Comscore Tracker

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janin

Kawal kehamilan dari mulai persiapan hingga hari persalinan

Bagi calon ibu dan ayah, masa kehamilan dan persalinan adalah masa-masa yang penuh tantangan dan menegangkan. Terutama untuk para ibu hamil, tubuh sedang berada dalam kondisi yang rentan terkena infeksi. Oleh karena itu, ibu hamil perlu dijaga setiap waktu.

Jika infeksi terjadi di periode kehamilan atau mendekati persalinan, efeknya bisa fatal untuk bayi yang baru lahir. Apa saja infeksi itu? Inilah beberapa infeksi saat kehamilan yang berpotensi fatal untuk buah hati jika tak segera ditangani.

1. Cacar air

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi virus varicella-zoster (drugtopics.com)

Cacar air atau chickenpox disebabkan oleh varicella-zoster virus (VZV). National Health Service (NHS) menyebut bahwa ibu hamil 90 persen kebal dari cacar air, dan umumnya cacar air tidak menyebabkan komplikasi serius pada ibu hamil maupun janin.

Akan tetapi, menurut Mayo Clinic, cacar air pada masa kehamilan dapat menyebabkan pneumonia untuk ibu hamil. Untuk janin, komplikasi akibat cacar air tergantung pada waktunya.

  • Cacar air di minggu ke-8 dan 20: bayi terancam mengalami sindrom varisela kongenital, abnormalitas pada bayi akibat infeksi VZV pada ibu hamil.
  • Cacar air 4-5 hari sebelum melahirkan hingga 48 jam setelah melahirkan: bayi terancam varisela neonatal, yang mana ini dapat berakibat fatal.

Jika calon ibu terpapar VZV dan belum divaksinasi, segera konsultasikan ke dokter. Dokter biasanya akan memberikan suntikan antibodi terhadap cacar air. Jika diberikan 10 hari setelah terpapar, suntikan ini dapat mengurangi risiko dan keparahan cacar air.

Namun, jika calon ibu sudah terjangkit cacar air, biasanya para ibu akan diresepkan obat antivirus. Jika cacar air terjadi setelah melahirkan atau dalam 2 minggu pertama kehidupannya, bayi akan dirawat dengan antibodi untuk mencegah risiko varisela neonatal atau dengan obat antivirus.

Amat disarankan untuk para perempuan agar mendapatkan vaksin cacar air sebelum hamil. Namun, untuk rencana kehamilan, perempuan disarankan untuk menunggu maksimal tiga bulan setelah dosis kedua vaksin cacar air. Selain itu, tes darah dapat mengonfirmasi imunitas para calon ibu terhadap cacar air.

2. Cytomegalovirus (CMV)

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi cytomegalovirus atau CMV (stanfordbloodcenter.org)

Termasuk ke dalam kelompok virus herpes, cytomegalovirus (CMV) adalah salah satu penyebab herpes simpleks dan cacar air. NHS mencatat CMV lumrah terlihat di anak-anak. Namun, jika ibu hamil terpapar CMV dan menularkannya pada janin, bayi bisa mengalami:

  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan penglihatan
  • Keterbelakangan mental
  • Epilepsi 

Komplikasi-komplikasi tersebut dapat terlihat saat lahir atau saat tumbuh kembang bayi. Teruntuk para ibu hamil yang bekerja dekat dengan anak-anak, risiko CMV dapat dikurangi dengan cara:

  • Mencuci tangan dengan air dan sabun (terutama setelah dekat dengan anak-anak atau mengganti popok).
  • Tidak mencium wajah anak-anak.
  • Tidak berbagi makanan dan alat makan dengan anak-anak dan tidak minum dari gelas yang sama dengan mereka.

Tes darah dapat mengonfirmasi apakah ibu hamil pernah memiliki riwayat terkena CMV. Untuk para bayi yang terinfeksi CMV, obat antivirus dapat mengurangi risiko komplikasi akibat CMV.

3. Group B Streptococcus (GBS)

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi Group B Streptococcus (sci-news.com)

Saat ibu hamil terinfeksi group B Streptococcus (GBS), umumnya tidak terlihat tanda infeksi atau gejala. Namun, ibu hamil bisa menularkannya pada janin. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), GBS menyebabkan meningitis dan berbagai infeksi aliran darah pada bayi.

Para ibu hamil harus menjalani tes GBS di minggu ke-36 atau 37 kehamilan mereka. CDC menekankan bahwa jika ibu hamil positif GBS, maka risiko penularan makin besar. Selain itu, risiko infeksi GBS pada bayi meningkat pesat dengan kelahiran prematur.

CDC memperkirakan 2-3 dari 50 bayi wafat akibat infeksi GBS. Untuk mencegah infeksi GBS pada bayi, biasanya ibu hamil akan diberikan suntikan antibiotik saat bersalin.

Baca Juga: 9 Cara Menjaga Kehamilan Sehat, Mengurangi Risiko Keguguran

4. Toxoplasmosis

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi parasit Toxoplasma gondii dari mikroskop (medical-labs.net)

Sudah lumrah bagi ibu hamil untuk tidak bersentuhan atau berdekatan dengan hewan. Hal ini demi mencegah infeksi protozoa parasit Toxoplasma gondii atau toxoplasmosis. Parasit ini dapat ditemukan pada daging, bulu, atau ekskresi (tinja dan urine) pada beberapa hewan. Beberapa hewan tersebut adalah:

  • Kucing
  • Burung
  • Ayam
  • Domba
  • Babi
  • Kambing
  • Sapi

Jika Toxoplasmosis terjadi di awal kehamilan dan tak segera dirawat, risiko komplikasi pada bayi sangat besar. Bukan hanya disabilitas, NHS memperingatkan bahwa penularan T. gondii ke bayi bisa menyebabkan keguguran hingga kelahiran mati.

Oleh karena itu, pemeriksaan T. gondii pada ibu hamil amat disarankan. Selain itu, ibu hamil dapat melakukan berbagai langkah pencegahan seperti tidak mengurus kotoran hewan peliharaan, memasak daging hingga matang, meminum susu yang sudah dipasteurisasi, dan senantiasa menjaga kebersihan diri.

5. Hepatitis B dan C

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi hepatitis C virus/HCV (istockphoto.com/Dr_Microbe)

Baik hepatitis B dan C dapat ditularkan oleh ibu ke janin. Umumnya, ibu hamil terinfeksi hepatitis B dan C dari hubungan seksual tanpa pengaman atau lewat kontak darah (lewat pemakaian jarum bergilir) dengan pembawa virus. Pada bayi, hepatitis B dan C dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis atau kanker hati di kemudian hari.

Berbeda dengan hepatitis B, para pasien hepatitis C tidak menunjukkan gejala hingga mencapai tahap kronis. Di sisi lain, NHS mengatakan bahwa risiko penularan hepatitis B lebih besar dibanding hepatitis C.

Umumnya, tes hepatitis B dan C dilakukan sebelum persalinan. Jika terdeteksi hepatitis B, maka bayi yang berisiko tinggi akan diberikan vaksin hepatitis B untuk mencegah komplikasi serius.

6. Herpes genital

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi herpes simplex virus (HSV) di bawah mikroskop (wikimedia.org)

Ibu hamil yang terjangkit herpes genital akibat herpes simplex virus (HSV) memiliki risiko penularan yang besar terhadap janinnya. Terutama saat persalinan, penularan HSV pada bayi atau herpes neonatal dapat menyebabkan beberapa komplikasi fatal seperti gagal organ, kerusakan otak, hingga kematian.

Jika ibu hamil terkena herpes genital pada awal kehamilan, kondisi ini masih bisa diobati agar tak menular ke bayi. Namun, bila infeksi terjadi menjelang akhir kehamilan atau saat persalinan, maka opsi operasi caesar harus dilakukan agar HSV tidak tertular ke bayi.

Seks yang bersih dan aman adalah salah satu langkah terbaik dalam mencegah herpes genital. Hindari seks oral karena HSV dapat dengan mudah ditularkan. Selain itu, jika pasangan memiliki riwayat herpes genital, ibu hamil disarankan menjalani tes. Konsultasikan dengan dokter bila ibu hamil khawatir akan risiko HSV pada bayi.

7. HIV

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi HIV (newsroom.uw.edu)

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). HIV dapat ditularkan melalui seks tanpa pengaman dan kontak darah lewat jarum suntik atau benda lainnya. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), penularan HIV ke janin meliputi:

  • Hamil: dari plasenta ke janin
  • Persalinan: kontak antara bayi dengan cairan tubuh seperti darah
  • Menyusui: HIV juga dapat ditularkan melalui air susu ibu (ASI)

Selain kelumpuhan sistem imun pada bayi, UNAIDS mencatat HIV/AIDS juga dapat menyebabkan kelahiran mati dan berbagai komplikasi lainnya. Meski hanya efektif 1 persen, ACOG menjabarkan beberapa langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penularan, yaitu:

  • Mengonsumsi kombinasi obat anti-HIV pada masa kehamilan dan persalinan
  • Jika beban virus (viral load) tinggi, operasi caesar amat direkomendasikan
  • Memberikan obat anti-HIV pada bayi setelah kelahiran
  • Tidak menyusui

Pengobatan HIV/AIDS dapat mengurangi risiko penularan hingga 1 banding 100. Selain itu, bayi juga diharapkan dites untuk HIV setelah kelahiran dan setiap 18 bulan. Sementara HIV/AIDS belum bisa disembuhkan, berbagai terapi antiretroviral (ARV) dan intervensi dini dapat menjaga viral load tetap rendah sehingga bayi bisa tetap hidup sehat.

8. Slapped cheek syndrome

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi Parvovirus B19 (controllab.com)

Dikenal juga sebagai fifth disease atau penyakit kelima, slapped cheek syndrome disebabkan oleh parvovirus B19 dan umum terjadi di kalangan anak-anak. Seperti namanya, penyakit ini ditandai dengan demam dan ruam merah pada pipi (seperti bekas tamparan).

Menurut National Institute of Child Health and Development (NICHD), infeksi parvovirus B19 tidak menimbulkan masalah untuk ibu hamil maupun janin. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, virus dapat menyebabkan keguguran. Jika bayi lahir dengan selamat, virus dapat menyebabkan anemia sel sabit dan sistem imun lemah.

Karena tak ada vaksin atau obatnya, pencegahan adalah yang paling penting. Menjaga kebersihan diri dan menghindari pasien yang terinfeksi parvovirus B19 adalah langkah terbaik. Biasanya, ibu hamil juga dites untuk memeriksa imunitas terhadap parvovirus B19.

Baca Juga: Khusus Ibu Hamil, Hindari Konsumsi 11 Makanan dan Minuman Ini

9. Campak jerman

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi Rubella virus/RuV (thenativeantigencompany.com)

Disebabkan oleh virus rubela, campak jerman atau rubela adalah salah satu infeksi yang bisa berakibat fatal pada janin. Bila ibu hamil terinfeksi virus rubela pada 4 bulan pertama kehamilan, ini dapat mengakibatkan masalah serius. Selain kelahiran mati dan keguguran, CDC mencatat komplikasi umum pada bayi akibat virus rubela, seperti:

  • Kehilangan pendengaran
  • Katarak
  • Abnormalitas jantung
  • Keterbelakangan mental
  • Kerusakan hati dan limpa
  • Berat badan lahir rendah
  • Ruam kulit saat lahir

Campak jerman bisa dicegah dengan vaksinasi campak, gondongan, dan rubela (MMR). Jika belum mendapatkannya, konsultasikan ke dokter apakah bisa mendapat dua dosis vaksin MMR saat pemeriksaan minggu ke-6 pascapersalinan. Ini karena vaksin MMR tidak bisa diberikan saat kehamilan.

10. Zika

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi virus Zika (newscientist.com)

Seperti demam berdarah dengue (DBD) atau malaria, virus Zika juga disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus. Selain itu, Zika juga bisa ditularkan lewat hubungan seksual.

Untuk infeksi pada umumnya, Zika menunjukkan gejala ringan. Namun, jika terjadi saat kehamilan, ibu bisa menularkan virus tersebut kepada janin. Selain kerusakan pada otak, salah satu kelainan pada bayi yang paling umum akibat virus ini adalah ukuran kepala yang kecil atau mikrosefali.

Saat ini, tak ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk Zika. Oleh karena itu, langkah pencegahan adalah yang paling penting. Cara mencegah infeksi virus Zika pada ibu hamil di antaranya:

  • Tidak berhubungan seks atau tanpa pengaman dengan pembawa virus Zika (karena sering kali, Zikatidak menunjukkan gejala).
  • Tidak bepergian ke daerah yang marak penyebaran Zika (Amerika Selatan atau Tengah, Kepulauan Karibia, Asia Tenggara, dan Samudra Pasifik).
  • Jaga lingkungan bebas nyamuk dengan semprotan serangga atau memakai pakaian tertutup yang longgar agar tidak digigit nyamuk.

11. Listeriosis

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi bakteri Listeria monocytogenes (rapidmicrobiology.com)

Listeriosis adalah salah satu bentuk keracunan makanan yang paling umum. Disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes, ibu hamil yang terkena listeriosis dapat menularkannya pada janin. Selain keguguran, kelahiran prematur, dan kelahiran mati, infeksi L. monocytogenes dapat menyebabkan beberapa kelainan pada bayi, seperti:

  • Keterbelakangan mental
  • Kelumpuhan
  • Epilepsi
  • Masalah penglihatan
  • Masalah otak
  • Masalah ginjal
  • Masalah jantung

CDC memperingatkan kalau ibu hamil 10 kali lebih rentan terinfeksi L. monocytogenes. Karena ini adalah infeksi bakteri, umumnya listeriosis dapat diobati dengan antibiotik agar tidak menular ke bayi. ACOG menjabarkan beberapa langkah pencegahan listeriosis:

  • Tidak meminum susu atau produk susu yang tidak melewati pasteurisasi
  • Tidak memakan sosis atau daging luncheon yang tidak dipanaskan
  • Tidak memakan sayur-mayur dan buah-buahan yang belum dibersihkan
  • Tidak mengonsumsi pâté atau selai daging yang dibekukan
  • Tidak mengonsumsi boga bahari (seafood) asap yang dibekukan

12. Influenza

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi virus influenza (unsplash.com/CDC)

Influenza atau flu dapat menjadi fatal untuk ibu hamil dan janin. Di sisi ibu hamil, rentannya sistem imun pada masa kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga meninggal dunia.

Influenza juga bisa memengaruhi janin. Jika ibu hamil terkena influenza, maka bayi berisiko terlahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah. Selain itu, risiko kelahiran mati juga lebih besar pada ibu hamil yang terjangkit influenza.

Menurut CDC, langkah pencegahan terbaik untuk influenza pada ibu hamil adalah dengan vaksinasi flu. Bisa diberikan di periode kehamilan, vaksinasi influenza mencegah flu dan memberi perlindungannya pada janin.

13. Sifilis

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi T. pallidum penyebab sifilis (hygiene-in-practice.com)

Sebagai infeksi menular seksual (SFI), sifilis atau raja singa umumnya ditularkan melalui praktik seks yang tidak aman. Disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, ibu hamil dengan sifilis dapat menularkannya juga ke janin, fenomena yang disebut sifilis kongenital.

Sifilis dapat menyebabkan keguguran, kelahiran mati, atau kematian dini pada bayi. Selain itu, bayi dengan sifilis kongenital dapat menderita:

  • Kerusakan tulang
  • Anemia parah
  • Pembengkakan lever dan limpa
  • Penyakit kuning
  • Gangguan penglihatan
  • Gangguan pendengaran
  • Meningitis
  • Ruam kulit

Karena sifilis dapat diobati dengan antibiotik, ibu hamil yang didiagnosis sifilis harus segera dirawat beserta pasangannya. Langkah pencegahan terbaik adalah dengan praktik seks yang bersih dan aman.

14. Trikomoniasis

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi T. vaginalis (thenativeantigencompany.com)

Trikomoniasis adalah infeksi menular seksual yang umum, disebabkan oleh Trichomonas vaginalis. Kehamilan yang diganggu oleh trikomoniasis dapat memengaruhi janin.

Mengutip Healthline, trikomoniasis dapat menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah, dua penyebab utama kematian dini pada bayi. Selain itu, trikomoniasis juga meningkatkan risiko terkena HIV pada ibu hamil. Saat bersalin, bayi pun dapat tertular T. vaginalis meskipun kemungkinannya kecil.

Kabar baiknya, trikomoniasis dapat ditangani dengan antibiotik. Karena menular dari hubungan seksual, pencegahan trikomoniasis adalah dengan mempraktikkan hubungan seksual yang bersih dan aman.

15. Klamidia

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi C. trachomatis (controllab.com)

Lalu, infeksi menular seksual lain yang dapat membahayakan kehamilan adalah klamidia atau chlamydia yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak mengenakan pengaman, C. trachomatis juga ditularkan oleh ibu ke janin.

Dilansir MedlinePlus, klamidia yang tidak ditangani pada ibu hamil dapat menyebabkan pecahnya air ketuban terlalu cepat yang menyebabkan kelahiran prematur. Selain itu, paparan klamidia pada bayi dapat menyebabkan infeksi mata dan pneumonia.

Untungnya, klamidia dapat disembuhkan dengan terapi antibiotik. Sebagai langkah pencegahan, penyakit ini dapat dicegah dengan praktik seks yang bersih dan aman.

16. Gonore

16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janinilustrasi N. gonorrhoeae penyebab gonore (hygiene-in-practice.com)

Infeksi menular seksual yang juga dapat memengaruhi janin adalah gonore atau kencing nanah. Disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae, gonore pada ibu hamil yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti:

  • Keguguran
  • Kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah
  • Korioamnionitis (infeksi membran amnion dan korion dan cairan ketuban yang membahayakan ibu hamil dan bayi)
  • Konjungtivitis gonore (infeksi mata bayi akibat gonore)

Seperti sifilis dan klamidia, ibu hamil dapat mengandalkan antibiotik dari dokter untuk menyembuhkan gonore. Karena ini adalah jenis penyakit menular seksual, maka langkah pencegahan terbaik adalah dengan menerapkan hubungan seksual yang aman dan bersih.

Itulah beberapa infeksi pada ibu hamil yang berisiko besar memengaruhi janin saat persalinan. Untuk calon ayah dan ibu, catat ini baik-baik dan kawal kehamilan dengan waspada hingga persalinan nanti. Demi buah hati yang sehat!

Baca Juga: 6 Kandungan Makanan yang Bikin Cepat Hamil, Rata-rata dalam 1 Bulan

Topic:

  • Nurulia R F
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya