Comscore Tracker

Fakta Varian COVID-19 XE Baru, Kombinasi Varian Omicron!

Sebenarnya bukan nama resmi

Sejak kemunculannya pada November 2021 silam, varian B.1.1.529 (Omicron) dan sub-variannya mengisyaratkan kalau perang melawan pandemik COVID-19 masih belum usai. Selayaknya makhluk hidup, virus juga terus berkembang agar bisa bertahan, dan yang mereka lakukan adalah dengan bermutasi.

Selain bermutasi, Omicron ternyata juga berkombinasi dengan bagian virus lain (bahkan dari pendahulunya) sehingga manusia perlu berusaha ekstra. Bukan "Deltacron", dunia saat ini sedang memantau varian COVID-19 rekombinan XE. Mari simak fakta selengkapnya!

1. Ada XD dan XF juga

Fakta Varian COVID-19 XE Baru, Kombinasi Varian Omicron!ilustrasi virus corona SARS-CoV-2 (wikimedia.org/NIAID)

Sementara dunia belum usai menangani Omicron dan sub-variannya (BA.1, BA.1.1, dan BA.2), kabar buruk datang dari Inggris. Dari hasil rapat United Kingdom Health Security Agency (UKHSA) pada 25 Maret 2022, dunia makin waswas dengan kehadiran tiga varian yang berpotensi mengguncang dunia.

Dua varian pertama adalah XD dan XF. Menurut UKHSA, dua varian ini adalah hasil rekombinasi dari genom dari B.1.617. 2 (Delta) dan gen S dari Omicron BA.1 atau yang dunia sebut "Deltacron". Hanya eksklusif di benua Eropa, dua varian ini tampak tak membahayakan, dan XF malah tak terdeteksi sejak 15 Februari.

2. XE, Omicron versi Pro Max

UKHSA mencatatkan kehadiran varian XE. Berbeda dengan dua varian sebelumnya yang melibatkan Delta dan Omicron, varian XE melibatkan dua sub-varian Omicron, yaitu BA.1 dan BA.2.

Mayoritas mutasi pada XE diteliti berasal dari BA.2. Sementara XE adalah rekombinan antara BA.1 dan BA.2, UKHSA mencatat bahwa pada varian ini, terdapat tiga mutasi yang tak terdapat pada kedua sub-varian sebelumnya, yaitu NSP3, C32 41T dan V1069I, serta NSP12 C14599T.

Baca Juga: Fakta seputar Deltacron, Gabungan Varian Delta dan Omicron

3. XE lebih menular?

Fakta Varian COVID-19 XE Baru, Kombinasi Varian Omicron!ilustrasi rupa virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 (unsplash.com/Fusion Medical Animation

Selain UKHSA, Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga meneruskan temuan UKHSA kepada seluruh dunia. Berdasarkan laporan mingguan COVID-19 pada 29 Maret 2022, WHO memaparkan bahwa varian XE sekitar 10 persen lebih menular dibanding varian Omicron BA.2.

Sebagai catatan, UKHSA mengatakan bahwa dibanding BA.1, BA.2 memiliki tingkat penularan 75 persen lebih cepat. Meski begitu, WHO tidak ingin buru-buru ambil keputusan.

"Estimasi awal menunjukkan tingkat penularan sekitar 10 persen dibanding BA.2. Namun, temuan ini butuh konfirmasi lebih lanjut. Sampai terlihat perbedaan dalam penularan dan karakteristik (termasuk keparahan), XE masih termasuk dalam varian Omicron" tulis WHO.

UKHSA mencatat bahwa per 22 Maret 2022, lembaga tersebut mencatat 763 sekuens genom dari varian XE. Pertama kali terdeteksi pada 19 Januari 2022 silam, terdapat 637 kasus COVID-19 dari varian XE yang mayoritas terdapat di Inggris bagian timur, Inggris bagian tenggara, dan London.

4. Perlukah dunia khawatir?

Namun, "konfirmasi lebih lanjut" yang diminta WHO kemungkinan besar akan lebih sulit. Dalam laporannya, WHO menyatakan kekhawatirannya mengenai berkurangnya testing COVID-19 oleh negara-negara anggota. WHO menegur bahwa data COVID-19 jadi tidak akurat dan tidak tepat waktu.

"[Hal] ini menghalangi kemampuan kami untuk melacak keberadaan virus, penyebarannya, dan evolusinya, berbagai informasi dan analisis yang penting untuk mengakihir fase akut dari pandemik ini," tegur WHO.

WHO tidak segan-segan memperingatkan bahwa hal ini bisa berujung pada meningkatnya angka rawat inap dan kematian akibat COVID-19. Selain itu, WHO menekankan bahwa berkurangnya testing bisa memperlambat respons dunia terhadap varian COVID-19 baru (jika ditemukan).

Fakta Varian COVID-19 XE Baru, Kombinasi Varian Omicron!ilustrasi sedang menjalani tes PCR (thequint.com)

UKHSA juga memperingatkan WHO untuk tidak langsung mengambil keputusan (untuk menjadikan XE sebagai variant of concern [VOC]). Salah satu alasannya adalah karena data dari WHO masih tergolong baru. UKHSA menekankan bahwa kasus XE berkontribusi hanya lebih dari 1 persen dari keseluruhan kasus.

Pada dasarnya, angka penularan XE tidak berbeda secara signifikan dari BA.2. Sementara WHO mengestimasi penularan XE adalah sekitar 10 persen, UKHSA juga mengatakan bahwa XE memiliki tingkat penularan pada 9,8 persen di atas BA.2.

"Seiring perubahan estimasi karena pembaruan data, angka ini tidak bisa dijadikan patokan pasti angka penularan dari varian rekombinan ini. Angka-angka XE masih terlalu minim untuk dianalisis berdasarkan kawasannya," ungkap UKHSA.

Itulah tadi beberapa fakta soal varian terbaru COVID-19 yaitu XE. Selalu pastikan untuk membaca perkembangan pandemik dari sumber terpercaya, ya!

Baca Juga: Perbedaan Gejala Varian Omicron pada yang Sudah dan Belum Divaksinasi

Topic:

  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya