Comscore Tracker

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinson

Penyakit ini bikin penderitanya sulit menjalani hidup

Penyakit Parkinson adalah penyakit saraf yang terus memburuk secara bertahap (progresif), yang memengaruhi bagian otak yang berfungsi mengoordinasi gerakan tubuh. Bila tidak ditangani dengan benar, penderitanya akan kehilangan kemampuan untuk berdiri dan dapat mengalami delusi dan halusinasi.

Beberapa tokoh besar diketahui mengidap penyakit ini, seperti petinju legendaris Muhammad Ali yang meninggal pada tahun 2016, aktor Michael J. Fox, penyanyi dan penulis lagi Ozzy Osbourne, hingga aktor Robin Williams yang berpulang pada tahun 2014 juga terdiagnosis Parkinson.

Salah satu ciri khas penyakit Parkinson adalah tremor yang persisten, sehingga menyebabkan kesusahan beraktivitas pada penderitanya. Menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) per 2016, Parkinson adalah penyebab kematian terbanyak ke-14 di Negeri Paman Sam.

Tingginya angka kematian tersebut disebabkan karena diagnosis Parkinson sering kali terlambat atau terlewatkan. Untuk mencegah penyakit ini, kita harus lebih awas dan sadar akan betapa berbahayanya Parkinson jika tidak ditangani dengan benar dan cepat.

1. Penyebab utama penyakit parkinson

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonnursingtimes.net

Penyebab pasti penyakit Parkinson hingga kini belum diketahui pasti. Namun, faktor genetik dan lingkungan diyakini berkontribusi pada perkembangannya.

Para peneliti menemukan bahwa pengidap penyakit Parkinson memiliki kadar dopamin dan norepinefrin (zat pengatur dopamin) yang rendah. Akan tetapi, faktor-faktor berikut juga menentukan:

  • Jenis kelamin: laki-laki lebih rentan terkena Parkinson.
  • Usia: Parkinson biasa muncul di rentang usia 50-60 tahun. Hanya 5-10 persen kasus terjadi di usia sebelum 50 tahun.
  • Racun: paparan racun seperti zat toluene dapat menyebabkan penyakit Parkinson.
  • Cedera kepala: adanya riwayat cedera kepala biasanya lebih rentan mengidap Parkinson.

Selain itu, gumpalan protein pada jaringan saraf, disebut badan Lewy, juga ditemukan pada pengidap Parkinson. Kondisi tersebut juga ditemukan pada pengidap demensia (disebut dengan Body lewy dementia). Namun, para peneliti belum mengetahui pengaruh badan Lewy terhadap perkembangan Parkinson. Hingga saat ini, Parkinson terus diteliti.

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonunsplash.com/CDC

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Parkinson adalah penyakit progresif yang berarti gejalanya memburuk seiring waktu. Untuk mengetahui tahapannya, biasanya dokter menggunakan skala Yahr dan Hoehl. Tahapan Parkinson dibagi menjadi lima:

  • Tahap 1: gejala Parkinson ringan dan memengaruhi gerakan unilateral saja. Tahap ini bisa berkembang dalam hitungan bulan hingga tahun.
  • Tahap 2: muncul gejala kaku otot, tremor, perubahan ekspresi wajah, dan gemetaran. Gejala-gejala inilah yang dapat mengganggu keseharian. Pada tahap ini, keseimbangan tubuh belum terganggu.
  • Tahap 3: penderita akan semakin sulit bergerak dan keseimbangan tubuh mulai terdampak, membuat penderitanya sering jatuh. Namun, aktivitas masih bisa dilakukan tanpa bantuan.
  • Tahap 4: penderita masih bisa berdiri, tetapi mengalami kesulitan dan biasanya butuh tongkat atau bantuan. Refleks dan gerakan menjadi lebih lambat, sehingga berbahaya jika penderita tinggal sendirian.
  • Tahap 5: susah hingga mustahil untuk berdiri, sehingga butuh bantuan orang, kursi roda, atau tongkat berjalan. Tidak jarang, muncul halusinasi, delusi, dan kebingungan.

2. Tahapan gejala Parkinson

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonunsplash.com/Josh Appel

Sering kali tak terdeteksi, gejala awal penyakit Parkinson dapat muncul sebelum terjadi gangguan pada fungsi motorik dan postur penderitanya. Gejala-gejala awalnya meliputi:

  • Penurunan kemampuan mencium (anosmia).
  • Sembelit.
  • Tulisan tangan kecil dan berantakan.
  • Perubahan suara menjadi lebih rendah.
  • Pembungkukan postur tubuh.

Ketika sudah memasuki tahap kronis, maka empat gejala utama motorik penyakit Parkinson akan mulai terlihat, seperti: tremor, gerakan melambat, kekakuan lengan, tungkai kaki, dan badan, serta masalah keseimbangan tubuh sehingga mudah jatuh. Gejala-gejala yang menyertai mencakup:

  • Perubahan ekspresi wajah dan tatapan jadi kosong.
  • Sulit berjalan.
  • Susah mengedipkan mata dan menelan makanan.
  • Gangguan keseimbangan tubuh sehingga mudah jatuh.
  • Lengan susah mengayun saat berjalan.

Selain itu, gejala-gejala fisik dan psikologis lain yang menyertai tahap kronis Parkinson adalah:

  • Muncul sisik putih atau kuning pada bagian kulit yang berminyak (dermatitis seboroik).
  • Peningkatan risiko kanker kulit melanoma.
  • Gangguan tidur seperti mimpi yang jelas, berbicara, dan bergerak selama tidur.
  • Masalah psikologi seperti depresi, kegelisahan, halusinasi, dan psikosis.
  • Rentang perhatian pendek dan ingatan bermasalah.
  • Kesulitan menghubungkan rangsangan visual-spasial.

Baca Juga: Waspadai 8 Fakta Tremor Ini Sejak Dini, Bisa Berbahaya

3. Diagnosis penyakit Parkinson

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonspineuniverse.com

Hingga saat ini, tidak ada tes yang secara spesifik dibuat untuk mendeteksi Parkinson. Diagnosisnya mengacu pada riwayat kesehatan, tes fisik dan neurologi, serta peninjauan gejala Parkinson.

Selain itu, tes pencitraan seperti pemindai tomografi terkomputerisasi (CT-scan) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) dapat digunakan untuk melihat gejala dan kondisi lain yang memperburuk penyakit Parkinson. Tes dopamine transporter (DAT) juga membantu diagnosis.

Meskipun tes-tes tersebut tidak sepenuhnya mengonfirmasi Parkinson, tetapi itu dapat membantu mengeliminasi kemungkinan penyakit lain dan menegakkan diagnosis.

4. Komplikasi yang disebabkan oleh penyakit Parkinson

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonmedicalnewsbulletin.com

Penyakit Parkinson sejatinya tidak mematikan. Sebagai contoh kasus, Muhammad Ali bukan wafat karena penyakit tersebut, melainkan akibat syok sepsis.

Meski begitu, penyakit Parkinson dapat mengurangi kualitas hidup dan berbahaya jika pengidapnya dibiarkan tinggal sendirian. Pasien dapat terancam bahaya seperti jatuh yang dapat menyebabkan cedera, hingga gangguan internal seperti penyumbatan pembuluh darah dan paru-paru yang bisa berakibat fatal.

Selain itu, penyakit Parkinson juga dapat mengurangi angka harapan hidup pengidapnya. Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat selama 6 tahun pada 140.000 pasien Parkinson, lebih dari 60 persen pasien meninggal dunia dalam interval 6 tahun. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Archives of Neurology tahun 2013.

5. Parkinson dan demensia, penyakit yang sering terjadi beriringan

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonpixabay.com/Gerd Altmann

Masih dari penelitian dalam poin sebelumnya, dinyatakan juga bahwa 70 persen dari 140.000 pasien penyakit Parkinson mengembangkan gejala demensia selama 6 tahun. Mirip seperti demensia pada umumnya, penderita Parkinson kesusahan dalam proses nalar, berpikir, dan pemecahan masalah. Kasus demensia pada penderita Parkinson cukup umum, yaitu 50-80 persen.

Penyakit Parkinson perlahan menghancurkan sel-sel reseptor di otak. Seiring berjalannya waktu, penderitanya akan mengalami perubahan, gejala, dan komplikasi dramatis. Gejala-gejala demensia pada pasien Parkinson meliputi:

  • Depresi.
  • Gangguan tidur.
  • Delusi.
  • Kelinglungan.
  • Halusinasi.
  • Mood swing.
  • Cadel.
  • Perubahan nafsu makan.

Selain jenis kelamin dan usia, jika kamu memiliki riwayat gangguan ingatan sebelum diagnosis Parkinson dan gejala Parkinson sudah berada di tahap menengah ke atas, maka kemungkinan demensia akan lebih besar. Dokter biasanya akan mengesampingkan pengobatan demensia, dan lebih fokus pada Parkinson.

Baca Juga: Penelitian: Wanita Lebih Rentan Terjangkit Stroke dan Penyakit Saraf

6. Pengobatan penyakit Parkinson

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonunsplash.com/freestocks

Pengobatan untuk Parkinson bervariasi dan biasanya dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup dan pola makan. Obat-obatan yang biasanya diresepkan oleh dokter adalah:

  • Levodopa: untuk menambah kadar dopamin. Biasanya, levodopa dipakai bersama carbidopa. Sekitar 75 persen kasus merespons Levodopa, tetapi tidak menyembuhkan seluruh gejala.
  • Agonis dopamin: berfungsi untuk pengganti dopamin dalam otak dan dapat dipakai jika levodopa tidak bekerja. Obatnya mencakup bromocriptine, pramipexole, dan ropinirole.
  • Antikolinergik: menghalangi sistem saraf parasimpatetik, sehingga mengurangi gejala kaku otot. Obat antikolinergik yang paling umum adalah benztropine (cogentin) dan trihexyphenidyl.
  • Amantadine (symmetrel): biasanya diminum setelah pengobatan levodopa-carbidopa untuk menghilangkan efek samping levodopa-carbidopa secara sementara, berupa gerakan tanpa sadar.
  • Inhibitor catechol o-methyltransferase (COMT): untuk meningkatkan khasiat levodopa. Contohnya adalah entacapone (comtan) dan tolcapone (tasmar). Namun, tolcapone dipakai hanya bila pengobatan levodopa tidak berhasil karena dapat merusak hati, sementara entacapone tidak. Oleh karena itu, terdapat gabungan keduanya, yaitu stalevo.
  • Inhibitor MAO-B: untuk menghambat reaksi pemecahan dopamin dalam otak oleh enzim monoamin oksidase B (MAO-B). Contoh obatnya adalah selegiline (eldepryl) dan rasagiline (azilect). Sebelum mengonsumsi inhibitor MAO-B, konsultasikan dengan dokter karena efeknya dapat "bertabrakan" dengan obat-obat lainnya.
Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonunsplash.com/Tiago Moraro

Selain obat-obatan, terdapat opsi pembedahan untuk pasien Parkinson yang tidak merespons pengobatan. Ada dua tipe operasi untuk Parkinson:

  • Deep brain stimulation (DBS) atau stimulasi otak dalam.
  • Pump delivery therapy.

Sesuai namanya, pada operasi DBS, implan elektroda akan ditanam di bagian otak pasien Parkinson. Tujuannya adalah untuk mengurangi gejala sehingga memudahkan kehidupan pasien Parkinson.

Baru disahkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tahun 2015, pump delivery therapy bernama "Duopa" menggabungkan terapi levodopa dan carbidopa dengan cara dipompa ke tubuh. Sebelumnya, dokter akan meletakkan pompanya di dekat usus halus dengan metode operasi.

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonunsplash.com/Matthias Zomer

7. Aktivitas untuk pasien Parkinson

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsongutmicrobiotaforhealth.com

Tremor dan refleks lamban yang disebabkan oleh Parkinson memang merepotkan dan membuat diri sendiri gusar, apalagi jika sudah mencapai tahap kronis. Namun, ada beberapa hal yang perlu diingat agar diri terbebas dari kecelakaan akibat Parkinson.

Untuk membiasakan diri berjalan:

  • Hati-hati saat berjalan.
  • Atur kecepatan dan jalan pelan-pelan saja.
  • Biasakan tumit menyentuh lantai terlebih dahulu.
  • Biasakan berdiri tegap.

Untuk mencegah jatuh:

  • Jangan coba-coba berjalan mundur.
  • Cobalah untuk tidak membawa barang saat berjalan.
  • Jika ingin meraih benda yang jauh dari jangkauan, mintalah bantuan.
  • Jika ingin berbalik arah, putar balik (seperti mobil di putaran U). Jangan bertumpu pada kaki.
  • Singkirkan semua benda licin.

Untuk memudahkan saat berpakaian:

  • Jangan buru-buru berpakaian.
  • Pilih pakaian yang mudah dipasang dan dilepas. Alih-alih kancing yang susah dilepas, gunakan pakaian dengan velcro.
  • Kenakan celana atau rok dengan karet pinggang karena lebih mudah daripada kancing dan ritsleting.

8. Pencegahan penyakit Parkinson

Bukan Sekadar Tremor, Ini 8 Fakta tentang Penyakit Parkinsonpexels.com/Luis Quintero

Belum ada cara pasti untuk mencegah penyakit Parkinson. Namun, menurut penelitian di Norwegia berjudul "Prevention of progression in Parkinson's disease" dalam jurnal BioMetals tahun 2018, rutin berolahraga dan konsumsi makanan yang kaya akan antioksidan dapat membantu mencegah kemunculan penyakit ini.

Selain itu, bila ada riwayat penyakit Parkinson dalam keluarga, sebaiknya kamu melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Tak perlu langsung panik, walau ada riwayat penyakit dalam keluarga, tetapi belum tentu kamu akan mengalaminya juga. Menurut National Institutes of Health, hanya 15 persen kasus Parkinson yang bersifat turunan. Konsultasikan juga dengan dokter untuk melakukan tes genetik.

Itulah beberapa fakta, dari mulai penyebab hingga pencegahan penyakit Parkinson yang dapat menurunkan kualitas hidup dan angka harapan hidup penderitanya.

Para peneliti memperkirakan jumlah penderita penyakit Parkinson di dunia akan meningkat mencapai 6,17 juta jiwa pada tahun 2030. Dengan bekal pengetahuan yang memadai tentang penyakit ini, kamu bisa mencegah penyakit saraf progresif ini sedini mungkin.

Bila ada orang terdekatmu atau anggota keluarga yang terkena Parkinson, jangan berkecil hati. Pastikan untuk kontrol rutin ke dokter, patuhi segala pengobatan dan anjuran dari dokter, terapkan pola hidup sehat, serta lakukan penyesuaian yang dibutuhkan demi membantu keseharian dan kualitas hidup penderitanya.

Baca Juga: 8 Perubahan Gaya Hidup Ini Bisa Mencegahmu Terkena Demensia, yuk Ikuti

Topic:

  • Alfonsus Adi Putra
  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya