra-Proses saat Pandemik? Waspada Risikonyapexels.com/Tiago Pereira

Produk ini banyak dijual di supermarket, minimarket, bahkan warung dekat rumah. Misalnya biskuit, keripik, sereal, permen, hingga berbagai produk roti.

Melansir situs Center for Science in the Public Interest, pewarna makanan sintetis telah dicurigai mengganggu perilaku anak sejak tahun 1970-an, ketika Dr. Ben Feingold, seorang ahli alergi asal Amerika Serika (AS) melaporkan bahwa banyak pasiennya yang mengalami perbaikan setelah melakukan perubahan pola makan.

Sejumlah studi terkontrol yang dilakukan selama tiga dekade berikutnya di AS, Eropa, dan Australia juga membuktikan bahwa perilaku beberapa anak diperburuk oleh pewarna makanan buatan.

Melansir NDTV Food, konsumsi produk dengan pengawet non alami dalam jumlah banyak bisa meningkatkan risiko melemahnya jaringan pada jantung serta meningkatkan risiko kanker.

4. Makanan beku dapat meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, hingga stroke

Hobi Mengonsumsi Makanan Ultra-Proses saat Pandemik? Waspada Risikonyapixabay.com/ElasticComputerFarm

Makanan beku alias frozen food banyak dikonsumsi karena mengenyangkan dan bisa disiapkan dengan cara instan dan praktis. Contohnya adalah nugget, ayam katsu, atau produk beku lainnya yang cara masaknya umumnya tinggal digoreng, direbus, dikukus, atau dipanaskan dengan microwave

Namun, perlu diketahui bahwa beberapa jenis makanan beku mengandung lemak jenuh yang tinggi, serta umumnya ditambahkan garam atau gula dalam jumlah besar. 

Melansir NDTV Food, beberapa zat yang ditambahkan dapat mempertinggi risiko masalah berat badan dan jantung, hingga meningkatkan tekanan darah.

5. Produk roti refined grains dapat meningkatkan risiko diabetes dan pengerasan arteri

Hobi Mengonsumsi Makanan Ultra-Proses saat Pandemik? Waspada Risikonyapexels..com/Buenosia Carol

Seberapa sering kamu makan roti tawar atau roti putih? Bila sering, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk mengurangi konsumsinya. Pasalnya, produk olahan dari refined grains atau biji-bijian olahan memiliki risiko kesehatan. 

Menurut penelitian dalam American Journal of Clinical Nutrition tahun 2000, kurangnya kandungan serat, magnesium, dan vitamin E menjadikan produk olahan tersebut meningkatkan risiko diabetes.

Selain itu, penelitian tahun 2007 menemukan bahwa mengonsumsi produk olahan refined grains secara rutin dapat meningkatkan risiko pengerasan pembuluh darah arteri.

Daripada banyak mengonsumsi makanan olahan ultra-proses, baiknya prioritaskan pola makanan sehat dari makanan utuh, lebih baiknya lagi masak sendiri makananmu. Optimalkan dengan olahraga rutin, tidur cukup, dan kelola stres dengan baik agar sistem kekebalan tubuh senantiasa terjaga. 

Baca Juga: Sedap di Lidah, 15 Makanan untuk Lancarkan Pembuluh Arteri

bocah bandung99 Photo Verified Writer bocah bandung99

I will write an amazing researched article

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya