Comscore Tracker

Ampuhkah Vaksin Cegah Virus Corona Varian Delta dan Lambda?

Varian baru SARS-CoV-2 tunjukkan resistansi terhadap vaksin

Strain virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 berkembang saat mereplikasi diri. Hasilnya, SARS-CoV-2 menghasilkan mutasi yang bukan hanya lebih menular, tetapi juga memengaruhi respons terhadap vaksinasi.

Meski manusia telah meramu vaksin dengan waktu tercepat sepanjang sejarah, ternyata COVID-19 tetap butuh waktu untuk dimengerti. Menurut penelitian terbaru, varian SARS-CoV-2 yang saat ini marak ternyata menunjukkan resistansi terhadap vaksin. Berikut ini ulasan lengkapnya.

1. Studi Amerika Serikat: mereka yang telah divaksinasi dan terkena varian Delta tetap dapat menularkan

Ampuhkah Vaksin Cegah Virus Corona Varian Delta dan Lambda?ilustrasi COVID-19 (IDN Times/Sukma Shakti)

Dilansir Reuters, sebuah studi terbaru di Wisconsin, Amerika Serikat (AS), pada 31 Juli 2021, meneliti penularan infeksi varian Delta pada kelompok yang divaksin. Studi ini dimuat dalam jurnal medRxiv dan masih menunggu ulasan sejawat (peer review). 

Menurut studi bertajuk "Vaccinated and unvaccinated individuals have similar viral loads in communities with a high prevalence of the SARS-CoV-2 delta variant" tersebut, dikatakan jika terinfeksi varian Delta, mereka yang divaksinasi tetap dapat menyebarkan COVID-19 ke orang lain.

Para peneliti melakukan tes usap (swab test) pada pasien COVID-19 yang sudah divaksinasi dan yang tidak. Hasilnya, beban virus (viral load) kedua kelompok serupa, sehingga penularan tetap terjadi. Dengan kata lain, semakin banyak jumlah virus di hidung dan tenggorokan, semakin besar risiko penularannya.

Salah satu penulis studi dari Public Health Madison & Dane County, AS, Katarina Grande, mengatakan temuan ini membantah asumsi utama kalau mereka yang sudah divaksinasi berisiko rendah menularkan SARS-CoV-2 ke orang lain.

"Temuan ini menunjukkan bahwa orang yang telah divaksinasi pun harus mengambil tindakan pencegahan agar virus COVID-19 tidak menyebar ke orang lain," tulis Katarina yang dikutip Reuters.

2. Studi Singapura: vaksin tetap jadi "senjata utama" mengalahkan pandemi COVID-19

Ampuhkah Vaksin Cegah Virus Corona Varian Delta dan Lambda?ilustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Hasil penelitian dari Wisconsin juga senada dengan yang ditemukan di Singapura. Dilakukan pada tanggal yang sama, penelitian bertajuk "Virological and serological kinetics of SARS-CoV-2 Delta variant vaccine-breakthrough infections" ini dimuat dalam medRxiv dan masih menunggu peer review.

Dalam penelitian yang melibatkan 218 pasien COVID-19 varian Delta tersebut, para peneliti Singapura menemukan bahwa beban virus pada pasien yang sudah divaksinasi dan yang belum memang sama. Akan tetapi, kabar baiknya beban virus ditemukan menurun lebih cepat pada kelompok yang sudah mendapat vaksinasi messenger ribonucleic acid (mRNA).

"Vaksinasi dikaitkan dengan penurunan beban virus RNA yang lebih cepat dan respons serologis yang lebih kuat. Oleh karena itu, vaksinasi tetap menjadi strategi utama untuk mengendalikan pandemi COVID-19," tulis para peneliti Singapura.

Baca Juga: Studi: Vaksin AstraZeneca Ampuh Cegah COVID-19 Varian Delta

3. Studi Jepang: varian Lambda "kebal" terhadap vaksin

Ampuhkah Vaksin Cegah Virus Corona Varian Delta dan Lambda?ilustrasi infeksi virus corona COVID-19 (IDN Times/Mardya Shakti)

Ditemukan pertama kali di Peru pada Desember 2020, varian Lambda (C.37) tengah menjadi salah satu varian yang mendominasi kawasan Amerika Selatan. Selain lebih menular, penelitian terbaru di Jepang pada 28 Juli 2021 mengungkapkan kalau varian Lambda ternyata "kebal" terhadap vaksin saat ini.

Dimuat di jurnal bioRxiv dan masih menunggu peer review, penelitian berjudul "SARS-CoV-2 Lambda variant exhibits higher infectivity and immune resistance" ini menemukan kalau ada tiga protein spike yang membuat varian Lambda dapat menahan antibodi dari vaksin, yaitu:

  • RSYLTPGD246-253N
  • 260 L452Q
  • F490S

Dua mutasi lainnya, T76I dan L452Q, membuat varian Lambda jauh lebih menular. Dikarenakan Badan Kesehatan Dunia (WHO) masih mengecap Lambda sebagai variant of interest (VOI) karena terlihat tidak lebih berbahaya dari varian Delta, para peneliti Jepang khawatir dunia akan kaget saat mengetahui bahayanya.

"Lambda bisa menjadi ancaman potensial bagi manusia," kata Kei Sato, salah satu peneliti studi tersebut, kepada Reuters.

4. Studi AS lain: suntikan booster mRNA menaikkan kuantitas antibodi, tetapi tidak kualitasnya

Ampuhkah Vaksin Cegah Virus Corona Varian Delta dan Lambda?ilustrasi penyuntikan vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Sebuah penelitian lain pada 29 Juli 2021 oleh peneliti dari Rockefeller University, AS, mengatakan kalau suntikan dosis ketiga atau booster vaksin mRNA dapat menaikkan tingkat antibodi. Namun, kualitas antibodi untuk menangkal varian baru masih dipertanyakan. Studi ini diterbitkan di bioRxiv dan masih menunggu peer review.

Dalam penelitian bertajuk "Antibody Evolution after SARS-CoV-2 mRNA Vaccination" ini, para peneliti AS menguji antibodi dosis ketiga vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna. Para peneliti menemukan bahwa selama tahun pertama, antibodi para pasien COVID-19 lebih kuat dan mampu melawan varian baru.

Kemudian, pada 32 peserta non-COVID-19 yang divaksinasi mRNA, antibodi vaksin mRNA memang berevolusi di antara suntikan pertama dan kedua. Akan tetapi, 5 bulan kemudian, antibodi tersebut hanya meningkat dalam kuantitas, tetapi kualitasnya sama seperti dosis kedua.

"Saat ini, vaksin tetap berguna mencegah infeksi serius. Jika memang efektivitasnya berkurang terhadap infeksi serius, maka booster adalah solusi yang tepat. Namun, jika [suatu saat] ada vaksin baru yang melindungi terhadap varian tertentu, itu adalah pilihan terbaik," ujar Michel C. Nussenzweig, salah satu peneliti di studi tersebut.

Baca Juga: Studi: Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Butuh Booster

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya