Comscore Tracker

Studi: Stem Cell Tali Pusat Bisa Selamatkan Pasien COVID-19

Harapan baru untuk merawat pasien COVID-19?

Sejak pertama dilaporkan pada Desember 2019 lalu, hingga kini berbagai penelitian masih dilakukan untuk memahami COVID-19 akibat virus corona strain baru, SARS-CoV-2. Salah satu yang diteliti adalah jenis pengobatan untuk pasien.

Berbagai merek obat disarankan dan ditarik kembali setelah mengetahui efek sampingnya yang melebihi manfaatnya. Sebuah penelitian terbaru dari Indonesia mengungkap potensi sel punca atau stem cell untuk mengobati pasien COVID-19. Inilah fakta selengkapnya!

1. Melibatkan Universitas Indonesia, Kimia Farma, dan berbagai rumah sakit

Studi: Stem Cell Tali Pusat Bisa Selamatkan Pasien COVID-19Ilustrasi seorang pasien COVID-19. (ANTARA FOTO/REUTERS/Marko Djurica)

Pada awal tahun 2020, angka kematian pasien pneumonia akibat COVID-19 di unit perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Pusat Persahabatan Jakarta mencapai 87 persen! Oleh karena itu, dilakukanlah penelitian bertajuk "Umbilical cord mesenchymal stromal cells as critical COVID ‐19 adjuvant therapy".

Melibatkan 16 peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang dipimpin oleh Profesor Ismail H. Dilogo, M.D., Ph.D., penelitian ini bertujuan untuk mencari terobosan terapi medis untuk mendukung kelangsungan hidup pasien COVID-19 di ruang ICU.

"Situasi ini mengharuskan para dokter membuat terobosan terapi untuk meningkatkan kelangsungan hidup pasien di ICU,” tulis penelitian tersebut.

Penelitian yang dilakukan UI ini mengajak beberapa instansi seperti PT Kimia Farma, Tbk. dan beberapa rumah sakit seperti RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), RS Universitas Indonesia (RSUI), RSUP Persahabatan (RSP), dan RSPI Sulianti Saroso (RSPISS).

2. Metodologi penelitian terhadap 40 pasien COVID-19 di ICU

Studi: Stem Cell Tali Pusat Bisa Selamatkan Pasien COVID-19Ilustrasi petugas medis melakukan perawatan terhadap pasien terinfeksi virus corona (COVID-19) di instalasi khusus. ANTARA FOTO/REUTERS/Ronen Zvulun

Antara 1 Mei dan 10 Oktober 2020, penelitian yang dimuat dalam Stem Cells Transitional Medicine ini secara acak melibatkan 40 pasien COVID-19 untuk menerima suntikan stem cell dari tali pusat dalam larutan garam atau suntikan air garam saja.

Seluruh 40 pasien di empat rumah sakit dalam penelitian tersebut menderita pneumonia berat dan menerima bantuan ventilator di ICU. Dari 20 pasien yang menerima suntikan stem cell, sebanyak 10 pasien selamat. Sementara, hanya 4 dari 20 pasien yang selamat dari kelompok suntikan air garam.

Para peneliti kemudian melaporkan bahwa di antara pasien dengan komorbiditas pneumonia, mereka yang menerima stem cell 4,5 kali lebih besar kemungkinannya untuk bertahan hidup. Selama penelitian, tidak ada efek samping yang terlihat.

Baca Juga: Menristek Harap Terapi Stem Cell untuk COVID-19 Bisa Unggul di RI

3. Badai sitokin dan COVID-19

Studi: Stem Cell Tali Pusat Bisa Selamatkan Pasien COVID-19COVID-19 dan badai sitokin (scitechdaily.com)

Salah satu penyebab utama kematian akibat COVID-19 adalah sindrom gangguan pernapasan akut. Meskipun masih diperdebatkan, sindrom ini kemungkinan besar disebabkan oleh reaksi sistem imun yang berlebihan, atau "badai sitokin".

Stem cell yang diambil peneliti, mesenchymal stromal cell (MSC), memperlihatkan potensi untuk mengobati komplikasi pernapasan seperti asma hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). MSC bekerja dengan mengurangi respons inflamasi pada sistem imun.

MSC dapat ditemukan di jaringan tubuh, seperti sumsum tulang, jaringan adiposa, dan tali pusar. MSC pada tali pusat lebih mudah didapatkan dan lebih ramah terhadap sistem imun penerima.

4. Temuan: MSC dapat menekan sitokin

Studi: Stem Cell Tali Pusat Bisa Selamatkan Pasien COVID-19ilustrasi stem cell (docwirenews.com)

Prof. Dilogo dan tim menuliskan bahwa MSC dapat meningkatkan angka kesintasan di antara pasien COVID-19 kronis dengan mengubah sistem imun ke "mode antiinflamasi". Tingkat sirkulasi sitokin pro-inflamasi, interleukin-6 (IL-6), berkurang secara signifikan pada pasien penerima MSC.

Sebagai fakta, menekan IL-6 didukung dapat meningkatkan potensi bertahan hidup para pasien COVID-19 parah. Obat antibodi seperti tocilizumab yang memblokir IL-6 ditemukan dapat meningkatkan potensi pasien COVID-19 untuk selamat.

5. Perbandingan dengan studi stem cell dari Tiongkok pada tahun 2020

Studi: Stem Cell Tali Pusat Bisa Selamatkan Pasien COVID-19ilustrasi MSC di bawah sinar fluoresen (transtoxbio.com)

Penelitian di Indonesia ini menggunakan stem cell "naif" atau tidak diubah. Media ini ternyata berbeda dengan beberapa penelitian MSC dan COVID-19 di Tiongkok yang diterbitkan pada April 2020 dan Agustus 2020.

Berskala lebih kecil, penelitian Tiongkok menggunakan stem cell yang telah diubah untuk menghilangkan reseptor ACE-2. Penelitian pada bulan April dimuat dalam jurnal Aging & Disease, sementara penelitian pada bulan Desember dimuat dalam jurnal Stem Cell Research & Therapy.

Sekadar informasi, ACE-2 adalah reseptor yang digunakan SARS-CoV-2 untuk masuk ke dalam sel inang manusia. Penelitian dari Indonesia ini membuktikan kalau tak butuh prosedur eliminasi ACE-2 untuk menuai manfaat potensialnya!

Studi: Stem Cell Tali Pusat Bisa Selamatkan Pasien COVID-19ilustrasi sel punca atau stem cell (news-medical.net)

Para peneliti UI berharap penelitian MSC dan COVID-19 di masa depan melibatkan lebih banyak peserta dengan COVID-19. Selain itu, penulis melaporkan bahwa mereka tidak menerapkan kriteria ketat mengenai berapa lama pasien di setiap kelompok menerima perawatan di ICU. Variabel tersembunyi ini mungkin membuat hasil menjadi bias.

Mereka pun yakin kalau pendekatan ini lebih efektif untuk pasien COVID-19 di ICU yang tidak menanggapi pengobatan konvensional. Selama penggunaan MSC pada COVID-19 terus dikaji, para peneliti mengatakan bahwa MSC dari tali pusat seharusnya lebih umum agar dapat menyelamatkan pasien COVID-19 kritis di Indonesia.

Baca Juga: Manfaat dan Risiko Stem Cell, Benarkah Juara Anti-Aging? 

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya