Comscore Tracker

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?

Masih banyak yang perlu diketahui

Pertama kali ditemukan di kawasan Afrika Selatan pada Rabu (24/11/2021), varian B.1.1.529 atau Omicron dikabarkan lebih menular dibanding varian-varian sebelumnya. Tidak main-main, ditemukan 50 mutasi termasuk lebih dari 30 mutasi protein spike varian Omicron.

Hanya butuh dua hari bagi Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk memasukkan varian ini ke dalam daftar variant of concern (VoC). Per 28 November 2021, data GISAID menunjukkan bahwa varian Omicron sudah ditemukan di 15 negara. Apa saja yang sudah diketahui tentang varian ini?

1. Perubahan pada spike protein

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?ilustrasi virus corona SARS-CoV-2 (imi.europa.eu/Image courtesy of the NIH CC 0)

Dibanding varian strain virus corona SARS-CoV-2 lainnya, varian Omicron mengalami mutasi paling banyak. Menurut data dari UK Health Security Agency pada 26 November 2021 lalu, varian ini mengalami perubahan pada 32 protein spike-nya, yaitu:

  • A67V
  • Δ69-70
  • T95I
  • G142D/Δ143-145
  • Δ211/L212I
  • ins214EPE
  • G339D
  • S371L
  • S373P
  • S375F
  • K417N
  • N440K
  • G446S
  • S477N
  • T478K
  • E484A
  • Q493R
  • G496S
  • Q498R
  • N501Y
  • Y505H
  • T547K
  • D614G
  • H655Y
  • N679K
  • P681H
  • N764K
  • D796Y
  • N856K
  • Q954H
  • N969K
  • L981F

Dengan temuan yang sama, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC) mengungkapkan bahwa 15 mutasi tersebut berada di receptor binding domain (RBD). Sementara Eropa tengah kewalahan dengan varian Delta, risiko penyebaran varian Omicron diperkirakan sangat tinggi.

2. Apakah lebih menginfeksi?

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?ilustrasi virus corona (pixabay.com/Cassiopeia_Arts)

Dalam pembaruan informasinya pada Minggu (28/11/2021), WHO mengungkapkan bahwa peneliti seluruh dunia tengah bekerja keras untuk mengerti varian Omicron. Yang pasti, WHO berjanji untuk mengungkapkan hasil studi. 

Dalam hal penularan, WHO mengatakan bahwa kemampuan Omicron masih dicari tahu, dibanding varian lain terutama B.1.617.2 atau Delta. Sementara varian ini berkontribusi pada kenaikan kasus di kawasan Afrika bagian selatan, berbagai studi epidemiologi masih mencari tahu apakah ini murni karena varian Omicron atau karena faktor lainnya.

Akan tetapi, ECDC mengingatkan bahwa jumlah kasus COVID-19 varian Omicron masih amat rendah. Hal ini meningkatkan efek dari kejadian superspreading yang berkaitan dengan varian Omicron. Selain itu, kemampuan pengelakan imun oleh varian ini bisa menjadi penyebab utamanya. Penelitian lebih mendalam tengah dilakukan untuk memastikannya.

3. Apakah Omicron lebih parah?

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?ilustrasi mutasi virus corona (sciencemediahub.eu)

Dari segi keganasan, WHO masih mencari tahu apakah varian Omicron menyebabkan gejala lebih parah dibanding varian lain, terutama Delta. WHO mengingatkan bahwa semua varian COVID-19 sama-sama bisa berakibat parah hingga kematian, terutama untuk kelompok orang tertentu. Jadi, pencegahan masih harus diperketat.

Data awal memperlihatkan kenaikan tingkat rawat inap di Afrika Selatan. Namun, WHO mengingatkan bahwa hal ini bisa disebabkan oleh kenaikan jumlah pasien yang terkena COVID-19, bukan dari infeksi varian Omicron secara spesifik.

Selain itu, informasi terbaru belum mengungkapkan variasi gejala yang disebabkan Omicron dibanding varian COVID-19 lainnya. Awalnya, infeksi varian Omicron ditemukan pada mahasiswa universitas. Sementara generasi muda menunjukkan gejala COVID-19 ringan, mengetahui keparahan dari infeksi varian Omicron perlu waktu.

WHO mengingatkan berbagai penelitian awal menemukan bahwa dibandingkan varian lainnya, Omicron dapat meningkatkan risiko reinfeksi COVID-19. Akan tetapi, informasi selanjutnya masih dicari tahu.

Baca Juga: 6 Fakta Varian Baru COVID-19 Omicron yang Lebih Menular   

4. Bagaimana dengan vaksin, tes, dan terapi pengobatan?

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?ilustrasi penyuntikan vaksin (ANTARA FOTO/Soeren Stache/Pool via REUTERS)

WHO menyatakan bahwa saat ini mereka tengah bekerja sama dengan mitra-mitra produsen vaksin lainnya untuk mengerti dampak varian Omicron pada vaksin. Dilansir Guardian pada 26 November 2021 lalu, berbagai produsen vaksin seperti Pfizer/BioNTech, Moderna, J&J, dan AstraZeneca/Oxford masih mencari tahu.

Meski begitu, WHO mengingatkan bahwa vaksin tetap penting untuk mengurangi risiko COVID-19 gejala parah yang menyebabkan rawat inap dan kematian. Ini berlaku untuk varian yang dominan, terutama Delta. Sementara efektivitas vaksin terhadap varian Omicron masih ditelusuri, vaksin akan jadi perlindungan terdepan.

Dilansir Sky News, kepala komite penasihat vaksinasi COVID-19 Afrika Selatan, Barry Schoub, varian Omicron kemungkinan besar menjangkit orang-orang dengan sistem imun lemah. Sebagai reservoir untuk SARS-CoV-2, muncullah varian Omicron yang bermutasi hingga lebih lihai menghindari imun dan lebih menular.

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?ilustrasi seorang pasien COVID-19. (ANTARA FOTO/REUTERS/Marko Djurica)

Menurut situs Our World in Data pada 26 November 2021, cakupan vaksinasi Afrika Selatan masih amat rendah, bahkan kurang dari 30 persen untuk cakupan dosis pertama dan kedua. Akibatnya, mereka yang tidak divaksinasi berisiko besar menjadi "markas perkembangan" Omicron.

Untuk segi pengecekan COVID-19, WHO mengatakan bahwa tes polymerase chain reaction (PCR) masih menjadi standar emas untuk mendeteksi infeksi varian COVID-19, termasuk Omicron. Apakah Omicron memengaruhi akurasi tes COVID-19 masih dicari tahu oleh WHO.

Sejak diizinkan pada September 2020 dan Juli 2021, kortikosteroid dan interleukin 6 (IL-6) receptor blocker masih efektif untuk mengobati gejala parah pada pasien COVID-19. Sementara itu, WHO akan meneliti apakah terapi-terapi obat lainnya masih efektif terhadap perubahan pada varian Omicron.

5. Kalau masih banyak yang belum diketahui, kenapa Omicron jadi VoC?

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?ilustrasi bentuk virus SARS-CoV-2 (pexels.com/CDC)

Dengan minimnya informasi mengenai varian Omicron, tidak sedikit orang yang mempertanyakan keputusan WHO memasukkan Omicron ke VoC, bukan variant of interest (VoI). Selain itu, Reuters melansir laporan seorang dokter di Afrika Selatan bahwa gejala Omicron tergolong sangat ringan dan dapat diobati di rumah.

Dihubungi oleh IDN Times pada Senin (29/11/2021), epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FKM UI), dr. Pandu Riono, MPH, PhD, mengatakan bahwa Omicron sudah meluas ke beberapa wilayah, dan provinsi Gauteng, Afrika Selatan, juga melihat kenaikan kasus.

"Apakah lebih berat, menular, atau memengaruhi vaksin, ini masih dicari tahu. Akan tetapi, untuk kehati-hatian, WHO memasukkan Omicron ke VoC agar dunia bisa mengantisipasi," ujar Pandu.

Saat ini, keganasan Omicron masih bervariasi, tergantung dari faktor-faktor seperti usia hingga status vaksinasi. Pandu menambahkan bahwa jika data dan penelitian di masa depan menunjukkan bahwa Omicron tidak memberatkan beban pandemi global, maka bisa saja diturunkan levelnya.

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?ilustrasi virus corona SARS-CoV 2 (pixabay.com/PIRO4D)

Setuju dengan Pandu, epidemiolog dan ahli biostatistik FKM UI, dr. Iwan Ariawan, MSPH, bahwa asas kehati-hatian adalah bagian dari pertimbangan WHO dalam menjadikan Omicron sebagai VoC bersama dengan B.1.1.7 (Alpha), B.1.351 (Beta), Delta, dan P.1 (Gamma).

"Penyebarannya dan dugaan bahwa terjadinya mutasi pada bagian virus yang dapat memengaruhi kecepatan penularan, fatalitas, dan mengurangi efektivitas vaksin. Agar berhati-hati, WHO menjadikan Omicron sebagai variant of concern," kata Iwan.

Sementara VoC pada Omicron didasari dugaan keganasan pada varian tersebut, Pandu setuju dengan langkah WHO. Jika terus menunggu hasil yang pasti, maka keburu terlambat dan Omicron bisa makin "mendunia".

6. Apa yang bisa dilakukan Indonesia?

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?ilustrasi bandara (pixabay.com/Skitterphoto)

Baik Pandu dan Iwan mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sudah tepat dalam membatasi perjalanan dari dan ke negara-negara yang melaporkan kasus Omicron. Kebijakan ini berlaku bagi para warga negara Indonesia (WNI) atau warga negara asing (WNA) yang datang ke Indonesia dan akan terus dipantau seiring perkembangan Omicron.

Hal ini terbukti dari pengumuman Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan, bahwa masa karantina diperpanjang dari 3 hari jadi 7 hari. Untuk WNA yang 14 hari terdeteksi di negara yang melaporkan Omicron, maka tidak diizinkan masuk. Sementara untuk WNI, masa karantina ditambah menjadi 14 hari.

Selain itu, Pandu mengatakan bahwa semua pelaku perjalanan dari luar negeri diharuskan menjalani tes pengurutan genome (genome sequencing) untuk memastikan infeksi varian Omicron. Saat ditanyakan mengenai PPKM terhadap Omicron, Pandu menekankan bahwa karena kasus COVID-19 di Indonesia masih terkendali, maka PPKM dianggap tak perlu.

"Kalau pun Omicron masuk, jika tak ada tanda-tanda penularan, maka PPKM masih dianggap belum perlu," ujar Pandu.

Update Varian B.1.1.529 atau Omicron, Perlukah Kita Panik?inforgrafis fakta varian Omicron (IDN Times/Aditya Pratama)

Mengenai upaya testing, tracing, dan treatment (3T), protokol kesehatan, dan vaksinasi terhadap COVID-19, baik Pandu dan Iwan sama-sama menekankan betapa pentingnya upaya-upaya tersebut. Menurut Pandu, meski imunitas tinggi, upaya protokol kesehatan amat penting untuk melindungi orang-orang yang belum divaksinasi.

Selain itu, sementara perkembangan Omicron masih terus dipantau, terutama keganasan dan dampaknya pada vaksin, Iwan mengatakan bahwa upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dan pemerintah dapat mencegah penyebaran varian apa pun.

"3T, 5M, dan vaksinasi harus berjalan terus. Dengan prokes, 3T, dan vaksinasi, kita bisa mencegah penyebaran varian apa pun," ujar Iwan menutup percakapan.

Baca Juga: Cegah Omicron, Ini Aturan Lengkap Perjalanan Internasional yang Baru

Topic:

  • Nurulia R F
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya